FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Tempat Yang Salah


__ADS_3

Berapa prosentase seseorang mengalami percintaan satu malam? Menurut survey yang dilansir sebuah lembaga survey di Amerika, yang menanggulangi HIV AIDS, hampir 80% di negara barat mengalaminya dan itu menjadi hal yang biasa saja bahkan ibaratnya, menjadi makanan sehari hari bila mengunjungi club malam.


Karena itulah maraknya anjuran menggunakan pengaman (kon*dom) sangat gencar di lakukan oleh pemerintah disana dan ada beberapa negara memasukan ke dalam pasal undang undang. Club malam bahkan Hotel menyediakan pengaman dan sebagian itu menjadi hal yang wajib, bila tidak pemerintah akan menutup tempat hiburan malam tersebut.


Lalu bagaimana dengan anak yang di hasilkan dari hubungan percintaan satu malam tanpa menggunakan pengaman? Menurut lembaga survey tersebut diatas, ada 37% anak yang dihasilkan hubungan singkat tersebut. Dinas Sosial mencatat dan memberikan pengawasan ketat pada anak tersebut, dan menjamin hidup mereka untuk memperoleh haknya.


Dan percintaan satu malam, ada yang sadar melakukannya dan ada yang tidak sadar melakukannya. Dinas Sosial juga mencatat, ada beberapa kasus hubungan percintaan satu malam lalu membuahkan seorang anak dimana seorang wanita tidak mengenali siapa laki laki yang menanamkan benih ke rahimnya. Dan pada akhirnya alkohol menjadi salah satu tempat terbaik untuk dijadikan kambing hitamnya, untuk melemparkan sebuah alasan hubungan percintaan satu malam itu terjadi.


Alkohol membuat Damian dibutakan pandangannya, kekecewaannya pada kenyataan yang terjadi pada hidupnya, pada persahabatan, pada cinta yang tak berpihak padanya membuat Damian meluapkan beban, sakit hatinya dan naf*su terpendam yang ia miliki selama dua tahun, saat ia menjalin hubungan asmaranya dengan Leyka.


Di hatinya, di jiwanya bahkan di dalam pandangannya, Damian hanya melihat wajah Leyka yang membutuhkan kehadirannya, membutuhkan pundaknya untuk bersandar dengan kuat agar Leyka tidak terjatuh, Leyka yang lemah dan membutuhkan kekuatan untuk menjalani hidupnya bersama Train. Wajah Leyka memenuhinya setiap sekat ruang hati dan jiwanya.


Dan ketika seorang wanita asing yang berdiri tepat di hadapannya dengan melingkarkan kedua tangan di lehernya, dengan mulut terbuka, dengan mata terpejam, Damian tidak menunggu lama untuk menyambar tengkuk wanita itu dan menekannya ke dalam wajahnya, agar ia bisa menyesap bibir ranum yang menunggu untuk dilu*matnya dalam dalam. Damian memejamkan matanya, sesaat ia ragu namun gerakan lidah wanita itu yang begitu lincah membuat Damian meneruskan aksinya, melu*mat bibir wanita asing itu dengan penuh rasa sakit hati, kekecewaan dan terbersit kerinduan pada Leyka.


Aku masih mengingat aroma mulutmu saat aku hampir menciummu di Plampona, rasanya tidak seperti ini.. Ini bukan Leyka.. Ini bukan dirimu, Ley.. Tapi saat mataku terbuka mengapa aku melihat wajahmu, Ley.. Ahh sudahlah..


Wanita asing itu terus memancing Damian dengan mendambanya lewat hasrat yang kian meluas, jemarinya dengan kuku yang dihiasi cat kuku berwarna merah disertai taburan glitter yang melapisinya, membuat Damian semakin bergejolak. Kuku yang indah itu merayapi punggungnya, memasuki sela sela perutnya dan menjalari bokongnya dan saat jemari lincah itu ingin mengurai ikat pinggangnya, Damian menangkap tangan wanita itu dan Damian menghempaskan wanita itu ke sofa.


"Kau.. tidak.. sabaran.. Baby" ujar Damian dengan sempoyongan, ia menyeringai melihat wanita itu mengikat rambutnya dengan mata terpejam, ia menurunkan tali kecil di pundaknya hingga buah dadanya yang tidak mengenakan br*aa tersembul keluar. Damian berdebar melihatnya, karena ia melihat wajah Leyka dalam pandangan matanya.


"Aku menjaganya.. Sia.. Sia.. Aku menjaganya" desis wanita itu. Damian mendengus, ia mengangkat tangannya hingga mencapai bahu belakangnya lalu menarik kaosnya keatas sampai kaos itu terlepas dari badannya.


Melihat postur tubuh Damian samar samar, wanita itu bangkit berdiri dan menyerang dengan cumbuannya di leher Damian, menikamnya dengan his*sapan kecil yang membuat matanya terbelelalak. Damian tidak bisa menguasai gairahnya, ia mencengkeram leher wanita itu dan mengerang pasrah.


"Aarrgh Baby! Kau liar sekali.. Aarrggh!" desah Damian semakin tidak sabar. Ia menggendong wanita itu dan kakinya melangkah ke arah ranjang lalu menghempaskan tubuh wanita bergaun merah itu. Damian menginjak sepatunya, satu dan lainnya hingga semua terlepas lalu mengurai ikat pinggangnya, dan melucuti celananya dengan nafas memburu. Sementara wanita itu dengan terpejam membelai ranjang seperti mencari sosok Damian.


Dengan gerakan cepat Damian melucuti gaun merah dari tubuh wanita itu, karena kesulitan Damian merobeknya hingga buah dada yang menggunung itu tersembul keluar seutuhnya. Damian menyergapnya.


"Baby.. Baby.. Uhhm.. Aku.. Merindukan..mu.. Aaah" desis Damian sambil menciumi dan mengu*lum lembut puncak buah dada itu seiring jemari tangannya mere*mas re*mas dengan membayangkan wajah Leyka yang menikmati sentuhannya.


"Ambil..semua.. Semua.. Percuma.. Aku menjaganya.. Ha..ha..ha.. Ambillah.. Semua.. aahhh.. Tidak.. ada.. lagi yang.. berharga.. Ahhh.. sshh.. Ahhh" dan wanita itu menceracau, sesekali tertawa sesekali ia mendesah, dengan meliukkan tubuhnya hingga melengkung.


"Ahh.. Kau.. sangat.. berharga.. Shh.. Ahhh Baby"


"Benarkah?" bisik wanita itu sambil mere*mas rambut Damian yang menyusuri perutnya dengan lidah dan juga mulut Damian. Pinggul wanita itu naik turun lalu membentangkan pahanya lebar lebar. Damian terus mere*mas buah dada wanita itu dan melampiaskan naf*sunya yang terpendam pada wanita asing yang dianggapnya adalah Leyka.


Belaian wanita itu membuat Damian terus menjelajahi setiap jengkal tubuh yang tergolek dihadapannya. Dengan nafasnya yang semakin memburu jemari Damian melucuti balutan terakhir di tubuh mereka.


Mata Damian membulat saat melihat bulu bulu halus pada are*a sen*sitif wanita yang berkaki jenjang itu. Damian menyentuhnya, merabanya dengan detak jantungnya yang berpacu cepat. Damian menatap nanar, ia ingin meyakinkan dirinya untuk melakukannya atau tidak.


"Aaahhhh.. Baby.. Kau..sangatt tampan.. Uuhhmm" wanita itu mendesah dengan sangat manis, jantung Damian semakin terpompa cepat, wajah Leyka terbayang bayang dibenaknya, namun saat wanita itu membuka matanya Damian melihat jelas mata wanita itu begitu bercahaya dan mendambanya.


"Siapa.. siapa kau?" tanya Damian dengan mencondongkan kepalanya, menatap mata wanita itu. Sesekali Damian mengerjapkan matanya, mencari kesadarannya karena dalam pandangannya wajah wanita itu berubah ubah. Leyka begitu menguasainya hingga sulit mengusirnya dalam pandangan Damian.


"Uhhmm.. cepatlah.. Shh.." bisik wanita itu mendorong sebagian tubuhnya kearah Damian hingga hidung mereka bertemu. Tangan wanita itu liar menjalari perut Damian lalu menuruni miliknya yang tegap menantang dan siap menerjang.


Damian menahan nafasnya, saat wanita itu mema*gut sesaat bibirnya seiring tangan wanita itu menggenggam miliknya dan jemarinya bergerak naik turun.


"Ambillah milikku yang tak berharga" desis wanita itu membuat keringat Damian bermunculan di sekitar wajahnya.


"Ini.. Tidak..boleh.. Ini.. Salah.. Aaarghh!" Dan perkataan yang keluar dari mulut Damian berbeda dengan kenyataannya, wanita itu mengarahkan milik Damian kearah ar*ea in*tim wanita itu, lalu Damian justru mendorong pinggulnya perlahan. Damian menekan hingga miliknya melesakkan ke dalam area yang begitu sulit ditembus.


"Aarghh! Apa ini!" Damian menjauhkan wajahnya dan melihat ke area bawah sambil menekan miliknya yang menegang dengan sekuat tenaga. Damian ingin melepaskannya namun ia justru selalu menekan pinggulnya, ia merasakan suatu penghalang dari are*a sen*si*tif wanita itu. Damian merasa kesulitan dan ia meraih paha wanita itu dan semakin membentangkannya, namun area sempit itu serasa kian menghimpitnya.


"Aaa..aaa..aahh..Baby, Pelaann! Aaahhh" wanita itu menjerit lirih saat Damian menghentakkan miliknya melesat ke dalam ar*ea in*tim wanita itu dan merasakan sesuatu penghalang itu robek oleh miliknya yang semakin menegang dan menonjolkan urat uratnya.


"Oohhh Shittt! Kau masih--- Shittt!" pekik Damian mendorong menjauh namun wanita itu menautkan salah satu kakinya di pinggang Damian dengan meringis.


"Aahh.. Shh.. Ahh.. Perih, Baby" desis wanita itu membuat Damian membenamkan seluruhnya.


"Baby?" Wajah Leyka seakan menghilang dari pandangannya dan di ganti wajah wanita itu yang sesungguhnya.


"Aahh.. Apa.. Kau.. Mau melepaskannya, Baby?" bisik wanita itu sambil berbisik lembut dengan menempelkan bibirnya ke telinga Damian.

__ADS_1


"Kau.. Kau.. Aaarghh.. Shitt! Aku tidak akan melepaskanmu! Sssh.. Arrgh" Damianpun meluruhkan tubuhnya diatas wanita itu, ia melu*mat bibir wanita itu sambil memacu a*rea in*tim itu, Damian menggerakkan pinggulnya, keluar masuk dengan penuh penekanan. Karena gerakan miliknya tidak leluasa, rongga sempit itu semakin menjepitnya.


Kenapa panas begini.. Shitt. Dia.. Dia.. masih vir*gin? Dia.. diaa.. Siapa diaa? Batin Damian dengan penuh gejolak hasratnya.


"Oohh.. Aahhh.. Pelan.. Sshh.. Ahh.. Mengapa.. Sesakit ini" bisik wanita itu dengan mata terpejam. Damian memperlambat pacuannya, ia kembali mere*mas kedua buah wanita itu, lalu menghi*sapp lembut puncak dadanya. Lidahnya berputar disana, wanita itu semakin menggeliat dengan mencengkeram lengan Damian.


"Ahhh.. Shh.. Ohh.. Baby.. Aahh.. Baby.. Ughhmm.. Baby.. Aarghh!" desa*han wanita itu semakin membuat Damian tak kuasa lagi.


"Aaahh.. Baby.. Aaargh.. Baby.. Aku.. Aku tidak bisa.. Aarghh.. Aku tidak bisa menahannya lagi" Damian mendorong tubuhnya menjauh dengan menumpukan satu tangannya ke rahang wanita itu, menahannya agar ia bisa melihat wanita itu.


"Oughhhh.. Fasterr! Aahhh.. Aaahh.. Baby.. Aaaa!" wanita itu memanas, menegang dan tubuhnya mengejang melepaskan gelenyar hebat yang membuat gairahnya melonjak dan siap meledak.


Sementara milik Damian, semakin tajam menukik hingga seutuhnya terbenam. Damian pun menegang, wajahnya kian memerah, keringat mengalir deras dan nafas Damian semakin memburu saat ia menatap kearah bawah.


Urat urat miliknya semakin menonjol, semakin menegang dan semua semakin mengerat begitu ketatnya. Dan, dengan menghi*ssap buah dada wanita itu, Damian mengerang hebat di titik puncaknya, di iringi denyutan milik wanita itu yang kian menghanyutkannya.


"Aaaaa...Aaa.. Aahhh!" desah panjang wanita itu melampiaskan gairahnya.


"Baby.. Aaahhh!" erangan Damian sambil menikam leher wanita itu, dengan jemarinya mere*mas buah dada yang menggunung itu. Nafas mereka saling bersahutan, pelukan wanita itu begitu erat dan perlahan meregang.


Damian menarik selimut dan tumbang di samping wanita itu. Damian meraih tubuh wanita itu lalu mencium keningnya. Rasa mabuk itu membuat keduanya memejamkan matanya hingga kesadaran keduanya menghilang sepenuhnya karena mereka terlelap dengan berpelukan hangat.


-


-


-


Gracias untuk semalam, Bell'uomo (pria tampan; Italy) Semoga kita tidak pernah bertemu lagi.. Dan bila bertemu, sebaiknya kita jangan saling menyapa.


Ragazza in rosso (gadis berbaju merah; Italy)


'Baby.'


Damian mengacak rambutnya, kemudian memijat area tengkuk dan pelipisnya dengan sesekali mendengus. Saat menyingkap selimut ia dikejutkan dengan setitik noda darah di sprai, kain alas tempat tidur dan ditempatkan diatas kasur.


"Ohh Shitt! Aaarrghhh! Apa yang aku lakukan semalam! Shitt! Siapa wanita itu?" kata Damian dengan kesal.


"Leyka, keluarlah dari isi kepalaku! Semakin ingin aku melupakanmu, mengapa aku semakin sulit dan melihatmu ada dimana mana-- Apa yang aku lakukan! Aku mengkhianati cintaku padamu! Ohh shittt! Leyka aku membuat kesalahan!-- Train apa yang kau lakukan? Kau sedang apa? Apa kau merindukanku? Apa kau memikirkanku?" Damian bangkit berdiri dan memunguti bajunya yang berceceran lalu ia memakainya kembali. Saat akan keluar dari kamar itu, ia menoleh sesaat kearah ranjang, hatinya mulai gusar.


Dengan cepat, ia menyambar secarik kertas itu lalu dilipatnya dan dimasukkan ke dalam saku dompetnya. Kemudian ia membereskan nakas yang terdapat 10 lembar pecahan uang 10 euro entah kapan ia mengeluarkan uang hingga nakas itu sangat. Ia melirik sesaat kearah percikan darah dengan mendengus kesal dan menyambar sprai kemudian ia melipatnya, lalu Damian bergegas pergi meninggalkan kamar itu menuju kamar Henry.


Setelah Henry membuka pintu, Damian masuk dan langsung Henry menghujaninya dengan berbagai macam pertanyaan, karena Damian menghilang semalaman. Damian menerima berbagai macam cercaan dari Henry dan memilih diam. Damian memilih menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan mata terpejam. Damian memeluk sprai di tangannya, lalu ia mengingat bagaimana semalam percintaannya begitu memanas.


"Manuella menghubungiku! Dia selesai sarapan dengan keluarga Leyka-- Train menanyakanmu" ujar Henry membuat Damian membuka matanya.


"Train-- anak itu.. Mengapa dia mencariku? Seharusnya dia menikmati kebahagiaannya, dan melupakan aku-- Mengapa dia masih perduli dan memikirkan aku?" tanya Damian lalu ia membenamkan wajahnya di bantal.


"Karena kau juga kebahagiaannya. Anak itu sangat perhatian dan perduli-- Satu lagi, Train tidak pernah mengkhianati dan mengingkari sebuah persahabatan. Dan lihat! Apa yang orang dewasa lakukan? Saling mencintai kemudian menyakiti ketika persahabatan berubah menjadi cinta yang tidak bisa bertahan" kata Henry sambil mengaduk kopi yang telah diantar oleh pelayan hotel sesaat sebelum Damian datang.


"Takdirku tidak bagus Henry! Cinta tidak berpihak kepadaku!" ujar Damian dengan memukul ranjang.


"Cinta berpihak kepadamu! Tapi cinta Train! Dan kau salah mengartikannya selama ini! Train butuh kasih sayang seorang Ayah saat itu, tapi kau salah mengartikannya" ujar Henry membuat Damian membalikan badannya dengan posisi telentang.


"Salah mengartikannya?" tanya Damian sambil melihat langit langit kamar hotel itu.


"Damian.. Kita sangat senang saat pertama kali melihat Train, dia lucu, menggemaskan, kita selalu datang berlibur musim panas karena kita merindukan Train awalnya. Kau pasti sudah lupa saat itu Train berumur tiga tahun. Kita jatuh cinta pada pandangan pertama pada anak itu. Ketika seorang laki laki berhati lembut seperti dirimu, melihat Train tumbuh tanpa Ayah, kau menempatkan perasaanmu, pada tempat yang salah"


"Tempat yang salah?" Damian mengerutkan alisnya, ia masih menatap langit langit kamar itu. Aroma kopi menyeruak sampai hidungnya, Damian mendengar, Henry menyesap kopinya tanpa harus melihatnya.


"Damian, berulang kali aku mengatakan-- Bahwa kau menginginkan Train, kau ingin melindungi Train, kau ingin mencurahkan kasih sayangmu kepadanya karena rasa kasihmu padanya, kau tersentuh karena anak itu telah mencuri hatimu! Karena kau ingin memilikinya! Damian-- kau mencintai Leyka karena kau jatuh cinta pada Train!" kata Henry dengan tegas, setegas ia meletakkan cangkir kopi dihadapannya. Henry menyandarkan tubuhnya di sofa dan memijat kepalanya yang terasa berat.


"Aku mencintai Leyka, Henry! Aku jatuh cinta padanya!" sanggah Damian menoleh sesaat lalu ia kembali tengkurap.

__ADS_1


"Damian, lalu mengapa kau tidak jatuh cinta padanya saat Leyka di Pretoria?" tanya Henry dengan membuang nafas kasar.


Damian terdiam, dengan mendekap sprai itu Damian mengingat saat pertama kali bertemu Leyka dan Train. Saat itu Train berusia tiga tahun dimana persahabatan manis itu dimulai dari sana.


"Kau mencintai Leyka karena kau jatuh cinta pada Train. Itu bukan cinta sejati Damian. Sekarang aku ingin bertanya, setelah kau tahu Leyka ternyata telah menikah-- siapa yang ingin kau temui saat ini? Siapa yang kau rindukan dan siapa yang kau ingat saat kau bangun dari tidurmu?" Damian kembali terdiam dan ia mengingat bagaimana Train menghiasi hidupnya selama dua tahun belakangan ini.


Damian menitikkan airmata namun lama kelamaan Damian menangis tersedu sedu dengan membenamkan wajahnya kembali ke dalam bantal. Henry trenyuh melihatnya, ia hanya menghela nafas panjang dan melangkah ke arah kamar mandi.


Sesaat Henry menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah Damian, "Setelah aku menyelesaikan urusanku disini, kita akan ke Barcelona. Aku tidak butuh jawaban tapi aku tahu kau ingin kembali" ujar Henry meneruskan langkahnya dan menghilang dari balik pintu kamar mandi.


Yang lebih aku rindukan saat ini? Yang lebih aku rindukan adalah.. Adalah Train! Shitt aku merindukannya! Kau benar Henry.. Kau sangat benar, aku menyalah artikan cintaku.. Karena ingin selalu bersama anak itu, aku mencintai ibunya dan aku merusak segalanya..


-


-


-


...BARCELONA...


...(Di Hari Yang Sama)...


Double P


Train duduk di kursi pelanggan bersama Jared dan Torres, yang tengah bersarapan di Kedai itu. Train menunggu Valentino, menyiapkan bekal untuknya, sementara Leyka menyiapkan biji kopi yang siap di giling ke mesin kopi. Train duduk dengan meletakkan kepalanya di meja dengan menumpukkan kedua tangannya sebagai bantalannya. Train memiringkan kepalanya, Ia menatap Valentino yang mondar mandir mengisi kotak bekalnya dengan kue kue dan juga buah buahan.


"Psst.. Psstt.. Train" panggil Torres dengan berbisik dan Train menoleh kearah Torres tanpa mengangkat kepalanya sambil menguap.


"Si Torres"


"Apa Mommy dan Daddymu sudah berbaikan? Apa mereka sudah tidur bersama?" tanya Torres memelankan suaranya dan Jared menendang kaki Torres dengan mendelikkan matanya.


"Uhm-- Entahlah, aku tidak tahu. Semalam mereka di Apartemen Raja dan aku bersama. Grandma di Apartemen Ratu" jawab Train lalu ia kembali memiringkan kepalanya kearah Valentino.


"Apa kau melihat sesuatu yang janggal?" tanya Torres dengan suara pelan namun Leyka melirik kearahnya sesaat dan Torres tersenyum meringis. Leyka seakan tahu ia menjadi bahan perbincangan.


"Mereka berdua masih terlihat canggung. Kemarin kemarin mereka tidak seperti ini. Mengapa sekarang justru seperti orang asing. Apa Mommy dan Daddy tidak saling mencintai? Bukankah seharusnya mereka senang" suara Train secara otomatis terdengar pelan.


"Mereka butuh beradaptasi-- bukan tidak saling mencintai tapi mereka butuh waktu. Terutama Mommymu" Jared turut menurunkan volume suaranya. Valentino menoleh kearah mereka yang tengah berbisik bisik, ia pun merasa Setan Cilik dan dua rekannya yang disebut Leyka 'budak setan' itu tengah membicarakannya.


"Seandainya aku punya tongkat sihir, aku ingin menyihir mereka menjadi kecil lalu aku akan memasukkan mereka ke dalam botol kecap ini-- Torres menunjuk botol kecap dan Train tertawa menutup mulutnya hingga ia menegakkan tubuhnya --tidak ada siapapun dan mereka mau tidak mau akan bicara dengan akrab mencari solusi bagaimana keluar dari botol kecap ini" Jared tertawa dengan menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Torres.


"Jangan mengajarkan sesuatu yang tidak benar pada Putraku atau gigimu akan rontok sebelum waktunya!" kata Valentino dari meja barista, ia menyiapkan susu untuk Train dan Leyka masih berkutat menakar berbagai macam biji biji kopi.


Leyka mendelik kearah mereka, seperti halnya Valentino yang berdiri tidak jauh darinya. Dengan kompak Valentino dan Leyka menatap tajam kearah mereka.


"No Daddy, Torres hanya membicarakan botol kecap!" ujar Train membuat Torres dan Jared tertawa sementara Valentino serta Leyka saling melemparkan pandangannya namun Leyka buru buru memalingkan wajahnya. Rasa canggung itu membuat hubungan itu semakin dingin.


"Botol kecap itu sangat kecil. Masih besar Jagung bakar Afrika Selatan-- Benar kan Ley?" bisik Valentino salah paham, Valentino pikir botol kecap yang dimaksud adalah senjata milik Torres yang bersarang di dalam underwearnya. Valentino berusaha mencairkan suasana namun tetap saja dengan hal hal me*sum yang justru menambah perasaan Leyka menjadi semakin tidak karuan.


Ck, apa tidak bisa Raja Setan ini berpikir hal yang romantis? Dasar! Apa hanya itu yang ada di pikirannya?


Leyka melempar serbet ke arah Valentino dan mengenai dada bidang itu, dengan mendengus Leyka berlalu pergi dengan menatap botol kecap berukuran 135 mili liter, pikirannya berkeliaran dengan bulu kuduknya yang meremang.


Apa aku salah bicara? Sepertinya itu yang ia hindari.. Cihh, aku ingin memperko*samu rasanya.. Sepertinya aku akan memulai dari hal hal yang manis. Valentino.


"Train, bus sekolah akan segera tiba!" ujar Leyka sambil melepas celemeknya.


"Si si si, Mommy!-- Train bangkit berdiri lalu berlarian mengambil tasnya --Kata Torres kalian akan di masukkan ke dalam botol kecap!" kata Train membuat mata Valentino dan Leyka membulat, mereka saling pandang kemudian mereka tertawa. Tanpa sadar mereka memulai hari dengan tawa, diantara kecanggungan yang perlahan terurai. Semua pun bingung melihatnya.


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2