FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
PRETORIA : Last Night In Pretoria


__ADS_3

Valentino membuka pintu dengan key cardnya, hatinya berdetak saat mendapati kamarnya gelap gulita. Ia menempatkan key cardnya pada key box dan ruangan itu menjadi terang, mesin pemanas pun menyala. Hati Valentino semakin berdegub kencang, ia mengedarkan pandangannya. Ia tidak mendapati Leyka di kamar itu.


Matanya tertuju pada sebuah kotak dengan secarik kertas, di nakas samping tempat tidurnya. Matanya memerah seketika. Jantungnya seakan di pompa. Tulang tulangnya seakan terlepas, hawa dingin merayapi sekujur tubuhnya.


Dear Valentino,...


Val, aku pergi. Ini hadiah dariku. Ikat pinggang dari suku Zulu yang terbuat dari kulit banteng. Menurut mereka ini adalah ikat pinggang immortal. Yang artinya abadi. Terima kasih atas segalanya, atas waktu yang tidak berguna selama bersamaku.. Terima kasih atas semua hadiah yang kau berikan padaku. Aku membawanya karena kau akan marah bila aku meninggalkannya. Cincin yang ku pakai ini.. Mungkin aku akan menjualnya bila aku menginginkan sepotong cake red velvet. Semoga kau bahagia Val, aku tidak cukup punya doa yang bagus untuk kesuksesanmu, karena aku yakin kau dapat meraihnya. Aku berharap kita tidak akan bertemu lagi dan tidak saling bersinggungan dimasa depan. Hari ini cukup, Val.. Kita saling melukai.. Aku berjanji tidak akan mengganggu hidupmu, aku harap kaupun demikian. Kita hanya orang asing, di persimpangan jalan, aku tidak akan pernah ke Utara dan kau jangan pernah ke Selatan.. Karena kita selamanya hanya akan menjadi orang asing.. Selamat Tinggal Pinnokio, Kakek Geppeto menunggumu..


Leyka Paquito.


Sekelumit tentang Roti dengan butter, yang menggambarkan kesusahan masa perang, ketika Italy saling menjajah dan dijajah. Italy mempunyai catatan sejarah tersendiri, pernah menakhlukan Negara bagian Afrika, salah satu pendukung Nazi di Jerman, masuk dalam jajaran kekaisaran Eropa, dan juga liga bangsa bangsa.


Roti tidak beragi adalah gambaran masa kelaparan pada saat perang dunia ke I. Roti tanpa butter, adalah gambaran masa kesusahan. Roti dengan olesan butter, atau yang dikenal sekarang garlic bread adalah roti bagi rakyat jelata di zaman perang dunia ke II. Setelah masa perang berakhir dan jaman pun telah berganti, para baker membuat roti itu kembali dan meluas hingga sekarang. Orang biasanya memakan roti dengan daging, olahan ikan atau telor mata sapi, namun orang yang di strata perekonomian dengan taraf hidup yang rendah, mereka hanya mengkonsumsi 3 roti sebagai menu utama. Roti tidak beragi atau makan roti saja karena tidak cukup uang untuk membeli daging dan makan roti dengan butter, karena uang mereka hanya cukup untuk membeli butter.


Di era sekarang, roti tidak beragi dan roti tanpa atau dengan butter, justru menduduki restauran atau cafe bintang lima. Para baker dan chef menyingkirkan kesenjangan dan perbedaan itu. Namun istilah itu, Roti tidak beragi dan Roti dengan atau tanpa Butter menjadi sebuah istilah dan ungkapan bahasa sarkasme yang populer, digunakan untuk bahasa sehari hari. Bahkan di berbagai belahan dunia, ada yang merayakan hari raya Roti Tidak Beragi. Itu agar manusia mengingat penderitaan dan keprihatinan yang mengajarkan manusia agar tidak mengangkat kepalanya tinggi tinggi, tapi menundukkan kepalanya melihat ke bawah.


Berbeda dengan Cake Red Velvet di gunakan sebagai simbol kemewahan dan kekayaan. Simbol yang digunakan bagi kaum kelas atas yang mempunyai strata tertinggi. Secara garis besar, Valentino menginginkan Red Velvet dan Leyka hanya menginginkan Roti saja sudah cukup baginya, Leyka diajarkan Ayahnya yang mana hanyalah seorang rakyat jelata yang menikahi Rosemary seorang wanita keturunan bangsawan dari Raja Felipe ke VI. Leyka diajarkan selalu untuk menunduk seperti Valentino yang sekarang menunduk sedalam dalamnya membaca surat Leyka yang menampar harga dirinya. Ia bahkan duduk di lantai dan bersandar pada ranjang. Tubuhnya luruh seakan tidak bertulang.


"Leyka" desis Valentino sambil meremas surat itu. Matanya berkaca kaca pikirannya terbang pada pertengkarannya barusan.


"Ada yang salah dengan ucapanku. Tidak.. Tidak.. Dia wanita yang berbeda. Dia wanita yang tidak memikirkan harta bahkan dia membuang gelar bangsawannya hanya untuk menjadi orang biasa.. Ya Tuhann, aku memperlakukannya seperti.. Seperti-- Rebecca!! Shit Leyka! Kemana kau pergi?" Valentino semakin kacau.


"Leyka kau dimana?!" mata dengan semburat kemerahan, akhirnya menurunkan cairan hangat yang membasahi pipi hingga ke dagunya. Alisnya menegas dan mengerut hangat.


"Aku melakukan kesalahan!"Valentino mengacak rambutnya. Ia berpikir keras dimana keberadaan Leyka saat ini. Valentinopun bergegas membereskan semua barang barangnya, sesaat ia menatap kedalam kamarnya yang ditempati bersama Leyka. Tawanya, senyumnya, desahannya bahkan tangisnya terlintas di kepala Valentino. Ia pun menutup pintu itu dengan segenap perasaan luka yang bercampur penyesalan dan ia bergegas check out dari Hotel Castello de Monte.


Leyka kau ada dimana.. Mengapa aku tidak mengenalimu.. Apa yang ku pikirkan.. Dia bukan Rebecca.. Dia Leyka Paquito, wanita yang berbeda dan istimewa.. Aku sangat bodoh..


...*...


"Jadi dia bukan kekasihmu?" Leyka menggelengkan kepalanya dengan tatapan nanar.


"Dia hanya pria asing yang baru saja kau temui?" Leykapun mengangguk dan airmatanya kembali berlinang.


"Apa kau menyukai pria itu?" Leyka terdiam.


"Sepertinya dia pria yang baik" Leyka mengerjapkan matanya, bulu mata lentiknya masih basah dan terlihat berpencar. Ia menyandarkan kepalanya di dada orang yang dianggapnya sebagai ayahnya, belaian lembut pada rambutnya sangat menenangkan hatinya. Ya, Leyka ke rumah Helbert.


Leyka tidak ingin bercerita tapi pertanyaan demi pertanyaan, melemahkan hatinya sehingga airmatanya turun begitu saja tanpa sanggup ia cegah. Pelukan Helbert membuat Leyka semakin mengucurkan airmatanya.


"Tia Rhamona (bibi; spanyol) sangat berpengalaman dalam menilai lelaki" ujar Helbert dengan nada menyindir.


"Tapi hanya kau yang bisa menakhlukanku-- Kata Rhamona kepada suaminya, ia pun membelai rambut Leyka ---dengar putri kecilku. Cinta, memang benar harus ada sesuatu yang lebih besar. Tapi pengorbanan sekalipun tidak bisa mengartikan bahwa itu Cinta sejatimu. Kadang kadang, manusia harus mengalami ujian Cinta dan waktu yang akan mengujinya. Pengorbanan yang begitu besar, tidak bisa dianggap itu cinta sejati. Entah kemalangan atau kemujuran, apa kau lihat pengorbanan Ibumu untuk mencintai Ayahmu? Meninggalkan gelar bangsawan dan justru Locki Gusmo yang menjadi pemenang pada akhirnya" Belaian lembut Rhamona membuat Leyka beringsut dari pelukan Helbert, ia menyeka matanya dan memeluk Rhamona.


"Terima kasih Tia (bibi), hatiku menjadi lebih baik sekarang" ujar Leyka dengan senyum yang dipaksakan.


"Pachito, kau masih muda, jalan hidupmu masih panjang. Mimpimu jangan sampai membuat langkahmu terhenti. Berjalanlah tanpa bangun dari mimpimu. Mimpi terselip harapan, Pachito. Kau hanya perlu meraihnya. Kau jangan pernah memupus harapanmu. Lakukan segalanya sesuai kata hatimu, belajarlah mendengar kata hatimu. Jangan melawannya" Leyka pun kembali memperlihatkan senyumnya, saat Rhamona membelai pipinya. Ada kenyamanan pada keluarga Helbert, berbeda dengan keluarganya sendiri di Palma. Keluarga bak Neraka bagi Leyka.


"Malam telah larut, sebaiknya kamu beristirahat" Helbertpun membelai punggung Leyka yang kian kurus dan memucat. Mereka duduk sofa ruang tengah di depan perapian yang menghangatkan ruangan itu bila malam tiba.


"Vader.. Moeder (ayah, ibu; Afrika)" mereka serempak menoleh ke arah langkah kaki yang memasuki ruang tengah.


Seorang laki laki berkulit hitam dan satu laki laki berkulit putih berjalan kearah tangga dengan mata memerah.


"Henry, kau pulang larut?" tanya Rhamona dan para pria itu menghentikan langkahnya.


"Moeder (Ibu; Afrika) maafkan aku-- Ahh, sepertinya ada tamu atau Moeder memungut gelandangan?" Leyka terbelalak mendengar laki laki yang disebut Henry itu mengatakan dengan bahasa sarkasme, Henry terlihat santai sementara Leyka terlihat buruk, tapi karena keresahannya, akibat ulah Valentino, ia tidak bereaksi dengan kata kata Henry.


"Henry jaga bicaramu! Dia Leyka anaknya Paman Pacho?" hardik Helbert membuat mata Henry terbelalak.

__ADS_1


"Oh My God! Apakah dia si cengeng itu?-- Tunggu aku akan mengantar kawanku ke kamar, dia mabuk parah" Henrypun memapah kawannya yang berkulit putih menaiki tangga untuk mengantarnya ke kamar.


"Leyka maafkan Henry, apa kau ingat Henry?"


"Tia Rhamona, memoriku sangat minim. Bahkan aku tidak ingat bagaimana dia dulu saat kecil" Leyka mencoba menerbangkan ingatannya.


"Aku membawa anak anakku ke Palma setahun kepergian Ayahmu. Dan itu Henry salah satunya yang seumuran denganmu" Helbert akhirnya angkat suara. Leykapun mengingat kepingan memori masa kecilnya yang samar samar.


...-----...


Masa kecil Leyka


"Henry, mengapa rambutmu seperti broccoli?" tanya Leyka kecil dengan boneka kayu pinokio didekapannya. Matanya yang bulat menatap rambut Henry kecil dan memiringkan kepalanya.


"Ahh itu karena, aku tidak suka broccoli-- Kata Moeder, sayur broccoli di huni Raja broccoli yang tidak terlihat dan mengutuk rambut anak anak yang tidak menyukai broccoli" Leyka menutup mulut kemerahannya, yang terbuka karena perkataan Henry.


"Ooh Tidak! Aku mau makan broccoli, aku akan menyukainya! Aku tidak mau rambutku menjadi Broccoli!" pekik Leyka dengan mata bulat bersinar.


"Percayalah, rasanya tidak enak! Aku tetap tampan sekalipun rambutku seperti broccoli!" ujar Henry yang berkacak pinggang akhirnya bersedekap.


"Tapi aku tidak tampan bila rambutku seperti broccoli" Leyka mengusap pipi tembemnya dan mengusap usap rambutnya sendiri.


"Cihh, karena kau perempuan! Tapi Raja Broccoli akan mengutuk boneka pinokiomu!" Henry pun menunjuk dengan jari telunjuknya, boneka kayu yang ada di dekapan Leyka


"Apakah bisa Raja Broccoli mengubah pinokio menjadi manusia? Aku tahu itu hanya dongeng" Leykapun tiba tiba lesu.


"Mengapa kau ingin membuatnya menjadi manusia?"


"Aku ingin dia mengeluarkan aku dari sini, dari rumahku dan membawaku ke rumah Kakek Geppeto, aku akan meminta Kakek Geppeto menyihir Ella Gusmo dan Locki menjadi boneka kayu" ujar Leyka setengah berbisik diantara airmatanya yang mengalir saat itu juga.


"Mereka pasti menindasmu! Jangan cengeng! Serahkan padaku dan mari kita balas!" Henry pun menarik tangan Leyka berlarian dan mereka membuat kekacauan. Hanya teriakan Ella Gusmo tercebur di kolam renang setelah itu.


"Hey!! Ley! Leyka! Pinokiiooo!" Leyka tersentak dari lamunan, saat Henry menjentikkan jarinya di depan wajahnya.


"Henry! Broccoli! Apakah ini dirimu?" Leyka bangkit berdiri tegak dan memutari tubuh Henry. Helbert dan Rhamona tertawa dengan saling memandang.


"Iya, cengeng ! Kau mengingatku?"


"Aaaa Henry!!" seru Leyka dengan bersorak kegirangan. Henry mengangkat kepalanya dan bersedekap gaya khasnya saat Henry kecil. Leyka terbahak dan memeluk Henry dengan menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan sehingga Henry ikut bergoyang.


"Hei hati hati dengan sikapmu, kita bukan anak kecil lagi, aku laki laki dewasa dan aku laki laki normal!" Leyka terbahak dan memukul lengan Henry. Helbert dan Rhamona kembali tertawa melihat mereka berdua.


"Maafkan aku atas perkataanku tadi" ujar Henry.


"Huh! Untung kau pernah menindas Ella Gusmo untukku, jadi aku memaafkanmu" balas Leyka sambil meninju dada Henry.


"Itu karena Moeder selalu membawa pulang siapapun yang terlantar di jalanan" Henry menggelengkan kepalanya.


"Itu karena kebaikan hati Tia Rhamona, tidak kejam sepertimu"



"Leyka, Henry tinggal di Paris. Bila kau kesana, mampirlah. Dia kuliah disana dan bekerja disana. Dia pernah magang saat kuliah, dan akhirnya diangkat menjadi karyawan tetap" ujar Helbert.


"Henry! Apa benar?" Leyka masih membulatkan matanya.


"Kau tau kan? Otakku encer dan tidak mudah ditindas"


"Hissh! Kau menyindirku, Broccoli?" kembali Leyka memukul, lengan Henry.

__ADS_1


"Aku menyukai Broccoli sekarang, berapa lama lagi kau di Pretoria?" Tanya Henry diam diam memperhatikan Leyka lekat lekat.


"Leyka akan kembali besok, kau datang terlambat" Helbert menyahutnya dengan cepat.


"Sayang sekali-- Aku juga akan kembali besok ke Paris bersama kawanku, besok kita berbincang lagi. Rasanya kepalaku sangat berat" ujar Henry memijit pelipisnya.


"Istirahatlah, aku juga akan tidur" Leyka tersenyum dengan menepuk nepuk lengan Henry.


"Baiklah, Leyka ikuti Tia (bibi) ke kamarmu" ujar Rhamona bangkit berdiri dan menggandeng tangan Leyka.


"Vader, Moeder, Leyka.. Goeie nag (selamat malam; afrika)" ujar Henry seraya menaiki tangga menuju kamarnya.


Leyka pun memasuki kamar tamu dengan lantai kayu. Ia menghempaskan tubuhnya dengan telentang, wajah Valentino melintas begitu saja. Ia membenamkan wajahnya dibantal, tapi bayangan Valentino tak kunjung beranjak pergi dari benaknya. Malam kian larut, waktu terus berputar, detik demi menit berjalan menguras kenangan yang tidak bisa terkikis untuk saat ini. Leykapun tertidur.


Val apa kau mencariku? Apa kau baik baik saja..


...*...


Pagi Terakhir di Pretoria


"Buenos Dias, Leyka" Rhamona meletakkan piring dan menarik kursinya kemudian duduk seraya menyapa Leyka dalam bahasa Spanyol. Leyka pun duduk setelah menyapa Helbert dan Rhamona. Henry belum terlihat di meja makan. Leyka duduk di meja makan dan Rhamona melayaninya, namun Leyka mencegahnya.


"Tia, biarkan Leyka saja. Tia, beristirahatlah" Leykapun bangkit berdiri dan menuangkan menu breakfast di piring Helbert, Rhamona dan miliknya.


Kari domba ala Afrika sebagai lauknya dan sebagai makanan pokoknya adalah olahan nasi khas Afrika seperti risoto yang isinya beras, kacang merah, kacang hijau, jagung, kacang pili dan di taburi pecahan almond, hazelnut, walnut dan kacang pistachio dengan bumbu kemerahan ala Afrika yang mengandung banyak rempah. Garlic Bread tertata rapi di meja, Leyka mengambilnya dengan tersenyum, ia mengingat Valentino. Setelah siap semua di hidangkan ke masing masing piring, Leyka kembali duduk dan menyantap sarapannya.


"Nanti Uncle akan mengantarmu, tiketmu hilang kan? Uncle akan menjadi penjaminmu. Dan kamu harus fokus pulang begitu sampai di Johannesburg. Karena bila tidak, kau akan tergoda disana untuk tinggal. Johannesburg tidak kalah bagus. Disana lebih modern. Banyak ekspatriat disana dari segala penjuru dunia, terutama orang Inggris dan Belanda" ujar Helbert membuka pembicaraan sambil menyantap makanannya.


"Banyak laki laki tampan disana" Rhamona terkekeh sambil mengerlingkan matanya kearah Leyka.


"Aku ingin cepat ke Barcelona, Tia. Aku tidak tertarik dengan laki laki manapun. Leyka malas menjalin hubungan dengan laki laki untuk sementara waktu. Aku mau fokus dengan hidupku saja. Mencari pekerjaan dan mengenal lebih dekat keluarga Ayahku" ujar Leyka dengan nada datar.


"Waahh apa aku tidak salah dengar? Leyka, apa kau sedang patah hati?" Sahut Henry menuruni tangga bersama kawannya, ia terlihat sudah rapi.


"Hish, aku tidak patah hati! Aku sedang pre-menstruated syndrom. Hati hati bicara denganku, aku bisa membuat wajahmu menjadi broccoli!" Henry tertawa di iringi semuanya di meja makan itu, tawa yang penuh keakraban. Kebersamaan yang hilang setelah Ayahnya tiada. Henrypun menghampiri Leyka bersama kawannya.


"Ley, kenalkan kawanku! Kami satu perusahaan dan satu kamar di Paris. Dia juga seorang fotografer" Leyka kemudian menatap mata seorang pria yang berdiri disamping Henry. Leyka bangkit berdiri, mereka melemparkan senyuman dan saling berpandangan dengan mengulurkan tangannya masing masing.



"Damian-- Damian Vreygano"


"Leyka-- Leyka Paquito Fernandes"


Apakah ini gadis yang aku foto di Palace of Justice kemarin? Atau hanya mirip? Sepertinya berbeda.. Lalu kemana pria nya? Tidak tidak.. sepertinya bukan gadis itu.. Aku akan memeriksanya nanti.. DAMIAN.


-


-


-


kalian tuh ya, mbok jangan menyempilkan nganu eh menyimpulkan susuatu terlalu cepet 🤣


kalian tuh udah berapa lama bersanding di susuhku eh sisihku 🤣 dede emeesshh deh. Apal dong kl alurnya mengedduutkan 🤣


Perpisahan yg sesungguhnya itu disaat semua justru dalam keadaan baik baik saja. Bukan saat berantem! Aku rasa itu lebih nyesek sih, ga tau deh klean. Aku kan kudu ngasih tau Leyka kemana Valentino kemana, ketemu siapa dan semalam berbuat apa dong.. 🤣


Peganglah alurku kaya pegang batangan nganu yg kokoh.. aku udh prnh bilang, ketemu di kereta, berpisah di kereta dan bersatu lagi di.. ehmm ada deehh 😜

__ADS_1


tekan Booth tanda jempol dibawah! Jangan lupa yaa 😉


__ADS_2