FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
PRETORIA : Apa Kau Memikirkanku?


__ADS_3

"Val, aku memang akan meninggalkanmu ke perkebunan Mawar, aku tidak kemana kemana, aku hanya disekitar perkebunan ini. Kau pikir aku akan kemana-- Kau lihat! Ada anak pemilik perkebunan ini kata pelayan, aku ingin ikut tour mereka" Leyka masih duduk di pangkuan Valentino dan melingkarkan tangannya di leher Valentino, Leyka menempelkan dahinya ke dahi Valentino. Mereka berbicara dengan jarak yang sangat dekat.


"Jangan jatuh cinta pada Pak Tua itu" kata Valentino dengan mengecup bibir Leyka.


"Bila aku punya Cinta, aku hanya akan jatuh cinta padamu" kata Leyka menggesekkan hidungnya ke hidung Valentino.


"Kau punya Leyka" bisik Valentino dengan mere*mas punggung Leyka yang tidak juga di lepaskannya.


"Huumm.. Aku pergi dulu" Leyka mencium bibir Valentino mengisyaratkan Leyka menghindari perbincangan itu dan ia beranjak pergi. Leyka berlarian kearah perkebunan bunga mawar terbesar dan menjadi perbincangkan hangat di daratan Eropa. Bahkan Ratu Elizabeth pernah memesan bibit mawar untuk di tanam di Kerajaan Inggris. Leyka bergabung dengan yang lain, banyak para wisatawan yang ikut tour ke perkebunan itu.


"Disana para pekerja akan mengambil batang bunga mawar yang sudah tua dan berakar kuat lalu akan di kawin silangkan dengan warna lain, kami memiliki rumah kaca dimana benih benih itu akan di berikan formula khusus, sejenis pupuk" kata pemandu tour di perkebunan itu. Leyka mengambil foto beberapa bunga yang menarik untuknya.



"Kami menyatukan batang mawar yang berbeda warna dan jenisnya ke dalam botol yang berisi air larutan, setelah berakar dan menyatu, kami baru akan memindahkannya ke polibag yang berisi pupuk, setelah tiga bulan kami akan memindahkannya ke perkebunan"



"Pohon itu akan kami periksa satu persatu setiap harinya. Pohon mawar akan tumbuh cepat di tanah yang subur dan tidak kekurangan air. Mawar harus mendapatkan pupuk yang berkualitas"


"Terkadang kita harus mengajak berbicara seperti manusia, mawar seperti punya keajaiban" kata pemandu itu yang masih keturunan Ludwig.


"Mengajaknya bicara?" gumam Leyka.



"Jangan heran bila melihat petani disini, dia seperti berbicara sendiri seperti kerasukan, mereka berbicara pada setiap kuncup mawar agar bermekaran indah seperti disana" Laki laki setengah baya itu menunjuk sebuah area yang menjadi icon Ludwig's Garden.



"Mereka bermekaran karena tangan petani itu hangat dan berbicara dengan mawar itu setiap hari. Menanam dengan hati akan berbeda hasilnya"


"Menanam dengan hati?" gumam Leyka lagi.


"Dan kita akan menuju ke pembibitan bunga mawar, kami akan mengajarkan bagaimana cara menanam yang benar. Struktur tanah, kedalaman lubang akan sangat berpengaruh, silahkan ambil bibit yang disana" Pemandu itu menunjuk ke sebuah area yang terdapat ratusan ribu polybag hasil pembibitan silang.



Satu persatu mereka mengambil bibit di polybag dan mereka menuju lahan kosong yang disediakan, mereka menyusuri taman bunga mawar yang tertata rapi dan bermekaran. Ribuan jenis mawar dengan berbagai macam keunikan warna menyihir wisatawan yang mengikuti tour itu.



Satu persatu mereka mangambil tempat dan meletakkan di tanah yang berlubang.


"Kedalaman lubang yang baik untuk mawar itu sekitar 45 - 55 centimeter, kedudukan cabang utama letaknya harus sejajar dari permukaan tanah, yang pertama kalian lakukan adalah masukkan pupuknya terlebih dahulu kemudian tanahnya" kata pemandu itu. Mereka duduk berjongkok dan membuka polybag dan meletakkan pada lubang yang telah digali, kemudian memasukkan pupuk yang telah di sediakan.


"Hmm.. berarti aku harus membeli pot yang cukup besar, kedalaman 70 senti cukup untuk menanam mawar di Apartemenku Barcelona, aku harus membawa bibitnya dari sini, anggap saja itu tanda--


"Mawar adalah tanda Cinta bila menanam dengan cinta maka bunganya akan banyak bermekaran, mawar simbol cinta yang tidak lekang oleh waktu, bunganya memang rapuh, tapi akar Mawar adalah akar yang sangat kuat, dia akan bersemi dan berbunga lagi dari musim ke musim" pemandu itu seakan memotong gumaman Leyka. Dan Ia mendengus karenanya.


"Hisst! Fu*ck dengan cinta cinta" gumam Leyka.


"Apakah aku bisa membawanya pulang?" tanya Leyka melambaikan tangannya.


"Tentu saja bisa Nona"


"Yesss!" Leykapun bersorak.


"Setelah anda membayarnya tentu saja" semua tertawa kecil melihat Leyka. Ia pun melanjutkan mengubur akar mawar pilihannya. Setelah Selesai Leyka membuka sarung tangannya dan mendekati pemandu itu.


"Apakah tetap hidup bila aku bawa ke Barcelona?" tanya Leyka penuh semangat.


"Bunganya akan rontok dan daunnya akan layu tapi selama masih ada akarnya, mawar itu akan tetap tumbuh dan berkembang di tanah yang subur dan seperti itu jugalah cinta" laki laki pemandu itu tersenyum penuh keakraban.


"Cinta?" Leyka tertegun mendengar perkataan laki laki itu, selama ini tidak ada yang mengajarinya tentang apa itu cinta. Diam diam Leyka mencernanya.


"Aku melihatmu di restauran dengan suamimu, kau pemilik cincin kuno bunga jacaranda dan suamimu juga" Laki laki itu tersenyum ramah dan mengambil sarung tangan yang ada di tangan Leyka dan memasukkannya ke keranjang yang ia bawa, agar para wisatawan mengembalikan sarung tangan yang dipinjamkan.


"Suami? Dia..Dia hanyalah--


"Sudahlah, kalian sangat serasi. Akar cinta kalian sangat kuat. Kalian saling menatap penuh cinta. Apalagi tatapanmu. Tetaplah seperti itu sampai menua bersama" lagi lagi laki laki itu bertutur kata dengan wajah hangat dan senyuman yang ramah.


"Tatapan penuh cinta? Kenapa anda tidak mengambil fotoku agar aku tau tatapan cinta itu seperti apa" kata Leyka membuat laki laki setengah baya itu tertawa.


"Saat tatapanmu tidak bisa dialihkan, saat ekor matamu selalu mencarinya, saat tatapanmu selalu berbinar bila melihatnya, tatapan itu seperti tatapan mata pertama kali seorang wanita melihat bunga, seperti itulah tatapanmu, Nona-- laki laki itu mengulurkan tangannya.


"Leyka.. Namaku Leyka" tangan Leykapun terulur dengan menyebutkan namanya.


"Panggil aku Tasky" dan laki laki itu mengguncangkan tangannya dan menyebutkan namanya.


"Jadi anda tadi melihatku?"


"Aku melihat semua tamuku, aku memperhatikan mereka semua karena itulah kebun ini punya banyak penggemar dan kebun kami punya banyak sahabat di seluruh penjuru dunia"

__ADS_1


"Terima kasih untuk hari ini, aku mendapatkan pelajaran berharga untuk sebuah mawar dan cinta" kata Leyka tersenyum merekah.


"Kalau mau beli bibit ada di store kami di samping restauran, tetaplah menanam cinta karena dunia ini akan penuh kegelapan tanpa cinta. Hati akan hampa, kosong dan penuh Luka tanpa cinta. Cinta yang akan memberi warna dan mengisi ruang hati hingga luka dan kehampaan itu menghilang" ujar Tasky dengan raut wajah bijaknya. Sepertinya laki laki ini sangat berpengalaman, pikir Leyka.


"Bukankah di dalam cinta ada luka?" Leykapun penasaran dengan perbincangan itu.


"Cinta yang akan menyingkirkan luka, sekeras apapun luka itu mendekatinya, tapi cinta yang akan menyempurnakan dan membuat hati dipenuhi bunga bunga seperti di taman ini-- Bagaimana bila taman ini tidak ada bunganya maka hanya lahan kosong, kering dan tandus"


"Bagaimana jika hati di lindungi cangkang yang keras? Ehm-- seperti kerang mutiara. Seperti ada bentengnya dan didalamnya ada luka. Bagaimana cinta itu bisa masuk?" Tasky tertawa kecil dengan menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Leyka.


"Nona Leyka, Cinta bisa menembus apapun. Menembus ruang dan waktu, setinggi apapun dan sekuat apapun benteng seseorang cinta bisa menembus apapun bahkan cinta bisa menembus Luka. Kau hanya perlu memenuhi hati mu dengan cinta"


"Bisa menembusnya?" Leyka tertegun mendengarnya.


"Bila Sang Maha Cinta menempati hatimu, siapapun tidak bisa mengeluarkannya dari hatimu bahkan dirimu sendiri, Nona Leyka"


"Sangat dahsyat-- Valentino" gumam Leyka saat wajah Valetino terlintas begitu saja di kepalanya.


"Aku akan mengakhiri tourku-- Terima kasih atas segalanya sekali lagi, aku tiba tiba merindukan--


"Suamimu"


"Ya ya ya... Suamikuuuu!" Leykapun berlari dengan tawanya dan bergegas meninggalkan tour itu dan berlarian diantara kebun bunga mawar. Leyka lama berpisah dengan Valentino dan itu membuatnya rindu. Tidak terasa tour itu sangatlah lama hampir 4 jam Leyka menghilang.


Leyka kembali ke restauran tapi Valentino tidak ada disana, Leykapun mencari ke parkir mobil namun mobil yang Valentino sewa masih ada disana.


"Val kamu dimana.. Kau bilang di lahan sebelah Ludwig's Roses, apa kau ada disana?" gumam Leyka. Belum sempat berpikir panjang seorang pelayan memberikan secarik kertas kepada Leyka. Valentino menulis pesan kepadanya.


Ley... Lama sekali.. Apa kau memikirkan ku? Kau pasti tidak memikirkanku.. Kamu lama sekali Ley, aku bosan wanita ini terus berbicara hal hal yang tidak penting.. Aku ke lahan sebelah Ludwig, tunggulah bila kau sudah sampai terlebih dahulu.. Padahal aku ingin mengajakmu..


"Dimana lahan yang akan dibangun Hotel?" Leyka tersenyum membaca secarik kertas itu, bahkan senyumnya tidak memudar saat bertanya kepada seorang pelayan yang memberikan secarik kertas itu.


"Disebelah sana di dekat taman itu Nona" tunjuk pelayan itu.


"Terima kasih" Leykapun menyimpan secarik kertas itu dan berlarian kearah taman yang di tunjukkan pelayan itu.



Diantara pagar yang di rayapi bunga mawar dan tumbuh subur, yang menjadi pembatas antara taman Ludwigs dan lahan kosong, Leyka menghentikan langkahnya dan mendengarkan percakapan mereka. Sayup sayup terdengar wanita itu bertanya mengenai tanah yang akan dibangun Hotel yang Valentino rancang.



Laterit atau tanah merah adalah jenis tanah tidak subur. Tanah merah itu tadinya subur dan kaya akan unsur hara, tetapi unsur hara tersebut hilang karena larut dibawa oleh curah hujan yang tinggi. Laterit merupakan tanah yang kaya akan seskuioksida dan telah mengalami pelapukan yang lanjut. Tanah mineral ini miskin akan mineral-mineral dan mudah lapuk serta kandungan mineral resisten sangat tinggi. Karena kaya akan seskuioksida, maka tanah ini mempunyai muatan positif dan didominasi oleh aktivasi mineral rendah. Tanah ini akan kuat bila di dirikan bangunan.


"Perlu banyak air untuk tanah ini agar subur, karena itulah Ludwigs tidak mau membeli tanah ini. Tanah ini memang cocok untuk rancanganku, aku akan memberitahu Jared setelah ini" kata Valentino.



"Tanah merah ini sangat unik Mister Gallardiev, di sebuah suku di Afrika tanah ini di campur rempah rempah dan di balurkan ke seluruh tubuh, mereka tidak pernah mandi tapi anehnya mereka tetap wangi, seperti aku" kata wanita itu dengan lidahnya yang lincah dan tawa yang renyah serta suara yang dibuat buat agar terdengar merdu juga menggoda.


"Ya aku pernah mendengarnya, suku tercantik di Afrika adalah suku Himba atau suku Merah di Namibia Utara, mereka menggunakan tanah merah ini, tanah ini mengikat rempah rempah karena itulah wanginya tahan lama. Di Indonesia mereka mengawetkan dan mengasinkan telur dengan tanah yang di campur garam" jawab Valentino sangat diplomatis.



"Pengetahuanmu lumayan Mister Gallardiev" wanita itu yang ditemui Leyka di toilet itu terus memuja dan menggoda Valentino dengan suara yang dibuat buat, berbeda dengan suaranya di ponsel yang Leyka dengar di toilet, Leyka mengikuti langkah mereka diam diam dibalik rimbunnya bunga mawar, karena mereka hanya di pisah pagar pembatas.


Kedudukan Valentino lebih tinggi dan Leyka lebih rendah, rimbunnya pohon tidak bisa melihat dengan jelas, namun Leyka bisa melihat tapak kaki mereka berjalan menyusuri pagar dari sela sela ranting. Dan pandangan Valentino hanya hamparan hijaunya dedauan dan bunga mawar warna warni. Valentino perlu menunduk hingga ranting ranting untuk melihat ke arah Leyka.


"Karena memang itu kuliahku" jawab Valentino datar.


"Aku pernah membeli Otjize, tanah merah dengan rempah di pasar tradisional di Namibia, dimana suku merah berada dan aku memakainya, baunya itu memang sangat sexy dan aku menjadi tercantik diantara semua wanita di suku himba, dan kulitku menjadi sangat halus. Ramuan itu wangi. Aku memakainya keseluruh tubuhku" Diam. Valentino diam matanya tertuju pada lahan yang di ratakan dengan tanah dari kejauhan.



"Yang tercantik hanyalah kekasihku, sayangnya ia ikut tour di perkebunan, aku ingin memperkenalkannya padamu, Miss Bertha" kata Valentino tersenyum sinis.


"Bukankah kalian tidak jadi menikah?"


"Aku tidak jadi menikah dengan tunanganku-- Sebaiknya tidak usah membicarakan hal pribadiku" kata Valentino kembali berjalan kearah seseorang dari sebuah suku sedang menanam pohon.



"Dia tetap berusaha menanam pohon padahal kami sudah melarangnya, ditanah ini padahal-- bukannya tidak akan tumbuh subur?" kata Bertha dengan menggelengkan kepalanya.


"Mencabut 1 pohon berarti harus menanam 10 pohon sebagai gantinya, pak tua itu menjalankan adat istiadatnya, menanam pohon akan mendapatkan berkah. Sekalipun di tanah tandus mereka tetap menanam tidak perduli tumbuh subur atau tidak. Seperti itu juga tentang Cinta, ditanam di tanah tandus tidak perduli tumbuh atau tidak, tapi akar pohon itu entah siapa yang bisa tahu akan menancap kuat atau tidak" Valentino tersenyum kepada laki laki tua itu dan membantunya menanam pohon. Pikirannya terbang memikirkan Leyka, dihatinya yang begitu tandus dan gersang, Valentino mencoba menanamkan cinta tidak perduli akarnya akan mencengkeram kuat atau tidak


Val, sekalipun di tanah gersang kau tetap menanamnya. Val, mengapa aku sangat terharu melihatnya, mengapa hatiku seperti ditusuk tusuk. Leyka.


"O iya Mister Gallardiev, perusahaanku mengundangmu nanti malam. Ada acara makan malam, tempatnya sangat romantis. Di Barn yang terbuat dari kaca, di balik perbukitan zaitun nanti aku akan kirim alamatnya, maketmu akan di pertontonkan disana"


"Baiklah aku akan datang" Valentino bangkit berdiri dan menepuk telapak tangannya yang kotor. Pak Tua itu memegang tangan Valentino dan menepuk kepala dan pundaknya dengan tertawa renyah dengan berkata kata dengan bahasa yang tidak Valentino mengerti. Valentino kembali berlalu menyusuri pagar pembatas perkebunan Ludwigs dimana Leyka mengikuti di rimbunnya bunga mawar.


"Kau bisa menjemputku di hotel, Gallardiev" Valentino terdiam dan terus mempercepat langkahnya, tujuannya adalah restauran dimana Leyka menunggunya.

__ADS_1


"Jared akan menghubungimu, Miss Bertha" jawab Valentino masih bersikap formil padahal Bertha telah memanggil Valentino dengan nama saja.


Bertha pun menyusul dan mengimbangi langkah Valentino. Dan tiba tiba Bertha menjerit dengan keras dan mengejutkan Valentino. Saat membalikkan tubuhnya Bertha telah menerjangnya dan Valentino menangkapnya. Valentino nyaris terjerembab namun ia menahan tubuhnya di pagar pembatas hingga duri duri mawar menusuk punggungnya.


"Maafkan aku.. Aaaaww! Sakit sekali" kata Bertha memegangi kakinya.


"Kau tidak apa apa, Miss-- Aargh ****!!" Valentino melepas kedua lengan Bertha dan melihat kearah pundaknya sendiri.


"Apa punggungmu tidak apa apa? Apa berdarah? Mana aku akan melihatnya" Bertha memegang punggung Valentino dengan meringis.


"Tidak apa apa.. Mungkin hanya lecet" Valentino menepisnya dengan sopan.


"Buka saja kemejamu aku akan memeriksanya"


"Tidak masalah, perhatikan kakimu saja" kata Valentino menggerakkan pundaknya menahan perih.


"Aaaww!" Bertha kembali meringis menahan sakitnya. Valentino mendengus kesal dibuatnya.


"Apa kau bisa berjalan?"


"Sepertinya kau harus memapah atau menggendongku.. Sakit sekali" Bertha langsung memegang lengan Valentino dan Valentino serba salah dibuatnya. Disaat Valentino ingin melepaskan pegangan Bertha, suara dibalik pohon mawar yang rimbun sangat mengejutkannya.


"Val? Apakah itu kau?"


"Leykaaaa!" Valentino sontak melepas tangan Bertha dan meloncat ditempat untuk melihat kesebelah pagar itu. Karena tidak terlihat Valentino menunduk kearah ranting dan ada wanita asing yang memenuhi kepalanya.


"Vall! Apa kau tidak apa apa?"


"Leykaaa! Dimana pintunya!" Melihat pucuk kepala Leyka, hati Valentino seakan ikut melonjak, Valentinopun berlari dan Leyka pun berlari dari sisi yang sama.


"Lurus terus paling ujung, Val!"


"Gallardiev! Itu siapa? Aw kaki kuuu.. Gallardiev!" Valentino hanya tersenyum dan berlari.


"Gallardiev! Aaaaaww!" Valentino menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang Leykapun berhenti dengan nafas tersengal, Bertha menjerit dengan sangat keras. Ternyata Bertha terkejut dengan kehadiran pak tua yang menanam pohon dan tiba tiba memapahnya, Bertha berontak dan berlari kearah Valentino yang mendengus dengan tertawa dan kembali berlari. Dan ternyata Valentino tersenyum sebelumnya bukan kearah Bertha namun kearah laki laki tua yang menanam pohon.


"Leykaaa!" Valentino terus berlari menyusuri pagar pembatas.


"Vall!" Leykapun turut berlari mengikuti suara dan tapak kaki Valentino dari pagar pembatas di rimbunan pohon mawar yang menghalangi pandangan mereka.


"Ley, kau jangan salah paham Ley!"


"Val, aku tahu dia pura pura-- Val, apa kau memikirkanku?"


"Selalu Leyka.. Tunggulah disitu aku akan datang untukmu Ley!" Valentino melihat pintu dan Leyka menghentikan langkahnya mengatur nafasnya.


"Gallardiev, aku pasti bisa mendapatkanmu! Jangan sebut aku Bertha Rafaello bila aku tidak bisa berkencan denganmu, kita dari negara yang sama!" desisan itu membuat Leyka menutup mulutnya dan kembali berlari.


"Leykaaaaa!"


"Vaaaall"




"Aahahaha-- Vaallll!! Tangkap akuu! Tangkap aku!! Tangkap aku!!"


Seperti lama tidak bertemu, mereka saling menyongsong dan saling merentangkan tangannya. Valentino menangkap tubuh Leyka dan memeluknya erat lalu menggendongnya dan dibawanya berputar putar. Gelak tawa mereka berpadu diantara rimbunnya pohon mawar dengan kuntum merekah dan berjatuhan kelopaknya tertiup angin di pinggiran Pretoria.


"Aku merindukanmu, Ley"


"Aku tidak Val" kata Leyka dengan tertawa dan Valentino tau, Leyka juga merindukannya lewat pelukan erat Leyka yang berbicara. Valentinopun menurunkan Leyka dan melu*mat bibir sensual itu dengan penuh kerinduan.


Siapa wanita itu? pikir Bertha.


...-...


...--...


...---...


...----...


Masih flat ya.. masih ngebosenin.. tapi ini adalah kunci.. "Halah thor, semuanya aja lu bilang kunci!"


Behahahahah.. Iya juga sih.. tapi mau gimana lagi.. karena masih dialur odong odong dan alur andong.. andong tuh delman ya.. masih santai tenang banyak udara jd masih bisa nafas.. ntar kl udah di barcelona ga bs nafas dan tamat.. jd kudu sabar piknik di Pretoria.. krn second judulnya, 'Love Story In Pretoria, South Africa'


Jangan lupa kirimkan kopimu, bungamu dan hatimu disini gaess 😘😘😘


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2