
...PART ONE...
Setelah mendapatkan informasi dari Jared, Valentino bergegas ke Apartemen Golden, di Distrik Golden. Apartemen yang ditumbuhi dan di kelilingi pohon ginkogiloba, pohon dengan daun dan bunganya yang berwarna kuning. Bila senja datang dedaunan dan bunga itu akan berkilau keemasaan karena itulah Distrik itu diberi nama Distrik Golden.
Distrik yang sangat strategis untuk mendirikan berbagai macam bisnis usaha, karena letaknya tepat di pinggir jalan raya, Barcelona Street. Jalan yang sering dilewati untuk berbagai macam festival dan arak - arakan penyambutan euforia kemenangan tuan rumah club sepakbola yang ditakuti dan diagungkan di seluruh dunia, FC Barcelona atau lebih dikenal dengan julukan Barca.
"Valentino? Apa yang kau lakukan disini? Tidak biasanya kau datang ke Apartemen Golden? Kau sedang tidak mencariku kan?" tegur Damian dengan tersenyum seraya menepuk pundak Valentino.
Damian saat itu sedang bersama Henry, mereka datang dari arah yang berbeda dan melihat Valentino menunggu lift yang sedang turun dan akan membawanya naik ke lantai sembilan. Damian dan Henry baru saja selesai sarapan di Kedai Double P lalu mereka akan kembali ke Apartemen Golden di lantai sepuluh untuk membersihkan diri lalu bersiap untuk bekerja.
Wajah Valentino sangat menyeramkan, tatapan matanya menajam dan dahinya berkerut kerut serta secara tidak sadar kakinya bergerak sendiri atau menghentak ke lantai. Tindakan yang menjadi pertanda bahwa emosinya sedang resah, cemas, atau tidak sabar menunggu sesuatu. Valentino di serang Restless leg syndrome atau sindroma kaki gelisah hingga nafasnya naik turun tak beraturan.
"Aku ada urusan! Untuk apa juga aku mencarimu? Kurang kerjaan saja!" ujar Valentino datar cenderung ketus.
"Apa semua baik baik saja? Bagaimana kabar Leyka dan Train? Aku merindukan anak itu" kata Damian membuat Valentino mendengus kesal namun ia masih tersenyum tipis. Di saat yang bersamaan Henry yang berdiri di samping Damian memberi kode dengan menggedikkan kepalanya untuk memperhatikan wajah Valentino yang tengah tidak bersahabat.
"Tentu saja semua yang ada ditanganku baik - baik saja! Mereka sehat, montok, se*xy dan menggemaskan! Mereka sangat bahagia bersamaku!" jawab Valentino dengan arogan, pamer dan membanggakan dirinya.
Jawaban Valentino nyaris membuat Henry terbahak namun ia menahannya dengan tangan mengepal untuk menutup mulutnya lalu ia pura - pura terbatuk - batuk seraya melengos kearah samping. Sementara Damian menghela nafas panjang dengan menghimpit rasa perih di hatinya yang tiba - tiba menyelinap begitu saja. Dua tahun lamanya, melewati kebersamaannya bersama Leyka dan Train, tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menghapus kenangannya begitu saja.
Sekuat tenaga Damian harus membiasakan dirinya untuk melupakan kisah cintanya, belajar menerima dan belajar ikhlas adalah sebuah pelajaran kehidupan yang sulit bagi semua orang termasuk Damian Freygano. Semua butuh waktu dan proses seperti sebuah kata bijak yang sangat mendunia yaitu, 'Biarkan waktu yang menyembuhkan luka' dan itu benar adanya. Tidak pernah ada, perasaan yang membekas begitu dalam dan akan berlalu begitu saja, semua butuh waktu serta proses yang panjang.
"Si, aku percaya kau mampu membahagiakan dan melindungi mereka dengan baik" kata Damian lirih dan Valentino hanya tersenyum tipis, namun penuh kebanggaan.
Pintu lift terbuka dan mereka masuk ke dalamnya setelah beberapa orang keluar dari sana. Henry menekan angka sepuluh dan Valentino menekan angka sembilan pada dinding lift disamping pintu kemudian lift itu bergerak naik keatas setelah pintunya menutup sempurna. Damian dan Henry saling melempar pandang lalu melirik kearah Valentino yang tidak ada kata 'ramah' pada wajahnya. Hanya satu kata yaitu, 'mengerikan'.
"Sepertinya kau sangat tergesa - gesa" kata Henry saat melihat sikap Valentino yang sedingin es itu bersedekap namun kakinya masih terserang Restless leg syndrome saat berada di dalam lift.
"Apa kau sangat penasaran?" tanya Valentino dengan mendengus lalu Henry menggedikkan bahunya seraya mengangkat kedua telapak tangannya setinggi bahunya tanda menyerah dan tidak akan bertanya. Mereka terdiam dalam keheningan hingga lift itu sampai dilantai sembilan.
"Oh iya, ngomong - ngomong-- Ucapkan selamat padaku karena Leyka sedang mengandung anak keduaku! Hahaha, benihku sangat unggul dan paten! Ahh, sekali tembak langsung berbuah dan berkembang di rahim Is tri ku!" Valentino mengeja kalimat terakhirnya dengan penuh penekanan dan matanya hanya tertuju pada Damian. Henry menahan tawanya melihat sikap Valentino yang dianggap kekanak - kanakan namun begitu arogan.
"Leyka mengandung?" Damian seakan kurang yakin dengan perkataan Valentino yang terdapat unsur kesengajaan hanya untuk membuat hatinya panas.
"Tentu saja! Itu semua karena keperkasaanku --Hahaha, Vamos ucapkan selamat!" seru Valentino dengan tertawa sumbang seraya menahan pintu lift yang telah terbuka.
Valentino menahan emosinya dan tersalurkan begitu saja, setelah bertemu Damian yang menjadi sasaran yang empuk dengan menyombongkan diri melalui mulut besarnya. Henry nyaris terbahak lagi melihat tingkah Valentino dan melihat tingkah Damian yang terpancing suasana hatinya. Damian serta Henry, sebenarnya merasa aneh karena sikap Valentino sangat dingin beberapa menit yang lalu dan dalam sekejap, sikap Valentino berubah drastis. Valentino sengaja membuat Damian panas hatinya dan Valentino berhasil melakukannya.
"Aku ucapkan selamat" ujar Henry menahan tawanya.
"Aku juga mengucapkan selamat semoga lancar hingga kelahiran anak keduamu" kata Damian kembali menelan getir salivanya. Valentinopun melangkahkan kakinya keluar dari lift seraya menepuk pundak Damian dengan tersenyum tipis.
"Gracias semuanya-- dan untukmu Damian, semoga harimu menyenangkan" kata Valentino dengan mengerlingkan matanya, satu sudut bibirnya terangkat keatas hingga terlihat seringaiannya samar samar dan Valentino berlalu dari hadapan mereka.
"Hy is mal (dia sudah gila; Afrika)!" ujar Henry menggunakan bahasa Afrika dengan menggelengkan kepalanya.
"Apa artinya" tanya Damian seraya menatap langkah Valentino menjauh seiring pintu lift kembali menutup.
"Dia sudah gila! Sepertinya dia sedang menghadapi masalah besar" komentar Henry.
"Ckk, sejak kapan kau menjadi cenayang?" ujar Damian masih menatap pintu dengan tangan bersedekap dan postur tubuhnya menyandar di dinding lift, kabar kehamilan Leyka serasa membuat lututnya lemas seketika.
"Sejak hatimu resah karena perkataannya-- Hahaha, lihat wajahmu memerah! Hahaha kau sepertinya kepanasan! Apa perlu aku mengirimmu ke kutub utara? Hahaha!" goda Henry dengan meledakkan tawanya yang ia tahan dan berhasil membuat Damian melengos dan mendengus kesal.
"Cih, berkatalah sesukamu!" ujar Damian semakin kesal.
"Lupakan apa yang tidak akan pernah menjadi milikmu! Belajarlah, aku tahu itu tidak mudah. Setidaknya Leyka dan Train bahagia sekarang, karena jika terus bersamamu, itu tidak akan membuat mereka sebahagia sekarang. Aku tidak menjamin mereka bahagia bersamamu. Ribuan kali aku mengatakannya padamu. Jangan biarkan dirimu hanya menjadi pelarian, fokus saja pada wanita yang kau tiduri. Jangan sampai sepuluh tahun kemudian, saat kau berjalan bersama kekasihmu atau tunanganmu, tiba tiba ada yang memanggilmu 'Pappaaaa.. Pappaaa.. Aku anakmuuuu!' Hahaha-- itu sungguh gila!" kelakar Henry disela sela nasehatnya. Henry terbahak seraya menepuk pundak Damian yang merengut lalu keluar dari lift karena mereka telah sampai dilantai sepuluh.
__ADS_1
"Cihh, tidak lucu!" ujar Damian dengan mendengus kesal lagi, lalu mengikuti langkah Henry yang masih tertawa meledak - ledak.
Aku tidak bertemu Pedro hari ini dan hari ini tidak ada info apapun.. Train pasti tahu siapa wanita Pedro, tapi anak itu ada jadwal menyapu halaman Tia Lucita.. Ah, kita dulu sering melakukannya, Train.. Aku merindukan keseharian kita.. Shittt.. Aku harus melupakannya.. Aku harus kembali ke Paris secepatnya, setelah lamaranku di terima.. Terlalu lama disini bisa membuatku gila.. Damian.
-
-
-
Braaaakkkkk!!
Valentino menendang pintu hingga terbuka lebar, padahal Jared baru membukanya sedikit saja. Sampai - sampai Jared mundur ke belakang untuk menghindari pintu yang bisa saja terhempas kearahnya karena tendangan itu. Jared menghela nafas panjang lalu menggelengkan kepalanya.
Derap langkah kaki Valentino yang mencari keberadaan Pallazo seakan meretakkan lantai Apartemen itu. Suaranya terdengar hingga ruang tengah dimana Pallazo dan Torres berada. Mereka saling pandang, Pallazo menyeka pipinya berulang ulang setelah mengetahui kedatangan Valentino. Torres dan Pallazo sontak bangkit berdiri dengan mencekam saat melihat wajah Valentino yang merah padam muncul di ruang tengah dan menghampiri Pallazo.
"Diev--
"Diam! Kau tidak berhak untuk bicara! Satu patah katapun!" seru Valentino dengan mengangkat jari telunjuknya kearah Pallazo yang telah memperlihatkan wajah piasnya.
"Aku--
"Aku bilang diam!" seru Valentino mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Ia menahan sekuat tenaga tempramennya yang sulit di kendalikan.
Rasanya jemari kokoh itu sanggup meremukkan tengkuk leher siapapun yang ada dihadapannya. Nafasnya terengah engah dan keringat mulai bermunculan di permukaan wajahnya. Pallazo tersihir melihat itu semua. Valentino justru terlihat tampan, lalu Pallazo membuang mukanya kearah samping, matanya tertuju pada ujung sepatu Torres yang berdiri di sampingnya.
"Diev, tenanglah!" kata Torres.
"Aku tidak bisa tenang sebelum wanita itu pergi-- kata Valentino menatap tajam kearah Torres namun jari telunjuknya menunjuk kearah Pallazo dengan jarak satu hasta. Valentino meneruskan amarahnya dan menoleh kearah Pallazo yang telah dibanjiri airmata --Dalam waktu 24 jam, kemasi barang - barangmu dan tinggalkan Negara ini! Aku tidak ingin bertanya karena aku tahu arah tujuanmu! Kau ingin menghancurkan aku!" kata Valentino kemudian dan Pallazo menyeka pipinya yang basah.
"Aku tidak bisa meninggalkan negara ini! Karena aku terikat kontrak dengan Brand Valentino di Barcelona! Waktuku tiga bulan sampai musim semi! Aku akan melewati musim dingin dan natal di Barcelona bersama Putrimu! Ingat Diev, bersama Putrimu! Kau berjanji padanya apa kau ingat? Natal tahun ini kau akan bersamanya dan kita akan menikah! Aku sangat mencintaimu, bagaimana mungkin aku menghancurkanmu!" sanggah Pallazo dengan argumennya.
"Jawab!!-- Valentino membentak Pallazo dengan begitu keras dan mengejutkan semuanya. Suara Valentino membuat Pallazo, Torres dan Jared terguncang --Kau sengaja melakukannya, hah?! Karena jika tidak sengaja, kau tidak akan memasukkan Putriku ke Daycare dimana Putraku juga ada disana!" Valentino menyambar lengan Pallazo dan mencengkeramnya dengan kuat lalu menarik lengan rapuh itu kearahnya.
Pallazo tersentak mendengar perkataan Valentino di tambah aksinya yang mulai kasar, bahkan Jared dan Torres ikut terkejut. Pallazo tidak menyangka secepat itu Valentino mengetahui niatnya.
"Dievvv! Kendalikan dirimu!" seru Torres melerai dengan menahan lengan Valentino yang memperlihatkan otot - ototnya.
"Aawww, Diev! Kau menyakitiku!" pekik Pallazo seraya menahan tangan Valentino dengan meringis menahan sakitnya.
"Bukankah kau pantas mendapatkannya?!" seru Valentino dengan geram, ia tidak kunjung melepaskan cengkeramannya, Valentino terus menahan lengan Pallazo dengan segenap amarahnya.
"Pall? Kau memasukkan Miu, satu Daycare dengan Train? Demi Tuhan Pall! Ada ratusan Daycare disini, bahkan ada Daycare ditempatmu bekerja dan kau memilih Daycare dimana Train berada? Ini sulit dipercaya! Aku jadi bertanya - tanya apa tujuanmu!" kata Jared melangkah mendekat dengan waspada karena ia tahu tabiat Valentino yang bisa kasar kepada siapapun yang mengusiknya walaupun itu seorang wanita.
Si, itulah karakter buruk yang di miliki Valentino dan Leyka pernah melihatnya, melihat sebuah kemarahan Valentino di titik puncaknya saat mereka mengambil paket bulan madu di perbukitan Pretoria setelah menjalani pernikahan massal. Delapan tahun yang lalu Valentino membabi buta memporak - porandakan sebuah tenda perkemahan mewah, Valentino meluapkan amarahnya dengan membanting apa saja karena mantan tunangannya Rebecca Pallazo yang datang menyusulnya dan mengusiknya dengan niat merusak suasana bulan madunya.
"Dan itu membuatku berpikir kau benar - benar ingin menghancurkan Gallardiev!" imbuh Torres turut menghakimi Pallazo yang menangis pilu.
"Kau sama seperti Ibumu!" seru Valentino serasa menampar harga diri Pallazo hingga Valentino merasa jengah dengan Pallazo yang terus berurai airmata, amarahnya tak terbendung lagi.
"Diev!" pekik Pallazo. Valentino mendorong lengan Pallazo dengan kasar hingga Pallazo terhempas ke sofa. Tidak sampai disitu saja, Valentino menyambar kursi dan diangkatnya tinggi - tinggi hingga melampaui kepalanya. Jared dan Torres bergegas menahan lengan Valentino kiri dan tangan.
"Diev! Apa kau sudah gila! Kendalikan dirimu!" seru Jared dengan berteriak.
"Diev! Ingat Train! Ingat Leyka yang sedang mengandung anakmu! Jangan membuat masalah! Kau bisa di deportasi! Kau mau dipenjara di Italy atau di Spanyol! Pilihlahh Diev!" seru Torres tak kalah lantang seraya mendorong Valentino menjauh.
Dengan sigap Jared merebut kursi ditangan Valentino lalu ia menggunakannya untuk duduk. Jared menyeka keringat diwajahnya dengan kasar lalu memijat pangkal hidungnya dengan memejamkan matanya. Jared merasa pusing seketika.
"Katakan berapa hargamu agar kau pergi dari Negara ini!" Seru Valentino dan Torres masih menahan dada Valentino.
__ADS_1
"Miu sakitt Diev! Ingatlah Miu sakit! Aku tidak butuh uangmu! Aku membutuhkanmu! Miu membutuhkanmu! Apa kau sudah tidak menyayanginya lagi?" seru Pallazo seraya menyamber beberapa helai tisu di meja lalu ia menyeka hidung dan matanya.
"Kau mempertanyakan kasih sayangku pada Putriku?" Penyakit kelainan darah yang dialami Miu, membuat Valentino lemah ia sedikit melunak walaupun prosentasenya tidak banyak, setidaknya Valentino tidak bersikap membabi buta dan Torres tidak perlu menahan dada Valentino lagi. Ia cukup berdiri di dekat Valentino dengan waspada. Namun itu hanya bertahan sebentar, karena Valentino kembali naik pitam.
"Buktinya kau meninggalkannya" ujar Pallazo dengan suara serak bahkan terdengar parau dan itu kembali memancing emosi Valentino.
"Bahkan aku tidak sanggup mengatakan bahwa dia hanya Putri Baptisku kepada semua orang yang mengenalku! Dia Putriku! Titik!! Kau tahu pasti aku berusaha keras menemukan pendonor sumsum tulang belakang yang cocok untuknya setelah tidak ada kecocokan dengan sumsum tulang belakangku, Torres ataupun Jared! Bahkan aku melakukan tes kepada seluruh karyawan Cosmic Industry!" seru Valentino dengan menunjuk - nunjuk Pallazo, Torres kembali menahan dada Valentino yang seakan ingin menyerang Pallazo dengan membabi buta.
"Shittt! Kendalikan dirimu Diev!" seru Torres mendorong tubuh Valentino namun tak bergeming, bahkan tidak bergeser sedikitpun.
"Lalu mengapa kau umumkan pernikahanmu kepada seluruh dunia! Sementara kau tidak berpikir bahwa itu bisa menyakiti hati Miu! Apa karena Leyka Paquito yang memintanya? Apa karena Blue Train?" Valentino mendengus kesal mendengar Leyka dan Train disudutkan.
"Leyka bahkan tidak pernah tahu bahwa dia Istriku selama ini! Proyek Rusia itu membuka tabir statusku! Jika aku tidak membuat passport dan visa ke Rusia, akupun tidak tahu bahwa aku adalah seorang Suami! Suami dari Leyka Paquito! Aku menyesal mengapa setahun yang lalu aku tidak segera menikahimu!" seru Valentino membuat Pallazo terperangah, Jared dan Torres juga saling melempar pandang, Valentino seperti salah bicara dan memberi harapan pada Pallazo.
"Apa kau salah bicara?" tanya Jared mengerutkan dahinya.
"Maksudmu?" Pallazo memberanikan dirinya menatap Valentino, ada rasa bahagia yang melambung tinggi dan itu hanya sesaat setelah Torres angkat bicara.
"Karena jika itu terjadi, maka saat Gallardiev mengajukan data pribadinya untuk menikahimu maka sistem di kantor pencatatan, dinas kependudukan dan Vatican akan menolak, mereka akan memberitahukan statusnya. Dan status Gallardiev yang akan menghentikan pernikahanmu, Pall. Gallardiev akan tahu bahwa dia tidak bisa menikahimu bahkan siapapun karena memang Gallardiev telah menikah!" jelas Torres membuat Pallazo kecewa ia serasa kembali dihempaskan ke dasar bumi. Hatinya semakin tertikam dalam.
"Kau benar Torres! Lebih cepat aku tahu itu lebih baik! Aku bisa terbang ke Barcelona setahun yang lalu untuk menemui Istri dan Putraku!" seru Valentino dengan tegas. Jared mengerti dan memahami arah pembicaraan Valentino.
"Dan kau akan mengemis meminta Leyka kembali kepadamu! Kau pengemis! Kau mengkhianati janjimu pada Miu, Diev!" kata Pallazo dipenuhi kekesalannya.
"Itu hakku! Mengkhianati atau tidak itu hakku! Karena aku pun tidak bisa mengkhianati pernikahanku bersama Leyka dan tanggung jawabku kepada Putraku! Sekalipun aku mengemis pada Leyka, itupun tidak sepadan dengan apa yang telah aku lewatkan selama delapan tahun lamanya! Aku memiliki seorang Putra yang tidak sengaja aku telantarkan, tanpa sepengetahuanku! Aku tidak tahu bahwa Leyka mengandung Blue Train delapan tahun yang lalu! Apa kau bisa bayangkan bagaimana rasanya! Apa kau tahu?!-- aku rasa tidak karena kau seperti Ibumu! Yang dibenakmu hanyalah uang dan kehidupan yang layak!" seru Valentino hingga matanya memerah.
"Tidak! Aku tidak seperti Ibuku! Aku berbeda! Miu mengubah segalanya!" sanggah Pallazo dengan kesal hingga ia tersedu. Sebuah cap atau materai yang tertanam cukup kuat sulit di hilangkan dari pandangan Valentino yang menilai Keluarga Pallazo di Italy. Dan itu yang membuat Pallazo ingin selalu membuktikan dirinya bahwa ia berbeda.
"Jika aku tahu dari awal atau jika aku bisa memutar waktu kembali, aku akan meninggalkan Italy dan mungkin saja aku tidak mengenal Miu! Apalagi berjanji padanya! Kau tahu pasti bahwa aku tidak pernah mencintaimu! Seharusnya kau sebagai Ibu memberi pengertian dan mendidiknya dengan cara yang benar bahwa kita tidak mungkin menikah karena tidak ada cinta diantara kita! Cintamu hanya obsesi!" seru Valentino kembali menampar Pallazo dengan perkataannya, hingga Pallazo hanya menunduk seraya menyeka airmatanya sesekali dengan tisu ditangannya.
"Mungkin Tuhan mengutus Gallardiev sebagai penolong, sebagai perantara untuk kehidupan Miu. Aku tidak bisa membayangkan bila anak itu tidak ada Gallardiev atau Torres! Tinggal bersama Neneknya dan-- Shittt! Aku tidak bisa membayangkan! Anak itu akan selalu dibentak, dipukuli dan di eksploitasi untuk menghasilkan uang, hanya untuk berjudi! Kecanduan judi tidak memandang anak atau cucu, Ibumu telah memperlakukanmu dan Miu dengan kasar! Aku tidak bisa membayangkan bila Miu tidak kenal Gallardiev atau Torres bahkan aku!" sahut Jared ikut angkat bicara.
"Sebaiknya kau berpikir ulang untuk menagih janji Miu! Karena itu tidak mungkin terlaksana! Kita harus memberi pengertian pada Miu! Kita harus menceritakan keadaan dan situasi yang sesungguhnya!" imbuh Torres membuat Pallazo semakin gelisah, ia serasa jatuh sejatuh - jatuhnya hingga harapan itu seakan sirna. Ada rasa ketidakpuasan menguasai hatinya yang membuatnya ingin berontak.
"Leyka Paquito Gallardiev dan Blue Train Valentino, karena mereka kau sudah tidak mencintai Miu lagi! Kau melupakan janjimu padanya!" seru Pallazo dengan bangkit berdiri. Valentino kembali mendidih, telinganya terasa panas mendengarnya.
"Shittt! Kau telah menghafal nama Istri dan Putraku dengan jelas! Kau telah menyelidikinya?! Si, kau wanita yang berada di sudut jalan Kedai Double P! Putraku tidak pernah salah liat! Kau wanita yang menangis itu!" ujar Valentino semakin geram.
"Tidak.. Tidak mungkin Putramu melihatku!" kata Pallazo membeliakkan matanya.
"Bahkan dia bisa melihat hatimu! Dia bisa melihat kebaikan atau kebusukan hatimu!" seru Valentino dengan menunjuk.
"Kau pasti sangat mencintainya-- Entahlah, pernikahanmu akan merubah segalanya" kata Pallazo dengan hatinya yang semakin gusar.
"Aku juga sangat mencintai Miu! Pernikahanku tidak akan merubah apapun! Miu tetap pemilik sepertiga kekayaanku! Semua akan tetap seperti itu! Ingat baik - baik, aku yang membesarkannya, aku memberimu tempat tinggal yang layak dan kehidupan mewah di Italy! Bahkan Torres dan Jared melakukan banyak hal untuk Miu! Aku menyelamatkan dirimu dari rakusnya Ibumu! Aku menyelamatkanmu dari Ricardo yang ingin memperkosamu! Apa itu tidak cukup hingga kau terus mendorong Miu untuk menagih janji dan mengingatkan pernikahan yang tidak mungkin akan terjadi! Bisa bisanya kau menggunakan Miu sebagai alat untuk menagih janji! Janji seorang anak kecil hingga kau datang ke Barcelona!" seru Valentino kembali terpancing, Torres harus kembali menahan tubuh Valentino yang akan menyerang Pallazo.
"Kau sudah berjanji! Jika tidak ada Miu, mungkin kau juga tidak pernah ada di dunia, sampai detik ini! Aku sudah merelakan kau menceritakan kisahmu di Pretoria bersama Leyka! Kau membentuk cerita itu di pikiran Miu dan aku tersiksa selama ini! Apakah itu belum cukup menunjukkan seberapa besar cintaku padamu selama ini? Dan kau memilih Leyka dan kau kembali kepadanya! Kau menghancurkan hatiku dan apa kau bisa bayangkan bagaimana bila Miu mengetahui ini semua!" seru Pallazo dengan lantang. Valentino semakin meledakkan amarahnya.
"Lalu ceraikan aku sekarang juga ke Vaticann!!" Pallazo terdiam seketika. Bahkan Jared dan Torres menjadi beku mendengar suara Valentino yang begitu keras menggelegar. Mudahkah seorang bercerai melibatkan Vatican? Pallazo kembali duduk karena lututnya serasa lemas. Mengingat Vatican tidak akan pernah menceraikan pasangan yang telah mengikat janji suci. Ia pun menangis pilu. Harapan itu tidak pernah ada.
Hilang sudah harapanku selama ini.. Harapan yang aku bangun bertahun lamanya.. Bagaimana dengan Miu.. Apa Putriku bisa menerimanya. Pallazo.
-
-
-
Valentino ga puasa loh, kl mau kopiin pasti di minum kok 🤣🤣 #malakganteng 😎🤣
__ADS_1
"