FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
Drama Telah Berakhir


__ADS_3

Valentino menangkap Train dan dibawanya berputar lalu Valentino melambungkan tubuh Train ke atas melampaui kepalanya kemudian ditangkapnya. Valentino melakukannya berulang ulang hingga tawa Train dan jeritannya melengking hingga telinga Leyka.


"Nooooo! Daaaddyy Noo! Aaaaa!"


"Hahahahah Noooo!! Stooppp Daaddy! Aaaaa!"


"Traainnn!" Leyka seketika keluar toilet namun Penelope mencegahnya lalu menenangkannya.


"Train tidak apa apa. Lihat lah-- Itu cara Train mengusir Judith" Leyka bergemuruh melihat pemandangan itu. Airmatanya mengucur begitu saja penuh keharuan.


"Penelope-- Apa aku bermimpi?" mata Leyka membulat tanpa berkedip, Train memanggil Valentino Daddy dan itu memang Daddynya. Sementara Leyka melihat Valentino sangat bahagia dipanggil Daddy.


Melihat Train tertawa saat Valentino menerbangkannya, membuat dadanya seakan meledak. Sedih, bahagia, terharu, hati Leyka serasa diaduk aduk. Ia ikut tertawa tapi menangis saat melihat pemandangan itu.


"Ley, Train menemukan kebahagiaannya. Sepertinya dia siap menerima kenyataan bahwa Train putranya. Dia akan tersiksa dengan kenyataan! Laki laki arogan itu akan menerima apa yang telah ia perbuat kepadamu!" Penelope mencengkeram pundak Leyka dari belakang, dan mereemassnya, memberi kekuatan selayaknya keluarga yang hangat, yang Leyka inginkan dari kecil dan ia mendapatkannya selama di Barcelona. Penelope merangkul pundak Leyka dan menyaksikan gelak tawa Train bersama Valentino yang berjalan ke arah Judith.


"Kau tau Ley, aku memang 'Si Bengis Simon dari Barca' (Barcelona). Itu julukanku saat aku dan Pedro berlibur ke Mexico. Tapi sejak aku melihat Train tumbuh tanpa Ayah aku benci diriku sendiri. Karena kebengisanku menghilang. Dan saat Train berkata 'Simon, kau akan aku adukan pada Daddyku bila dia datang'-- Rasanya hatiku lenyap! Jika laki laki itu menyakiti Train, jangan salahkan aku bila aku menjadi Si Bengis Simon dari Barca!" Penelope menoleh dan merentangkan tangannya lalu Simon ikut berdiri menyaksikan pemandangan itu.


Penelope merangkul pundak Simon dan mengejeknya, "Jadi kau Si Cengeng Simon, sekarang" Leyka tertawa disela airmata yang mengalir ia menoleh ke arah Simon yang memang telah menangis dilengan Penelope.


"Si, kedua Red Velvet itu membuat hatiku hancur" Penelope meledakkan tawanya, pasalnya Simon pemilik tubuh kekar namun pendek terlihat lucu bila menangis dan terkadang ia menangisi sesuatu yang tidak seharusnya. Simon adalah salah satu keluarga Fernandez yang pandai berbaku hantam, ia sangat ditakuti di lingkungannya. Karena itulah ia mendapatkan julukan Si Bengis Simon. Tapi kini dia menangis.


"Apa menurut kalian, aku bersalah menyembunyikan ini dari Train?"


"No! Kau tidak bermaksud begitu. Semua Ibu di dunia akan melindungi anaknya. Yang salah adalah-- kau mencintai laki laki bodoh" kata Penelope dengan mendorong kepalanya ke kepala Leyka. Dan Leyka tersenyum, mengakui itu.


"Si! Bukan hanya bodoh tapi buta!" Simon menambahkan. Mereka tertawa bersama dari dalam kedai, melihat sebuah kebahagiaan yang sangat langka.


...-...


Se-usai menerbangkan Train keatas dengan gelak tawa juga jeritan kebahagiaan Train, Valentino menggendongnya dan berjalan kearah pintu Kedai Double P, disana masih ada Judith dan juga Pedro, dimana Judith melihat mata Pedro telah berkaca kaca. Judith mulai waspada dan menilai satu demi satu orang disekitarnya. Lulusan Psikolog terbaik ini, sangat mahir menggunakan instingnya, sejauh mungkin Judith tidak akan mudah untuk ditipu.


Train mencium pipi Valentino sambil berbisik, "Uncle, bersandiwaralah denganku, bantu aku" Valentino mengernyitkan alisnya dan memperlambat jalannya, Jared dan Torres masih mengikutinya dari belakang dengan jutaan tanya dipikiran mereka masing masing.


"Apa Dinas Sosial telah datang?" bisik Valentino dengan menyembunyikan bibirnya di pipi Train, ia membalas ciuman itu sambil bertanya.


"Daddy! Dia Tia Judith! Dia ingin menggangguku!" Ujar Train memekik agar Judith mendengarnya. Judith tertawa begitupun Pedro.


"Hahaha-- Jadi aku harus percaya begitu saja dengan kau, memanggilnya Daddy?" Judith bersedekap ala Train, gaya khas yang telah ia lihat berkali kali setiap ia melakukan kunjungan.


Train pun meronta, "Daddy turunkan aku! Aku akan menghadapi Tia Judith! Dia ini nakal sekali! Dia tidak mempercaya kita" Semua tertawa melihat Train bahkan Leyka yang berada di dalam kedai. Valentino kemudian menurunkan Train lalu anak itu berlarian menghampiri Judith.


"Apa kau bisa membuatku percaya?" tanya Judith dengan memiringkan kepalanya dan melihat Train yang telah berdiri dihadapannya dengan sikap serupa, bersedekap.


"Tia, maka lihatlah dengan baik" kata Train mengedipkan matanya. Dan Judith kebingungan. Ia mulai berspekulasi. Bila Train mengajaknya bersandiwara, seharusnya dengan orang yang di panggilnya Daddy tapi ini justru dirinya, pikir Judith. Ia mencoba melihat dengan seksama dan melihat dengan mata psikologinya.


"Daddy, ini Tia Judith katakan 'Hola' (Halo)!" kata Train dengan penuh semangat mengguncang paha Valentino dengan kedua tangannya.


"Hola, aku Daddy Train" Valentino mengulurkan tangannya dengan tersenyum santai, Pedro berdebar begitupun tiga orang yang berada di dalam kedai, Leyka, Penelope dan Simon.


"Judith"


"Valentino Gallardiev"


Mereka saling melepaskan jabatan tangan mereka kemudian. Lalu Train berdiri diantara mereka. "Mirar (lihat)! Dia Daddyku! Dia baru datang!"


Lalu Train menarik tangan Judith, "Jadi, pergilah Tia.. Vamos (ayo) pergilah! Aku baik baik saja! Dan aku tidak mau wawancara! Sekarang pergilah jangan kembali, kecuali kau minum kopi. Aku akan mentraktirmu, Tia Judith!" Semua kembali tertawa, namun Jared dan Torres justru terkesima melihatnya.


"Jadi kau benar benar Valentino Gallardiev?" tanya Judith dengan menatap Valentino dari atas sampai bawah, ia menyelidik dan Train menggigit jarinya. Ia takut sandiwaranya bersama Valentino terbongkar.


"Tentu saja" Valentino bingung dengan tawa kecil yang ditahan. Ia melihat kearah Torres dan Jared dengan mengangkat kedua pundaknya, ia bingung dengan pertanyaan Judith. Secara tidak langsung Valentino mengatakan 'tanyakan saja pada kawanku' lewat bahasa tubuhnya.


"Ya dia Valentino Gallardiev, siapa lagi?" sahut Jared dengan mengenyitkan alis kearah Torres dan Valentino.


"Sama kan? Sama kan?" Train mengatakan pada Judith dengan melompat lompat senang. Entah apanya yang sama pikir Valentino.


"Apanya yang sama, Boy?" tanya Valentino semakin tidak mengerti.


"Uhhhs pokoknya sama-- Uhm, Daddy? Apa kau mencari Mommy?" Train mencoba mengalihkan dengan bertanya kepada Valentino. Train tidak yakin, Valentino bisa diajaknya bermain sandiwara. Dan Leyka sudah pasti menegang dari dalam bersama Penelope dan Simon. Pedro sudah memucat.


"Dimana Mommymu? Apa ice cream dan pizzanya sudah datang?" tanya Valentino masih belum memasuki sandiwara. Train ingin memperlihatkan pada Judith bagaimana sikap Valentino, dan ingin membuat Judith yakin bahwa Valentino adalah Daddynya dengan membuat Valentino cemburu, walaupun itu hanya sandiwara bagi Train.


"Ohhh Noo! Daddy terlambat. Dia berkencan dengan Damian kekasihnya. Dia belum putus Daddy! Aah, entahlah aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan" Valentino, seperti biasanya ia membulatkan matanya dengan tersengat api kecemburuan, pasalnya Leyka di Mall mengatakan akan berkencan dan menunjukkan lingeerienya pada Damian, dan ini diluar konteks sandiwara. Valentino seketika di kuasai kemarahan.


Ia sontak duduk berjongkok dan memegang kedua lengan Train dengan mengguncang - guncangkannya, Train di cecar dengan pertanyaan dengan kesal, "Dimana! Dimana Mommymu berkencan! Ini tidak boleh terjadi! Kurang ajar! Bisa bisanya ia membeli barang barang dari uangku untuk berkencan dengan laki laki lain! Train katakan dimana! Kita harus menyusulnya!-- Aku akan menyeretnya dan membawanya pulang!" Train tertawa cekikikan dengan menutup mulutnya.


"Train, apa sudah sandiwaranya? Daddymu, pandai berakting" tanya Judith dengan tersenyum melengkung, ia seolah menganggap kecemburuan Valentino hanya sandiwara.


Valentino semakin meradang ia bangkit berdiri dan berkoar dihadapan Judith tanpa bisa mengontrol emosinya, "Apanya yang bersandiwara?! Dia menggunakan uangku untuk membeli lingeerie dan akan menunjukkan kepada kekasihnya yang pendek itu!"

__ADS_1


Judith terkejut, ia kemudian berkata dengan penekanan dan mengecilkan volume suaranya, "Perhatikan bahasamu, kau berbicara dihadapan Train" Judithpun mendengus dan menggelengkan kepalanya, ia sudah tidak bisa menganggapnya sandiwara karena ia melihat laki laki yang berada di hadapannya ini, meledak emosinya.


"Apa itu lingeriie? Pedroo-- Apa itu lingeriee?" tanya Train dengan menggaruk pelipisnya, ia menoleh kearah Pedro dengan mengingat. Jared menahan tawanya, Torres menggelengkan kepalanya, pun dengan menahan tawanya. Mereka sangat hafal kemarahan Valentino yang meledak ledak.


"Ehm-- Ehm, itu alat perang wanita yang selalu Ibu Manuella beli" jawab Pedro. Leyka dari dalam kedainya hanya bisa menepuk dahinya dengan mendengus kesal, "Huhh, Manuella!"


"Oohh Nooo!" Train membulatkan matanya dan membuka mulutnya dengan kedua tangan memegangi kedua pipinya. Torres tertawa dengan menutup mulutnya.


"Leyka menghabiskan uangku 16.000 euro dalam waktu satu jam! Apa yang harus aku perhatikan dengan bahasaku?! Dia benar benar menyebalkan!" Valentino merentangkan satu tangannya dan menunjuk kearah samping dengan menatap Judith dengan pandangan sinisnya, entah siapa yang ia tunjuk, Leyka seolah ada di sampingnya.


"No Daddy jangan marah pada Tia Judith!" Train mengguncang kaki Valentino hingga ia mendengus kasar, menahan emosinya.


"Siapa yang menyebalkan?-- Judith, maafkan aku. Aku baru saja keluar dari toilet" Leykapun menyerah, ia harus keluar untuk mengendalikan suasana.


Valentino membelalakkan matanya dan seketika ia menoleh kearah belakang lalu memalingkan tubuhnya menghampiri Leyka, ia spontan membentak Leyka "Kauuu!!"


Menyadari Leyka mendelik kearahnya, ia melunak seketika, "Ehh, Leyka?? Kau ada disini? Kau berkencan?-- Leyka diam dan Valentino kembali meninggikan suaranya, "Mana mana lingerie-nya aku akan membakarnya! Jangan menguji kesabaranku Leyka Paquito!"


"Val, kendalikan dirimu!-- Leyka langsung memeluk Valentino dan berbisik --Bersandiwaralah demi Train! Kalau kau mau, aku memaafkanmu" Valentino melembut, bukan karena maaf yang Leyka janjikan tapi karena pelukannya. Valentinopun menyambut pelukan itu.


"Leyka, perdonami. (maafkan aku; Italy) Semua yang terjadi tadi, tidak seperti yang kau pikirkan" Valentino memeluk tapi tangannya liar mengusap punggung hingga pinggang Leyka.


Dia memanfaatkan keadaan. Fu*ckk you, Val.


Leyka pun buru buru mengurai pelukan itu dan menghampiri Judith lalu memeluknya, sapaan hangat mereka seperti biasanya, "Judith, Lo siento (maafkan aku). Dia sedikit mengalami gangguan tempramen-- Apakah kau bisa merekomendasikan psikiater yang menangani gangguan kejiwaan?"


"Aku akan mengirimkan nomornya ke ponselmu" ujar Judith dengan mendelikkan matanya kearah Valentino. Judith tahu Leyka tidak serius mengatakannya. Sementara Jared dan Tores nyaris terbahak.


Shiitt Leykaa!! Kau menyebalkan..


Dan Train justru tertawa sangat senang, Pedro tertular tawa Train, ia sebenarnya tidak tenang sebelum Judith pergi, sebisa mungkin Pedro bersikap santai, karena Judith menilainya, "Aaaahahaha-- Kau percaya kan? Dia Daddyku yang pemarah! Dan aku Red Velvet yang pemarah! Yeeaaayy! Kita sama! Kita sama Tiaa Judith! Sekarang pergilahh-- Daddy ku baru datang, aku harus banyak bicara padanya! Pergilah Pergilah Pergilah!" Train bergerak sangat aktif, ia mendorong dorong Judith agar pergi.


Judith merasakan kebahagiaan Train, dan Judith tidak pernah melihat Train sebahagia ini, sebelumnya. Hati Judith mulai menimbang.


"Train kau membohongi Daddy?" tanya Valentino dengan mencubit batang hidungnya.


"Daddy juga membohongiku, Mommy membeli alat perang!" Valentino mengambil sapu tangan di sakunya lalu duduk berjongkok, ia menyeka mulut Train. Semua mengabaikan mulut Train yang kotor karena Ice Cream termasuk Judith, namun hanya Valentino yang memiliki kepekaan. Judith kembali menilai bahkan Train.


Sementara Torres dan Jared, saling berbisik.


"Mengapa mereka sangat mirip?" Torres.


"Itulah yang aku pikirkan" Jared.


Train menoleh kearah Leyka, dengan pandangan marah, ia cemberut dan mengerutkan alisnya, dengusannya mulai terdengar, ia mulai bersedekap. Ia siap mengamuk. Dan Judith sudah pasti tidak bisa menilai lagi bagaimana semua ini sandiwara.


Oohh Shiittt!! Train akan marah padaku. Leyka membulatkan matanya. Seperti bumerang yang dilempar dan akan kembali pada tuannya, itulah yang dialami Leyka.


Dan Train memukuli apa saja yang ada didekatnya, sambil menjerit seperti biasanya, dan Pedro yang terkena sasarannya "Noooo!!! Mommmyy Nooo!! Noo Nooo Moommy Nakaall Nooo!"


Valentino dengan sigap, menggendong Train yang meluapkan kemarahannya, Train terus meronta dan Leyka menenangkannya, "Train.. Carino-- Leyka menangkap tangan Train --Jangan percaya perkataan orang yang sedang marah. Mengapa kau tidak memeriksa apa yang Mommy beli? Kau belum membukanya. Ada tiga sepatu untukmu, ada Playstation seri terbaru dan baju hangat juga jaket untuk musim dingin"


Perkataan orang marah? Ya kau sedang marah tadi.. Aku mengerti, Leyka. Valentino.


Senyum Leyka, dengan tatapan hangatnya, ditambah belaian lembutnya, menyihir Train dan juga Valentino tentunya. Train merentangkan tangannya dan Leyka menyambutnya dalam pelukannya, "Lo siento (maafkan aku) Mommy! Graciaaas (terima kasih)!"


"Berterima kasihlah pada Daddymu! Karena itu uang Daddymu" Valentino semakin terkesima dengan kelembutan itu. Judith memandangi mereka dan menilai, hatinya masih ada yang mengganjal.


Ohh Shittt! Sihirnya mulai bekerja, mengapa kau cantik sekali dan ingin sekali aku menidurimu.. Shittt! Bisa bisanya pikiranku kotor begini.. Haah. Valentino.


"Daddy Gracias!" sorak Train.


"De nada, (sama sama) Boy. Kau pantas mendapatkannya bahkan lebih!" Jared dan Torres kembali saling memandang. Ia melihat Valentino bersikap berbeda, tidak seperti kepada Miu. Jared yang selalu berada disekitar Miu dan Valentino, bisa merasakan perbedaannya. Jared semakin penasaran, rasa ingin tahunya begitu menguasainya.


"Aku tahu perasaanmu, tapi tunggu Dinas Sosial pergi, karena aku pun begitu" bisik Torres menahan Jared.


"Mi amor-- Kau memesan Pizza dengan keju berlimpah, apa kau merayakan hubungan kita?" Tanya Leyka, Valentino dengan memegangi lengannya.


Valentino menjadi gugup, "Si-- Si.. Ehm, iya Il mio amor (cintaku; Italy). Hubungan kita, Baby"


Jared menahan tawanya begitupun Torres melihat Valentino yang sesungguhnya dihadapan Leyka. Ia kembali berbisik.


"Rasanya aku ingin tertawa, dia dengan mulut besarnya mengatakan ingin mencekik Leyka dengan pahanya, kau lihat Gallardiev tidak berkutik didepan Leyka" bisik Jared dan Torres terbahak. Valentino menoleh kearah mereka, ia tahu dua orang yang dianggap budak setan itu, sedang membicarakannya.


"Sepertinya aku jatuh cinta pada Istri Gallardiev! Jika aku diposisinya, aku akan tinggal di Barcelona. Perduli setan, dengan Capetown Time Square saat itu" Torres berbisik.


"Bagaimana jika, saat lampu hijau disudut jalan itu menyala, aku mendorongmu ke jalan. Karena hasilnya sama. Kau akan Mati! Jika hidup kau akan berakhir dirumah sakit, paling tidak cacat" bisik Jared dengan merangkul pundak Torres.


"Cihhh!" dengus Torres.

__ADS_1


"No Baby Baby!" Pekik Train, ikut menoleh kearah Jared dan Torres karena mereka tertawa sangat seru.


"Carino, baby adalah panggilan Daddymu buat Mommy. Itulah mengapa Mommy dulu, suka bermanja dengan Damian kalau dipanggil Baby, itu karena Mommy ingat Daddymu" Leyka mengatakan tanpa drama, dan Valentino menganggap itu hanya drama. Ia masih kesal dan masih menahannya.


"Apa boleh Daddy memanggilnya Baby?" tanya Valentino.


"Nooo!! Mi amor saja!" Valentino tertawa, Train meminta turun dengan bahasa tubuhnya. Matanya kembali mengamati dua laki laki yang sedang tertawa ria. Judith pun mengamati.


"Hahaha, Baiklah. Daddy Train kau jangan memanggilku Baby" Leyka mencubit hidung Valentino, entah berlebihan atau bersandiwara Leyka ingin melakukannya. Valentino menarik pinggang Leyka ke sebelahnya dan berhadapan dengan Judith.


"Bisakah kita bersandiwara diranjang?" bisik Valentino sambil menyambar pelipis Leyka. Ia memanfaatkan keadaan. Leyka hanya tersenyum penuh paksaan.


"Pedro, bisakah kau menolongku mengambilkan sekotak ice cream dan sekotak pizza?" pinta Leyka dan Pedro menjawab, "Si Leyka" Pedro berlalu dengan cepat.


"Apa aku boleh melihat identitasmu Valentino Gallardiev?" Pertanyaan itu membuat Train dan Leyka berdebar.


Pasalnya setahu Train, Ayah sebagai walinya adalah Diego. Leyka pernah menunjukkan surat baptisnya kepada Train, bukan surat kelahirannya, disana tercatat Diego menjadi Ayah Baptisnya dan Train menganggap itulah datanya.


Sementara ketakutan Leyka adalah, Valentino akan mengetahui data Train. Ia menegang saat itu juga. Karena ketakutannya Valentino bisa saja melukai perasaan Train. Dengan penolakan bahkan penyangkalan.


"No No Pulanglah, aku senang! Aku bahagia! Aku tidak stress! Jangan mengganggunya" Train kembali menghadang Judith dengan merentangkan tangannya namun Valentino telah mengeluarkan dompetnya untuk mengambil kartu identitasnya. Disanalah Leyka melihat sebuah foto perempuan di dompet Valentino dan itu adalah dirinya. Leyka terkejut namun juga berdebar.


"No Boy, tidak masalah!" Judith menerima kartu identitas itu dan melihatnya.


"Tapi-- Uhhss!" Train menggigit jemarinya dengan cemas, Train tidak ingin sandiwaranya terbongkar.


Judith melihat kearah Leyka dan Valentino juga Train secara bergantian, ia pun terkejut. Kartu identitas Valentino, sama dengan data Train sangat cocok, Judith memeriksa dengan seksama ia mengambil data Train dan melihatnya sekilas lalu mengembalikan kartu Identitas Valentino.


Dia Daddynya. Judith


"Apa kau bisa datang ke kantor Dinas Sosial, aku ingin melakukan sesi tanya jawab" Valentino bingung dengan pertanyaan Judith.


"Aku--


"Noo Nooo.. Pergilah Tia Judith! Jangan mengganggu waktuku bersama Daddyku! Kita baru saja bertemu! Aku ingin menghabiskan waktuku bersamanya! Jangan menggangguku! Aku bahagia! Aku senang! Aku tidak sedih!" Train kembali mendorong paha Judith agar pergi. Judith semakin tertawa melihat ulah Train.


"Train, tidak boleh seperti itu! Kau tidak sopan!" Leyka memperingatkan.


"Biarkan, dia hanya anak kecil" ujar Valentino membela.


"No Mommy! Aku tidak mau wawancara lagi! Aku tidak akan kabur karena Daddyku sudah datang! Aku tidak menunggunya lagi!" Leyka membulatkan matanya karena Valentino sangat terkejut dengan perkataan Train.


Hati Valentino rasanya sakit, perasaan yang aneh yang membuatnya ingin menangis begitu saja. Valentino menahannya. Ia duduk dan memeluk Train dari belakang.


Itu artinya, Train bukan anak Diego! Shitt!! Train mengapa aku sedih, kau menunggu Daddymu.. Aku akan mencarinya untukmu.. Itu janjiku.. Dan kau Leyka.. Kau harus jujur.. Kau pernah menjalin hubungan dengan siapa saja. Valentino.


"Judith, aku yang akan ke kantormu. Kita akan berbincang disana-- Dan ini ada sekotak Ice cream dan pizza untukmu. Ini tanda pertemuan kami" ujar Leyka dengan melirik kearah Valentino yang menciumi punggung Train sesekali ia mengusap rambutnya.


Leyka mengulurkan pizza dan ice cream, setelah Pedro mengambilnya. Lalu Judith menerimanya dan berkata, "Gracias-- Aahh, baiklah aku menyerah. Kau benar aku tidak berhak mengganggu kebahagiaanmu" Judithpun mencium Train, memeluk Leyka dan menjabat tangan Valentino juga Pedro. Ia melambaikan tangannya saat mobil 'lebah gendut' itu membawanya pergi meninggalkan Kedai itu.


Semua bersorak, Train, Leyka, Pedro, Penelope dan Simon yang akhirnya keluar. Drama Dinas Sosialpun berakhir. Leyka tinggal datang ke kantor agar ia lepas dari pantauan. Valentino ikut senang melihatnya.


"Yeaayy! Uncle, Vamos (ayoo) masuk. Ehmmm-- apa dia kawanmu?" Ada rasa kecewa dihati Valentino saat Train mengubah panggilannya, menjadi Uncle tapi drama telah berakhir, ia harus menerimanya.


Jared dan Tores mendekat saat Train menanyakan kawannya, Valentinopun menjelaskan dengan tangan menunjuk, "Si (iya), dia adalah Uncle Jared dan di sebelahnya Uncle Torres"


"Hola, aku Train! Selamat datang di Kedai Kopi Double P. Aku akan mentraktir kalian kopi karena kalian mendukung sandiwaraku. Gracias Uncle Jared dan kau Torres!" Jared dan Torres saling pandang.


"Train, kau tidak boleh lancang! Panggil yang benar"


"No! Mommy dia nakal! Torres sangat nakal" Valentino menatap bengis sementara Torres kebingungan.


"Train, Itu tidak sopan Carino. Apa yang dilakukannya sampai kau marah?" Leyka duduk dan membelai pipi Train, Leyka hafal wajah Train yang bersungut sungut. Pasti ia akan sangat marah.


"Sii-- Dia nakal! Dia selalu melihat 'sininya' Mommy?!" Semua terkejut saat Train menepuk bokongnya sendiri dan bersedekap dengan wajah kesal sama seperti Valentino saat ini. Semua bereaksi, Leyka kesal tapi Pedro terbahak, begitupun Penelope dan Simon. Jared justru melihat sebuah kesamaan yang menguatkan dugaannya.


"Torres!!" Valentino menarik kerah dan Jared membiarkannya.


"Heii Aku-- Shittt!! Anak ini!! Kapan dia melihatku? Fu*cck!! Dia benar benar setan cilik.. Tamat.. Aku tamat.. Shittt..


"Aku akan mengatakan pada Simon untuk menghajarnya!" pekik Train.


"Tenang saja! Uncle yang akan menghajarnya!" dengus Valentino dan Leyka kebingungan.


PLAKKKK


DUUUGGGHHH


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2