FORGOTTEN LOVE On The Train

FORGOTTEN LOVE On The Train
PALMA : Perdonami Muñequita


__ADS_3

Malam itu menjadi malam penuh kebahagiaan, malam penuh kejutan, malam penuh anugerah, malam penuh Keajaiban. Tiada terkira kebahagiaan yang dirasakan Valentino, Leyka dan Train sehingga tak dapat terlukiskan diatas kanvas. Malam itu begitu meriah karena kehadiran Keluarga besar Fernandez yang di datangkan khusus oleh Alfredo, sang Viscount yang menaruh hati pada sosok wanita tegas diluar namun lembut di dalamnya, Rosemary Manuello Felipe.


Rosemary menyambut keluarga Fernandez dengan penuh sukacita, ia memerintahkan pelayan untuk menyiapkan beberapa kamar tamu, mereka dijamu dengan makan malam terbaik ala bangsawan. Dengan penuh kebahagiaan Rosemary bercerita kisah indahnya, mengenang mendiang Pacho dalam kesedihan yang menahun.


Leyka berada di ruang tengah, itu adalah ruang keluarga. Biasanya, siapapun yang selesai makan, akan menuju ruang keluarga untuk bercengkerama, berbincang ringan dan sederhana. Leyka berdiri bersedekap dibawah lukisan Ayahnya dan Valentino mendekapnya dari belakang. Sesekali Valentino menciumi puncak kepala Leyka, menghirup aroma rambutnya yang tidak pernah Valentino lupakan, semua masih sama seperti delapan tahun yang lalu.


Aroma khas lembut strawberry, pernah menemaninya selama di Pretoria, kota yang penuh kenangan tak terlupakan. Leyka memandangi lukisan Ayahnya, seakan Pacho hidup di dalamnya. Tatapan matanya menggambarkan jelas kebahagiaannya, senyumnya mengembang manis dan menambah kecantikannya. Sementara Train memilih berlarian kesana kemari, bersama tiga orang saudaranya dari keluarga Fernandez yang ikut datang ke Palma. Mata Valentino bak elang sesekali mengawasi Putranya yang tertawa ceria sambil berlari larian.


"Seandainya Ayahku, tidak pernah menceritakan bagaimana indahnya Pretoria mungkin aku tidak akan menginjakkan kakiku kesana. Mungkin Uncle Helbert yang akan mencariku dan memberikan surat Ayahku. Mungkin kita tidak akan bertemu" ujar Leyka tersenyum memandangi lukisan Ayahnya yang terbingkai perunggu dan berukiran klasik berwarna gold.


"Kita tetap akan bertemu, bagaimanapun caranya pasti kita akan tetap bertemu. Kau akan menempati Apartemen yang Ayahmu berikan dan Locomotive Machine-- aku akan datang karena Locomitive Machine dan juga gedung telekomunikasi. Aku akan sarapan di Kedai Double P dan saat pertama kali aku melihatmu, aku akan jatuh cinta padamu lalu aku akan mengejarmu mati matian" ujar Valentino membuat Leyka terkekeh lalu ia menghadap kearah Valentino dan melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh, pria Italy yang memiliki rahang kuat serta hidung khas pinokionya.



"Lalu kau akan mengajakku makan malam dan kita akan berkencan. Kau akan menjadi tetanggaku yang melompati balkon dan mencuri ciuman 'selamat tidur' setiap malamnya" kata Leyka membuat hati Valentino berdebar, mata abu abu kebiruannya mengunci mata coklat milik Leyka yang berbinar lembut lalu satu tangannya menarik tengkuk Leyka kemudian Valentino melu*mat bibir sen*sual itu penuh perasaan. Sesaat mereka tenggelam dalam gelora ciuman penuh cinta.



"Uhss! Lalu bagaimana dengan aku?" tanya Train membuat Valentino mengurai ciuman itu dan keduanya tersenyum, Valentino masih mengeratkan satu tangannya di pinggang Leyka dan ia menurunkan satu tangannya yang mencengkeram tengkuk ke punggung Leyka. Ia merengkuhnya seakan tak rela pelukan itu berakhir.


"Kau akan dibuat di Casa De Miel" jawab Leyka dengan terkekeh mendengar pertanyaan Train.


"Noo! Aku tidak mau! Aku mau dibuat di kereta api saja! Train tidak mau dibuat di Casa de Miel! Train mau dibuat di kereta api The Blue Train! Kereta dengan route terpanjang 27 jam menuju Pretoria!" serunya dengan cepat diantara nafasnya yang terengah - engah dan keringat bercucuran.


"Itu Train! Vamos, kita tangkap!" ujar saudaranya yang seumur dengannya.


"Aaaaaa!" Trainpun kembali tertawa dan berlarian dengan membawa apel di tangannya. Valentino dan Leyka terbahak melihatnya.


Train sedang bermain pelota corriendo (bola yang berlari). Sebenarnya permainan pelota corrriendo menggunakan bola tenis dan satu keranjang sebagai titik penempatan bola. Yang kalah dalam suten (cara mengundi dengan mengadu jari biasanya ; batu, gunting, kertas atau ibu jari, jari telunjuk, jari kelingking) akan membawa bola itu berlari kearah keranjang dan memasukan bola itu kedalamnya.


Pemain yang lainnya akan mengejar, merebut dan menghalangi si pembawa bola yang akan memasukannya ke dalam keranjang. Mereka akan kembali melakukan suten dan mengulang permainan, bila bola berhasil masuk keranjang.


Train seharusnya membawa bola karena tidak ada bola maka buah apel sebagai gantinya dan menjadi sasaran permainan mereka.


Train berlarian berputar dari ruang tengah menuju meja perjamuan dan mengembalikan apel pada keranjang buah. Tentu saja anak hiper-aktif itu selalu menang dan tidak bisa dikalahkan. Dan bila sudah riuh mereka bermain, Penelope yang akan menjadi pengacau dan pengusik kesenangan mereka.


"Kalian berisikk! Vamos, bersihkan diri kalian dan tidur! Masuk ke kamar kalian masing masing! Lihat keringat kalian! Ini sudah malam, waktunya kalian tidur!" seru Penelope mengomel dari ruang makan dan Leyka hanya tersenyum mendengarnya.


"Apa dia selalu memarahi putraku?" tanya Valentino dengan wajah tidak suka mendengar perkataan dan sikap Penelope dari kejauhan.


"Itu sudah biasa. Dia memarahi semuanya. Ini sudah malam dan waktunya anak anak tidur. Bila tidak, Penelope akan menyeret anak anak di Keluarga Fernandez ke kamar mandi dan menyiramnya dengan air dingin" tutur Leyka membuat Valentino berdecak tidak suka.


"Ckk, sadis! Anak anak bisa sakit"


"Anak anak akan menjadi kuat, Mi amor" usap Leyka pada pipi Valentino dengan tatapan lembut dan senyumnya yang kian menghangat.


"Dia tidak boleh menyentuh Blue Train dan Mi Muñeqita (boneka kecilku)" ujar Valentino sambil menyusupkan tangannya dan mengusap perut Leyka dengan punggung tangannya. Leyka tersenyum dan mengarah wajahnya ke bibir Valentino, lalu mereka kembali berciuman.


Dan ciuman itu terurai dengan gelak tawa semua Keluarga Fernandez yang memasuki ruang keluarga itu. Valentino dan Leyka, menyambut mereka semua dengan penuh kehangatan. Mereka duduk dan mengambil posisi masing - masing. Tentu saja Dollores tidak mau berpisah dari anak Pacho yang telah berbadan dua, ia terus menciuminya dan mengusap perut Leyka dengan segala doa disertai curahan airmata tuanya. Semakin tua seorang wanita akan lebih mudah menangis hanya karena hal sepele terlebih lagi kabar kebahagiaan.


Mereka bercanda, berbincang hangat menggunakan bahasa Spanyol yang sebagian Valentino mengerti dan sebagian ada yang tidak ia mengerti. Kesempatan itu digunakan untuk memainkan ponselnya. Ia terjun ke dunia internet dengan segala serba serbinya dan mendadak membuatnya resah, sesekali ia mengusap punggung Leyka yang duduk disampingnya, namun ekor matanya dan otaknya yang encer selalu menghitung berapa banyak asupan gula yang masuk ke mulut Train yang asik memakan cookies yang mengandung coklat, bersama saudara - saudaranya.


"Blue, Vamos-- Bersihkan dirimu. Dan cukup memakan manis hari ini. Waktunya tidur dan besok kau harus makan banyak buah. Tidak ada coklat, tidak ada cookies, tidak ada permen" kata Valentino seraya mencium pelipis Leyka dan bangkit berdiri setelah menyimpan ponsel di saku celananya.


"Uhss! No! Aún no tengo sueño (aku belum mengantuk)!" bantah Train dan meraup cookies ditangannya.


"No No No, Blue! Cukup dan letakan kembali cookiesnya" Valentino pun merebut cookies dari tangan Train lalu menyambar tubuh Train hingga melambung tinggi lalu memanggul dipundaknya. Train tertawa menjerit jerit karena Valentino menciumi pinggangnya. Kumis dan jambang Valentino membuatnya kegelian. Valentino berusaha mengalihkan dan ia selalu saja berhasil melakukannya.


"Vamos, katakan buenos noches (selamat malam)" ujar Valentino sambil menepuk - nepuk bokong Train.


"Buenas noches--- Aaaa Daddy! Stop! --Buenas buenas noches a todos (selamat malam semuanya)!" seru Train disela tawa dan jeritannya sambil melambaikan tangannya. Semua tergelak dan menyambut sapaan khas itu dengan turut merasakan kebahagiaan Train dan kekaguman pada sosok Valentino yang menjadi seorang ayah dan suami idaman para wanita.


Mata Guaddalupe tak berkedip melihat Valentino yang meniti tangga sambil memanggul Train dengan penuh gelak tawa, suara Train memecahkan kesunyian Mansion itu. Seperti ada kehidupan yang sebelumnya, Mansion itu selama puluhan tahun seakan tak bernyawa. Rosemary, tersenyum penuh keharuan mendengar dan melihat pemandangan itu.

__ADS_1


-


-


-


Leyka memasuki kamar, setelah membersihkan tubuhnya. Ia terlihat segar dan aroma wangi memenuhi kamar itu, menusuk tajam melalui celah indera penciuman Valentino yang berada di ranjang. Ponsel, buku catatan serta pulpen berserakan di hadapannya, sesekali ia melirik kearah Leyka yang mengenakan piyama tipis, Leyka sedang menyisir rambutnya di depan meja rias.


Valentino menelan salivanya dan menghela nafas panjang lalu menghembuskan perlahan lahan. Kedua alisnya mengerut hingga dahinya, Leyka tersenyum melihatnya dengan berdebar debar. Karena wajah Valentino yang serius, itu adalah raut wajah favorit Leyka. Ada jutaan rasa yang menggelitik, yang membangkitkan keusilannya.



Valentino kembali asik memainkan ponselnya, Leyka mendengus melihat Valentino yang asik sendiri dengan serius. Leyka melihat kecemasan di wajah Valentino yang berulang kali menghela nafas panjang. Pikiran Leyka menjadi kacau karena ia tidak biasanya melihat Valentino seperti itu. Ia mulai menaruh rasa curiga pada Valentino dan kecurigaannya semakin menjadi ketika Leyka mendekatinya namun Valentino justru bangkit berdiri dan membereskan buku dan pena yang berserakan diranjang.


"Aku akan menelepon dulu" ujar Valentino berjalan kearah balkon dan membuat Leyka, semakin dirutuki kecurigaan serta kecemburuan.


Dia mau menelepon siapa malam malam begini? Apakah.. Wanita itu.. Mengapa ia sangat cemas.. Apakah sesuatu terjadi? Wanita itu pasti sudah mendengar pernikahan kita.. Lalu bagaimana dengan Miu? Mengapa hatiku sakit sekali memikirkannya? Sebaiknya aku tidur saja..


Leyka mematikan saklar lampu duduk yang berada diatas nakas lalu menarik selimut dan merebahkan diri dengan memiringkan tubuhnya membelakangi balkon. Leyka memejamkan matanya dan bersusah payah mencoba untuk tidur dengan hati yang gelisah. Sementara itu, di balkon Valentino berbicara panjang kali lebar dengan seseorang yang kelihatannya membuat Valentino sangat antusias. Leyka penasaran lalu ia bangun kemudian melangkah mendekati balkon.


"Jadi tidak masalah aku berhubungan badan dengan Istriku yang sedang mengandung? Ramona, apa aku tidak akan menyakiti anakku?" tanya Valentino membuat Leyka mengerti keresahan dan kegelisahan Valentino.


Jadi kau mengganggu tidurku hanya untuk pertanyaan konyolmu? Hahaha


"Hei, jangan menertawakanku. Artikel di internet simpang siur! Itu membuatku pusing!"


Apa tidak ada dokter di Spanyol?


"Masalahnya malam ini, kami baru saja mengetahuinya, Ramona-- dan aku ingat kau sebagai Dokter spesialis kandungan, karena itulah aku menghubungimu" kata Valentino dengan nada lesu.


Bodoh! Pikirkan saja hormon Istrimu. Memang kau mau bercinta sebrutal apa? Kau bisa melakukannya dengan pelan, Gallardiev. Mio-dio (Astaga; Italy), kau membuat kepalaku sakit.


"Baiklah, lanjutkan tidurmu. Perdonami. Entahlah aku bisa ere*ksi atau tidak" ujar Valentino lesu. Ia menutup ponselnya tak perduli tawa Ramona masih terdengar keras. Leyka berlarian kearah ranjang dengan menahan tawanya, ia buru buru memasuki selimut dan memiringkan tubuhnya.


Valentino meletakan ponselnya dan menyusul Leyka kearah ranjang. Ia masuk selimut dan memeluk Leyka dari belakang dengan menghela nafas dalam. Leykapun menumpangkan tangannya diatas tangan Valentino yang melingkar di perutnya.


"Kau belum tidur?" bisik Valentino saat Leyka menggeliat dan merapatkan tubuhnya kearah tubuh Valentino. Leyka dengan sengaja mengarahkan bok*ongnya pada milik Valentino yang tiarap karena sebenarnya ia memiliki ketakutan, bahwa senjata miliknya bisa saja melukai calon buah hatinya.


"Belum. Aku menunggumu-- Siapa Ramona?" tanya Leyka dengan mengubah posisinya kearah Valentino namun Valentino menahannya.


"Ckk, hadap sana saja, jangan kearahku-- Kau mendengarkan percakapanku? Kau cemburu-- dengan jujur Leyka mengangguk dan Valentino tersenyum lalu mengeratkan pelukannya --Ehm, Ramona adalah Kakak Iparku tertua" kata Valentino dengan menahan tubuh Leyka lalu menciumi pundaknya.


"Mengapa aku tidak boleh menghadap kearahmu? Apa kau bosan denganku?"


"Ckk, mana bisa aku bosan-- aku justru takut tergoda dengan kecantikanmu.. Shhh.. Wangi sekali" jawab Valentino sambil mengendus leher Leyka yang mengeluarkan aroma wangi yang memabukan.


"Memang kenapa kalau tergoda?" tanya Leyka seraya mengurai pelukan Valentino lalu mendorongnya tubuh Valentino perlahan hingga Valentino telentang. Dengan senyum menggoda Leyka merangkak keatas tubuh Valentino dan duduk di perutnya.


"Sshh-- Ley.. Aku.. Aku tidak bisa" Leyka mengurai tali piyama dan melepaskannya. Mata Valentino membulat saat melihat lekuk tubuh Leyka yang menyisakan underwearnya saja.


"Pasti bisa" bisik Leyka dengan melucuti kaos oblong Valentino hingga aroma maskulin tubuh kekar itu menyeruak. Wajah mereka memerah hingga ke daun telinga, aliran darah mereka berdesiran ketika kulit mereka saling bersentuhan, begitu lembut dan menghangat.


"Ley, aku.. Aku takut.. Ley" bisik Valentino dengan gugup saat Leyka meraih tangan Valentino dan meleetakannya dibuah dadanya lalu Leyka mendorong tubuhnya condong ke depan.


"Uhmm.. Benarkah" bisik Leyka diwajah Valentino hingga hidung mereka saling bergesekan. Leykapun melu*mat bibir Valentino dan lidah Valentino menyambutnya dengan hangat. Nafas Valentino terdengar memburu, ia menahan hasratnya yang kian menggelora diantara ketakutannya.


Seperti mengajari seorang murid, Leyka membuat jemari Valentino melakukan gerakan eks*otis dengan mere*mas rem*as buah dada yang kian membesar. Valentino terbuai dalam ciuman yang kian menggila, mereka saling menarik lidah dan menghi*sapnya perlahan. Kul*uman yang menggairahkan membentuk gerakan pinggul Leyka yang memancing milik Valentino keluar dari sarangnya.


"Ohh Shitt! Ley.. Aku.. Aku tidak bisa Leyka!" kata Valentino dengan nafas tersengal mengurai ciuman panas itu.


"Anakmu akan baik - baik saja" bisik Leyka sambil merangkak mundur dan melepas celana Valentino hingga tersisa underwearnya saja lalu Leyka melepas balutan terakhir yang melekat di tubuhnya. Valentino bangun dan menyandarkan tubuhnya di headboard ranjang, ia menjauh dari aksi Leyka yang berusaha menyingkirkan ketakutannya. Dengan lututnya Leyka berjalan kearah Valentino dengan tersenyum, Valentino menggigit jemarinya, dengan menahan hasratnya yang naik turun.


__ADS_1


"Ley.. Aku tidak bisa" bisik Valentino kembali menelan salivanya saat Leyka mendekatinya dan memberikan cakaran lembut pada perutnya untuk meraih underwaer hitam yang menutupi milik Valentino yang setengah menegang. Bulu bulu kasar Valentino yang mencapai pusarnya, membuat Leyka menggigit bibirnya.


Leyka menyibakan semua rambutnya ke belakang, tubuh moleknya kian menantang. Ia pun melucuti balutan terakhir yang melekat di tubuh Valentino. Jantung Valentino rasanya ingin meledak saat jemari lembut Leyka meraih jagung bakar Afrika Selatan yang belum sepenuhnya menunjukan eksistensinya. Lalu Leyka mencondongkan wajahnya dengan mencengkeram milik Valentino, sesaat ia mengusapnya hingga membuat Valentino meremang.


"Ohh Shitt.. Leykaaa.. Aaaarggh!" Valentino mencengkeram sprei dan menahan nafasnya, saat Leyka meniup ujung miliknya dengan nafas yang memanas, Leyka membuka mulutnya dan mengu*lum milik Valentino dengan lembut. Dada Valentino terlihat naik turun dengan cepat. Delapan tahun yang lalu, rasanya baru kemarin, ia merasakan sensasi yang pernah Leyka ciptakan di Pretoria.


Lidah yang lembut, nafasnya yang hangat dan mata Leyka yang sesekali terpejam membuat Valentino menegang, berulang kali Valentino menahan nafasnya saat Leyka memainkan lidahnya dan menghi*sapnya dengan melenguh.


"Aarrghh! Haaahhh! Ley.. Ouggghh.. Leykaa!" Valentino dengan cepat menarik untaian rambut Leyka dengan nafas terengah engah, hampir saja Valentino terhanyut dan meledakan hasratnya. Sekuat tenaga Valentino menahannya lalu ia mendorong tubuh Leyka kemudian menindihnya.


Dengan naf*su yang membakarnya, Valentino menggenggam kedua buah dada Leyka lalu melu*matnya bergantian. Tak terkira rin*tihan halus nan merdu mengalun syahdu di kamar Putri Mahkota itu.


"Aaahhh.. Vall... Uhhhmm.. Mi... Amor.. Ngghh" des*ahan Leyka semakin membuat Valentino tak kuasa. Namun saat bibirnya menuruni perut Leyka, ketakutan kembali menyergapnya, hingga Valentino menghentikan aksinya.


"Hmm.. Aahh.. Aku.. Aku takut Ley" kata Valentino dengan lesu seiring miliknya yang menegang kembali mengendur.


"Val, apa kau ingin tahu bagaimana aku menjalani kebutuhan biologisku selama delapan tahun ini?" bisik Leyka dengan mengangkat setengah tubuhnya dan membentangkan kedua pahanya.


"Ehm.. Dengan dil*do?" Leyka menggeleng dengan tersenyum.


"Mirar (lihat)-- bisik Leyka nyaris menghilang suaranya, lalu Leyka membasahi jari tengahnya kemudian menggesekkan perlahan pada buah mungil diantara irisan buah peach --Aahh.. Val.. Lihat aku saja.. Jangan melihat perutku.. Aahhh.. Kau bisa melakukannya dengan pelan? Val, apa kau lupa, ramuan kesuburan itu? Itu menguatkan rahimku, Val" bisik Leyka membuat mata Valentino membulat, melihat seraut wajah cantik istrinya merin*tih rin*tih seraya bermain sendiri, membuat Valentino kembali menegang.


Valentino menarik kedua paha Leyka hingga mengarah ke tengah kedua pahanya yang terbentang, tiada jarak lagi saat hasrat menginginkan penyatuan. Ia menyambar jemari Leyka, lalu menghisapnya seraya menuntun miliknya perlahan memasuki panasnya irisan buah peach yang merekah.


Mata Leyka terbeliak, mata abu - abu kebiruan Valentino mengunci pandangan matanya, hingga Leyka menatap tampannya Pria Italy yang terus menghisap jemarinya. Leyka melenguh panjang saat milik Valentino melesak hingga pinggulnya terangkat, milik Valentino memenuhinya dan menyesakkan dadanya.


Gelenyar indah berdesiran dan berkejaran, Valentino merasa suhu di dalam milik Leyka kian memanas, dengan nafas tersengal Valentino menahannya, jutaan rasa yang sulit ia bendung, rongga yang kian menyempit seakan semakin menghi*sapnya kuat, Valentino terus menekan miliknya perlahan lahan.


"Aa...aaa... aaa.. aaahhh.. Vaall" des*aah panjang Leyka mengurai tatapan itu, matanya terpejam dengan kepala menengadah keatas.


"Ley.. Aaahh.. Shhh.. Apa aku menyakitinya?" bisik Valentino berhenti menekan miliknya.


"Aaaa..aahh Vall-- Leyka hanya menggeleng dan meraih pundak Valentino agar merebah seutuhnya diatas tubuhnya ---Ba..ciami.. Gu..ardami (cum*bu aku.. lihat aku ; Italy)" bisik Leyka ditelinga Valentino seraya memberi gigitan kecil. Valentino tersengat melihat tatapan Leyka yang membuatnya melesakan miliknya sepenuhnya.


"Ngghh.. Aahhh Val" er*ang Leyka saat kokohnya jagung bakar Afrika Selatan, memenuhi miliknya dan memberikan gairah yang menggelora.


"Aaarghh! Perdonami muñequita" bisik Valentino dengan menggoyangkan pinggulnya dan mencengkeram kepala Leyka, ia pun mencumbui leher dan menuruni buah dada Leyka yang kian padat menyembul, ia mere*mas dan menghi*sap puncaknya diiringi gerakan pinggulnya.


Era*ngan demi era*ngan yang merin*tih rin*tih bak dawai yang mengalun lembut dan merdu. Valentino terus membawa Leyka terbang membumbung dipuncak ketinggian hasrat seorang wanita yang sedang bergejolak hormon kehamilannya. Sentuhan, rema*san bahkan cakaran yang manis disela keringat yang mengalir memanaskan ranjang Putri Mahkota itu.


Semakin pelan Valentino menggerakan pinggulnya maju mundur, semakin membuat Leyka tak kuasa menahan gairahnya yang kian memuncak.


"Vall.. Aahh.. Ughmmm.. Mi amor.. Shh.. Aaaa... Aaahh" er*angan Leyka diiringi kedua pahanya menegang, Valentino mengerti situasi itu, ia menghentikan gerakannya dan membiarkan Leyka memegang kendali dari bawah.


Ia tidak ingin menyakiti buah hatinya namun ia juga ingin Leyka merasa nyaman dengan miliknya yang kian membesar di titik puncaknya. Leyka menggoyangkan pinggulnya naik turun sementara Valentino menggigit pundak Leyka menahan hasratnya yang akan meledak. Leyka mere*mas pinggang Valentino dan memagut lehernya. Leyka menjerit lirih saat melepaskan hasratnya meledak di titik puncaknya. Denyutan miliknya seakan berkejaran dan bertabrakan dengan gelenyar yang terus menyerang pangkal pahanya.


"Ohhh Leyka! Aaaarrgh! Shhh! Aaarrgh" Valentino menger*ang, ia terpancing untuk menghentakan pinggulnya beberapa kali saat berada dititik puncak hasratnya, ia membenamkan wajahnya diceruk leher Leyka seiring benihnya menyembur berhamburan memenuhi milik Leyka.


Valentino mengingat buah hatinya dan ia buru buru melepaskan dirinya dan duduk dengan terengah engah, "Ley, apa anakku tidak apa apa?" tanya Valentino sambil mengusap perut Leyka yang menggelang dengan lemah lunglai.


"Sshh.. Perdonami Muñequita" ujar Valentino berulang ulang dan berhamburan menciumi perut Leyka. Naf*su itu berubah menjadi tawa dan canda dilarutnya malam di Kota Palma de Mallorca yang kian merajut sepi.


-


-


-


Horaaayyy siapa yang meledak seperti petasan saat Keluarga Setan ini hadir di tahun baru ini? Akuu aja rasanya duaarr ga jelass.. 🤣


Aku revisi akhirnya disela2 liburan dan seabrek acara keluarga.. Selamat Membaca Bosqyu.. Boleh minta kopinya hingga tetes terakhir?? 🤣🤣🤣


HAPPY NEW YEAR.. YAA BOSQYU.. SALAM CINTAKU DARI SINGAPORE.. SUKSES DALAM SEGALA HAL.. SEMOGA HAL2 BAIK SELALU MENYERTAI KITA.. AMIN.. LOVE YOU MISS YOU 😘💛

__ADS_1


__ADS_2