
Leyka mendorong tubuh Valentino, mengurai sebuah pelukan yang tidak ia sadari. Ia kemudian berlalu tanpa kata menuju restroom dimana itu menjadi tujuannya sebelum melihat aksi Valentino yang cukup menyita perhatiannya. Telinganya mendadak tuli, panggilan Valentino tak dihiraukannya, hingga tiba di depan pintu restroom (toilet) Valentino meraih tangan Leyka dan dengan cepat Valentino mengungkungnya, dengan menghimpitnya di dinding.
"Ley!--
"Kau merencanakan ini semua? Apa yang kau rencanakan! Katakan apa yang kau rencanakan!" Valentino menahan kedua lengan Leyka di dinding hingga wajah Leyka saja yang condong ke depan kearah wajah Valentino dengan menunjukkan sikap perlawanan dan meronta dengan kesal. Rasanya Leyka ingin menelannya hidup - hidup.
Melihat Damian yang terluka karena sikapnya membuat Leyka merasa kesal. Ia merasa bersalah, Leyka tidak bermaksud melukai Damian, tapi sikap Valentino yang melakukan tindakan semaunya sendiri dengan tiba tiba muncul di perjamuan makan malam itu, di nilai tidak adil untuk Damian.
Leyka hanya tidak ingin menambahkan Luka untuk Damian, seseorang yang di nilainya cukup berarti dan berjasa melewati masa yang menyesakkan dadanya. Kesepian, Kerinduan pada sesuatu yang tidak berwujud, pada rinai hujan yang begitu deras menuruni Barcelona, pada salju pertama saat musim dingin tiba, Damian cukup menemaninya berbincang dan bermain bersama Train adalah pelarian yang mujarab untuk mengobati luka juga kerinduannya.
"Ley, aku tidak merencanakan apapun. Aku hanya melakukan tugasku sebagaimana mestinya. Aku melakukan kewajibanku, untuk melindungimu!" jawaban Valentino cukup menohok. Leyka kembali menilai keegoisan Valentino.
"Kau sudah gila. Ada Damian dan aku milik Damian, Val! Bisakah kau tidak melakukan segala sesuatu sesuka hatimu? Kau punya Istri mengapa kau begitu egois ingin membangun masa depan denganku! Hubungan kita tidak mungkin! Waktu kita hanya tiga bulan! Dan apa yang terjadi diantara kita, itu kesalahan. Itu hubungan fisik tanpa perasaan! Itu hanya kebutuhan Biologis saja! Lepaskan aku!"
Aku tidak mungkin egois dan mengatakan untuk meninggalkan istrimu demi aku.. Rasanya aku ingin mengatakannya, tapi aku juga bukan wanita murahan yang merebut suami orang! Bahkan jika itu dirimu, Val..
Leyka seakan menghujamkan ribuan anak panah seketika, namun Valentino yang sungguh sungguh ingin memperjuangkan rumah tangganya, memilih untuk bersikap bijaksana, karena ia semakin lama semakin mengenal Leyka, apa yang diucapkannya acap kali itu justru kebalikannya.
"Katakan sekali lagi bahwa apa yang terjadi diantara kita hanya hubungan biologis dan kau tidak menggunakan perasaanmu padaku, Leyka! Kau dan Damian telah berakhir dan Damian hanya menolongmu lepas dari acara ini!" Leyka mendengus dengan memalingkan wajahnya, ia menyandarkan kepalanya di dinding.
"Jadi kau sekarang menjadi penguntit?" tanya Leyka dengan malas. Valentino telah mengetahui rencananya dan Leyka merasa telah kalah langkah karena Valentino telah mengetahui segalanya.
"Demi masa depan kita! Demi kau dan Train!" dan Leyka kembali menatap tajam kearah Valentino dengan hatinya yang bergejolak. Itu semua karena Leyka tidak pernah mengetahui kebenarannya.
"Kita hanya sampai tiga bulan tidak lebih, Val! Kau bisa kembali pada Istrimu! Pada keluargamu yang sesungguhnya!" Valentino menghela nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar, ia menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan kebenaran. Lagi lagi Valentino harus menahan dan mencoba untuk bijaksana menghadapi Leyka yang selalu saja menguji kesabarannya, walaupun ia juga tidak menyalahkan sikap Leyka sepenuhnya.
"Kita akan selamanya Leyka karena kau adalah Takdirku! Aku tidak akan membuat siapapun merebut kebahagiaan Blue Train bahkan jika itu adalah dirimu! Jadi jawablah! Apakah yang kita lakukan hanya hubungan biologis tanpa perasaan? Apakah hanya kebutuhan se*x semata?! Karena aku melakukannya dengan segenap perasaan dan kerinduanku! Bahkan setiap desahanmu kau mengatakan Cintamu selama ini!" Valentino menatap tajam dan begitu dalam dua bola mata Leyka, ia memburunya setiap bola mata kecoklatan lari dari pandangannya.
"Lepaskan aku!!" seru Leyka tanpa melihat kearah Valentino.
"Mengapa kau tidak mau menjawabnya? Mengapa, My Sweet Pretoria? Mengapa kau menciumi Train dan menyebut namanya? Blue Train, Blue Train, Blue Train my sweet Pretoria? Mengapa Leyka? Mengapa kau menyembunyikan perasaanmu? Karena aku adalah Luka? Benarkah?-- Ley, aku mencintaimu!" kata Valentino dengan tegas, tangan yang mencengkeram kedua lengan Leyka kini menangkup dikedua pipi Leyka.
"Diam! Semua yang kau lakukan hanya untuk Train! Itu hanya karena Train! Jika tidak ada Train, kau akan membuatku jatuh lalu kau akan meninggalkanku! Tanyakan pada hatimu, apakah cinta itu ada dihatimu untukku. Kau datang dengan dendam yang tidak seharusnya kau lakukan padaku! Semua yang kau lakukan hanya untuk Train! Jadi lepaskan aku!" Leyka menepis tangan Valentino dan kedua tangan kekar itu mendarat di dinding, Valentino tidak mudah melepaskan Leyka dengan mudah.
"Aku tidak akan melepasmu, Nyonya Valentino Gallardiev! Jawab saja pertanyaanku! Mengapa kau tidak mau menjawabnya!"
"Gila! Loco (sinting)! Kau ingin aku fare pipí (kencing; Italy) di sini?" dan akhirnya Valentino, memilih mengalah saat Leyka mendorong dadanya. Hanya karena Leyka mengatakan dalam bahasa Italy, Valentino sudah cukup merasa puas. Apakah cinta sebodoh ini? pikir Valentino dalam hatinya dengan tersenyum tipis.
"Hmm. Ya sudah, pipí sana(kencing; Spanyol), aku akan menunggumu disini" ujar Valentino membalasnya dengan bahasa Spanyol.
"Tidak perlu menungguku, andare via (pergilah; Italy)!" ujar Leyka sambil melangkah menjauh beberapa langkah menuju pintu restroom.
"Aku tidak akan pergi! Aku menunggu jawabanmu! Karena jawabanmu sangat penting! Aku tidak akan mengganggu rencana pertunanganmu dengan Damian!" Leyka menghentikan langkahnya saat menarik handle pintu, ia menoleh kearah Valentino yang mengetahui rencananya.
"Kau mengetahuinya? Kau benar benar menguping pembicaraanku! Kau menguntitku! Cihh, alasan kau membeli peralatan mengecat rumah kala itu! Ternyata kau membuntutiku!"
Valentino kembali merasa kelakuannya memang tidak sepantasnya tapi mau bagaimana lagi, semua ia lakukan demi perjuangannya, mendapatkan keluarganya. Setelah Train memberikan waktunya tiga bulan, Leyka memilih untuk mengakhiri segalanya, walaupun Damian tidak mau dan akan tetap menunggu selama tiga bulan dan berharap ada keajaiban.
Karena dalam hatinya, Leyka juga berharap ada keajaiban dan ini untuk pertama kalinya Leyka percaya bahwa keajaiban itu ada. Di sisi lain Leyka tidak ingin memperumit keadaan, ia lebih memilih menjaga perasaan Train dan itu akan menyakiti Damian. Itulah sebabnya Leyka memilih mengakhiri hubungannya dengan sebuah kesepakatan, bahwa ia mengizinkan Damian membantunya di acara Visscountes hanya sebagai sahabatnya.
"Jawab saja Leyka-- Tidak penting aku mengetahuinya!" Valentino berjalan mendekati Leyka, namun dengan cepat Leyka memalingkan wajahnya.
"Si! Aku melakukannya tanpa perasaan! Itu hanya kebutuhan biologis!" ujar Leyka menjawab dengan memejamkan matanya.
__ADS_1
"Lalu mengapa kau tidak melihatku saat kau mengatakannya?" tanya Valentino semakin mendekat dan Leyka membuka pintu restroom.
"Perutku sakit sekali" Dan pintu tertutup tepat di depan wajah Valentino dan Valentino justru tertawa sangat pelan. Ibarat temperatur disebuah bejana yang berisikan termometer pengukur suhu.
Saat suhu memanas, seketika itu juga Valentino drop dibuatnya. Ia ingin tertawa geli mendengar perkataan Leyka, ia gemas rasanya, ia ingin memeluk dan menciumi Leyka bertubi tubi. Hati Valentino berbunga, ia merasa diatas awan dan bisa menggenggam hati Leyka.
Setelah beberapa saat kemudian, Leyka keluar dan berjalan melewati Valentino dengan wajah pias dan menghindarinya. Valentino mengikutinya dan menyejajarkan langkah Leyka dengan tersenyum mengembang.
"Kau tidak ingin berputar putar dengan gaunmu? Anggap saja tidak ada orang yang melihatmu dan anggap saja aku tidak ada" Leyka membulatkan matanya dan menghentikan langkahnya, dengan kesal ia memukuli lengan Valentino dengan dompet yang menggantung dipundak hingga mencapai pinggangnya.
"Menyebalkann! Menyebalkan! Menyebalkan! Dasar Penguntit!! Psikopat!" Valentino hanya tertawa bahkan semakin meledakkan tawanya dan membiarkan Leyka berlalu meninggalkannya di koridor menuju restroom.
-
-
-
...PEMILIHAN VISCOUNTESS...
...Part II...
Para wanita single yang belum memiliki pasangan, semua mendapat giliran satu per satu berdansa dengan Viscount Alfredo Berenguer keturunan dari Bangsawan Berenguer III dari Spanyol. Sebagian keluarga besar Berenguer tinggal di London dan salah satu generasi mereka menikah dengan Bangsawan dari Kerajaan Inggris. Secara turun menurun, Alfredo dipilih dan dinobatkan sebagai Viscount dan memegang kendali di wilayah utara Inggris.
Kehidupannya tidak cukup baik, ia tipe laki laki yang senang berpetualang, istilah Don Juan sangat cocok untuknya. Pecinta gadis muda, mudah jatuh cinta, mencintai keindahan dan juga pemuja wanita. Usianya hampir setengah abad dan ia melaluinya dengan berpetualangan dari satu hati ke hati yang lain, dari satu cinta ke cinta yang lain. Jika wanita jatuh ke dalam pelukannya beberapa waktu kemudian ia akan meninggalkannya karena ia cepat sekali bosan.
Mulut manisnya adalah penakhluk, siapapun tidak ada yang menolaknya, aroma uang yang masih baru, seolah menjadi parfumnya. Wanita yang menyukai uang adalah mangsanya. Namun satu gadis muda yang ditawarkan padanya, gadis muda dengan pesona yang memukau dan tersembunyi di dalam sikap bar barnya, menolak keras dan memilih pergi meninggalkan Spanyol dan terbang ke Afrika Selatan, saat ia berkunjung ke Palma. Gadis itu adalah LEYKA PAQUITO, yang diperkenalkan sebagai putri kedua dari Locki Gusmo.
Perjodohan di Kerajaan pada jaman dahulu di lakukan secara terbuka dan itu menjadi sebuah tradisi Kerajaan di belahan benua Eropa dari abad ke abad. Bila di sebuah tradisi India kuno, perjodohan dilakukan dengan cara, keluarga pihak laki laki menemui langsung ke rumah calon pengantin wanita, lalu si calon pengantin laki laki menemuinya dikamar untuk berbincang agar menemukan kecocokan atau di Mesir kuno dimana sang wanita memakai cadar saat berkenalan agar keduanya mendapatkan kecocokan dengan sekali melihat matanya maka berbeda dengan tradisi Kerajaan. Mereka melakukan DANSA.
Leyka cemas, berulang kali ia merre*mas gaunnya saat Alfredo dan calon Viscountess mengakhiri dansa dengan salam kehormatan khas Kerajaan. Dan ia merasa lega saat ia tidak di panggil untuk berdansa. Suasana semakin mendebarkan mana kala calon Viscountess hanya tersisa dirinya saja. Waktu dansa hanya lima menit yaitu waktu dimana sebuah lagu klasik berakhir. Menit demi menit berlalu cepat, Leyka sangat tegang.
Dari tempat duduknya yang memutari lantai dansa, Leyka bangkit berdiri menuju meja bundar dimana ada beberapa gelas wine dan champange tertata rapi. Satu orang pelayan, berdiri disana dan bersiap melayani, menuang minuman berdasarkan orang mengambil gelas di atas meja.
Leyka mengambil gelas Bordeaux, gelas untuk red wine yang bentuknya lebih bulat. Tangkainya cukup kecil, sehingga banyak yang meminumnya dengan memegang badan gelas. Kemudian pelayan meraih anggur merah sejenis Cabernet dan Merlot yang memiliki rasa sangat kuat.
Kemudian ia meletakkannya lagi, Ia ingin menghalau perasaan cemasnya namun ia juga tidak ingin membuat kesalahan bila terlalu banyak meminum red wine (anggur merah).
"Bisa bisa justru aku jatuh dalam perangkapnya" gumamnya. Saat matanya berkeliaran mencari gelas wine Burgundy, seseorang mengambilkan untuknya.
"Damian?"
"Gelas Burgundy-- kau mencari ini?" Leyka tersenyum gugup saat Damian menyodorkan gelas yang Leyka cari. Gelas burgundy dibuat untuk anggur yang rasanya lebih lembut. Tidak hanya itu, aroma dan rasa dari wine benar-benar didukung oleh gelas ini, lantaran badannya yang lebar. Tujuannya adalah hidung bisa "ikut masuk" ke dalam gelas, untuk bisa mencium dan menikmati aromanya.
Leyka tersenyum dan meraih gelas Burgundy dan pelayan menuangkan untuknya red wine dengan rasa yang lembut yang berkadar alkohol ringan. Bagaimanapun Damian lebih lama menjalin sebuah hubungan, dan Damian sangat tahu apa yang Leyka inginkan disaat seperti ini. Damian sangat memahami Leyka.
"Damian, apa yang kau lihat tadi, aku tidak bermaksud--
"Ley, aku akan tetap menunggumu selama tiga bulan. Aku akan tetap menunggumu. Dan aku akan selalu berada disisimu sampai akhir" ujar Damian sambil memotret Leyka yang menyesap red wine dengan perlahan.
__ADS_1
"Damian, Valentino tiba tiba datang dan aku tidak tahu rencananya. Damian sebaiknya kita tidak usah melanjutkan rencana kita karena aku tidak ingin melibatkanmu. Tiga bulan bukan waktu yang singkat-- Ehm. sesuatu bisa saja terjadi dan aku tidak bisa Damian. Hubungan kita telah berakhir dan biarkan saja tetap seperti itu. Jangan menungguku" ujar Leyka membuat Damian menghela nafas panjang.
"Ley, apa kau dan Valentino telah-- Leyka memalingkan wajahnya dan meneguk wine ditangannya, Damian menyadari jawaban Leyka dari bahasa tubuhnya --Astaga, Leyka. Kau sangat menikmatinya dan sudah pasti kau merindukannya" hati Damian tersayat sembilu, membayangkan Valentino dan Leyka bercinta membuatnya kacau.
"Damian. Aku-- Bagaimana mengatakannya. Aku mohon, mundurlah. Maaf. Train adalah segalanya dan aku tidak bisa menyakitinya" ujar Leyka menghabiskan red wine dalam sekali tegukan lalu meletakkan gelas di meja. Damian terdiam terpaku melihat arah belakang Leyka, ia melihat Valentino berjalan kearahnya.
"Kalau aku jadi kau, aku akan mundur. Damian" kata Valentino tiba tiba datang dengan menggenggam gelas Bordeaux yang berisi red wine Cabernet. Red wine dengan rasa yang sangat kuat.
"Val" gumam Leyka.
"Itu bukan urusanmu, Gallardiev. Bisakah kau terluka demi Leyka, seperti aku? Kau kemana saja saat dia membutuhkan pertolongan!" Damianpun bereaksi.
"Aku terkena serangan jantung saat itu. Dan jangankan terluka, bahkan matipun aku rela, karena dia milikku. Suatu hari nanti, waktu tiga bulan itu akan berubah menjadi selamanya dan, Leyka yang akan mengatakannya tanpa aku minta-- Ahh, coba kau ambil foto kami" Valentino meneguk red wine lalu meletakkan gelas di meja, lalu ia merangkul pinggang Leyka.
"Val--
"Sstt-- Lihat kamera, Ley" dan Damian mau tidak mau memotretnya, karena itu tugasnya. Dua kali Damian mengambil foto pasangan ini dan bedanya sekarang, moment ini begitu menggerus hatinya karena Valentino mencium pelipis Leyka dengan tiba tiba.
"Wah kalian ada disini. Adik tiriku, mengapa tidak three*soome saja setelah acara ini-- Hahaha. Sebaiknya kau bersiap. Kau akan di panggil untuk berdansa dengan calon suamimu dan kau mendapat giliran terakhir. Aku sudah memesan dua lagu untukmu dansa dengan Viscount Alfredo. Aku bersumpah, hanya dua lagu-- Hahaha"
Ella datang ditengah tengah mereka dan perkataannya memancing reaksi Damian saat Ella menyebut kata three*somme yang mana artinya adalah aktivitas sek*sual yang melibatkan tiga orang pada waktu yang sama. Damian rasanya ingin menarik rambut Ella, namun ia tahu dia sedang berada dimana dan Damian sedang bekerja.
"Ja*lang-- Damian maju selangkah mendekati Ella dan Leyka menahan dada Damian sambil memotong perkataan Damian.
"Damian hentikan. Anggap saja dia tidak ada! Jangan di dengarkan!" ujar Leyka membuat Ella tersengat.
"Hahaha-- Il mio amore.. Aku ingin melihat wajahnya setelah ini. Damian jangan lupa kau abadikan wajah buruknya sebentar lagi" dan dengan seenaknya Valentino meraih pergelangan tangan Leyka yang mendarat di dada Damian lalu membawanya pergi. Semua tidak menaruh curiga atas perkataan Valentino.
Dan Leyka justru menurut begitu saja tanpa pikir panjang, ia menoleh kearah Damian dengan perasaan canggung. Valentino membawanya duduk di kursi di barisan paling depan, di kursi tamu berderet yang memutari lantai dansa.
Hati Damian gundah, ia kembali ke posisinya yaitu bersama semua wartawan yang meliput acara Kerajaan. Sementara dengan kesal, Ella kembali duduk di samping Rosemary dan Locki Gusmo, dimana mereka duduk di seberang Valentino dan Leyka.
Dan dansa itu berakhir. Alfredo masih berdiri ditengah lantai dansa, ia tersenyum kearah Leyka saat seorang pelayan membawa nampan dengan segelas red wine diatasnya. Alfredo mengambilnya dan mengangkat gelas itu kearah Leyka. Alfredo meneguknya sampai habis lalu pelayan itu berlalu membawa gelas kosong.
Valentino menggenggam jemari Leyka yang terasa dingin. Leyka menegang, jantungnya berdetak cepat karena sekarang adalah gilirannya berdansa dengan Alfredo. Leyka menegakkan posisi duduknya, ia merasa tidak tenang, ia mulai risau dan duduknya mulai tidak nyaman. Valentino pun membaca gelagat ketegangan Leyka, ia kemudian mengusap punggung Leyka.
Belaian itu tidak serta merta menghilangkan dan menghalau kerisauan Leyka begitu saja, ia semakin menegang ketika seorang pemandu acara mulai berbicara, tubuh Leyka menjadi dingin. Rasa muak, rasa takut dan rasa bencinya pada Locki yang tersenyum kearahnya serta tawa kecil Ella, berbaur menjadi satu.
"Kontestan terakhir! Dan ini akan menjadi sesi terakhir acara ini! Saya akan memanggil seorang wanita cantik-- Pembawa acara itu membaca sebuah kertas. Leyka tanpa sadar meremas jemari tangan Valentino yang menggenggamnya --Silahkan maju kedepan! SENORITA ELLA GUSMO!" perkataan pembawa acara disambut tepuk tangan para tamu undangan.
Tepuk tangan yang meriah, seiring Leyka, Ella, Locki dan juga Rosemary membelalakkan matanya dan saling pandang. Sementara Valentino hanya tersenyum penuh misteri.
"Kau pikir aku rela, seseorang menyentuh milikku yang berharga? Tidak boleh seorangpun menyentuh Wanita Silumanku! Wanita Siluman hanya milik Raja Setan! Kau milikku yang berharga" bisik Valentino mengulangnya dan membuat Leyka yang memucat menoleh kearah Valentino. Ketegangan Leyka meluruh seketika.
"Apa ini ulahmu, Raja Setan?" Valentino tidak menjawab, ia hanya mencium jemari Leyka dengan tersenyum hangat dan tatapan yang memikat. Dan Leyka terpana melihatnya.
-
-
-
__ADS_1
ugh.. vote n kopi boleh dong di krm ke mejaku, Bosqyu..