
...Part Three...
Pallazo terdiam, ia tidak cukup memiliki keberanian menatap mata Valentino yang memerah dengan sesekali ibu jarinya menyeka sudut mata biru itu. Suara Valentino terdengar serak, ia menekan getirnya perasaan bersalah saat wajah Train melintas begitu saja dalam benaknya. Valentinopun melanjutkan perkataannya.
"Bukankah Miu telah mendapatkan lebih dari Blue Train? Delapan tahun waktu yang terlewatkan, bahkan seluruh kekayaan yang aku miliki tidak akan pernah bisa membayarnya! Miu tetap mendapatkan porsinya! Untuk kasih sayangku semua mendapatkan porsi yang sama! Tidak ada yang berubah ataupun berkurang! Karena harta ataupun kekayaan tidak ada artinya tanpa kebahagiaan dan aku belajar itu dari Leyka! Aku Red Velvet dan dia memilih Roti tanpa Butter" Valentino melembut senyumnya samar samar terlihat, mengingat kisah indahnya dan Leyka yang selalu menghiasi benaknya.
Pallazo terdiam, ia mencerna setiap perkataan Valentino. Pikirannya seakan terbawa ke dalam kisah Pretoria yang Valentino kisahkan pada Miu yang mengalun melewati setiap malamnya. Ia mengingat bagaimana kisah Valentino begitu indah, namun saat cinta itu hadir kisah itu begitu menyakitinya.
"Kau tahu? Leyka pernah mengatakan di Pretoria-- asalkan hanya bersamaku, dia memilih hidup Roti tanpa Butter saja, dia tidak memiliki Red Velvet. Tapi aku bodoh dan tetap memilih Red Velvet! Sesederhana itu keinginan Leyka yang tidak pernah aku pahami karena keegoisan dan ambisiku! Jika semua kekayaanku bisa mengembalikan waktu delapan tahun yang terlewatkan bersama Leyka dan Putraku, maka aku mau menukarnya!" kata Valentino dengan ketegasannya, penuh emosi kepada dirinya sendiri dan sejumput penyesalan mendalam yang sangat menyiksanya.
"Leyka memendamnya sendiri, aku tidak tahu apa alasannya, jika dia tau dia mengandung Putraku seharusnya dia mengatakannya lewat email atau nomor ponsel atau menulis surat lewat hadiah yang aku antarkan ke Barcelona setelah perpisahan kita, aku menulis alamatku disana! Tapi itu tidak! Dia tidak pernah mengabariku tentang Train dan aku pikir dia memang menikah dengan senior di kampusnya tapi kenyataannya Diego justru menikahi Manuella sahabatnya" Valentino menghela nafas panjang dan melanjutkan perkataannya.
"Leyka memilih melahirkan Putraku sendiri tanpa aku! Apa kau tahu rasanya? Bahkan hingga detik ini aku tidak berani bertanya mengapa.. Lagipula apapun alasannya itu sudah tidak penting lagi karena dia adalah milikku bahkan sejak delapan tahun yang lalu" ujar Valentino dengan mengusap wajahnya dengan kasar.
Semua terdiam termasuk Pallazo yang masih mencerna cerita demi cerita dan membuatnya seakan memasuki sebuah dimensi masa lalu Valentino yang menyakitkan. Ia mengingat sikap Valentino kepadanya setiap detailnya, ia mengingat bagaimana Valentino menyayangi Miu melebihi hidupnya. Dan ia mengingat sebuah Tragedi yang membuatnya takut, takut akan nasib Miu yang begitu tragis. Airmatanya kembali meleleh dan ia buru - buru menyekanya.
Shittt.. Jangan.. Jangan katakan karena foto.. Foto yang aku kirim.. Ohh Shittt.. Apa yang telah aku lakukan.. Ohh Shitt.. Habislah aku jika Gallardiev mengetahuinya.. Seandainya aku tahu Leyka punya seorang Putra, tentu aku tidak akan melakukannya.. Ohh Shittt.. Pasti sangat sulit menjadi Leyka.. Tidak! Menjadi Miu pun sangat sulit.. Apalagi menjadi diriku ..
Pallazo menjadi resah seketika, Jared beberapa kali menuang air dingin ke dalam gelas kosong yang telah ia minum. Rasanya, tenggorokannya mengering mengingat perbuatannya mengirim sebuah foto untuk Leyka yang bertujuan agar Leyka menjauh dan tidak berharap lagi pada Valentino yang telah bahagia bersama Miu.
"Aku sungguh - sungguh ingin menukarnya bila bisa. Aku ingin menukar segalanya yang aku miliki bila aku bisa kembali ke masa lalu. Aku akan tetap di Barcelona, aku akan menunggu di depan pintunya hingga ia datang dari Palma! Dia melarikan diri ke Barcelona dan saat itu juga aku kembali ke Italy! Bodohh sekali takdir itu!" lanjut Valentino dengan nada getir dan penuh penyesalan. Jared dan Torres iba melihatnya.
Semenjak Valentino berada di Barcelona, Jared dan Torres melihat Valentino menjadi sosok yang berbeda. Valentino berubah menjadi pribadi yang hangat dan ramah, walaupun terkadang kekanak - kanakan. Bahkan melihat Valentino menangis, hanya saat mereka berada di Barcelona. Terkadang mereka menertawakan, sikap Valentino dan mereka tidak menduga bahwa seorang Leyka Paquito mampu merubah Valentino dalam sekejap.
Sementara Pallazo kembali mengingat sikap Valentino selama ini kepadanya. Kehadirannya tidak pernah berarti, keberadaannya seakan tidak pernah ada. Semua hanya karena, begitu tragisnya takdir Miu yang tanpa sengaja menyelamatkan nyawa Valentino dalam sebuah kecelakaan maut yang sangat mengerikan. Buliran bening airmatanya kembali mengalir dan ia buru buru menyekanya, kekhawatirannya kembali merasukinya.
"Dan menukar keberadaan Miu?" Semua diam dan Valentino masih duduk menunduk dengan menangkupkan kedua telapak tangan di wajah tegasnya. Mendengar pertanyaan Pallazo Valentino kembali geram, ia mengangkat kepalanya dan menatap tajam kearah Pallazo.
"Diev-- Jared menggelengkan kepalanya agar Valentino tidak menjawab pertanyaan itu. Karena itu adalah pertanyaan jebakan untuknya. Namun Valentino tidak perduli.
__ADS_1
"Si, termasuk menukar keberadaan Miu!" seru Valentino membuat Jared dan Torres menghela nafas panjang. Jared memijat batang hidungnya dan Torres memijat pelipisnya lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Hahaha! Semoga Miu tidak mendengar ini! Kau laki laki paling kejam di dunia ini, Gallardiev! Bagaimana jika aku mengatakannya pada Miu?" tawa Pallazo terdengar sumbang disela sela airmatanya yang menuruni pipinya. Pallazo mengepalkan tangannya mendengar jawaban Valentino yang seakan menamparnya untuk kesekian kali.
"Palll! Jangan melewati batas! Mengapa kau tega melukai Miu!" seru Torres bangkit berdiri dengan kesal. Sebagai seorang Ayah. Si, sebagai seorang Ayah Baptis, Torres berada di garda terdepan yang menjaga hati Putri kecilnya. Kehadiran Miulah selama ini yang membuat Torres enggan berkencan atau menggoda wanita muda seperti kebiasaannya.
"Pakai logikamu! Kita hanya mengandai andai! Kecuali kau bisa menciptakan mesin waktu! Kenyataannya adalah ada sesuatu yang tidak bisa diubah yaitu waktu!-- Valentino bangkit berdiri dan menatap Pallazo dengan tajam --Aku bisa saja menceritakan kepada Miu, siapa Ibu yang aku maksud di Pretoria! Ibu yang aku maksud adalah Leyka, bukan Rebecca! Apa kau ingin aku menceritakan keburukan Ibunya dulu?" seru Valentino dengan memiringkan kepalanya dan mempertajam tatapannya dengan sinis kearah Pallazo yang seketika bangkit berdiri.
"Kau?! Tidak.. Tidak.. Itu tidak boleh terjadi!" seru Pallazo dengan berteriak kemudian ia kembali menangis tersedu.
"Bagaimana jika aku mengatakannya pada Miu?" kata Valentino membalas perkataan Pallazo. Sebuah kata kunci, yaitu ketakutan Pallazo yang berada dalam genggaman Valentino. Siapa Rebbeca dulu dimasa lalu yang selalu mereka jaga dari Miu. Buah hati ke empat orang yang sesungguhnya memiliki hubungan dan kedekatan khusus selama delapan tahun lamanya.
"Dieevv! Aku mohon!" Pekik Pallazo dan ia menangkupkan kedua telapak tangan di wajahnya untuk menutupi tangisnya yang meledak seketika.
Jared kemudian merangkulnya lalu menggelengkan kepalanya kearah Valentino, memberi signal agar berhenti meneruskan maksud perkataannya. Namun Torres dan Jared sendiripun tahu bahwa Valentino tidak mungkin menyakiti hati Miu setelah semua yang terjadi walaupun di tambah kehadiran Train dan Leyka dalam hidupnya. Elara Miuccia tetaplah Putri kecilnya yang membuat hatinya berdamai dan mengusir kegalauan hatinya karena Leyka yang tidak memilih bersamanya dahulu.
"Tinggallah sesukamu! Tapi jangan melewati batas! Aku akan menceritakan segalanya pada Leyka dan Blue Train! Dia sudah waktunya tahu siapa Ellara Miuccia!" seru Valentino kemudian. Ia menghela nafas dalam dalam melepaskan segala beban dihatinya.
"Kata pertama yang diucapkan Train adalah Diddi.. Maksudnya adalah Daddy.. Train mengucapkan itu kepadaku. Selain Tia Dollores, keseharian Train lebih banyak bersamaku dibanding dengan Keluarga Fernandez lainnya" ujarnya membuat semua mata menatap kearah sumber suara yang memasuki ruang tengah dengan senyuman khasnya.
"Pedro?" gumam Valentino, Jared dan Torres hampir bersamaan.
"Pedro!" gumam Pallazo diantara linangan airmatanya dan Pallazo masih saja didekapan Jared yang menguatkannya. Hati Pedro runtuh melihatnya namun ia sangat kuat menahannya.
"Leyka selalu mengajarkan kata itu dari Train lahir. Bertanyalah pada Leyka bagaimana Train lahir, tapi jangan langsung, sedikitlah berputar - putar agar dia tidak menyembunyikan kebenaran. Karena ada sesuatu yang harus kau ketahui bagaimana Putramu lahir agar kau lebih mencintainya. Mencintai Leyka dan Train" ujar Pedro.
"Sedikit berputar - putar?" Valentino tersenyum di sela - sela dengusannya ke arah Pedro.
__ADS_1
"Si, sedikit berputar - putar. Karena aku menjamin Leyka tidak akan mengatakannya begitu kau bertanya langsung. Dan itu hanya akan membuatnya bersedih" jawab Pedro melayangkan pandangannya kearah Pallazo yang berada dibalik dekapan Jared.
Si, pertanyaan yang berputar - putar dan menjebak ternyata Train mendapatkan banyak pelajaran dari Pedro dan Keluarga Fernandez hingga Train menjadi seorang anak yang cara berpikirnya seperti orang dewasa diantara sikap kekanak - kanakannya. Kepintaran dari Valentino yang cepat menangkap di padu kecerdasan Leyka membuat Train memiliki kejelian dan kepekaan yang tinggi.
Valentino bahkan Jared dan Torres saling pandang diantara keterkejutan mereka. Ada rasa penasaran menyelinap dihati Valentino. Tatapan Pedro kearah Pallazo membuat Pallazo merasa bahwa Pedro mengetahui sesuatu tentang dirinya. Pallazo semakin gusar melihat sikap Pedro yang begitu tenang namun hangat.
"Kauu lagiiii! Dasar laki laki tidak tahu diri! Kau selalu datang sesuka hatimu!! Pergilahhh!" seru Pallazo beringsut dari pelukan Jared lalu melangkah mendekati Pedro seraya menyeka kasar airmata diwajahnya. Semua terpaku melihat itu semua.
"Aku datang agar kau tidak lagi, menyuruhku datang hanya karena kerusakan yang tidak masuk akal. Aku akan mengganti sparepart di box listrik mesin utama agar kau tidak mempunyai alasan bahwa Apartemen di Barcelona ini buruk dan tidak terpelihara dengan baik seperti di Negaramu, Italy" ujar Pedro dengan tenang dan senyum tipis yang mengulas di wajahnya samar - samar.
Valentino, Jared dan Torres masih saling melemparkan pandangan mereka. Jared dan Torres menghela nafas panjang sementara Valentino menggelengkan kepalanya. Namun ia tersenyum tipis kemudian karena ia mengingat perdebatannya dan Leyka selama di Pretoria. Mereka berdebat saling membandingkan Negara mereka masing - masing dan saling mengunggulkannya seperti yang terjadi pada Pedro dan Pallazo.
"Pedroooo!" secepat kilat Pallazo melayangkan tangannya ke wajah Pedro dan secepat kilat juga Pedro menangkap tangan Pallazo dan menarik kearahnya.
-
-
-
Bersambung lagi dan semakin pendek.. padahal ini udah 2000 kata.. pen nangis kl ada yg bilang pendek.. padahal panjang loh 20cm (jangan auto nyari penggaris) 🤣🤣🤣
Kalian puasa dan aku pun puasa... segalanya tampak melelahkan Bosqyu... Ahh mau dong kopinya #malak Lemessssss
HuaaaaaðŸ˜ðŸ˜... jam 6 lamaaanyooo..
-
-
__ADS_1
-