
Di sebuah sudut jalan yang menghubungkan Kedai Double P dan Distrik Golden, di bawah lampu jalanan yang meredup sehingga terlihat remang - remang, wanita dengan mantel bulu berdiri melihat semua pemandangan yang begitu hangat dengan hati teriris. Waktu menunjukkan pukul 19.00 waktu Barcelona. Angin Musim Gugur, menusuk menembus mantelnya lalu ia mengencangkan tali mantel yang melilit pinggang rampingnya dan bergegas pergi.
Pallazo meninggalkan Miu dalam keadaan tidur dan menyelinap keluar mengamati Kedai Double P dimana sebelumnya ada keluarga Gallardiev disana. Rasa rindu pada sosok Valentino terlihat jelas seiring airmata menuruni pipi tirusnya. Ia buru buru menyekanya dan terus menyekanya, seakan kulit lembut diwajahnya ingin ia kelupas karena airmata yang mengalir di pipinya serasa tak kunjung mengering. Perih, pedih melihat laki laki yang amat di cintainya, yang selalu diharapkannya kini telah berpaling darinya dan melupakan kenangan manis bersama Putrinya selama delapan tahun lamanya.
"Senorita?" Pallazo menoleh kearah sumber suara laki laki yang ia kenal, memanggilnya. Ia cukup hafal suara berat dan selalu saja mengembangkan senyum menawannya.
"Pedro?" ujar Pallazo seraya menekan tombol lift yang akan membawanya ke lantai sembilan. Mereka tidak sengaja bertemu di lobby, Pedro melewati jalan pintas menuju Distrik Golden sementara Pallazo melewati jalan utama yang memakan banyak waktu hingga Pedro bersama Adda tiba secara bersama di lobby Apartemen Golden.
"Aku membawa pengasuh yang aku janjikan-- Kenalkan dia saudari dari Sepupuku bangsawan yang pernah aku ceritakan" kata Pedro di pintu lift, Pedro menoleh kearah Adda, yang berdiri di sampingnya. Malam itu Pedro membawa Adda ke apartemen milik Sanchez yang di sewa Pallazo, untuk memenuhi janjinya yaitu mencarikan Pallazo seorang pengasuh untuk Miu, putrinya.
Saudarinya Leyka? Sepertinya mereka tidak akur saat aku memperhatikan mereka tadi.. Hmmm, aku bisa memanfaatkan moment ini. Batin Pallazo.
"Sono Guaddalupe, chiamami Adda buona notte Signorina (aku Guaddalupe panggil aku Adda, selamat malam Nona; Italy)" Pallazo menyambut jabatan tangan Adda yang terulur kearahnya tanpa tersenyum. Ia cukup terkesima betapa fasihnya Adda menggunakan bahasa Italy.
"Pall panggil aku Pall. Hanya Pall" ujar Pallazo kemudian.
"Dan kau Pedro? Semalam ini? Apa kau sudah gila? Apakah di Barcelona bisa mengadakan interview di malam hari dan datang seperti pencuri?" sarkas Pallazo membuat telinga Pedro memanas namun ia cukup pandai menahan dirinya. Adda mengernyitkan alisnya, ia terbiasa dengan kata pedas wanita Italy karena ruang lingkup kerjanya dahulu di Kedutaan Besar Italy rata - rata wanita Italy yang sangat arogan.
"Aku pikir aku hanya akan mengenalkannya padamu, Señorita (nona; Spanyol), kau bisa melakukan wawancara kapanpun kau mau. Syukur - syukur kau bisa menerimanya sekarang dan aku tidak perlu mengantar Putrimu ke Daycare besok pagi" kata Pedro dengan tersenyum ramah seperti biasanya namun serasa memuakkan bagi Pallazo.
"Kau tetap harus mengantar Miu bila kau bisa! Jika tidak, juga tidak apa - apa! Dan kau Adda datanglah besok siang, setelah makan siang!" Pintu lift terbuka dan Pallazo bergegas memasukinya.
"Aku bisa mengantar Miu, Senorita-- Ehm, apa kau baik baik saja, Señorita? Sepertinya kau sedang dalam keadaan tidak baik baik saja" ujar Pedro menghentikan langkah Pallazo lalu wanita yang dijuluki Pedro singa kelaparan itu menoleh kearahnya dengan tatapan sinisnya.
"Apa aku butuh komentarmu?! Ingat! Aku baik - baik saja atau tidak, itu bukan urusanmu dan jangan melewati batas!" Pallazopun menekan tombol dan pintu tertutup seketika. Pedro menghela nafas panjang seraya menggelengkan kepalanya.
Jelas jelas kau habis menangis, aku masih melihat airmata di sudut mata bulatmu dan bulu mata lentikmu itu.. Sangat basah.. Kau sangat menawan Senorita.. Rasanya aku ingin menghapus airmatamu. Pedro.
"Apa dia selalu seperti itu?" tanya Adda seraya menggelengkan kepala melihat ketusnya Pallazo barusan.
"Setiap hari dia selalu seperti itu. Dia seperti singa kelaparan yang siap menerkam mangsanya!-- Vamos (ayo) kita pergi dari sini! Apartemen ini serasa mengerikan sejak dia ada disini!"
"Sepertinya itu terdengar pujian" sindir Adda membuat Pedro kesal.
"Cihh, lebih baik berada di kebun binatang dan langsung melihat singa daripada melihatnya" ujar Pedro melangkah lebar, ia tidak mau berjalan sejajar dengan Adda yang membuat suasana hatinya berubah kesal.
"Hahaha, aku tidak melihat kau membencinya tapi kau menyukainya" Adda tak menyerah dan mengikuti langkah kaki Pedro.
"Dia sudah berkeluarga, dia sangat mencintai suaminya. Kau sudah gila Adda" ujar Pedro semakin kesal.
"Tapi aku tak melihat dia bahagia, dia seperti berada dalam masalah besar. Dia seperti, wanita penggoda dan menggoda laki laki lajang sepertimu, karena itulah dia menyibukanmu, Pedro. Ehm-- dia usai menangis, matanya begitu memerah dan wanita penggoda itu berusaha menyentuh hatimu dengan wajah--
"Berhenti membicarakannya, Adda! Aku tidak mau mendengar satu patah katapun dari mulutmu! Jangan membicarakan hal yang tidak penting!" ujar Pedro memotong perkataan Guaddalupe dengan lantang seraya menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya seketika.
Jari telunjuk Pedro yang mengarah pada Adda, perlahan - lahan turun lalu ia kembali berjalan dengan mendengus kesal. Guaddalupe mengekor langkah Pedro dari belakang yang tertinggal beberapa langkah, ia tidak berani menyejajarkan langkahnya, namun Adda terus saja berkicau tanpa menyerah.
"Terkadang ada cinta yang berada di tempat yang salah dan di waktu yang salah. Mungkin seseorang menjadi jodoh kita tapi dimiliki oleh orang lain, tapi aku yakin itu bersifat sementara" kata Adda memancing Pedro yang terus berjalan dengan cepat seraya mengibaskan tangannya yang tak menggubris kicauan Guaddalupe. Ia memilih diam dengan hatinya yang berkecamuk.
"Jodoh dan Cinta kita yang dimiliki orang lain. Wah, sangat menantang dan seru luarbiasa bila kita bisa merebutnya kembali" imbuh Guaddalupe dengan terkekeh dan itu membuat Pedro tak lagi sanggup menahan dirinya, ia terpancing untuk angkat bicara.
"Teori macam apa itu? Kau seperti sedang membicarakan dirimu sendiri! Jika yang maksud adalah Cintamu pada Valentino maka janganlah bermimpi! Karena Cinta yang sesungguhnya tidak mungkin bertepuk sebelah tangan" Adda pun terdiam seketika karena Pedro bisa menebak jalan pikirannya.
Dan dua pasang mata melihat mereka tanpa berkedip, melihat gemulainya langkah Adda dengan senyumnya yang menawan dari balik punggung Pedro dengan langkah tegapnya. Pedro yang berjarak seakan tidak ingin disentuh Adda yang memegangi kaos belakang bagian bawah.
"Ish, pelan pelan saja Pedro. Jalanmu terlalu cepat!" seru Guaddalupe seraya menarik narik kaos Pedro.
"Jangan mengatur kakiku! Kau tahu kemana arah Distrik Miel" kilah Pedro menepis tangan Adda.
Selama di Barcelona, Guaddalupe menempati Apartemen Ratu bersama Rosemary. Tentu saja dengan kebaikan hatinya, Rosemary dan Leyka mengijinkan Guaddalupe untuk tinggal sementara dengan berbagai macam alasan yang Adda buat, hanya karena kekagumannya pada sosok Valentino. Mencuri perhatian yang selalu saja terabaikan. Sementara itu dua pasang mata masih memperhatikan mereka dengan berdiri terpaku, bersama koper ditangan mereka.
"Apa kau yakin, Damian?" Henry menepuk pundak Damian agar pijakan dimana Damian berdiri tidak goyah. Damian terkejut bukan kepalang melihat wanita yang pernah tidur bersamanya di Madrid, kini seakan ada dihadapannya.
"Henry.. Diaa.. Diaa.. Wanita itu.. Wanita yang bersamaku di Madrid! Henry, bagaimana jika wanita itu tiba - tiba mengandung anakku? Aku tidak menggunakan pengaman dan kami melakukannya antara sadar dan tidak. Henry aku harus memastikan wanita itu tidak mengandung anakku" ujar Damian seraya mengingat kepingan ingatannya tentang kejadian malam itu di Hotel Madrid.
Wanita bergaun merah yang merasakan kehancuran hatinya, saat cintanya pada seorang petinggi di Kedutaan Besar Italy, bertepuk sebelah tangan. Guaddalupe, merasa di khianati ketika Pria itu lebih memilih kembali bersama sang istri dan meninggalkannya di Madrid bersama seorang putri yang di titipkan kepadanya. Tidak menunggu lebih lama, dengan perasaan yang hancur, Adda memilih mengundurkan diri keesokan harinya. Di Madrid, disanalah Guaddalupe bertemu Damian yang hancur hatinya karena cinta yang tak berpihak kepadanya. Di antara kehancuran hati bagaimana Cinta itu bisa hadir? Tentu sangatlah sulit dan tidaklah mudah.
"Hahaha-- Kau berpikir terlalu jauh, Damian!" ujar Henry tergelak mendengar penuturan Damian dengan segenap kekhawatirannya.
"Henry, masalahnya adalah dia baru pertama kali melakukannya dan dia masih sangat bodoh" kata Damian masih menatap tajam kearah Adda dan Pedro yang semakin melangkah menjauh dari pandangannya.
"Hahaha-- bukankah kau juga bodoh? Kau tidur bersamanya dan bisa jadi dia adalah wanitanya Pedro" Henry kembali tergelak.
Mereka baru saja tiba di Barcelona setelah melakukan perjalanan dari Madrid. Damian mengambil cuti yang panjang, melarikan diri dari kenangan pahit yang menoreh hatinya cukup dalam saat ia di Barcelona. Damian memilih menemani Henry di Madrid yang tengah melakukan perjalanan bisnisnya.
"Aku harus bicara padanya!" ujar Damian seraya menarik kopernya namun Henry menangkap tangan Damian untuk mencegahnya.
"Damian, tenang-- Dia sedang bersama Pedro. Kau lihat mereka sangat akrab dan apa yang mereka lakukan di Apartemen ini malam - malam begini? Apa kau yakin ingin bicara disaat mereka sedang bertengkar? Apa kau tadi tidak melihat wajah Pedro?" tanya Henry membuka nalar Damian dan akhirnya Damian menghentikan niatnya untuk mengejar Adda saat itu juga.
"Kau benar Henry, aku akan mencari tahu hubungan mereka. Train, pasti tahu wanita di sekeliling Pedro. Jika dia mengandung anakku maka aku akan merebutnya dari Pedro tapi bila tidak, aku akan mengembalikan syal merah miliknya yang tertinggal di Hotel itu lalu pergi. Kenangan di kota ini sangat menyakitkan hatiku, Henry" jawab Damian dengan nada getir. Ada rasa kelu disetiap nada bicaranya yang membuat Henry menghela nafas panjang.
__ADS_1
Sebagai sahabat yang baik Henry cukup mampu merasakan perasaan Damian. Hati Damian yang hancur dan kini ia berharap apa yang menjadi kekhawatiran Damian tidak akan pernah terjadi. Dan sebagai laki laki yang bertanggung jawab, Damian harus memastikan bahwa benih yang tersemai tidak tumbuh di dalam tubuh Adda.
Di Negara Barat, segelintir laki laki harus memastikan apakah wanita yang melakukan hubungan percintaan satu malam tanpa pengaman dengannya tidak membuahkan seorang anak. Karena itulah banyak anak terlahir tanpa Ayah dan tentu saja Dinas Sosial disana sangat disibukan akan hal tersebut.
Damian Freygano, sosok laki - laki yang bertanggung jawab dan pastinya Damian ingin memastikan apa yang telah diperbuatnya tidak memberikan dampak yang buruk dikemudian hari. Ia harus memastikan Adda tidak membuat benihnya tumbuh dan berkembang, karena bila kelak ia menikah dengan wanita pilihannya, ia tidak ingin memperumit kehidupannya karena anak yang ditinggalkan begitu saja karena kelalaiannya. Damian harus memastikannya.
"Tinggallah bersamaku di Perancis, aku akan berusaha mengembalikan pekerjaanmu disana!" kata Henry kemudian.
"Aku.. Aku siap pindah Henry. Tapi aku harus memastikan wanita itu tidak mengandung anakku buah dari kehancuran hati kita" ujar Damian seraya membalikan tubuhnya lalu menarik tangkai koper dan melangkah pergi menuju lift yang akan membawanya ke lantai 10. Henry lagi - lagi menghela nafas panjang lalu mengikuti langkah Damian.
Wanita itu.. Dia sangat menawan bila tersenyum dengan keadaan sadar.. Malam itu.. Dia sangat buruk.. Aku memanggil Leyka setiap desa*hannya.. Shitt.. Leyka.. Sulit sekali menyingkirkanmu dari ingatanku.. Dan Train.. Aku merindukannya. Damian.
-
-
-
Apartemen Raja
"Daddy, Uhmm.. Tadi aku Uhmm.. melihat wanita menangis di sudut jalan yang berhadapan dengan daerah kekuasaanku.. Uhmm.. Dia terus melihat kearah kedai kita" kata Train di sela sela menggosok gigi di depan wastafel kamar mandi yang berada di kamarnya.
Train menaiki bangku kecil dan di sebelahnya ada Valentino berdiri dengan bersedekap yang menemaninya, sementara Leyka sedang mengganti sprei ranjang Train dan mendengar percakapan kolaborasi raja setan dan setan ciliknya, sesekali Leyka mengembangkan senyumnya.
"Hahaha-- Daerah kekuasaanmu?" tanya Valentino terbahak lalu mengacak rambut Train, rambut berwarna hitam seperti miliknya.
"Uhm Si-- Daerah dimana aku diletakan di area kasir dari aku bayi-- Uhmm, aku tidak suka-- uhmm menggosok gigi! Uhs sudah saja Daddy!" ujar Train seraya meludah, busa pasta gigi terlihat memenuhi mulutnya.
"No! Dos minutos más (dua menit lagi; Spanyol)! Apa kau tidak mau gigimu bagus seperti gigi Mommy dan Daddy?" tanya Valentino dan Leyka tersenyum mendengarnya. Train dan anak kecil di seluruh dunia, sudah pasti sangat susah untuk menggosok gigi di malam hari menjelang mereka tidur. Jangankan lima menit, satu menit saja rasanya mereka ingin buru - buru menyudahi gosok gigi.
"No! Aku mau gigiku hitam agar aku ditakuti!" seru Train dengan merengut, alisnya yang tebal seperti milik Valentino seakan bertemu. Train masih menggenggam sikat gigi di tangannya dan menghentakannya saat berbicara. Busa pasta gigi terlihat menghilang dan berpindah ke area disekitarnya akibat ulah Train.
"Hahaha-- itu menjijikan bukan di takuti, Blue" kata Valentino terbahak dan tawa Leyka terdengar sampai kamar mandi. Kemudian, Valentino meraih beberapa helai tisu dan menyeka cermin yang terkena busa pasta gigi Train.
"Selamat menghadapi setan cilikmu!" sahut Leyka dengan tergelak.
"Menjijikan? Uhmm.. Tentu aku ditakuti seperti kawan Simon.. Uhmm aku lupa namanya.. Uhm, giginya berwarna hitam dan silver, dia seperti jagoan!" kicaunya lagi seraya menggosok giginya lagi.
"Hahaha-- ada dua jenis gigi hitam, satu gigi yang dipasang platina yang berwarna hitam. Kedua, gigi yang hitam karena busuk dan banyak ulat di dalamnya karena sisa sisa makanan yang tidak digosok. Hanya menggunakan alat pembesar milik dokter gigi yang bisa melihat ulat ulat kecil memakan gigi, gusi dan lama - lama memakan lidahmu-- Hiiiii menjijikkan! Gigi Blue Train penuh ulat! Kau harus menggosoknya agar putih! Hiiiii!" Valentino menggedikkan bahunya seraya membuang tisu pada tempat sampah dan Train tampak terkesima lalu ia menggedikkan bahunya, ia pun merasa jijik mendengar perkataan Valentino.
"No No No! Uhmm Nooo! Aku harus menggosoknya agar tidak hitam! Uhhmm!" seru Train kembali memasukkan sikat gigi kedalam mulutnya lalu menggosok giginya dengan cepat.
"Hahaha! Ok, sudah cukup menggosok giginya ini sudah lebih dari dua menit!" ujar Valentino masih tergelak melihat Train bersemangat menggosok giginya.
"Wanita tadi menangis Daddy, dia sangat sedih dan aku sangat kasihan. Entah apa yang di lihatnya tapi aku rasa dia mencari atau menunggu seseorang yang akan datang atau yang ada di dalam kedai kita" tutur Train lagi melanjutkan percakapannya yang tidak mendapat tanggapan dari Valentino.
"Seorang wanita? Mengapa matamu sangat jeli, Boy?" tanya Valentino seraya melempar handuk kecil itu di tempat pakaian kotor.
"Si, dia mengenakan mantel bulu. Musim gugur telah tiba dan dia memilih di luar kedinginan dan tidak mau masuk. Mengapa dia tidak masuk dan bertanya saja pada kita apa yang dia cari?" ujar Train sambil menggedikkan bahunya.
"Sudahlah, tidak baik membicarakan sesuatu yang bukan menjadi urusan kita" kata Valentino seraya mengecup manis kening Train kemudian menurunkan tubuh Train dari bangku kecil yang ia naiki. Lalu dengan kaki panjangnya Valentino menyingkirkan bangku itu ke bawah wastafel.
"Si si si!" seru Train kemudian berlari kearah ranjang yang telah rapi dan ia melompat keatasnya. Leyka masih disana dengan sprei kotor dan Valentino mengambilnya dari tangan Leyka lalu membawanya ke tempat pakaian kotor.
"Ckk, mengapa kau tidak bisa menaiki ranjang dengan cara yang benar. Mengapa harus melompat? Mana sikap bangsawanmu? Red Velvet tidak boleh seperti itu" kata Leyka sambil mengurai selimut dan menyelimuti tubuh Train yang telah merebah ke ranjang. Wajah tampan Train memperlihatkan senyumnya yang mengembang dengan menampakkan deretan giginya yang putih cemerlang.
"Hanya sekali saja Mommy, Uhs!" kilah Train membuat Valentino tergelak saat ia kembali memasuki kamar Train yang memasang wajahnya menunggu kecupan hangat dari kedua orangtuanya seperti malam yang sudah - sudah.
"Si-- sekali tapi setiap malam. Alasan!-- Leyka mencolek pinggang Train lalu menciumi putranya bertubi - tubi dan membisikkan kata yang telah dipatenkannya sejak Train lahir-- My sweet Pretoria, Blue Train.. Blue Train.. Blue Train" suara merdu Leyka dan belaian lembutnya membuat Valentino tergerak mendekap Leyka dari belakang lalu membelai punggungnya dengan penuh kehangatan. Train mengerutkan alisnya, belum sempat melakukan aksi protesnya Valentino membaur dalam selimut Train dan merangkul putranya dengan kaki serta tangannya.
"Si si si! My sweet Pretoriaa! Blue Train.. My sweet Pretoria.. My Red Velvet!" seru Valentino sambil menyerbu Train dengan ciumannya dan sesekali mencium Mommynya. Tawa mereka terdengar meriah dan memecahkan keheningan di Distrik Miel, Miel yang berarti semanis madu. Semanis keluarga kecil yang diwarnai kebahagiaan.
Musim gugur, menghembuskan angin dingin yang menusuk tulang malam itu. Penghangat ruangan dinyalakan di kamar itu seiring mata Train terpejam. Valentino menarik tangan Leyka agar Leyka membiarkan putranya tidur terlelap. Lampu kamarpun meredup dan pintu tertutup rapat. Mereka saling melempar senyuman, namun senyum Leyka terlihat canggung, bahkan saat Valentino menciumnya, ada kegundahan dihatinya setelah mendengar pengaduan Train tentang apa yang dilihatnya malam itu.
Mengapa hatiku sangat cemas.. Tiba tiba cemas.. Perasaanku tidak enak.. Siapa wanita itu? . Leyka.
-
-
-
Apartemen Golden
"Semalam ini kau memintaku datang?" tanya Pedro saat Pallazo membukakan pintu untuknya. Entah apa yang ada dipikiran Pallazo, saat hatinya terluka dia justru kembali menyibukkan Pedro dengan hal - hal yang tidak penting.
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul 22.00 waktu Barcelona. Pallazo mengirim pesan singkat dan Pedro akhirnya datang. Ada rasa senang saat pesan itu muncul di ponsel Pedro, ada rasa kasihan karena Pedro melihat uraian airmata Pallazo saat sebelumnya mereka bertemu di lobby bersama Adda. Pedro berpikir dengan segala kecemasannya seusai pertemuan itu namun ternyata Pallazo kembali memanggilnya ke Apartemen Golden lantai sembilan.
"Penghangat ruangan ini tidak berfungsi! Apa kau ingin aku dan putriku membeku?! Apa gunanya dirimu sebagai pengurus apartemen?! Kalau tidak sanggup sebaiknya aku panggil teknisi atau aku bisa pindah dari sini dan aku meminta semua uang sewaku!" ujar Pallazo dengan nada ketus. Lagi - lagi Pedro menahan dirinya untuk tetap tenang dan sabar.
"Ckk! Si (iya)! Aku akan memeriksanya! Aku sangat berguna dalam hal ini!-- sanggah Pedro penuh penekanan --Aku bawakan teh dari 12 negara penghasil teh terbaik di dunia. Ada teh pemacu adrenalin dan juga teh penenang agar syaraf di tubuhmu tidak menegang" imbuhnya seraya menyerahkan papperbag sambil berlalu kearah dapur, tujuannya adalah ujung lorong dapur yang terdapat pusat box sekering pemanas berada.
Pallazo menerimanya dan mengikuti langkah Pedro seraya memeriksa isi papperbag yang Pedro maksud. Pallazo mengindahkan sindiran Pedro dan mengeluarkan 12 kotak teh yang berbeda namun dikemas menjadi satu. Kepalanya terus menunduk dan menabrak punggung Pedro yang menggeser pintu dapur yang terbuat dari kaca.
"Arrgh! Kauu! Dimana matamu berada! Kau sengaja melakukannya kan?!" seru Pallazo seraya mengusap keningnya dengan mendelikkan matanya dan mendengus kesal.
"Tentu saja mataku pada tempatnya, yang perlu dipertanyakan dimana matamu berada! Aku sengaja melakukannya? Apa kau pikir aku bisa menembus pintu kaca ini? Ckk, huft!" dengus Pedro sambil berlalu setelah pintu terbuka.
"Ck, aku hanya memeriksa teh yang kau bawa. Teh pemacu adrenalin?" Pallazo duduk dikursi meja makan dan membuka kemasan kemudian mengeluarkan satu per satu kotak teh kesukaannya.
"Si-- kau bisa bersemangat bila meminumnya. Ada teh penghangat tubuh juga, itu cocok untuk musim gugur atau musim dingin" ujar Pedro dari kejauhan. Ia membongkar box sekering dengan mengerutkan alisnya. Ia menghela nafas panjang setelah melihat sekering tidak terpasang sempurna.
Dia sengaja melepasnya dan tidak memasangnya dengan benar.. Apa kau butuh teman bicara? batin Pedro dalam hatinya.
"Ada teh cinta? Konyol sekali. Dia lumayan mengetahui kesukaanku dalam waktu singkat" gumam Pallazo memandangi teh dengan bungkus berwarna merah marun.
"Itu disebut teh cinta. Kata Ibuku, teh itu beraroma bunga mawar dan kayu manis-- hatimu akan tenang bila meminumnya, kau akan merasa nyaman karena aromanya sangat memikat" kata Pedro saat tiba di meja makan. Ia masih berdiri dan tidak berani untuk duduk karena si empunya rumah tidak mempersilahkan duduk. Pedro cukup tau diri dimana posisinya berada.
"Hmm-- Bagaimana kau tau aku menyukai teh?" tanya Pallazo dengan nada yang tak biasa, ia tiba - tiba melembut.
"Dari caramu meminum teh, Señorita. Kau seperti Ibuku, meniup dan menghirup dalam dalam aroma teh yang akan kau minum" jawab Pedro seraya menyelipkan rambutnya di belakang telinganya lalu mengembangkan senyumnya. Raut wajah Pallazo mendadak berubah sengit melihatnya.
Apa pria ini selalu tersenyum kepada semua orang? Atau kepada semua wanita? Menjijikkan sekali sikapnya itu. Pallazo.
"Apa kau sudah memperbaiki penghangat kamar? Cepat sekali kau bekerja!" tanya Pallazo kembali bersikap ketus seraya meletakkan sekotak teh di tangannya.
"Karena seseorang tidak memasang sekering dengan benar setelah melepasnya-- mgkn saja penghuni sebelumnya yang sengaja melepas sekering itu" sindir Pedro dan Pallazo bangkit berdiri.
"Pergilah jika kau sudah selesai!" kata Pallazo dengan nada ketus, ia merasa tertangkap basah dan melangkah meninggalkan ruang dapur dan Pedro mengikuti langkah Pallazo menuju pintu keluar.
Namun sesampainya di pintu keluar, seseorang menekan bel pintu berulang - ulang. Pallazo mengintip melalui celah lubang pengintai, matanya membulat seketika setelah melihat siapa yang menekan bel pintu.
Pallazo membalikan tubuhnya sehingga ia memunggungi pintu dengan wajah menegang, ia merentangkan kedua tangannya dipintu seolah pintu itu tidak boleh dibuka. Pedro mengerutkan alisnya saat Pallazo menatap nanar dan memberi kode dengan menggelengkan kepala kearahnya. Pedro pun mendekati Pallazo disela bel pintu terus berbunyi.
"Sia--- belum juga Pedro menyelesaikan pertanyaannya siapa yang datang, Pallazo mendorong tubuh Pedro hingga mencapai dinding dengan membungkam mulut Pedro dengan mata mendelik kesal.
Pedro bisa merasakan rasa takut karena detak jantung Pallazo berdetak seiring detak jantungnya yang tak beraturan. Mata yang membulat dan terlihat berair itu terus menatap kearah Pedro, mata itu seakan berbicara dan memohon agar Pedro diam. Pedro terkesima saat tubuh tinggi semampai itu menghimpit tubuhnya yang serasa mengecil, itu karena Pedro dan Pallazo memiliki tinggi yang sama sejajar.
"Dia tidak ada Jared? Mungkin kita salah apartemen" ujar Torres dan Pedro melirik kearah pintu masih dengan mulutnya dibungkam jemari lembut dan harum, bukan tidak mampu melawan namun Pedro tidak ingin memberi gerakan yang semakin memancing kedua tamu tak diundang itu bereaksi.
"Resepsionis di gedung apartemen ini mengatakan lantai 9 nomor 5, Torres. Kau mendengarnya sendiri.. Shittt.. Dimana Pall menyewa Apartemen?" kata Jared terdengar mendengus dengan kesal. Pedro kembali menatap mata Pallazo dengan tajam, benaknya penuh tanya mengapa Jared dan Torres mencarinya. Tentu saja, Pedro sangat mengenal suara itu tanpa melihatnya.
"Aku mencoba menghubunginya tapi dia tidak menjawab ponselnya.. Jared, mungkin dia tidur.. Coba gedor saja pintu ini" Pallazo membulatkan matanya, jantungnya semakin berdegub kencang, ia tetap membungkam mulut Pedro dengan tangannya dan semakin menekannya.
"Bodoh, menekan bel maksimal hanya boleh tujuh kali. Kau tidak boleh berteriak didepan pintu apalagi menggedornya.. Apa kau mau di deportasi, Torres?" Jared lagi - lagi mendengus kesal.
"Shitt! Aku menekan bel pintu sudah lebih dari tujuh kali. Jared mungkin kita salah apartemen. Kita coba pergi ke tower di utara"
"Jelas jelas kita melihat Pedro masuk gedung apartemen ini.. Hufft.. Penelope mengatakan apartemen Senor Sanchez ada disini" kata Jared membuat mata Pedro terbelalak.
"Jared! Torres! Apa yang mereka cari! Jangan mengatakan kalau salah satu diantara mereka adalah suamimu!" bisik Pedro dengan penuh penekanan dibawah bekapan jemari tangan Pallazo.
Pedro menangkap tangan Pallazo yang terus menghimpit tubuhnya tanpa jarak. Tubuh sintal itu menempel seutuhnya, ada debaran yang lain diantara detak jantung kepanikan mereka. Gelenyar yang berkejaran, hati yang menghangat bak buluh perindu memanggil sang maha Cinta. Cinta datang seperti pencuri, lewat tatapan mata lewat debaran yang berdesir lembut, menaut hati yang sepi bak sungai yang kering kerontang.
"BUKAN URUSANMU! KEWAJIBANMU HANYA DIAM!" desis Pallazo dengan penuh penekanan.
"SIAPA KAU SEBENARNYA, PALL?" desis Pedro dengan cepat membalikan posisinya, ia menarik tangan lembut itu dan membalas menghimpit tubuh Pallazo di dinding. Pedro menekan satu tangan Pallazo ke dinding lalu satu tangannya mengunci tangan yang lain dipinggang ramping itu. Senyuman Pedro menghilang, senyum itu berubah menjadi seringaian yang tak pernah Pallazo lihat sebelumnya.
"Aku.. Aku.. Pedro lepaskan aku.. Kau menyakiti tanganku" bisik Pallazo membuat Pedro terpana. Pallaźo yang terbiasa ketus, bak kucing manis seketika. Gerakan tangan Pallazo yang meronta, membuat buah dadanya yang menyembul indah bergesekan dengan dada Pedro.
Seperti tersengat jutaan kilo volt listrik, Pedro membulatkan matanya, tubuhnya memanas seketika, wajahnya memerah, sekujur tubuhnya rasanya tergetar seirama debaran jantungnya. Pallazo menjadi resah melihat itu semua, nafas Pedro yang menerpa hidungnya membuat Pallazo secara reflek mencondongkan wajahnya. Sesaat mereka terpaku dalam ketegangan, wajah mereka berdekatan... Sangat dekat.
"Sebaiknya kita mencari informasi yang akurat, Jared" ajak Torres meninggalkan tempat itu. Mereka melirik pintu secara bersamaan lalu mereka kembali saling memandang dengan nafas yang memburu.
Bibir yang basah dan tatapan mata yang liar menjelajah membuat keduanya lupa posisi, kedudukan, derajat dan kesenjangan diantara mereka. Saat bibir itu nyaris bertemu suara mungil nan merdu membuyarkan seketika debaran indah yang mencanggungkan sikap mereka.
"Mamma? Tio? Kalian sedang apa? Ponsel Mamma terus bergetar sampai jatuh. Papa Torres menelepon, Mamma" Seketika hati Pedro runtuh seruntuh - runtuhnya mendengar perkataan Miu.
"Papa Torres?" desis Pedro mengurai himpitannya dan melangkah mundur.
-
-
-
Info : tata krama disana itu dilarang menekan bel pintu lebih dari tiga kali dan kl darurat maksimal 7 kali. Ga boleh teriak di depan pintu, ga boleh ketuk pintu apalagi gedor pintu kaya gini
__ADS_1
"Woiiiii wooiiii bosqyuuuuu... kopiiii ngapaaaa kopiiii!" 🤣🤣🤣 (ini mah malak ya)
Sekian sekilas Info yang mahal ini, disana dendanya sekitar 7 jutaan kl di rupiahin. Jadi lemah lembut dan kalem aja kaya Aku ya 🤮🤣🤣