
Dua Hari Kemudian
Kegelisahan mewarnai hati Leyka dan juga Train. Setiap pagi menjelang, saat Train akan berangkat ke sekolah ia akan terlebih dahulu, berdiri di depan pintu tetangga yang telah mencuri hatinya. Ia kan menendang pintu, tanpa memanggilnya, ia hanya akan terus menunduk mengamati celah pintu. Train memastikan apakah ada bayangan langkah kaki mendekat atau tidak, seperti pertama kali ia melihat bayangan langkah kaki tetangga baru saat ia tanpa sengaja melempar sepatunya hingga mengenai pintu.
"Train, ayo berangkat" ujar Leyka yang sedang mengunci pintunya, ia pun juga resah.
"Uhhss!-- (DUGH ), Train menendang pintu dengan kesal --Uncle! Kau ini kemana! Kau berjanji akan main Playstation baru denganku! Aku belum membuka kardusnya, karena menunggumu! Uhhsss!" Trainpun memberi tendangan terakhir dengan keras karena Leyka telah selesai mengunci pintu.
Terakhir, Valentino berjanji akan bermain Playstation seri terbaru yang Leyka beli dari kartu platinum yang Valentino berikan. Valentino memberikan kartunya, karena Leyka adalah istrinya, sementara Leyka membeli semua kebutuhan Train karena Train adalah Putra dari Valentino. Semua memiliki rahasia dalam hati mereka masing masing, yang selalu saja tersembunyi dan perlahan menguap bak asap yang membumbung tinggi.
Janji bermain Playstation, adalah awal keresahan Train, dan Leyka semakin membenci Valentino karena pikirnya, Valentino menghindari dan belum sanggup menerima keberadaan Putranya. Leyka sangat sedih, ia sangat terluka.
Train berjalan terlebih dahulu dengan menghentakkan kakinya. Leyka mengikutinya dari belakang. Leyka membiarkan Train menendang pintu Apartemen Valentino karena ia mengerti suasana hati Train. Terlebih lagi, ia pun mulai resah. Sejak kejadian itu Valentino tidak pernah muncul. Hanya sosoknya yang selalu memenuhi kepalanya yang perlahan mengisi, menyelinap tanpa ia sadari dan itu membuatnya selalu bertanya.
Kau kemana, Val? Apakah kau menemukan istrimu? Apa kau kembali ke Italy? Mengapa setelah kau tahu Train adalah Putramu, kau justru menghilang? Apa kau menghindari Train? Tapi mengapa..
Apa kau tidak bisa menerimanya? Kau memang pecundang! Seharusnya dari awal aku menjauhkanmu dari Train.. Kau lihat? Dia menganggapmu ingkar janji.. Apa kau tidak bisa menerima Train? Shitt.. Kau melukainya! Perasaannya kacau! Kau tega sekali! Kau jahat sekali! Train masih sangat kecil! Kebahagiaannya sangatlah penting.. Aku bisa kehilangannya.. Dinas Sosial bisa mengambilnya! Apakah ini bagian dari rencanamu? Kau menghilang setelah tahu Train adalah Putramu.. Aku bersumpah aku akan membunuhmu bila kau menyakiti Putraku..
"Mooommy!! Uhhhss Mommy mau kemana?! Uhhss! Bus sekolahku akan datang! Uhhs!" Suara Train yang diwarnai kekesalan membuyarkan lamunannya. Train memasuki lift tapi Leyka justru terus berjalan, ia tidak menyadari bahwa ia telah melewati lift yang akan membawanya turun.
Astagaa! Aku melewati lift.. Aku tidak sadar bila sudah sampai. Batin Leyka berkecamuk.
"Si! Lo siento, Mommy pikir akan ke Apartemennya Abuella Lorina. Ya sudah, nanti saja" alasan Leyka. Lorina adalah salah satu Keluarga Fernandez. Dia adalah kakak tertua Dolores, Ibu dari Penelope.
"Abuella Lorina dilantai dua Mommy! Uhhs!" ujar Train dengan cemberut.
"Si, Mommy lupa. Entah apa yang Mommy pikirkan" ujar Leyka memasuki lift sambil menggandeng tangan Train. Train menguap dan menyandarkan kepalanya dipaha Leyka.
Dan bila tiba di sekolah, Train akan selalu melihat pintu lift, barangkali Valentino keluar ataupun memasuki lift. Di kelas pun ia banyak diam, teman yang bertanya atau bahkan mengganggunya dibiarkan saja. Leyka juga banyak melakukan kesalahan saat bekerja, ia banyak melamun dengan wajahnya yang begitu murung.
"Train? Kau sudah menyelesaikan tugasmu?" tanya seorang guru wanita kepadanya. Dia melihat Train meletakkan kepalanya diatas meja.
Train menegakkan kepala dan tubuhnya, ia menggosok hidungnya, menggaruk pelipisnya ia menguap lalu menjawab Guru yang datang menghampirinya sambil mengambil selembar kertas tugas, "Si, Miss Paquella. Aku sudah selesai"
"Apa kau kurang tidur? Apa kau terlalu banyak belajar? Dan tugasku ini, apa terlalu mudah?" tanya Miss Paquella yang langsung melihat lembar jawaban Train.
"No Miss Paquella. Aku bahkan tidak belajar semalam. Aku tidak bisa tidur-- Ehm. Tugasmu sangat mudah. Aku hanya mengerjakan 10 menit. Itu karena aku pintar seperti Daddyku. Aku bahkan bisa mengerjakan soal tingkat dua. Tingkat satu tidak cocok untukku" bisik bisik temannya pun langsung terdengar tapi ia tidak perduli, yang sudah pasti bisikan celotehan itu membulinya.
Sifat rasa Percaya Dirinya, menurun dari Leyka. Dan kesombongan yang memang jelas ada buktinya, adalah sikap Valentino yang menurun kepadanya.
Sombong.
Pembual.
Dia hanya bermulut besar.
Dia sebenarnya tidak punya Ayah.
Cih, dia tidak normal
Dia itu aneh. Namanya dan nama Daddy-nya saja aneh.
Aku rasa Daddy-nya juga aneh.
Train hanya menguap memandangi teman teman yang membulinya, dan itu tentu saja semakin membuat teman yang tidak suka padanya, mereka semakin kesal melihat Train yang tidak seperti biasanya. Biasanya Train akan marah.
Train menjadi resah bila malam ia hanya mondar mandir ke balkon lalu menaiki kursi dan melihat kearah balkon Apartemen Valentino yang menunjukkan tidak ada penghuninya. Apartemennya gelap gulita, tidak ada lampu satu pun menyala. Setiap Leyka mengunci jendela dapur, Train membukanya diam diam, bahkan balkon ruang tengah yang dipenuh mawar dari Ludwig's Roses, Train membuka slot pengunci. Ia berharap Valentino akan melompat ke balkonnya.
"Kau memang favoritku. Seharusnya kau ikut Kelas Akselerasi" ujar Miss Paquella. merapikan lembar jawaban Train.
Kelas akselerasi merupakan kelas khusus untuk anak-anak berbakat yang program kegiatan kelasnya dipercepat dalam hal waktu dan kurikulum pembelajaran. Misalnya, Sekolah Dasar membutuhkan waktu 6 tahun untuk lulus, namun pada kelas akselerasi, waktu belajar hanya ditempuh dalam waktu 5 tahun saja.
"Miss Paquella, bolehkah aku keluar kelas? Anak anak yang bodoh, dan semalam tidak belajar akan meminta jawaban dariku. Aku akan datang lagi, Ehm--- Train melihat arloji di pergelangan tangannya --aku akan datang ke kelas 45 menit lagi. Bisakah aku ke Daycare?" tentu saja teman teman yang suka membulinya mendelik kearahnya.
"Baiklah, pergilah. Kau harus melapor ke guru jaga di Daycare" ujar Paquella. Daycare selain untuk penitipan anak yang memiliki edukasi, disana disediakan ruang bermain untuk anak tingkat satu sampai enam. Biasanya anak anak yang malas ke kantin sekolah akan memenuhi ruang Daycare. Valentino membuat setengah ruangan gedung di sayap utara, dilantai dua menjadi ruang bermain untuk Daycare.
"Si!" Train pun menjulurkan lidahnya kearah teman teman yang membulinya dan berlarian keluar kelas. Ia menuju loker dan mengambil tasnya, karena ada kotak bekal makanannya.
Ayo kalian semua kembali kerjakan. Yang selesai boleh bermain di Daycare.
Sayup sayup suara Miss Paquella masih terdengar. Train berjalan menyusuri koridor kelas demi kelas. Ia melewati kelas Tingkat II. Leyka pun tak terlihat disana, hanya Margaretha yang menggantikannya.
Saat memasuki lift, ia melihat angka dan ia tertarik menuju lantai 10 dimana ruangan Valentino berada. Ia kemudian menekan angka 10. Sesampainya lift itu dilantai 7-- dimana itu adalah lantai ruang dewan guru berada --ia mendengar lift di sebelahnya terbuka dan menutup kembali. Train tak perduli, ia hanya ingin ke lantai 10.
Lift itu sampai ke lantai 10 dan ia terlebih dahulu keluar. Baru beberapa langkah lift di sebelahnya terbuka dan Train menoleh, "Mommmy!"
"Train? Apa yang kau lakukan disini" Leyka tampak terkejut. Ternyata Leyka memiliki pemikiran yang sama. Leyka mencari berbagai alasan agar ia bisa ke lantai 10 dengan mengajukan ruangan gudang yang sebelumnya sudah pernah ia ajukan. Valentino sudah memberikan satu basement untuk gudang dan kini Leyka mengajukan lagi. Padahal Leyka hanya ingin tau mengapa Valentino menghilang.
__ADS_1
"Uhm.. Ehm.. Itu aku.. Aku.. Train, mau menemui Uncle" Train menjawab dengan gugup dan ia mere*maas tali tasnya yang menjuntai di pinggangnya kiri dan kanan. Ia menggigit jari telunjuknya kemudian. Wajahnya begitu pias dan Leyka tidak tega melihatnya.
"Untuk apa kau mencarinya? Untuk bermain Playstation? Sepertinya dia sangat sibuk, sampai dia tidak pulang" ujar Leyka dengan lembut lalu ia menghampiri Train dengan tersenyum dan menggandeng tangan Train, kemudian mengajaknya berjalan menuju ruangan Valentino, sikap Leyka menyingkirkan ketakutan Train, ia berjalan dengan melompat sesekali.
"Si Mommy-- Lalu Mommy untuk apa kesini?"
"Uhm, Mommy meminta ruangan untuk gudang. Dan Mommy akan menanyakan kapan perpustakaan kita siap" ujar Leyka dengan merentangkan map berisi surat permohonan untuk gudang, Train tersenyum lebar melihatnya, ia senang Leyka tidak memarahinya karena ini masih jam sekolah.
"Aku seharusnya ke lantai 2, aku seharusnya ke Daycare. Lo siento Mommy" Leyka tersenyum, ia mengerti hubungan batin antara Ayah dan Anak ini memang tidak bisa di cegah.
Leyka pun menjawab, dengan senyum hangat penuh keibuan, "Mommy tau kau ada tugas. Kau pasti bisa mengerjakan soal matematika dengan cepat. Kau adalah Blue Train yang pintar dan genius!"
"Mommy juga pintar! Wow Mommy bisa menebaknya!"
"Si, Mommy pintar seperti Train"
Mereka pun tiba di pintu ruangan Valentino, Leyka mengetuknya namun Train berteriak teriak dengan menendang pintu, "Uncle! Unclee! Keluarlah! Uncle, Uncle! Aku akan meruntuhkan gedungmu! Unclee! Sal ahora (keluar sekarang)! Abre la puerta (buka pintunya)! Ahora Ahora Ahora (sekarang) !"
"Train tidak boleh seperti itu, kau harus sopan!" ujar Leyka dengan menahan tangan Train agar berhenti menendang.
"No! Uncle nakal! Dia berjanji padaku! Tapi dia tidak datang!" pekik Train memberi tendangan terakhirnya pada pintu itu.
"Tapi bisakah tidak menendang pintu?" Leyka menghela nafas dalam dan buru buru menghembuskannya dengan kasar, kadang ia sangat lelah menghadapi kenakalan dan hiper-aktif Train yang bergejolak tak menentu.
Ceklek!
Pintupun terbuka, Train dan Leyka menoleh secara bersamaan, hati Leyka berdebar namun ia juga kecewa ketika yang membuka pintu adalah orang yang tidak ia harapkan.
"Siapa yang akan meruntuhkan gedung ini?" tanya seorang laki laki setengah baya dan disusul seorang wanita yang berbinar melihat Train dan Leyka. Wanita yang keibuan dan juga sangat ramah. Mereka adalah Alfonso dan Rhosana.
"Ehm, Train! Itu aku!. Lo siento Senor (maafkan aku Tuan), Senora (nyonya).. Aku pikir Uncle Gallardiev ada. Apa aku bisa menemuinya?" tanya Train dengan melemparkan senyumnya.
Dia, tampan sekali.. Yaa Tuhann, cucuku.. Mimpi apa aku? Kami baru akan ke Apartemen hari ini dan dia sudah berdiri dihadapanku, bersama Ibunya.. Cucuku ini.. Dia seperti Valentino saat kecil. Rhosana.
Baiklah, dia mirip si berandalan itu, jadi ini adalah menantuku? Pantas saja berandalan itu tidak bisa melupakannya. Alfonso.
Mereka adalah orangtua Valentino? Ada apa? Mengapa perasaanku tidak enak.. Apa yang terjadi. Leyka.
"Perdona mio figlio, signore e signora, (maafkan putraku tuan dan nyonya; Italy). Perkenalkan, saya Leyka Paquito. Saya guru di Sekolah Esperanza, saya kesini ingin mengajukan permohonan gudang tambahan" ujar Leyka menyisipkan bahasa Italy. Alfonso menyambut uluran tangan Leyka dan ia memperkenalkan dirinya.
"Alfonso Gallardiev dan ini Istriku, Rhosana Gallardiev" Rhosana dengan berbinar mengulurkan tangannya dan ia tak sanggup berkata kata, Leyka tersenyum karena dugaannya benar.
Leyka membulatkan matanya, saat Train mengatakan jati dirinya, Rhosana menyambut uluran tangan Train dan mengusap pipinya lalu memeluknya, "Yaa Tuhan. Dia manis sekali" Ujar Rhosana dengan mata berbinar, ia ingin menangis rasanya tapi sekuat tenaga ia menahannya.
Mereka sudah tahu.. Ya mereka sudah tahu.. Perasaanku mengatakan, mereka sudah tahu.. Seperti apa mereka.. Aku harus waspada.. Apakah mereka datang untuk memisahkan aku dan Putraku? Aku harus menilai mereka. Leyka.
Dan pelukan itu membuat perasaan Train merasa aneh, ia langsung menggenggam erat tangan Leyka. Melihat itu Alfonso meraih tangan Rhosana agar tidak bersikap berlebihan.
"Rhosana, sudah. Kau hanya merindukan cucumu, setiap melihat anak kecil, kau memeluknya" Alfonso menatap mata Leyka yang mengisyaratkan bahwa ia tidak akan mengatakan apapun pada Train. Ia memberi kesempatan pada 'si berandalan' itu untuk mengatakan langsung sesuai permintaan Valentino di rumah sakit.
"Iya mi amor, aku merindukan cucuku" kata Rhosana mengusap pipinya yang telah basah, saat mengatakannya ia menatap mata abu abu kebiruan milik Train.
Kasian sekali Senora Rhosana ini. Batin Train.
"Masuklah" Alfonsopun mempersilahkan masuk, dan Leyka kembali terkejut saat mendapati Jared dan Torres di dalam ruangan itu. Jared duduk dikursi kerja Valentino. Mereka saling berpandangan penuh arti. Leyka semakin berdebar dengan perasaannya yang berkecamuk pikirannya dipenuhi ribuan tanya karena Valentino tidak ada diruangan itu.
Val kau dimana? Apa yang terjadi. Batin Leyka.
"Uncle Jared? Torres? Dimana Uncle Gallardiev" dan Trainpun tak kalah terkejut. Jared yang menyandarkan tubuhnya dikursi, langsung menegakkan posisi duduknya.
"Train Uncle Gallardiev sedang sibuk, dia pasti akan memenuhi janjinya padamu" Leyka meraih pundak Train karena Leyka tau, Train bersiap menggunakan tangannya untuk memukuli apa saja. Ia mengenal Train saat anak itu tidak mendapatkan apa yang ia mau.
"No aku tidak bertanya padamu Mommy!" Train melepaskan tangan Leyka dan menghampiri Torres dengan tangan mengepal.
"Kemana dia! Katakan! Digame! Digame! Digame! (katakan padaku)!" Dan dengan membabi buta, tanpa sebab hanya karena kesal kepada sesuatu yang tidak bisa ia mengerti, Torres menjadi sasaran empuknya. Train memukuli Torres, walaupun Torres justru memberikan tangannya untuk dijadikan sansak.
"Heii heii heii.. Bagaimana, Uncle bisa mengatakan kalau kau memukuli Uncle!" kata Torres dengen terkekeh.
Mengapa aku yang disalahkan? Mengapa aku yang diamuk setan cilik ini? Memang apa salahku.. Shitt. Umpat Torres dalam hatinya.
"No Uncle Uncle! Kau Torres yang nakal!" pekiknya membuat Leyka turun tangan. Ia meletakkan map yang ia bawa dimeja dimana Jared berada lalu menghampiri Train dan menangkap kedua tangan Train. Leyka duduk bersimpuh lalu memeluk Train yang terus meronta.
"No Mommy! No Mommy!"
"Carino, kau harus sopan. Ada Senor dan Senora. Mereka adalah Padre dan Madre, dari Uncle Gallardiev-- Leyka menepuk pundak dan menciumi pipi Train dengan kelembutan, Train terdiam --Kau tidak boleh nakal. Kadang bukan karena Uncle ingkar janji. Tapi dia menundanya. Mengapa kau tidak bertanya dengan baik kepada Padre dan Madre-nya Uncle"
Train pun beringsut dari pelukan Leyka dan melihat kearah Alfonso dan Rhosana yang terkesima melihat cucunya.
"Aku belum membuka Playstation itu, Mommy! Uhss!" Train kemudian menatap Leyka, ia masih kesal.
__ADS_1
Rhosana, yang sangat bahagia, matanya berbinar penuh lampu di mata Train, rasanya ia ingin berteriak dan meluapkan perasaannya, mengingat Valentino si bungsu yang mandiri yang selalu ia banggakan. Rhosana tidak sanggup menahannya lalu angkat bicara, "Besok kau bisa membukanya, karena besok Daddymu datang. Ia sedang berada di---
Jared pun memotongnya secepat kilat, "Di Madrid! Daddy palsumu sedang ada di Madrid. Dia sedang bekerja. Dia akan membawa Marlin, Ayah Nemo untukmu" ujar Jared bangkit berdiri sambil meraih map dari Leyka, dan melirik kearah Rhosana yang hampir saja kelepasan berbicara. Leyka nyaris melompat jantungnya, ia mengatur nafasnya karena Rhosana nyaris mengacaukan perasaan Train.
"Yeeeayyy! Jadi besok Uncle datang?" seketika itu juga Train bersorak. Ia sangat lega mendengarnya. Rhosana ingin mendekati cucunya namun ia mengurungkan niatnya, ia kemudian berjalan kearah lemari pendingin untuk mengambil minuman. Mata Train mengikuti langkah Rhosana dan Train berjalan perlahan kearah Rhosana, disana Alfonso duduk dikursi dengan pandangan terkesima melihat cucunya.
Sifatnya mirip si berandalan itu.. Dan bar bar nya seperti Ibunya.. Tapi Ibunya cakap menghadapi Train.. Aku saja tidak tahan menghadapi si berandalan itu saat kecil. Batin Alfonso seraya mengamati.
"Kau mengajukan ruangan untuk gudang lagi?" tanya Jared, Leyka pun bangkit berdiri dan mengibaskan roknya.
"Si, Apakah ada?"
"Aku akan mengkonfirmasi pada Gallardiev terlebih dahulu. Dia yang akan memutuskan. Aku akan menemuimu nanti di lantai 7" jawab Jared sambil melirik kearah Train dengan menggaruk hidungnya. Leyka tau, Jared akan memberitahu sesuatu.
"Baiklah, gracias Jared" Leyka mengangguk.
"Mommy? Mengapa ini seperti-- Uncle dan.. Uhmm-- Bukankah ini Mommy?" Leyka membelalakkan matanya. Leyka lupa, tidak jauh dari lemari pendingin, ada foto Valentino dan dirinya sedang berciuman diteduhnya pohon Jacaranda yang bermekaran, foto yang diambil Damian saat di Pretoria.
Semua menegang, Leyka dengan cepat berjalan kearah Train yang menengadahkan kepalanya melihat foto itu. Train ternyata bukan berjalan kearah Rhosana, ia berjalan kearah foto yang digantung didinding yang mengundang perhatiannya. Leyka dan semuanya merasa lengah, Train bertindak selalu diluar prediksi.
"Ini- Ini foto Damian!" ujar Train sangat ekspresif, melihat nama Damian dipojok bawah foto itu.
Leyka pun menggendong Train agar lebih mendekat pada lukisan itu, "Kau bisa menanyakannya besok pada Uncle. Mungkin saja Uncle membelinya di pameran. Kau bisa bertanya pada Damian juga"
"Tapi Mommy punya baju ini"
"Itu baju bukan satu satunya didunia Carino" ujar Leyka dengan mencium pipi Train, ia berusaha bersikap sewajarnya.
"Tapi ini Uncle, lihat hidungnya. Rambut ini. Aku ingat rambut itu milikmu, Mommy" Train menggigit jari telunjuknya, mata bulatnya tanpa berkedip melihat foto itu.
"Tanyakan siapa wanita itu padanya, Ok Carino?" Leykapun membawa pergi dari hadapan lukisan itu dan Train terdiam.
Saat melewati Alfonso, dan Rhosana yang berdiri menegang Train bertanya, "Padre Madre, apakah Uncle pernah ke Pretoria?"
"Belum!" Alfonso
"Pernah!" Rhosana.
Mereka saling berpandang setelah menjawab secara bersamaan. Jawaban yang berbeda dan itu awal kecurigaan Train. Ia diam seketika, sambil menggigit jarinya, Leyka meraih jari Train agar menyudahi aksinya, dampak dari adrenalin yang bergejolak, lalu ia mencoba mengalihkan perhatiannya, "Hey kau memanggil Padre dan Madre?"
"Karena Uncle pasti memanggilnya Padre dan Madre, benarkan Senor, Senora?" tanya Train membuat mereka gugup.
Rhosana mendekati Train dan mencubit pipinya, "Benar, tapi kau tidak boleh mengikutinya karena kau bukan anakku. Kau seperti cucuku. Jadi panggil aku--
"Abuella dan Senor yang galak itu-- Train menunjuk Alfonso yang membulatkan matanya --Abuello!" potong Train.
"Aku galak?' Alfonso menunjuk wajahnya sendiri dengan kebingungan.
"Si! Kau diam dan menyeramkan, kau tidak bisa tersenyum, Abuello!" Alfonso lalu tersenyum terpaksa, perkataan Train serasa tamparan baginya.
"Perdona mio figlio (Maafkan putraku). Putraku sangat nakal. Kami permisi dahulu. Senang berkenal dengan anda-- Train kau harus kembali ke kelasmu, Carino" ujar Leyka dengan bahasa Italy dan Rhosana hanya mengangguk tanpa bisa berkata apapun.
"Senang berkenalan denganmu Abuella" Train tersenyum dan Rhosa mencium pipi Train.
"Tidak apa-apa, Abuella juga bahagia bertemu denganmu" bisik Rhosana terdengar parau.
"Lalu aku?" tanya Alfonso dengan berusaha tersenyum namun jawaban Train sepertinya tidak menunjukkan usahanya berhasil.
"Aku pikir pikir dulu! Adios semuanya!" Trainpun melambaikan tangannya, lalu melingkarkan tangannya dileher Leyka.
"Adios" jawab mereka hampir bersamaan.
Leykapun membawa Train pergi dan ia masih berceloteh, " Mommy, bisakah tidak memakai bajumu yang ketat ini lagi?" ujar Train dalam gendongan Leyka sambil mengancingkan kemeja Leyka hingga kerahnya.
"Kenapa Carino"
"Karena Torres selalu melihat dadamu! Uhss!" Leykapun mendelik kearah Torres sesampainya ambang pintu lalu mendengus. Train melanjutnya perkataannya, ia turun dari gendongan Leyka dan berjalan keluar ruangan itu.
Mommy bila Daddy tidak datang, menikahlah dengan Uncle Gallardiev, agar aku menjadi pemilik gedung ini dan aku akan menerjunkan Torres, dari lantai 10.
Ha..ha..ha.. Sekalipun kau bukan pemilik gedung ini, kau bisa menerjunkan Torres..
Mereka semua mendelik kearah Torres, seiring celotehan Train dan Leyka kian menjauh. Ada rasa nyeri dihati mereka.
Gawat! Hanya sedikit saja masa tidak boleh? Astaga setan cilik, matanya ada berapa? Shitt.
-
-
-
__ADS_1