
Suara khas kereta api itu melengking, sehingga hewan liar yang di lindungi sebuah lembaga yang mendunia World Animal Proteciton atau Perlindungan Hewan Dunia, akhirnya menyeberangi rel kereta yang di lewati The Blue Train. Sehingga kereta itu kembali melaju ke tujuan akhirnya, Capetown.
Valentino dalam diam, membalutkan bathrobe pada tubuh Leyka yang terlihat lelah dengan wajah pias dan lutut yang gemetar. Kemudian ia menggendongnya dan membawa Leyka keluar kamar mandi, lalu menurunkannya di meja rias. Ia pun meninggalkan Leyka disana tanpa bicara. Saat Leyka ingin bicara, Valentino berlalu pergi menuju kamar mandi melanjutkan mandinya yang tertunda.
Leykapun mengeringkan rambutnya, setelah setengah kering ia berganti pakaian. Perasaannya semakin tak menentu. Valentino tidak juga kembali dari kamar mandi setelah menggendongnya. Rasa nyeri diseluruh tubuhnya terutama dipangkal pahanya membuat Leyka enggan untuk berjalan dan mengintip Valentino.
Waktu terus bergulir dan pemberitahuan bahwa kereta akan tiba di Johannesburg berkumandang. Hati mereka berdebar dan Valentino seketika keluar dari kamar mandi.
Ia terlihat sudah berganti pakaian. Hanya kaos oblong putih dan celana jeans, apapun itu Valentino terlihat tampan dimata Leyka. Matanya terlihat sembab kemerahan, dan ia berjalan ke arah Leyka yang telah duduk di sofa dengan menggenggam jaketnya. Leyka bersiap turun di JOHANNESBURG!
Aku tidak akan memohon lagi. Ini sudah cukup Leyka.. Kau sangat keras kepala.. Kita hanya orang asing dan biarkan tetap seperti itu.. Valentino.
Valentino duduk disamping Leyka dan meraih jemari Leyka yang terpasang cincin dengan motif bunga jacaranda lalu digenggamnya.
"Maafkan aku bila selama ini menyakitimu dan menciptakan neraka bagimu. Tapi bagiku-- aku tidak pernah merasakan sebahagia ini selama aku mengenal banyak wanita. Mungkin aku laki laki kolot dan tidak mudah bergaul, aku sangat idealis juga arogan. Dan aku tipe pemilih, Leyka. Aku bahkan tidak pernah menyentuh siapapun selain dirimu, bahkan Rebecca. Bagiku wanita nomer dua setelah Kesuksesan. Karena itulah aku menjadi pekerja keras. Aku mengandalkan diriku sendiri, disaat ketiga saudaraku mengandalkan bisnis keluarga besarku. Aku mendapatkannya dengan tanganku sendiri. Aku orang yang tidak pernah merasa puas bila sebuah hasil bukan dari tanganku" Leyka mendengarkan dengan seksama, kepalanya tertunduk, matanya menatap tangan kekar itu memainkan jemarinya. Valentino menepuk nepuk jemarinya sesekali ia mere*masnya.
"Bahkan saat Rebecca hadir dalam hidupku, aku pernah mengatakannya padamu, dia yang datang, bukan aku yang menjerat atau mencari. Karena wanita hanya nomer dua bukan yang utama. Kau juga mendatangiku, walaupun lewat kesalah pahaman, entah karena takdir atau apapun itu, tapi kau berbeda. Ketika aku tahu Rebecca serius menjalani hubungan yang nyaman denganku, aku memang tidak pernah mengatakan Cinta padanya karena memang Cinta bagiku tidak perlu di ucapkan, Cinta hanya perlu di tunjukkan lewat perbuatan" dan Valentino meraih dagu Leyka agar menatap matanya.
"Tapi kau berbeda. Wanita selalu menyukai harta dan banyak hadiah karena itulah aku memperlakukanmu seperti Rebecca. Aku bahkan mengatakan Cinta padamu dan itu tidak mudah untukku. Aku baru menyadari tadi saat kau mengatakan waktu kita hanya 1 jam lagi-- Ley, maafkan aku. Aku tidak akan keluar dari zona orang asing, karena kita memang seperti itu. Aku selama ini bersama mu, aku begitu buas melampiaskan nafsuku, itu karena aku menemukan kenyamanan bahkan lebih dari itu aku ingin memilikimu. Seandainya kita satu negara, aku pasti tidak akan memintamu ikut. Karena kau akan selalu berada dalam genggamanku" Leyka meraih tangan Valentino yang menahan dagunya lalu menumpuknya dengan kedua tangan yang berada diatas pahanya.
"Image negara ini mengandung kebebasan yang sejati, kau membuatku mengenal kebebasan. Kau membuatku melupakan siapa diriku di Italy. Leyka, gadis bar bar ini seorang putri bangsawan yang ingin meninggalkan kodratnya. Karena itulah kau berbeda. Leyka, semoga kau mencapai tujuanmu dan aku mencapai tujuanku. Aku tidak akan pernah berharap bertemu dengan dirimu tapi aku akan menghabiskan musim dingin akhir tahun ini di Swiss. Aku berkhayal bermain sky dan minum anggur terbaik disana bersamamu-- aku hanya bisa berkhayal" Leyka kembali memandangi jemari tangan Valentino yang menaut disela sela jemarinya. Mendengar perkataan Valentino seakan ajakan atau bujukan yang membuatnya semakin dingin.
Egois. Kejarlah wanita.. Jangan meminta wanita mengejarmu.. batin Leyka dengan kecewa.
"Apa kau akan St. Moritz?" tanya Leyka dengan lembut.
"Iya, kau benar, Leyka. Bagaimana kau tahu?"
"Kau turis yang mencari tempat iconic. Kau pasti akan kesana-- ketika orang berdatangan ke Capetown atau Johannesburg, aku memilih Pretoria. Kau lama di Pretoria karena aku. Tujuanmu sebenarnya adalah Capetown. Kota metropolis dimana kau bisa mendapatkan banyak proyek saat liburan. Kau pernah mengatakan kau akan lama di Capetown"
"Leyka, kau bisa menebak jalan pikiranku" Valentino terkesima dan Leyka hanya tersenyum tipis.
"Dan aku tahu kau tidak suka asparagus, tanpa aku bertanya padamu-- Apa kau tahu apa yang tidak aku suka?" Valentino membulatkan matanya, ia tidak pernah berpikir bahwa Leyka memperhatikan hal sedetail itu.
"Eh..Ti-tidak Ley-- Apa yang tidak kau sukai"
"Sebaiknya tidak usah tahu. Karena itu bukan hal yang penting"
"Kau mau membuatku mati penasaran?" Leyka terlihat mengembangkan senyumnya dan melemparkan pandangannya kearah Valentino dan tatapan itu kembali bertemu.
"Aku tidak suka, orang yang tidak menyukai asparagus" hati Valentino seakan digerus, nyeri rasanya. Tapi ia menutupinya dengan tawanya yang terdengar sumbang.
"Apa yang kau sukai?"
__ADS_1
"Asparagus" jawab Leyka mengurai pandangannya. Ia menatap ke arah jendela, yang telah terlihat bangunan dan gedung dari kejauhan. Valentino masih tertawa kecil, kemudian menciumi jemari tangan Leyka.
"Ley-- dan keretapun berjalan melambat. Mereka terdiam dan saling memandang. Suara khas kereta apa melengking seiring Valentino, mencium bibir Leyka dengan menekan tengguknya. Rasa dingin menjalari tubuh mereka, debaran hati mereka merayapi hingga mata mereka menghangat dan terasa pedih. Merekapun memejamkan mata, dan tangan mereka saling menaut, serta memeluk seeratnya.
Kereta akan berhenti selama 30 menit, berbeda saat mereka dari Capetown, kereta berhenti selama satu jam. 10 menit berlalu sejak berhenti dan Valentino tidak kunjung melepas pagutannya. Valentino semakin melu*mat kuat, seiring ia mengambil nafas dalam. Rasanya ia tidak ingin melepaskannya. Perlahan Leyka melepas tautan bibir mereka.
"Val, maafkan aku-- Aku harus pergi" Leyka bangkit berdiri dan Valentino mengikutinya. Valentino menyambar jaket Leyka dan ia balutkan ke tubuh Leyka, seperti anak perempuan dibantu Ayahnya memakai jaket, begitupun Leyka.
"Jangan biarkan angin meniup tubuhmu. Kau semakin kurus saat bersamaku. Makanlah yang banyak, Ley" ujar Valentino sambil menaikan resleting jaket itu, perkataan Valentino menikam hati Leyka. Ia menahan sekuat tenaga agar ia tidak menangis dihadapan Valentino. Sementara Valentino tersenyum. Senyum yang dipaksakan.
"Val--
"Nona Asing, pergilah dan selamat atas pernikahanmu" Valentino dengan lembut membelai rambut Leyka, hati mereka sangat tersiksa. Tapi menilik kejadian ke belakang, rasanya hubungan itu tidak mungkin bisa terjalin.
"Val--
"Bahagialah, Ley" Valentino kembali tersenyum dengan mata kemerahan, ia buru buru membalikkan tubuhnya dengan menyeka sudut matanya, ia berjalan kearah tas ransel Leyka dimana ada benih bunga mawar dari Ludwig's Roses. Dada Leyka kian sesak melihatnya. Valentino tersenyum dan kembali berjalan menghampiri Leyka. Ia membantunya Leyka menggunakan tas ransel itu dipunggungnya dengan mengaitkan tali tas ransel itu, yang melingkar di perutnya. Leyka hanya menurut dengan dada yang kian sesak.
"Val-- Terima kasih. Senang bisa berkenalan denganmu" Leyka mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan namun Valentino menarik tangan itu dan Valentino memeluk Leyka beserta tas itu. Leyka membalas pelukan itu dan ia menahan airnatanya turun dengan mengetatkan rahangnya. Pelukan Valentino sangat erat, tidak perduli duri pohon mawar itu menggores tangannya, ia semakin mengeratkan pelukannya. Melupakan rasa sakit dan menikmati pelukan perpisahan itu.
"Val-- Selam--
"Jangan mengatakan selamat tinggal, Leyka Paquito. Karena anggap saja kita tidak pernah bertemu" Leyka mengamati tangan Valentino yang tergores saat tangannya kembali mengusap sudut matanya dengan membelakangi Leyka. Luka itu semakin sakit, Leyka tidak mampu berkata kata. Selalu saja perkataannya yang ingin ia ungkapkan semakin kuat tertahan tercekat di tenggorokkannya.
"Val--
"Ayolah aku akan mengantarmu" Valentino narik tangan Leyka dan menarik koper Leyka yang berada di dekat pintu, lalu mereka keluar dari kamar Valentino, mereka menyusuri koridor gerbong mencari pintu keluar. Leyka menapakkan kakinya di Johannesburg.
Diambang pintu kereta dan diambang pintu kedatangan di Stasiun Johannesburg, mereka berdiri saling berhadapan, mereka diam sesaat karena lidah itu sangatlah kelu.
"Kau tidak akan lebih bahagia dariku, karena kau akan selalu mengingatku" dan Leyka memukul pelan dada Valentino masih dengan tawanya. Valentinopun terlihat tertawa, walaupun dadanya sangat sesak, begitupun Leyka.
"Saat salju pertama turun di Barcelona akhir tahun ini-- datanglah Val. Mungkin aku masih mengingatmu dan aku akan memberikan kesempatan pada diriku untuk mengingatmu. bila kau tidak datang maka jangan salahkan aku bila aku melupakanmu selamanya. Karena aku akan menikah setelah itu"
"Apa tidak bisa kau mendatangiku di Swiss?"
"Val, aku benci Swiss. Aku tidak akan menginjakkan kakiku disana"
"Kenapa?"
"Alasan itu tidak penting sekarang-- Aku akan pergi. Aku harus mengejar pesawatku" saat Leyka meraih koper yang di genggam Valentino, laki laki itu justru menarik tangan Leyka dan memeluknya. Leyka mencium pipi Valentino lalu membelai pipi Valentino dengan mata berkaca kaca.
"Vaaall"
"Sshh.. Leykaaa!" dengan cepat Valentino melu*mat bibir Leyka. Tidak perduli orang lalu lalang di sekitarnya, Valentino terus menekan tengkuk dan pinggang Leyka sangat kuat.
"Ley, aku sudah merindukanmu" bisik Valentino disela sela ciuman yang seakan menghisap seluruh jiwa dan raga Leyka. Hingga mereka kesulitan bernafas.
Leykapun melepaskan pegangan kopernya dan menangkupkan tangannya di kedua pipi Valentino, jawaban atas kerinduannya saat ini bahkan sebelum berpisah. Tak terasa, airmata mereka jatuh dari sudut mata mereka. Saat ciuman terurai mereka tersenyum dan saling menyeka airmata itu. Mereka kembali berpelukan tanpa banyak kata, mereka saling menghirup aroma tubuh mereka, yang akan segera menghilang dari sisi mereka.
__ADS_1
Pelukan itu mengatakan banyak hal, pelukan itu mengatakan kerinduan dan cinta. Pelukan itu mengatakan kesedihan, luka hati dengan belati yang tertancap sangat dalam, rasa ketergantungan juga saling membutuhkan bahkan pelukan itu mengatakan penyesalan dengan segudang pertanyaan. Untuk apa ada perjumpaan bila berpisah pada akhirnya? Mengapa harus sesakit ini bila perjumpaan itu hanya sekedar orang asing seperti di pelarian? Apakah ini takdir?
"Ley, aku pernah berkata padamu. Bila kau menyadari ini bagian dari Takdir, maka berlarilah padaku" mereka mengurai pelukan itu saat ada pemberitahuan bahwa 15 menit lagi kereta akan meninggalkan Johannesburg. Hati mereka kembali sakit, namun mereka berdua bersikeras saling mengatasinya.
"Baiklah Tuan Asing. Pergilah sana keretamu akan berangkat!" dengan tawanya Leyka berjalan sambil mendorong tubuh Valentino menuju pintu kereta, mereka saling melemparkan pandangannya.
"Jaga dirimu baik baik Leyka" Leyka hanya tersenyum dengan mengacungkan ibu jarinya. Di ambang pintu mereka kembali berciuman.
"Val, untuk terakhirnya aku bertanya, apa kau mau turun bersamaku?" tanya Leyka setelah ciuman bertubi tubi itu.
"Ley, aku harus bekerja-- bukankah seseorang menunggumu di Barcelona?" mendengarnya membuat Leyka kembali hancur.
Pecun*dang! Kau tidak akan pernah mau berkorban untukku.. Maka akupun juga tidak akan mengharapkanmu lagi.. Aku tidak akan mengingat, bahwa ada laki laki sepertimu, Val..
"Hmmm.. Kau benar, Val.. Selamat tinggal Val. Jaga dirimu baik baik" Leykapun membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh dari pintu kereta api The Blue Train.
"Hei Nona asing! Aku bilang jangan mengucapkan Selamat tinggal!" pekik Valentino, membuat Leyka kesal dengan sebutan Nona Asing.
"Ingatlah setiap salju turun, Tuan Asing. Aku ada di Barcelona! Bila tahun ini kau tidak datang maka aku akan menikah dan berbulan madu ke Italy. Aku harap kau tidak menggangguku!" Valentino hanya tertawa walaupun dalam hatinya ia menangis dan juga geram.
"Ley! I Love You Pretoriaaa!" Pekik Valentino masih diambang pintu.
"I Hate You, Pretoriaa!" Leyka membalikkan tubuhnya ke arah Valentino dan mengacungkan jari tengahnya, Valentino tertawa melihatnya.
"I Love You So Much, Pretoriaaaa!" Valentino kembali berseru seperti orang gila berharap Leyka kembali menoleh, namun punggungnya dan langkah kaki Leyka kian menjauh.
Mengapa airmataku berjatuhan.. Aku berjanji tidak akan menangis, tapi mengapa airmataku sulit dihentikan.. Val, aku membencimu.. Membencimu karena kau tidak mau berkorban untukku.. Val, aku mengorbankan rasa cintaku.. Ini sesuatu yang besar.. Apakah ini Cinta? Aku membencimu.. Aku akan melupakanmu selamanya..
"Fu*ck You, Val!" walaupun tidak menoleh, Valentino sangat bahagia ketika Leyka merespon. Valentino tidak tahu Leyka berjalan dengan airmata yang berjatuhan di sepanjang jalan menuju pintu keluar.
Kau tidak mau menoleh Ley? Terakhir kali.. Menolehlah.. Leyka.. Gadis kejam.. Kau bahkkan tidak menoleh lagi..
"Aku menunggumu di Swiss! I Love You Leyka!!" Pekikan Valentino hanya di acungi jari tengah oleh Leyka. Valentino menatap punggung Leyka hingga gadis Spanyol yang membuat hatinya porak poranda itu menjauh. Kemudian Leyka menghilang dari pandangannya!
Val, aku menunggumu.. Saat salju pertama turun.. Akankah kau datang? Aku sudah merindukanmu, Val.. Rasanya aku ingin menoleh lagi melihatmu.. Bila aku menoleh, aku takut semakin merindukanmu.. Aku takut lemah.. Ingatlah Leyka.. Ada kehidupan yang harus diselamatkan.. Val, aku sungguh iri.. Kau akan bahagia, sementara aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kehidupanku. Aku pasti tersiksa merindukanmu.. Aku akan menderita karena mencintaimu segila ini! Tidak Val, aku tidak mau semakin Gila..
"Leyka.. I Love You Pretoria, I Love You More Ley.. Kau tidak mau menoleh lagi" gumam Valentino dengan menyeka airmatanya. Valentino memukul pintu dan berlalu dengan langkah gontai Valentino kembali ke kamarnya. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa di samping jendela dan menendang meja.
Menolehpun tidak.. Dasar rubah.. Shit..
Sementara Leyka terus berjalan dengan menyeka airmatanya, hingga ia duduk disebuah taksi yang membawanya pergi dari stasiun Johannesburg.
"Tambo Airport, Sir!" Leyka menghela nafas panjang, ia menatap jalanan dengan rasa sedihnya. Dinginnya AC mobil itu membuat tangannya dingin. Ia pun memasukkan tangannya ke kantong jaketnya, namun sesuatu didalamnya membuatnya mengerutkan alisnya.
Apa Valentino menyelipkan sesuatu.. Apa nomor ponselnya..
Secarik kertas ada di jaketnya, Leyka buru buru mengambilnya dan ia membelalakan matanya!
-
__ADS_1
-
-