
Kevin dan Shaka pun turun dari mobil.
“Apa-apaan ini, kenapa harus kehilangan jejak?” ketus Shaka sembari mengecak pinggangnya.
“Mana ku tau, mungkin mobilku sudah lelah mendengar ocehanmu sepanjang jalan, makanya dia sampai kehilangan jejak,” jawab Kevin santai.
“Heh, jaga bicaramu! Kau saja yang mengemudi tidak becus, masa kau harus kalah dengan supir taxi, sekarang lihat, kita kehilangan jejak Amira,”
“Sudah lah Ka, suaramu membuat otakku makin berdenyut, lihat lah jalan ini, ini jalanan menuju rumah Amira, dia pasti pulang ke rumahnya, kali ini kita tau keberadaan Amira di mana,”
“Tapi tetap saja kita harus menyusulnya,”
“Ka, menurutku biarkan dulu dia sendiri dalam beberapa hari, aku yakin karena kejadian yang akhir-akhir ini ia alami, membuat ia sangat syok, ku rasa membuatnya tenang adalah pilihan terbaiknya,”
Shaka pun sejenak terdiam sembari mencerna ucapan Kevin.
“Jadi, menurutmu Vin, kita tidak usah menyusulnya lagi? Ah tapi Vin, aku tidak bisa menahannya lagi, aku begitu merindukan istriku,”
“Kalau kau ingin berhasil membawanya pulang, dengarkan saja kata-kataku, aku tidak mungkin menyesatkan mu, biarkan dia menenangkan pikirannya dalam beberapa hari ini, akan lebih mudah membujuknya saat pikirannyaa mulai tenang dan moodnya sudah mulai membaik,” jelas Kevin lagi.
“Emm ada benarnya juga, baiklah, kali ini sepertinya aku harus sedikit lebih sabar lagi,”
“Nah sungguh keputusan yang sangat dewasa,” celetuk Kevin kemudian.
“Ayo kita pulang sekarang!” Tambah Kevin lagi kemudian berjalan memasuki mobil.
Kediaman keluarga Buwana…
Kevin pun menghentikan mobilnya di depan teras rumah Shaka, Shaka pun segera turun dan berjalan lesu memasuki rumahnya, Salsa dengan membawa Queen dan juga nenek Emely yang sedang berada di ruang keluarga pun langsung bangkit saat melihat Shaka sudah kembali ke rumah.
“Ka, bagaimana? Apa kau berhasil menyelamatkan Amira?” Tanya Emely.
“Nenek tau dari mana?” Tanya Shaka lesu.
“Kevin yang meneleponku,” jawab Emely.
Tak lama Kevin pun terlihat ikut masuk menyusul dan berdiri di samping Shaka.
“Kenapa kau memberitahu mereka lebih dulu?” Bisik Shaka pada Kevin.
“Maaf Ka, aku terlalu bersemangat saat akhirnya mengetahui dimana Amira, tapi aku sungguh tidak tau kalau hasil akhirnya begini,” jawab Kevin yang juga berbisik.
“Hei kalian, kenapa kalian diam saja? Dimana Amira?” Tanya Emely lagi sembari melirik kesana kemari untuk memastikan ada tidaknya keberadaan Amira di rumah itu.
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Shaka dan Kevin sedikit gelagapan dan bingung, hingga akhirnya dengan satu tarikan nafas panjang, Shaka pun mendekati nenek Emely dan Salsa.
“Aku, Kevin dan yang lainnya sudah berhasil menyelamatkan Amira, para penjajatnya pun sudah berhasil di ringkus,” jelas Shaka pelan.
“Iya lalu? Mana Amira sekarang?” Tanya Emelu lagi yang nampaknya juga begitu bingung seolah tak sabar ingin bertemu dengan Amira.
“Maafkan aku nek, Amira, Amira memilih untuk kembali pulang ke rumahnya dan tidak mau ikut bersamaku,” tambah Shaka kemudian langsung menunduk.
“Apa?!” Ucap Emely dengan membulatkan matanya.
“Iya benar, nampaknya dia masih belum bisa memaafkan aku atas kejadian waktu itu, kejadian saat aku mengusirnya dari rumah,”
“Jadi Amira memilih kembali ke rumah orang tuanya?” Tanya Emely dengan diikuti anggukan dari Shaka.
Tak lama Emely yang nampaknya mulai emosi, kini kembali bersuara.
“Kau benar-benar cucu yang mengecewakan Shaka Buwana! Dia memilih untuk kembali pulang dan kau membiarkannya? Kau ini, kau… kau…” tiba-tiba nafas Emely mulai terengah-engah.
__ADS_1
“Nenek,” ucap Shaka pelan.
“Ka.. kau sungguh…” belum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba tubuh Emely ambruk.
“Nenek!” Teriak Shaka yang langsung menangkap tubuh Emely.
Emely tak sadarkan diri, namun nafasnya masih terengah-engah, ia jadi susah bernafas.
“Nenek ada apa denganmu?” Tanya Shaka yang mulai panik sembari menepuk pelan pipi neneknya.
Salsa dan Kevin pun langsung menghampiri Emely yang sudah tak sadarkan diri.
“Vin, bantu aku untuk membawa nenek ke rumah sakit,” tegas Shaka.
Kevin pun mengangguk cepat, ia pun langsung berlari menuju mobilnya, Shaka dengan sigap langsung mengangkat tubuh Emely, lalu membawanya masuk ke dalam mobil yang dihidupkan mesinnya oleh Kevin.
Begitu juga dengan Salsa yang ikut menyusul masuk ke mobil setelah menitipkan Queen pada pelayan di rumah Shaka dan memilih duduk di depan di sisi Kevin.
Kevin pun mengemudikan mobilnya dengan cepat.
Sisi lain di rumah Amira…
Setelah melalui perjalanan, akhirnya taksi yang membawa Amira pun berhenti di depan pekarangan rumahnya, namun lagi-lagi Amira di buat kebingungan saat ingin membayar taxi yang argonya sudah terlihat dan sedikit mahal karena jarak antara Cassino dan rumah Amira cukup jauh, bagaimana tidak, Amira tidak sempat membawa tasnya, ia keluar dari gedung Cassino dengan tangan kosong, namun akhirnya Amira menemukan solusi saat melihat persiapan berupa gelang yang masih menempel di tangannya, yang pernah diberikan Shaka.
“Ma, maaf sebelumnya pak, emm, aku, aku tidak punya uang sama sekali, tasku tertinggal di gedung Cassino tadi, apa aku bisa membayar dengan ini?” Tanya Amira lirih sembari menyerahkan gelang berlian yang melingkar di tangannya.
Supir taksi itu pun meraih gelang itu dengan dahi yang mengerinyit.
“Maaf nona, apa ini gelang asli yang bisa dijual kembali? Karena kalau hanya bisa dipakai saja aku tidak memerlukan…” mata supir itu seketika terbelalak saat melihat ke arah belakang.
Saat itu akhirnya ia bisa melihat dengan jelas wajah penumpangnya.
“No.. nona Buwana? Apakah anda istri dari pengusaha sukses di kota ini? Astagaa saya lupa namanya,”
“Astaga apa lelaki yang mencoba mengejar anda adalah tuan muda Shaka Buwana? Ya tuhan pantas saja seperti tidak asing wajahnya,”
Lagi-lagi Amira hanya tersenyum lalu mengangguk pelan.
“Ah baiklah nona, senang bisa bertemu langsung dengan mu, ini nona, ambil lah kembali gelang mu, tidak apa jika kau tidak punya uang untuk membayar, nampaknya nona punya sedikit masalah rumah tangga dengan tuan muda, dan saya akan memakluminya,”
“Ah tidak pak, ambil saja! Ini tentu bisa anda jual, dan aku yakin harganya pasti lebih tinggi dari argo ini, anggap saja ini pemberian dariku untuk membantu meringankan beban anda dan keluarga,” Amira pun kembali menyerahkan gelangnya ke tangan supir itu, dan kemudian langsung keluar begitu saja.
“Terima kasih,” ucap Amira sebelum ia keluar melangkah menuju rumahnya.
Amira pun melangkah pelan sembari terus memandang sendu rumah orang tuanya, saat itu hari sudah begitu sore, hingga akhirnya ia memilih untuk mengetuk pintu, ketika mengetuk beberapa kali akhirnya pintu itu pun di buka oleh mamanya.
“Astaga Amira? Kau kah ini?” Tanya Riana sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Ma, tidak kah kau mau mempersilahkan ku untuk masuk?” Tanya Amira sembari tersenyum dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Ah iya nak, ayo masuklah,” jawab Riana kemudian meraih tangan Amira dan membawanya masuk ke rumah.
Kini Riana begitu bahagia dengan kedatangan Amira yang sangat mengejutkannya itu, ia tidak menyangka Amira yang mereka cari-cari selama ini ternyata datang sendiri ke rumah mereka dalam keadaan selamat.
Begitu sampai di ruang keluarga, Riana pun langsung berteriak memanggil Adi Wijaya.
“Pa, papa!” Teriak Riana memanggil Adi yang saat itu sedang berada di kamarnya.
Adi yang saat itu sedang duduk di atas ranjangnya sembari menonton televisi yang berada di dalam kamar mereka, mendengar teriakan Riana memanggilnya.
“Ada apa ma?” Tanya Adi yang juga berteriak.
__ADS_1
“Amira datang pa!” Jawab Riana saking senangnya.
Mendengar itu Adi sontak di buat terperangah, dia seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya, namun saat ia tengah berfikir tiba-tiba Riana kembali memanggilnya.
“Iya ma sebentar!” Akhirnya agar tidak merasa penasaran lagi, Adi pun melangkah keluar dari kamarnya menuju ruang keluarganya.
Begitu sampai di ruang keluarga, Adi sontak membulatkan matanya dengan sempurna.
“Amira?”
“Papa,” ucap Amira lalu kemudian berjalan menghampiri papanya dengan mengulurkan tangannya memeluk papanya.
Adi pun membalas pelukan putrinya itu sembari memejamkan matanya, tak terasa air mata Adi menetes membasahi pipinya dan jatuh di pundak Amira.
Menyadari pundaknya basah dengan air mata papanya, Amira pun perlahan melepaskan pelukannya dan menatap Adi yang sedang menitihkan air mata.
“Kenapa papa menangis?” Tanya Amira yang masih memegang kedua lengan Adi yang berada di kedua pundaknya.
“Papa sangat bahagia nak, sudah seminggu lebih ini papa dan mama tidak bisa tidur nyenyak memikirkan keadaanmu, kami terus mencari mu ke mana-mana, papa sangat bahagia akhirnya kau pulang dalam keadaan selamat,” jelas Adi dengan lirih.
“Papa tidak usa menangis, kan sekarang Amira sudah ada di sini, di tengah-tengah kalian,” ucap Amira dengan tersenyum sembari membalikkan badannya menatap mama dan papanya secara bergantian.
Tak lama Riana pun berjalan mendekati Amira dan papanya lalu memeluk mereka secara bersamaan, kini mereka bertiga pun saling berpelukan.
Setelah puas melepas rindu, perlahan mereka mulai melepaskan pelukan mereka masing-masing.
“Ya sudah, ayo kita duduk, mama penasaran ingin tau di mana keberadaan mu selama ini,” cetus Riana kemudian menarik tangan Amira dan mendudukannya di sofa ruang keluarga.
Amira pun menceritakan kronologi kejadian di mana ia di sandra dan akhirnya di selamatkan, namun ketika mendengar nama Dewa Atmadja, Adi dan Riana pun tercengang dan mereka pun terdiam.
“Ma pa? Ada apa? Kenapa diam? Apa kalian kenal dengan orang yang bernama Dewa?” Tanya Amira tampak keheranan melihat reaksi mama dan papanya yang tiba-tiba saja diam dan tercengang saat Amira menyebut nama Dewa Atmadja.
Orang tua Amira masih diam membisu, Amira pun semakin penasaran dan kembali bertanya untuk yang ketiga kalinya, baru akhirnya Adi mulai membuka suara.
“Amira, ketahuilah Dewa Atmadja juga dalang dari bangkrutnya perusahaan yang sudah di bangun oleh kakekmu dulu, dan dia juga lah yang sudah menipu papa sehingga kita kehilangan segalanya,” jelas Adi pada Amira.
Kini balik Amira yang tercengang, ia pun menutup mulutnya yang sedikit menganga.
“Benarkah itu pa?”
“Iya, keluarga Atmadja itu sudah sukses membuat keluarga kita menderita,” jawab Adi kemudian.
“Ternyata dunia begitu sempit, perlu juga papa dan mama ketahui, Dewa Atmadja itu adalah ayah dari Genta Atmadja,” Amira pun mengungkapkan fakta yang tak kalah mencengangkan.
“Apa? Jadi Dewa Atmadja adalah ayah dari pengecut itu?” Tanya Adi yang mulai mengepalkan tangannya dengan membulatkan matanya.
Amira pun mengangguk pelan sembari menatap sendu ke arah papanya.
“Pantas saja saat itu Genta lari dari tanggung jawabnya, ternyata dia mewarisi sifat ayahnya yang bajingan itu, tapi setidaknya papa puas, Shaka sudah berhasil meringkus Dewa dan anak buahnya, papa tidak tau ada dendam apa Dewa sehingga dia tega berbuat seburuk ini pada keluarga kami,” celetuk Adi dengan wajah yang mulai memerah karena emosi.
“Tapi papa belum sepenuhnya percaya dengan Shaka, papa masih marah padanya, karena dia sudah tega mengusirmu dari rumahnya, biarkan kau di sini dulu sampai dia datang menjemputmu,” jelas Adi.
“Ma pa, ada yang ingin Amira sampaikan,”
“Apa itu nak?” Tanya Riana mulai penasaran.
“Amira sedang hamil anak Shaka pa ma,” jelas Amira dengan sedikit ragu.
“Dua hari setelah Amira pergi dari rumah, Amira baru mengetahui kehamilan Amira,” tambah Amira lagi.
Mendengar itu Adi dan Riana tampak begitu bahagia, tapi mereka juga khawatir dengan keadaan rumah tangga Amira dan Shaka yang mereka belum tau bagaimana ke depannya, karena saat ini Amira sedang menjauh dari Shaka, apa lagi saat ini Amira sedang hamil.
__ADS_1
Tapi papa dan mama Amira bukan mau memisahkan Amira dan Shaka, mereka hanya sedikit memberi pelajaran pada Shaka agar Shaka tidak seenaknya lagi pada Amira seperti yang ia lakukan tempo hari, mereka tinggal menunggu Shaka datang menjemput Amira, jika Shaka sudah datang maka mereka akan memberi nasehat untuk rumah tangga Shaka dan Amira.