
Mobil telah sampai di loby rumah Buwana. Amira langsung meraih barang bawaannya dan membuka pintu lalu kemudian pergi lebih dulu meninggalkan Shaka begitu saja. Shaka yang melihat itu sadar akan sikap Amira seperti itu karena kecerobohannya sendiri, yang sudah tegah menuduh Amira dan berbuat kasar kepadanya tanpa mencari tau kebenarannya. Shaka juga ikut membuka pintu dan turun dari mobil. Shaka masuk ke dalam rumahnya dengan di sambut para pelayan. Shaka hanya berjalan begitu saja melewati para pelayan itu tanpa membalas sambutan mereka. Shaka lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya, langkah Shaka terhenti sejenak ketika melewati pintu kamar Amira. Shaka melihat ke arah pintu kamar dengan tatapan rasa bersalah, Shaka melangkah hendak membuka pintu kamar itu setelah sampai di depan pintu Shaka meraih gagang pintu dan hendak membukanya namun ia mengurungkan niatnya lalu berjalan menuju kamarnya.
Waktu menunjukan pukul 19.00 malam, Shaka berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan, Shaka melihat meja makan masih kosong hanya ada pelayan yang sedang menyiapkan makan malam. Shaka melangkah mendekati meja makan dan menarik kursi lalu duduk. Shaka mengambil makanan dan makan sendiri.
Kenapa dia tidak turun untuk makan, apa dia masih marah? Tanya Shaka dalam hati.
Selesai makan Shaka memerintahkan pelayan untuk membawakan makanan ke kamar Amira. Shaka kembali menaiki anak tangga dengan diikuti oleh seorang pelayan membawah nampan berisi makanan.
Shaka masuk ke kamar dan mendapati Amira sedang duduk menyandarkan dirinya di atas ranjang.
"Letakkan di situ". Perintah Shaka menyuruh pelayan meletakkan nampan itu di atas nakas.
" Baik tuan muda.." Pelayan segera meletakkan nampan itu.
Shaka dengan tangannya memberi isyarat pada pelayan untuk meninggalkan mereka berdua.
Shaka berjalan mendekati ranjang Amira dan dia berdiri sejenak menatap Amira yang hanya diam tanpa melihat ke arahnya. Shaka menghela nafasnya lalu duduk di tepi ranjang.
"Makanlah makan malammu!" Ucap Shaka dengan nada rendah.
"Sejak kapan kau peduli padaku? Bawalah makanan ini kembali! Aku tidak mau makan!!" Ketus Amira membuang muka.
"Jangan membantahku! Sekarang makanlah!" Bujuk Shaka.
"Bagaimana apa kau sudah menelpon nenek dan memberitahunya? Kira-kira kapan dia akan menyeretku keluar dari rumah ini? Apa aku harus keluar lebih dulu sebelum ia menyeretku?" Amira terus menanyakan berbagai pertanyaan yang aneh menurut Shaka.
"Kau ini kenapa? Apa kepalamu ada kepentok sesuatu? Hingga membuatmu bersikap aneh sekarang?" Shaka balik bertanya tanpa menjawab satu pun pertanyaan Amira.
"Bersikap aneh? Apa kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan semalam? Apa kau tak sadar aku begini karena kau yang memulainya. Kau menghempaskan tubuhku dengan kasar ke tembok kau mencengkram kuat pipiku kau juga menghujani ku dengan berbagai hinaan apa kau tak merasa bersalah sedikitpun?" Amira kembali meneteskan air mata.
Mendengar itu, Shaka hanya diam seribu bahasa Shaka sudah mengetahui semuanya dan menyadari kesalahannya. Namun entah kenapa Shaka tidak juga meminta maaf. Bahkan ia pun sudah lupa kapan terakhir dia meminta maaf dalam hidupnya, karena bertahun lamanya kata itu tidak lagi keluar dari mulutnya.
"Kenapa kau hanya diam?" Tanya Amira lagi.
"Aku melakukan hal itu karena aku tidak ingin kalau sampai orang tuamu melihatmu bersama laki-laki lain dan tau kalau kau pergi dari rumah, apa lagi kalau sampai mereka tau masalah yang membuatmu keluar dari rumah, mereka pasti akan kembali menyalahkanmu". Ucap Shaka kembali menyalahkan Amira.
"Kenapa kau balik menyalahkanku?" Bentak Amira merasa tak terima.
"Apa kau tidak sadar, kalau restoran Reza itu hampir berdekatan dengan rumah orang tuamu? Aku hanya tidak ingin kalau mereka melihatnya dan menanyakan banyak hal apa lagi melihatmu yang sudah bersuami sedang bersama laki-laki lain apa tanggapan mereka nanti, aku mengkhawatirkanmu aku hanya tidak mau orang tuamu memarahimu". Cetus Shaka dengan alibinya.
Amira hanya terdiam dan menundukan kepalanya. Shaka yang melihat itu tersenyum puas, Amira begitu polos.
"Yah sudah kamu makanlah". Ucap Shaka sembari mengambil piring berisi makanan dan menyodorkannya pada Amira.
Amira meraih piring itu dan makan dengan tak bersemangat.
Ada apa dengan lelaki ini? Baru semalam dia bersikap kasar padaku sekarang dia sudah bersikap sangat manis. Apa dia mempunyai kepribadian ganda?" Amira bergumam dalam hati sembari sesekali melirik ke arah Shaka yang juga terus melihatnya saat makan.
"Apa?" Tanya Amira memelototi Shaka.
"Apanya yang apa?" Tanya Shaka bingung sembari mengerinyitkan dahinya.
__ADS_1
"Kenapa kau terus menatapku seperti itu?" Tanya Amira seketika menjadi canggung dan salah tingkah.
"Siapa yang memandangimu? Aku hanya.. " Shaka kehabisan alasan.
"Hanya apa?" Tanya Amira sembari terus melahap makanannya.
"Ah sudahlah, aku tidak harus menjawab pertanyaan itu kan?" Shaka mengelak lalu bangkit dari duduknya.
"Kau habiskan makananmu!!" Ucap Shaka dengan gugup kemudian melangkah menuju pintu.
"Hei kau mau kemana?" Tanya Amira menghentikan langkah Shaka.
"Kenapa kau perlu tau?" Tanya Shaka tanpa berbalik melihat Amira.
"Tidak, aku hanya ingin berterima kasih". Jawab Amira.
"Emmm.. Baiklah jika hanya itu, tak perlu sungkan". Ucap Shaka kembali melanjutkan langkahnya.
1 minggu kemudian.. Hari ini hari ulang tahun Amira. Shaka yang masih bersalah mencoba menyenangkan Amira dengan memberikannya sebuah hadiah.
Sepertinya sudah saatnya aku mencoba berdamai dengan wanita menyebalkan itu, aku lelah jika terus berdebat dengannya. Ucap Shaka dalam hati.
Shaka kini duduk bersantai di pinggir kolam renang rumahnya. Ia pun mengambil ponsel dari saku celananya dan menelpon Kevin.
"Kevin aku mau memesan 1 ponsel pintar keluaran terbaru dan tercanggih suruh mereka antar kerumah ku dalam waktu sejam dari sekarang!" Perintah Shaka lalu langsung mengakhiri percakapan mereka.
Tak lama pelayan datang dengan membawah secangkir teh untuk Shaka.
"Ini sudah sejam tapi kenapa mereka tak juga datang? Apa mereka mau jadi pengangguran karena membuat aku menunggu lama?" Ketus Shaka seorang diri sembari melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Permisi tuan muda.. Ini pesanan anda sudah datang". Pelayan menghampiri Shaka dengan memberi sebuah paper bag.
Shaka meraihnya dan langsung menaiki anak tangga menuju ruang kerjanya. Shaka membuka 1 kotak yang berisi ponsel keluaran terbaru dan mengamati kualitasnya.
Amira tengah duduk di kamarnya. Tak lama ponsel jadul miliknya bergetar. Amira terkejut melihat panggilan telepon dari Reza.
"Hallo". Sapa Amira dengan bersemangat.
"Amira bagaimana keadaanmu?" Tanya Reza.
"Kak Reza? Kau kah ini?" Tanya Amira tak percaya.
"Iyaa ini aku.. Memangnya ada apa? Apa aku tidak boleh menelpon istri orang?" Tanya Reza mencoba menggoda Amira.
"Ah tidak, aku pikir setelah kau tau aku sudah menikah kau tak ingin lagi menghubungiku". Ucap Amira dengan lesuh.
" Sebenarnya aku tau penyebab kenapa kau menikahinya. Aku juga tau kalau kalian hanya di jodohkan dan tidak saling mencintai dan hubungan kalian hanya setahun jadi aku masih boleh menelponmu kan?" Tanya Reza membuat Amira tersenyum.
"Tentu saja boleh.. Tapi bagaimana kakak bisa tau semuanya?" Tanya Amira tampak bingung.
"Itu bukan hal yang sulit".
__ADS_1
"Baiklah aku tidak akan bertanya lagi soal itu". Amira tersenyum
Saat sedang asik berbincang Shaka tiba-tiba masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Shaka datang dengan membawa paper bag di tangannya. Dengan tatapan tajam dia menatap Amira yang menerima telepon dengan wajah berbinar-binar.
"Ada yang datang.. Aku tutup dulu ya bye". Amira begitu terkejut melihat Shaka masuk di kamarnya.
"Untuk apa kau ke sini?" Tanya Amira dengan ketus.
"Kau sedang menelpon siapa?" Tanya Shaka sebelum menjawab pertanyaan Amira.
"Bukan urusanmu". Ketus Amira.
Shaka langsung merampas ponsel milik Amira dan mengecek panggilan terbaru. Shaka memicingkan matanya saat melihat nama Reza di situ.
" Wah apa kalian benar-benar menjalin hubungan?"
"Kenapa kau harus tau?" Tanya Amira sembari meraih ponsel di tangan Shaka namun dengan cepat Shaka menepis tangan Amira.
"Apa ponsel ini masih bisa berfungsi? Kenapa kau masih memakai ponsel ini di jaman sekarang?" Ucap Shaka sembari mengamati ponsel Amira yang benar-benar jadul.
"Apa-apaan ini waktu itu kau sudah menghinaku skarang kau juga menghina ponselku. Apa hidupmu di habiskan hanya untuk menghina orang?" Bentak Amira dengan meninggikan suaranya.
"Berhentilah berfikiran buruk, lagi pula aku hanya bertanya". Ucap Shaka balas meninggikan suaranya karena tak terima.
Amira pun hanya diam.
" Baiklah aku hanya mau memberimu ini". Ucap Shaka sembari memberikan sebuah paper bag pada Amira.
"Apa ini?" Amira tampak bingung.
Amira membuka paper bag itu dan melihat sebuah ponsel di dalamnya Amira begitu terkejut dengan membulatkan matanya.
"Apa ini untukku?" Tanya Amira sembari meraih ponsel di dalam paper bag itu.
"Pakai itu dan aku sudah menyimpan beberapa nomor di dalamnya". Ucap Shaka sembari berbalik dan melangkah keluar.
"Tunggu.."
"Ada apa lagi?" Tanya Shaka tanpa melirik ke arah Amira.
"Kau mau membawah ponselku ke mana?"
"Ponsel ini akan ku museumkan". Jawab Shaka lalu hendak melangkah lagi namun lagi-lagi terhenti karena panggilan Amira.
"Ada apa lagi?"
"Terimakasih, apapun itu terimakasih banyak karena sudah memberikan ponsel padaku dan sudah bersikap manis padaku". Ucap Amira tersenyum.
Shaka tidak membalas ucapan Amira, tanpa di ketahui Amira dengan masih berdiri membelakanginya Shaka tersenyum mendengar ucapan terimakasih yang sangat lembut dari Amira. Shaka hendak berhenti keluar dari kamar namun dia berhenti dan melirik ke arah Amira dan mengatakan.
"Anggap lah itu hadiah ulang tahun dariku". Ucap Shaka lalu pergi begitu saja.
__ADS_1