
Amira mendapat telpon dari nomor yang tidak di kenal.
"Hallo selamat malam, maaf ini dengan siapa ya?" Tanya Amira menjawab telpon.
"Ini aku, Shaka Buwana. Kamu siap-siap besok nenek aku ingin kamu menemuinya dia ingin berterimakasih secara langsung padamu".
Amira pun terkejut karena yang menelponnya adalah Shaka Buwana.
"Tu..tuan, emmm.. katakan pada nyonya Emely tidak perlu sungkan, nyonya Emely sudah berterimakasih padaku secara langsung saat aku menolongnya, aku pun sudah tidak memikirkan itu lagi".
"Apa kau sedang menolak permintaan nenekku?" Tanya Shaka mengerinyitkan dahinya.
Wanita ini apakah benar sepolos ini? Gadis-gadis di luar sana bahkan rela menempuh cara apapun untuk mendekatiku, sedangkan dia malah menolak bertemu nenekku yang jelas-jelas lebih memudahkannya untuk mendekatiku.benar-benar gadis bodoh. Celetuk Shaka dalam hati.
"Maaf tuan, bukan begitu maksud saya. Saya tidak menolak untuk bertemu dengan nyonya Emely. Emmm.. Baiklah tuan kalau begitu saya mau menemuinya". Ucap Amira.
"Besok sebelum jam 11 siang, ada orang yang akan menjemput di rumahmu, jadi persiapkan dirimu!" Ucap Shaka.
"Apa anda sudah tahu rumah saya?" Tanya Amira terkejut.
"Bukan hal yang sulit bagi supirku mencari tahu alamatmu". Jawab Shaka sembari memiringkan senyumnya.
"Emm.. Begitu yaa? Baiklah". Jawab Amira sedikit cengengesan sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Sekarang ceritakan bagaimana kamu bisa menyelamatkan nenekku?" Tanya Shaka.
Amira pun mulai menceritakan secara detail dari awal dia menemukan Emely sampai dia mengantarkan Emely pulang.
Shaka hanya diam menyimak penjelasan Amira.
"Begitu rupanya, lalu kenapa kau pergi dari rumahku begitu saja? Apa kau tidak pernah belajar etika yang baik?"
"Soal itu saya minta maaf tuan muda, karena ada hal yang sangat penting yang harus aku urus saat itu". Jawab Amira lirih sembari menundukkan kepalanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, kali ini Shaka tidak berminat memarahi Amira karena sudah pergi begitu saja dari rumahnya. Setelah merasa puas dengan hasil perbincangannya dengan Amira Shaka pun memutuskan sambungan teleponnya.
Keesokan paginya..
Amira tersentak dari tidur nya ketika tanpa sadar tangannya menyenggol gelas di atas nakas yang berada di samping kasurnya.
Tok.. Tok.. Tok
Mendengar suara ketukan pintu. Amira langsung merapikan rambutnya yang berantakan, lalu memilih membukakan pintu.
"Mama?"
__ADS_1
"Amira, sudah jam berapa ini kenapa kamu belum bangun?" Ketus Riana pada anaknya.
"Maaf Ma, Amira kesiangan".
" Yah sudah, kamu mandi lalu turun dan sarapan ya". Titah Riana pada putrinya.
"Iyaa ma". Jawab Amira patuh.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 siang, Amira kaget ketika melihat jam yang terletak di atas nakas samping ranjangnya.
"Yah ampun, sudah jam segini? Aku harus siap-siap sebentar lagi aku akan di jemput". Amira pun beranjak dari duduknya lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar Amira langsung ganti baju. Dia memakai kaos yang menurutnya sudah paling bagus di antara semua kaos yang dia punya, lalu menambahkan jaket. Ia juga memilih memakai celana jeans panjang. Dia juga mengikat rambutnya asal dan memakai sendal jepit kesayangannya. Dia pun melihat dirinya di cermin, dia merasa penampilannya sudah sangat elok.
Dia melihat dari jendela kamar nya orang suruhan Shaka sudah menunggunya di depan. Dia mempercepat langkahnya. Tak lupa pula dia berpamitan pada kedua orang tuanya.
"Selamat siang nona, saya di tugaskan untuk menjemput anda". Ucap seorang lelaki paruh baya yang sudah berdiri di depan pintu rumah Amira.
Lelaki itu adalah pak Ardi, pak Ardi adalah supir keluarga Buwana. Dia sudah mengabdi selama bertahun-tahun di keluarga Buwana dari semenjak Shaka kecil dan sekarang pak Ardi sudah menjadi supir pribadi Shaka.
"Selamat siang pak". Sapa Amira.
"Apakah nona sudah siap? Jika sudah, kita jalan sekarang karena tuan Shaka sudah menunggu". Ucap pak Ardi sembari menundukan kepalanya.
Kini mobil mewah itu sampai di depan kantor buwana Group.
"Ini berbedah dengan rumah yang kemarin saya datangi pak". Ucap Amira polos sembari melihat bingung ke arah gedung megah itu.
"Ini kantor Buwana Group nona". Ucap pak Ardi ramah.
Tak lama Shaka pun keluar dari gedung itu dengan setelan jas formal yang membalut tubuh proporsionalnya, menambah ketampanan Shaka menjadi berkali lipat.
"Tuan muda ini kalau di lihat ternyata sangat tampan. Kenapa aku baru menyadarinya ya". Ucap Amira sembari menatap kagum tubuh atletis Shaka yang berjalan mendekati mobil.
Shaka pun masuk ke dalam mobilnya, tanpa melirik Amira sedikit pun.
"Jalan" Perintah Shaka singkat.
Amira yang terlihat gugup hanya diam ketika melihat sikap kaku Shaka padanya. Kemudian Shaka dengan sikap dinginnya melirik sejenak ke arah Amira yang sedang asik memandang gedung- gedung tinggi yang mereka lewati. Namun seketika Shaka membulatkan matanya saat melihat penampilan Amira.
"Apa apaan ini?" Teriak Shaka pada Amira.
Amira pun sontak kaget mendengar Shaka meneriakinya.
"Apa apanya tuan?" Tanya Amira bingung.
__ADS_1
"Apa kau sudah gila memakai pakaian seperti ini untuk menemui nenekku?" Teriak Shaka lagi sambil menarik kecil kaos Amira.
"Memangnya kenapa? Apa yang salah?" Tanya Amira yang masih kebingungan.
"Setidaknya berpakaian lah yang anggun saat menemui nenekku. Apa begitu saja kau harus ku ajari?" Teriak Shaka yang sudah sangat kesal.
"Kita ke butik elegant". Perintah Shaka pada supirnya.
Lelaki aneh, bukankah kemarin saat bertemu neneknya aku juga memakai baju tidur dan tidak menjadi masalah? Kenapa ini jadi masalah besar baginya? Gerutu Amira dalam hati dengan lesuh.
BUTIK ELEGANT LANGGANAN KELUARGA BUWANA
"Selamat siang tuan muda, senang sekali melihat tuan muda berkunjung kembali ke sini". Sapa pengelola butik itu sambil menundukkan kepalanya.
" Selamat siang Bibi" Sapa Shaka kepada pengelola butik yang masih ada hubungan keluarga dengannya.
Amira yang tak tahu menahu hanya terdiam kikuk berdiri di belakang Shaka.
"Bisakah kau merubah penampilan yang sangat buruk ini menjadi sedikit lebih anggun?" Tanya Shaka dan menarik sedikit kasar lengan Amira dan membawanya ke hadapan bibinya.
Bibi Ros yang sedikit terkejut, mulai memandangi Amira dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Sementara Amira hanya cengengesan saking malu dan kikuknya dia diperlakukan seperti itu oleh Shaka.
"Baiklah akan ku tunjukkan beberapa dress yang cocok untukmu". Ucap Bibi Ros tersenyum ramah pada Amira.
"Tak usah terlalu menor dan mencolok bibi, karena ini hanya acara makan siang biasa". Ucap Shaka sembari mendudukan dirinya di sofa yang sudah di sediakan di butik itu.
"Emmm.. Baiklah tuan muda". Jawab bibi Ros sembari menarik tangan Amira menuju ruang ganti.
Setengah jam kemudian..
Amira keluar dari ruang ganti dengan ragu, takut Shaka meneriaki nya lagi.
Amira tampak sangat anggun dengan memakai dress selutut warna kuning dengan motif bulat-bulat yang sangat simple namun terkesan elegant. Rambutnya yang sedari tadi di ikat kini di biarkan terurai, di tambah polesan make up tipis namun tetap menambah kecantikannya.
"Bagaimana tuan muda?" Tanya bibi Ros bersemangat.
Shaka menatap Amira dari ujung rambut sampai ujung kaki, Shaka membulatkan matanya dan menelan ludahnya sendiri saat melihat penampilan baru Amira. Namun kemudian Shaka menutupi rasa kagumnya dan menata kembali wajahnya menjadi tak berekspresi lagi.
"Sedikit lebih baik". Jawab Shaka datar sembari bangkit dari duduknya.
"Terimakasih bibi Rose saya akan mengurus pembayarannya dulu". Ucap Shaka lalu kemudian berlalu mengurus pembayarannya.
" Terimakasih bibi". Ucap Amira sembari membungkukkan badannya.
Mobilpun melaju dengan kecepatan sedang, sepanjang jalan Shaka hanya diam dengan tatapan fokus ke depan yang hanya menampilkan wajah dinginnya. Sementara Amira kembali asik menikmati pemandangan gedung-gedung tinggi dan rumah-rumah megah yang mereka lewati.
__ADS_1