Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 141 Jerah


__ADS_3

1 minggu kemudian…


Jam sudah menunjuk ke arah angka 9 malam, selesai makan malam Shaka menerima panggilan telepon dari Kevin.


“Bagaimana Vin?”


“Keuangan perusahaan Wijaya sudah stabil kembali, perusahaan itu sudah boleh di berikan pada mertua mu sekarang juga,” jawab Kevin dari seberang telepon.


“Kerja bagus,” cetus Shaka tersenyum lalu langsung mengakhiri panggilan telepon.


Perusahaan keluarga Amira sudah berhasil di rebut kembali oleh Shaka, setelah di nyatakan bangkrut di tangan Dewa Atmadja, diam-diam perusahaan itu sudah kembali di ambil alih oleh Shaka tepatnya 4 tahun lalu, karena Shaka lah yang sengaja membuat perusahaan itu bangkrut jadi dia pula yang kembali memperbaiki keuangan perusahaan itu dan menyelamatkannya dari lilitan hutang, Shaka juga sudah berhasil membentuk kerja sama dengan klien di perusahaan kenamaan di kota itu.


Kini perusahaan keluarga Amira kembali jaya seperti dulu, tak hanya membentuk kerja sama dengan perusahaan lain, perusahaan itu juga sudah digandeng oleh Shaka selaku CEO di Buwana Group sehingga sudah sukses kembali.


“Sepertinya ini waktu yang tepat memberikan kejutan besar ini untuk Amira dan juga kedua mertua ku,” gumam Shaka dalam hati dengan perasaan bahagia.


Shaka sengaja tidak memberitahu Amira rencana besarnya ini, karena dia ingin memberi surprise untuk Amira dan mertuanya di waktu yang tepat.


Shaka menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi khusus ruangan kerjanya di rumah, ia duduk menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam.


Sembari memejamkan mata dan duduk bersantai sejenak di kursi kejayaannya, tiba-tiba ia sedikit tersentak, mata nya terbelalak saat merasakan ada seseorang yang duduk di pangkuannya.


“Sayang,” Shaka cukup di kagetkan dengan kehadiran Amira di kala dia tengah memejamkan mata.


“Kenapa sayang? Nampaknya pikiran sedang kalut, apa yang sedang mengganggu pikiran mu saat ini?” Tanya Amira dengan nada manja sembari mengalungkan lengannya ke leher sang suami.


“Tidak sayang, aku tidak memikirkan apa pun,” elak Shaka memberi alasan karena dia masih ingin memberi surprise pada istrinya itu.

__ADS_1


“Lalu?”


“Lau… lalu.. besok aku akan mengajak mu ke suatu tempat, ada kejutan besar yang akan ku berikan padamu, tapi sebelumnya kita ke rumah sakit dulu menjenguk papa,” jawab Shaka memeluk pinggang ramping Amira.


“Kejutan apa?” Tanya Amira dengan dahi Amira mengkerut.


“Nanti saja,” jawab Shaka, kemudian langsung mengangkat tubuh mungil Amira, Shaka pun menggeser beberapa buku di atas meja kerjanya dengan kedua kaki Amira yang sedang dalam gendongannya, kini buku-buku yang menghalangi tempat dimana dia akan mendudukkan Amira, sudah jatuh berserakan di lantai.


Kemudian sebuah kecupan mendarat di mata Amira, hidung mancungnya dan kedua pipinya yang lembut, terakhir berhenti di leher jenjang istrinya, menciptakan beberapa jejak di sana, membuat Amira menggeliat karena geli yang menyergap.


“Aku akan memberikan banyak Queen dan Samudra lagi untukmu,” bisik Shaka dengan mesra kemudian langsung mengecup bibir Amira dengan lembut, ********** dengan perlahan-lahan namun lama kelamaan menjadi menggebu-gebu.


“Maaa, mamaaa!” Dari luar terdengar suara tangisan keras dari Samudra.


“Samudra!” Pekik Amira, dengan bergegas wanita itu langsung memakai bajunya kembali, tak peduli dengan Shaka yang menatapnya dengan nanar.


Bisa di bayangkan betapa pusingnya Shaka, kepalang tanggung, landasan udaranya hilang bahkan sebelum pesawat mendarat.


Amira langsung berlari keluar, mengabaikan Shaka sendirian.


“Ada apa sayang? Ini mama, jangan menangis lagi ya,” Amira mendekap tubuh mungil putranya dan menepuk punggungnya dengan lembut.


“Hu hu huuu,” Samudra terus saja menangis.


“Kenapa dia?” Tanya Shaka yang sudah berada di dalam kamar kedua anaknya.


“Tidak tau, setau ku tadi dia sudah tidur, tapi sekarang tiba-tiba saja bangun dan menangis,” jawab Amira sembari terus mendekap erat putranya untuk menenangkannya.

__ADS_1


Tak lama Shaka pun duduk di samping Amira, merangkul pundaknya lalu menggenggam tangan putranya.


“Kamu kenapa nak?” Tanya Shaka setelah tangis Samudra mulai meredah.


“Tadi Samudra mimpi, Kakak di culik orang lagi dan mau di bunuh, di mimpi itu Samudra takut sekali, terus Samudra menangis ke penjahat itu supaya kakak tidak di bunuh, tapi kakak tetap saja di bunuh di depan Samudra, mereka mencekik leher kakak,” jelas Samudra sembari menangis tersedu-sedu.


“Ada apa ini?” Tanya Queen yang terbangun karena terganggu dengan suara Samudra sembari mengucek matanya.


“Sayang, itu kakak sedang tidur di samping adek, kakak tidak apa-apa, lihat lah kakak baik-baik saja,” ujar Amira sembari melonggarkan pelukannya pada putranya dan mengusap air mata Samudra.


“Kakak…” panggil Samudra lalu kemudian langsung saja memeluk Kakaknya.


Amira dan Shaka hanya saling berpandangan dan tersenyum satu sama lain, mereka tampak bangga melihat kedua anak mereka yang saling menyayangi.


Keesokan harinya…


“Genta,” panggil Anisa lalu mengayunkan kakinya berjalan ke arah Genta, dan memeluk anaknya yang masih diam terpaku.


“Akhirnya, kamu datang juga ke sini menjenguk mama sayang,” ujar Anisa setelah melonggarkan pelukannya dari Genta.


“Bagaimana keadaan papa? Apa papa baik-baik saja? Lalu bagaimana keadaan Safa? Apa Safa juga baik-baik saja?” Anisa memberikan pertanyaan yang beruntun pada putranya yang masih diam tak bergeming.


“Mama pikir, setelah mama hampir membunuhnya dengan kejam dia akan baik-baik saja? Mungkin tubuhnya sudah membaik sekarang tapi trauma dalam hatinya untuk mama masih membekas,” jawab Genta setelah berdiam diri sejenak.


“Bukan hanya pada Safa, ternyata mama juga sudah menciptakan trauma dalam diri cucu mama sendiri,” lanjut Genta kemudiian.


Anisa pun terdiam seribu bahasa, raut penyesalan di wajahnya semakin nampak, bagaimana tidak, ternyata hukuman penjara juga berhasil membuat ia jerah benar-benar jerah sejerah jerahnya, bahkan dia berjanji dalam hatinya, bahwa dia tidak akan berbuat jahat lagi dan merubah semua sikap egois yang ada dalam dirinya, namun nyatanya semua itu belum di ketahui Genta dan juga yang lainnya, karena dia belum mengutarakan penyesalan terdalam yang kini menyeruak ke dalam relung hatinya.

__ADS_1


“Ma..maafkan mama nak,” hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Anisa saat ini.


“Maaf? Mama pikir kata maaf mama bisa membuat Genta percaya begitu saja? Dulu juga mama sering mengutarakan kata maaf itu padaku, tapi nyatanya apa? Mama masih terus melakukan itu lagi dan lagi, jadi jangan harap kalau aku akan semudah itu memaafkan mama, apa lagi setelah aku tau mama sudah berani mencelakai istriku dan juga hampir mencelakai anakku, aku tidak akan memaafkan mama begitu saja, tinggal lah di sini lebih lama lagi, agar mama jerah dan tidak akan berbuat nekat lagi,” ujar Genta dengan tenang, lalu pergi begitu saja dari hadapan mamanya.


__ADS_2