Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 128 Pengorbanan Besar


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Queen menangis meronta-ronta ingin bertemu Amira, melihat itu Yura dan juga Reza sudah sangat kewalahan mengatasi Queen, mereka sudah tidak tau lagi harus bagaimana, sampai akhirnya, Queen mulai tenang saat Kevin dan Salsa datang dan membujuknya lalu membawa dia jalan-jalan ke tempat wahana permainan anak-anak.


4 tahun kemudian…


Yura masih belum memberikan Queen pada Amira, tapi Amira masih bisa sering bertemu Queen di luar rumah karena Reza diam-diam sering membawa Queen bertemu dengan Amira, sudah 4 tahun berjalan Amira menunggu waktu untuk bisa bersama Queen, namun masih juga sulit karena Yura tidak mau merelakan Queen bersama Amira, sampai saat ini, Yura juga tidak kunjung hamil, itu menjadi salah satu alasan kuat untuknya, dia tidak ingin jauh dari Queen karena dia tidak mempunyai anak dan Queen sudah bersamanya selama 5 tahun lamanya.


Seperti saat ini, Queen sangat ingin bertemu Amira, namun karena hari ini waktu Yura senggang, jadi Reza tidak bisa membawa Queen diam-diam bertemu Amira.


“Queen mau ketemu mama Amira!” Pekik balita kecil itu memohon pada Yura.


“Tidak nak, ini mama kamu, kenapa harus bertemu orang lain,” jawab Yura tak kalah keras kepalanya, ia tidak mau Queen sampai bertemu Amira, karena dia takut Amira akan mengambil Queen.


“Hiks hiks hiks mama jahat, Queen benci mama,” cetus Queen kemudian berlari menghampiri pengasuhnya, ia meminta pengasuhnya untuk menemani dia di kamar.


“Queen, maafkan mama sayang,” ucap Yura sedikit menyesal, namun dia harus tegas.


Reza yang melihat itu di buat bingung, dia sangat mengerti perasaan Yura, tapi dia juga tidak tega memisahkan Queen dengan ibunya.


Yura sudah sangat gelisah, dia tidak ingin berpisah dengan Queen, Reza menatap Yura, seakan tau kegelisahan yang menyelimuti hati istrinya itu, Reza pun menghampiri Yura dan duduk setengah bersimpuh di hadapan Yura yang mulai meneteskan air matanya, Reza menggenggam kedua tangan Yura dan mengusap air mata yang jatuh ke pipinya.


“Aku sangat takut kehilangan Queen,” ucap Yura dengan suara bergetar.


“Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana jadinya aku kalau tidak ada Queen di sampingku, aku tidak tau sampai kapan aku begini, sudah 4 tahun kami menikah, tapi aku juga belum bisa memberikan kamu anak, aku sangat kecewa dengan keadaan ini,” lanjutnya.


“Hei hei ssstt,” Reza meletakkan jari telunjuknya di bibir Yura.


“Kamu jangan bicara seperti itu, apa selama 4 tahun ini aku menuntut anak padamu? Apa aku berubah selama 4 tahun ini?” Tanya Reza menatap lekat istrinya.


Yura menggeleng pelan, ia semakin menangis dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Reza, Reza pun merengkuh tubuh istrinya dan mengusap lembut ujung kepalanya.


“Sayang, aku tidak pernah menuntut kamu untuk segera memberikan aku keturunan, kamu cukup setia dan mencintai aku setulus hati, itu saja, selebihnya biar Tuhan yang mengatur, kita hanya belum di berikan keturunan bukan tidak akan di berikan, berbaik sangka saja pada Tuhan sayang, aku sangat mencintaimu,” perkataan Reza seketika membuat hati Yura terenyuh.


Dua pasangan suami istri itu belum juga di karuniai anak, untung saja Reza adalah suami yang pengertian, dia tidak menuntut lebih pada istrinya itu, sedangkan Yura, ia tetap saja gelisah karena sangat ingin memiliki anak dari rahimnya sendiri, walau pun tak menutup kemungkinan kalau dia begitu menyayangi Queen, karena anak itulah yang menemani hari-harinya menghadapi kenyataan pahit kalau sampai saat ini dia masih menjadi pejuang garis dua.


Keesokan harinya…


Malam sudah semakin larut, Amira dan Shaka sedang berada dalam perjalanan karena baru pulang dari sebuah acara.


Namun di tengah perjalanan, Shaka sontak menghentikan mobilnya, melihat segerombolan preman yang sedang menghadang mobil seorang wanita, preman-preman itu ingin memalak sekaligus berniat menggoda wanita yang ada dalam mobil tersebut.


“Sayang kenapa berhenti?” Tanya Amira dengan dahi mengkerut.


“Lihat itu sayang, ada preman-preman yang menghadang mobil seseorang, dan sepertinya yang di dalam mobil itu seorang wanita,” jawab Shaka yang tidak mengalihkan pandangannya dari preman-preman itu.


“Shaka, bukan kah itu mobil Yura?” Tanya Amira setelah mengalihkan pandangannya ke arah mobil itu.


“Iya benar, itu mobil Yura,”


“Ya sudah cepat selamatkan dia Shaka,” pintah Amira kemudian.


“Untung banyak kita bos, dapat uangnya dapat juga orangnya, kapan lagi dapat wanita cantik seperti ini,” celetuk salah satu preman dengan senyum menyeringai.

__ADS_1


“Tolong, jangan apa-apa kan aku, kalian boleh mengambil semua isi tas ku, tapi jangan macam-macam padaku,” mohon Yura dengan wajah memelas, ia sudah sangat takut.


Namun preman-preman itu tak menggubrisnya, setelah mereka mengambil barang-barang Yura, dengan kasarnya mereka langsung memeluk dan hendak mencium Yura yang sedang meronta-ronta dan berteriak minta tolong.


Namun baru saja mereka mau melaksanakan aksinya, tiba-tiba dari belakang mereka mendapatkan tendangan keras dari seseorang, sehingga badan mereka terhuyung dan sontak pelukan mereka pada Yura terlepas.


“Enyah kalian dari sini!” Bentak Shaka kemudian.


“Sial! Siapa kamu? Berani sekali mengganggu kami,” bentak salah satu bos preman itu dengan suara garangnya.


Shaka pun tak menggubris pertanyaan mereka, Shaka kembali menendang perut salah satu preman itu, ia menghajar preman-preman itu hingga babak belur, kini beberapa preman itu sudah terkapar di tanah, namun di saat dia sedang bertengkar dengan preman yang satunya, salah satu preman yang sudah terkapar bangun kembali dan merogoh pistol yang ada di jaketnya hendak menembak Yura yang saat itu sedang berdiri di samping mobilnya, Amira yang melihat itu seketika di buat panik dan tanpa pikir panjang, ia langsung berlari ke arah Yura dan memeluknya, melindungi Yura dari tembakan preman itu, namun sayang, peluru itu melesat di punggung Amira.


Yura membulatkan matanya kaget, suara jantungnya bergumuruh, dia tidak menyangka Amira menyelamatkannya.


Sedangkan Shaka yang mendengar suara tembakan itu sontak berbalik menghadap ke sumber suara, betapa terkejutnya Shaka melihat Amira sudah berlumuran darah.


“Amira!!” Teriak Shaka histeris.


Ia pun kembali menatap preman yang menembak istrinya itu dengan tatapan membunuh, ia berlari dan langsung saja menendang lengan preman itu hingga pistolnya terpental cukup jauh, dengan sigap Shaka mengambil pistol itu dan membalas tembakan preman itu, hingga preman itu terkapar di tanah dengan sudah berlumuran darah, sedangkan preman yang satunya sudah tidak berani lagi menghadapi Shaka, dia membangunkan teman-temannya yang sudah terkulai lemas, dan memapah temannya yang sudah di tembak Shaka tadi lalu berlari dengan sangat ketakutan.


Shaka menghampiri Amira dengan mata yang sudah berkaca-kaca, dia bersimpuh di depan Yura yang sedang memeluk istrinya yang sudah terkulai lemas.


“Sayang bertahan lah, aku akan segera membawa mu ke rumah sakit,” ucap Shaka mengambil Amira dari pelukan Yura.


“Amira aku mohon bertahan lah, Shaka ayo cepat bawah dia ke rumah sakit,” ucap Yura dengan rasa bersalah yang teramat dalam, matanya sudah sangat sembab karena menangisi Amira.


Dengan sigap Shaka langsung menggendong tubuh Amira dan membawah ia masuk ke mobilnya, Amira berada di kursi belakang bersama Yura yang sudah memeluknya.


Dengan kecepatan tinggi Shaka melajukan mobilnya menuju rumah sakit, buliran bening jatuh membasahi pipinya, ia tidak sanggup melihat Amira seperti itu, dia begitu takut dan khawatir.


Dengan raut wajah khawatir, Shaka berjalan mondar mandir di depan ruang penanganan itu, sesekali dia mengusap kasar wajahnya dengan telapak tangan, tak lama ia duduk di lantai dan bersandar di dinding, tatapannya kosong namun air matanya terus mengalir membasahi pipinya, sedangkan Yura duduk di kursi tunggu yang di sediakan khusus di depan ruangan itu, dia juga nampak khawatir dengan rasa bersalah yang menyeruak ke dalam relung hatinya.


Tak lama Reza muncul bersama dengan Queen, sebelumnya Yura sudah mengabari Reza kalau Amira tertembak, ia belum menceritakan kronologinya secara lengkap, ia juga berpesan agar Reza membawa Queen.


“Shaka bagaiamana keadaan Amira?” Tanya Reza yang langsung menghampiri Shaka yang tampak frustasi.


“Papa, mama kenapa?” Queen ikut bertanya pada Shaka.


Shaka mengalihkan pandangannya menatap Queen, dan mengusap ujung kepalanya.


“Kita tunggu kabar dari dokter ya, mama sedang sakit tapi Queen jangan khawatir, papa jamin, mama pasti akan baik-baik saja,” jawab Shaka mencoba menguatkan balita itu.


“Sayang, kenapa Amira bisa sampai tertembak?” Tanya Reza setelah duduk di samping istrinya.


“Saat pulang dari butik, mobilku di hadang oleh beberapa preman, mereka mau memalak dan memperkosa aku, mereka memaksa aku untuk turun dari mobil, namun pada saat mereka mau melakukan hal kurang ajar padaku, untung saja Shaka datang dan menyelamatkan aku, dia menghajar preman-preman itu, dan hal tak terduga terjadi, salah satu preman menodongkan pistol ke arahku, pada saat ia mau melesatkan pelurunya, tiba-tiba Amira datang melindungiku dari tembakan preman itu, namun nahas peluru itu malah mengenai punggungnya, Amira tertembak dan tak sadarkan diri,” papar Yura dengan air mata yang terus membasahi pipinya.


Reza menghapus air mata Yura dan merengkuh tubuhnya.


“Sayang maafkan aku karena lalai menjaga mu, aku tidak menyangka jika hal buruk menimpahmu,” Reza mengalihkan pandangannya pada Shaka, ia melepaskan pelukannya pada Yura dan menghampiri Shaka.


“Shaka, terima kasih sudah menyelamatkan Yura, tapi maaf, aku tidak menyangka bila nahas menimpah istrimu, aku sangat merasa bersalah, karena kelalaian ku menjaga Yura, hingga Amira lah yang kena imbasnya,” ucap Reza dengan tertunduk.

__ADS_1


“Ini semua kecelakaan, ini juga bukan salah mu, ini salah preman-preman bajingan itu, aku sudah mengamankan mereka, aku tidak membiarkan mereka lolos begitu saja, pada saat mereka melarikan diri dariku, aku sudah menghubungi polisi dan menangkap mereka,”


“Bagus lah kalau begitu Ka,”


Tiba-tiba pintu ruang penanganan terbuka, dokter keluar dengan raut wajah yang tenang.


Shaka segera berdiri dan menghampiri sang dokter.


“Dok, bagaimana keadaan istri saya?” Tanya Shaka antusias.


“Nona muda belum sadarkan diri, untung tuan cepat membawa nona ke sini, tidak ada yang serius dari luka tembak itu, kami sudah melakukan penanganan awal, beberapa menit lagi nona muda pasti akan sadarkan diri,” jelas dokter itu dengan tenang.


Mendengar itu, Shaka meminta izin dokter dan masuk ke dalam ruangan itu melihat keadaan istrinya, begitu juga dengan Yura dan Reza serta Queen, mereka ikut menyusul Shaka masuk ke ruangan itu.


Shaka duduk di samping tempat tidur Amira, dan menggenggam tangan istrinya itu, Amira belum sadarkan diri, melihat keadaan Amira seperti itu membuat hati Yura tergugah, tampak raut penyesalan dari wajahnya, Amira sudah begitu baik mau menyelamatkan dia, bahkan sampai rela mengorbankan nyawanya untuk Yura.


“Mama, apa mama Amira akan bangun kembali?” Tanya Queen dengan polosnya.


Yura mengalihkan pandangannya dan mensejajarkan tubuhnya dengan balita mungil itu.


“Iya sayang, mama Amira pasti akan bangun lagi dan bermain-main dengan Queen,” jawab Yura sembari memegang kedua lengan putri angkatnya itu.


“Benarkah?”


Yura mengangguk, tak lama Queen pun mendekati Shaka, ia meminta Shaka untuk menggendongnya ingin mencium Amira, karena tubuhnya yang mungil tidak dapat meraih wajah Amira di karenakan tempat tidur Amira yang terlalu tinggi untuk balita mungil seperti dia.


Shaka meraih tubuh Queen dan menggendongnya, ia mendekatkan Queen ke wajah Amira, lalu Queen mencium pipi mamanya.


“Mama ayo bangun, Queen sayang mama, jangan lama-lama menutup mata mama seperti ini, Queen takut mama tidak bisa membuka mata lagi seperti teman papa Reza, dan di simpan di dalam tanah,” bisik anak menggemaskan itu, ia pernah di bawah oleh Reza dan Yura ke pemakaman kerabat Reza tempo hari, dia melihat jasad yang terbujur kaku dan prosesi pemakaman itu hingga selesai, sehingga ia takut jika orang-orang yang ia sayang, menutup mata lama-lama.


Semua yang mendengar bisikan gadis kecil itu, tersenyum, mereka sedikit terhibur dengan tingkah lucu Queen.


Menit berikutnya, Amira mulai menggerakkan jari-jarinya, Queen yang melihat itu sontak bersorak.


“Papa Shaka, jari mama Amira bergerak,” ucap bocah 5 tahun itu.


Melihat itu, Shaka dan semua dalam ruangan itu tersenyum, wajah yang tadinya tegang bercampur sedih, kini berubah menjadi berseri-seri.


“Yura cepat panggil dokter,” pintah Shaka pada Yura yang langsung di angguki oleh Yura.


Tak lama dokter datang memeriksa Amira, dokter melepaskan stetoskop dari telinganya dan mengalihkan pandangannya menatap Shaka.


“Tuan, nona muda sudah sadarkan diri,” ucap dokter itu dengan tersenyum.


“Alhamdulilah,” semuanya mengucap syukur.


“Sayang, syukur lah kamu sudah sadar, aku sangat takut jika terjadi apa-apa padamu,” ucap Shaka menggenggam tangan Amira sembari mengecup keningnya dengan lembut.


Amira masih saja diam, namun air matanya mengalir terlihat dari ujung matanya.


Amira menatap Queen yang sedang berdiri di samping Shaka, ia mengulurukan tangannya ke arah Queen yang sedang tersenyum sumringah ke arahnya, namun begitu ia melihat Yura, ia sontak menurunkan kembali tangannya.

__ADS_1


Yura berinisiatif menggendong Queen dan mendekatkan Queen padanya.


“Amira, mulai hari ini, Queen akan ku kembalikan padamu, kau berhak merawatnya dan tinggal bersamanya, karena dia adalah anak kandungmu, maafkan aku Amira, selama ini aku terlalu egois dengan tidak mengizinkan kamu bertemu Queen, terima kasih kau sudah menyelamatkan nyawa ku, aku sangat berhutang budi padamu,” ucap Yura di tengah-tengah tangisnya.


__ADS_2