
Kini Shaka, Amira dan Salsa sedang berada di dalam mobil. Di dalam mobil mereka bertiga hanya diam dengan pikiran mereka masing-masing.
"Emmm Shaka.. apakah tidak berlebihan kalau kamu sampai membatalkan perjanjian kerja sama dengan perusahaan pak Dewa?" Tanya Amira mulai membuka suara.
"Ku rasa tidak, mereka harus di beri pelajaran seperti itu agar mereka bisa merasakan efek jerah dari apa yang selama ini mereka lakukan padamu." Jawab Shaka yang sedang fokus menyetir.
"Tapi Shaka.."
"Sayang cukup ya. Kamu jangan banyak membantah turuti saja apa kata ku." Tegas Shaka pada Amira.
"Mir, kamu dengerin aja apa kata suami kamu, semua yang dia lakukan itu untuk kebaikan kamu juga. Apa yang dilakukan Kak Shaka memang sudah tindakan yang tepat, biar mereka nggak memandang kamu sebelah mata lagi." Salsa mencoba menasehati Amira.
Mendengar itu, Amira hanya diam saja. Tak lama ponsel Shaka berdering tanda panggilan masuk. Shaka meraih ponsel dari saku jasnya, dan melihat nama Kevin tertera di sana.
"Ada apa?" Tanya Shaka setelah menjawab telepon.
"Ka, jam 01.00 kita ada meeting bersama pak Raka dan jam 03.00 ada meeting bersama pak Dewa Atmadja. Bisa kah kau datang sekarang? Untuk mempersiapkan semuanya."
(Dewa Atmadja ayah Genta)
"Meeting jam 03.00 kita batalkan saja. Kita hanya perlu mempersiapkan meeting untuk jam 01.00 ini." Jawab Shaka kemudian.
"Tapi kenapa di batalkan?" Tanya Kevin terdengar bingung.
"Ikuti saja perintahku tidak usah banyak bertanya." Ketus Shaka kemudian langsung mematikan panggilan telepon.
"Sayang, aku antar kamu dan Salsa pulang terus aku balik lagi ke kantor ya."
"Iya." Jawab Amira.
Tak lama Shaka pun melajukan mobilnya mengantarkan Salsa terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Salsa, setelah berpamitan dengan Salsa, Shaka pun kembali melajukan mobilnya untuk mengantar Amira pulang ke rumah.
"Apa kau sudah makan?" Tanya Amira kemudian.
"Belum, nanti aku makan di kantor selesai meeting." Jawab Shaka sembari meraih tangan Amira dan menggenggamannya.
"Tapi kamu sibuk nanti kamu lupa makan lagi. Tadi pagi aku sudah mempersiapkan bekal makan siang kamu, tapi aku lupa memberikannya padamu." Ucap Amira mengerucutkan bibirnya.
"Tidak apa-apa nanti suru pak Ardi saja yang mengantarkannya di kantor." Jawab Shaka mengecup tangan Amira.
Mobil pun sampai di loby rumah Shaka, Amira segera turun dari mobil dan berdiri di samping mobil melihat kepergian Shaka.
"Aku pergi ya." Ucap Shaka berpamitan.
"Hati-hati." Jawab Amira lalu kemudian Shaka melajukan mobilnya.
Setelah mobil sudah jauh dan tak terlihat lagi, Amira melangkah masuk ke dalam rumah dan kembali mengambil kotak bekal yang dia persiapkan tadi. Dia berinisiatif untuk mengantarkan kotak bekal itu sendiri ke kantor Shaka.
Kantor utama Buwana Group..
Setelah selesai memarkirkan mobilnya di bassement, Shaka turun dari mobil dan berjalan menuju kantornya. Shaka menaiki lift khusus direktur menuju ruangannya. Setelah sampai di lantai ruangannya, Shaka keluar dari lift tersebut dan melangkah masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
Ceklek..
Shaka membuka pintu dan sontak terkejut mendapati Yura sudah berada di dalam ruangannya.
"Surprise." Ucap Yura sumringah.
"Yura, kamu kenapa ada di sini?" Tanya Shaka tampak bingung.
"Kenapa? Apa tidak boleh?" Tanya Yura mulai tampak sedikit lesu.
"Ah tidak maksud ku kenapa tidak mengabariku dulu?" Ucap Shaka berjalan mendekati Yura.
"Biar jadi surprise. Kamu juga tidak pernah mengangkat telepon dariku, jadi bagaimana aku bisa mengabarimu. Bahkan sampai aku sembuh pun kamu tidak pernah lagi ke rumah untuk menjengukku." Jawab Yura tampak semakin lesu kemudian mendudukkan dirinya di kursi dalam ruangan Shaka.
"Aku sibuk, kamu lihat sendiri kan sekarang aku akan mempersiapkan dokumen untuk aku bawa dalam meeting siang ini." Jawab Shaka kemudian duduk di kursi kebesarannya.
"Yah sudah aku mengerti. Aku membawakanmu makanan untuk makan siang." Ucap Yura sembari membuka kotak bekal yang dia bawa.
"Tidak usah repot-repot, pak Ardi akan ke sini membawakan bekal makan siang untukku." Jawab Shaka mengingat bekal makan siang yang sudah di persiapkan Amira untuknya.
"Aku sudah jauh-jauh datang ke sini untuk membawakan mu makan siang tapi kamu sama sekali tidak mau memakannya." Keluh Yura sembari mengerucutkan bibirnya.
Shaka yang melihat itu jadi tidak enak, sehingga dia memutuskan untuk mengambil kotak bekal yang di bawakan Yura lalu kemudian memakannya. Namun ketika dia hendak mengambilnya tiba-tiba Yura mencegahnya.
"Biar aku suapi ya." Ucap Yura mengambil kembali kotak bekal yang ada di tangan Shaka.
"Tidak usah aku bisa makan sendiri." Jawab Shaka mencoba kembali meraih kotak bekal itu dari tangan Yura.
Saat sedang menyuapi Shaka tiba-tiba pintu ruangan Shaka terbuka. Shaka sontak membulatkan matanya terkejut melihat siapa yang datang. Shaka segera menepis tangan Yura yang hendak menyuapinya lagi. Yura mengerutkan dahinya tampak bingung dengan tingkah Shaka dan menoleh ke arah pintu.
"Amira?" Yura tampak bingung, Yura bertanya-tanya dalam hati kenapa Amira bisa berada di kantor Shaka.
Amira pun sama terkejutnya melihat Yura. Dia merasa cemburu melihat Yura menyuapi suaminya, namun dia mencoba menutupinya. Dia tidak ingin Yura tau dulu karena Yura baru saja sembuh dari sakitnya, dia hanya tidak mau terjadi apa-apa dengan Yura.
Shaka berdiri dari duduknya ketika melihat Amira yang sedang berdiri di dekat pintu.
"Maaf aku mengganggu ya?" Ucap Amira mulai melangkah mendekati mereka berdua.
"Kamu juga kerja di kantor Shaka ya? Lalu untuk siapa kotak bekal itu?" Tanya Yura melihat tangan Amira yang membawa kotak bekal juga.
"Yura, mungkin sudah saatnya kamu tau sekarang. Jadi sebenarnya Amira ini adalah.."
"Sepupu Shaka." Jawab Amira memotong ucapan Shaka.
Mendengar itu Shaka menatap tajam ke arah Amira. Kenapa dia tidak mau mengakui hubungan mereka yang sebenarnya di depan Yura. Padahal Shaka ingin menyudahi kesalah pahaman ini, namun Amira sendiri yang menggagalkannya.
"Oh ya? Aku baru tau kalau Shaka punya sepupu, kenapa kamu tidak memberitahuku dari dulu? Pantas saja saat pertama bertemu kalian terlihat seperti sudah lama kenal." Ucap Yura yang tampak legah.
Shaka menarik tangan Amira, dan membawanya keluar dari ruangan itu.
"Shaka kenapa kamu terus menarikku seperti ini?" Tanya Amira sembari berjalan cepat mengikuti langkah Shaka yang sedang menarik tangannya. Kini sampailah mereka di luar ruangan yang sedikit jauh dari ruangan Shaka.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kamu tidak mengakuinya saja hah? Aku ingin menyudahi kesalah pahaman Yura. Kenapa kamu malah menghalangiku?" Tanya Shaka tampak sedikit emosi.
"Shaka, aku hanya berusaha untuk menjaga perasaannya. Aku tidak tega kalau sampai melihat dia kembali sakit karena kamu. Ini bukan saat yang tepat Shaka, kamu harus mengerti itu." Jelas Amira mencoba meyakinkan Shaka.
"Lalu, kalau tidak sekarang kapan lagi sayang? Aku hanya mau hidup tenang dengan kamu tanpa ada yang mengganggu." Ucap Shaka sembari memegang kedua pundak Amira.
"Shaka Buwana, lihat, dia baru saja sembuh, aku tidak mau kalau sampai dia syok dan jatuh sakit lagi seperti waktu itu. Kita akan tetap jujur padanya tapi jangan sekarang."
Shaka pun terdiam dan mendengus kesal dengan keputusan Amira, dia membuang nafas kasar dan mengalihkan pandangannya dari Amira.
"Shaka ayolah apa kamu tidak kasihan dengan dia? Kita tunggu sebentar saja. Ya?" Bujuk Amira memegang lengan Shaka.
Shaka hanya mengangguk lalu kemudian berjalan masuk kembali ke ruangannya mendahului Amira. Shaka membuka pintu ruangannya dan mendapati Yura yang sedang duduk menungguinya dengan raut wajah yang tampak bingung dengan sikap Shaka dan Amira.
"Kenapa lama sekali? Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Yura kepada Shaka dan Amira.
"Tidak, kami hanya membicarakan masalah keluarga kami." Jawab Amira memberikan alasan.
"Lalu kotak bekal itu?" Tanya Yura melihat Amira yang masih memegang kotak bekal di tangannya.
"Oh ini, jadi nenek Emely menyuruhku untuk mengantarkan bekal makan siang ini untuk Shaka." Jawab Amira meletakkan kotak bekal yang di bawanya ke atas meja Shaka.
"Oh iya sudah lama rasanya aku tidak bertemu nenek Emely. Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Yura pada Amira.
"Nenek sedang kurang sehat dia perlu istirahat." Jawab Shaka cepat.
"Jadi kapan kamu membawaku bertemu nenek lagi?" Tanya Yura yang kini mendekati Shaka sembari menggoyang-goyangkan lengan Shaka dengan manjanya.
Amira yang melihat itu memalingkan wajahnya karena cemburu. Namun lagi-lagi dia berusaha untuk menutupinya.
"Nanti saja." Jawab Shaka singkat.
"Oh iya, aku ke sini mau mengajak kalian ke puncak minggu ini. Amira, kamu juga bisa ajak Reza, biar kita sekalian dobble date di sana." Ucap Yura.
"Tidak!! Aku tidak akan pergi." Shaka langsung menjawab.
"Tapi kenapa?" Yura tampak bingung.
"Aku ikut kok. Shaka ayo ikut saja. Kamu kan banyak bekerja akhir-akhir ini jadi kamu perlu refreshing. Bagaimana? Ikut ya?" Bujuk Amira.
"Kenapa harus dengan Reza? Tidak bisa kah kita pergi bertiga saja?" Ketus Shaka tampak tidak suka.
"Ka? Kamu dan Reza tidak bertengkar kan?" Tanya Yura sembari mengangkat kedua alisnya.
"Tidak mereka tidak bertengkar, Shaka hanya tidak suka adik sepupunya di dekati sahabatnya. Shaka tipe kakak yang posesif dia tidak mengijinkan aku untuk pacaran dulu sebelum kuliah aku selesai." Jelas Amira mencoba meyakinkan Yura lagi.
"Oh begitu?"
"Shaka, kamu jangan seperti itu dong, Amira kan sudah dewasa kamu harus memberikan dia kebebasan layaknya anak-anak remaja pada umumnya." Ucap Yura sembari mengusap pundak Shaka.
"Terserah kalian saja! Aku mau meeting dulu." Shaka kemudian pergi meninggalkan Yura dan Amira begitu saja.
__ADS_1
Shaka tampak kesal dengan Amira yang terlalu memikirkan perasaan orang lain di banding perasaannya sendiri. Di tambah lagi Amira malah menyetujui permintaan Yura untuk mengajak Reza pergi sebagai pasangan Amira. Bagaimana pun, Shaka sangat cemburu dengan Reza, dia tidak rela melihat Amira bersama dengan Reza selama di puncak nanti.