Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 82 Fitnah!


__ADS_3

Kini hari beranjak petang, Shaka sudah kembali berada di rumah tepatnya di taman belakang rumah, ia tengah memikirkan banyak hal yang menimpah keluarga nya saat ini.


Tak lama Kevin pun terlihat mendatangi Shaka dengan wajah serius langsung menghampiri Shaka di taman belakang rumah.


“Bagaimana?” Tanya Shaka saat melihat keberadaan Kevin di rumah nya.


“Ka, orang-orangku sudah melacak plat nomor itu, dan mobil hitam itu beratas namakan Marsel Frederick, apa kau mengenalnya?” Tanya Kevin.


“Marsel Frederick?” Tanya Shaka dengan raut wajah bingung.


“Tidak, aku tidak mengenalnya,” tambahnya lagi.


“Orang-orangku juga sudah meretas banyak cctv yang ada di berbagai sumber untuk melacak keberadaan orang itu sekarang, mereka akan menemukan orang tersebut dalam waktu kurang dari 24 jam,” jelas Kevin lagi.


“Baiklah,” jawab Shaka datar.


Setelah memberikan informasi tersebut, Kevin pun beranjak untuk kembali ke kantor karena masih banyak pekerjaan yang Shaka perintahkan untuk segera ia selesaikan.


Kini waktu menunjukan pukul 19.00 malam, Shaka tengah duduk bersama Amira di sofa kamar mereka.


“Shaka, tiba-tiba saja aku teringat dengan anakku Nindy,” ucap Amira dengan tatapan sendu.


“Sayang, apa kau ingin punya anak lagi,” Shaka balik bertanya.


“Aku belum siap sayang, lagi pula aku masih ingin melanjutkan study ku yang sempat tertunda, aku hanya merindukan Nindy, itu saja,”


Mendengar itu Shaka jadi teringat kalau dia belum memenuhi salah satu keinginan besar Amira selama ini, ia pun berniat untuk mengabulkan keinginan Amira itu.


Namun tak lama ponsel Shaka berdering, panggilan dari Kevin.


“Halo,” jawab Shaka kemudian.


“Ka, mereka sudah menemukannya!” Ucap Kevin.


“Apa?! Kau yakin?” Tanya Shaka yang langsung bangkit dari duduk nya.


“Iya,” jawab Kevin dengan penuh keyakinan.


“Baiklah kita pergi sekarang” Shaka pun langsung mengakhiri panggilan teleponnya dan beralih menatap Amira yang masih berada di sampingnya.


“Ada apa?” Tanya Amira tampak bingung.


“Nanti aku jelaskan ya, sekarang yang terpenting kau istirahat lah dulu, jangan terlalu banyak berpikir, apa kamu mencintaiku?” Tanya Shaka menatap lekat ke arah Amira.


“Kenapa bertanya begitu?” Tanya Amira lirih.


“Ku mohon jawab saja,”


“Aku sangat mencitaimu,” jawab Amira.


“Apa kamu percaya padaku?” Tanya Shaka lagi.


“Tentu,”


“Sebagai suami mu kau mau kan mendengar semua ucapanku?”

__ADS_1


“Iya,” Amira pun mengangguk.


“Kalau begitu aku minta malam ini kau istirahat, kau baru saja sembuh dan harus banyak istirahat, jadi aku mohon untuk kali ini kamu tidak boleh membantahku,” ucap Shaka dengan lembut sembari menggenggam tangan Amira lalu mengecupnya.


“Tapi kamu mau ke mana? Ada hal penting apa? Kenapa buru-buru?”


“Percaya saja pada ku belum saat nya aku menjelaskan semuanya padamu, yang jelas kepergian ku bukan untuk sesuatu yang melenceng apa lagi mengkhianatimu,” papar Shaka meyakinkan Amira.


“Kamu tau kan seberapa besar cintaku padamu? Cintaku padamu melebihi seisi dunia ini, jadi aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu dan ketenangan keluarga kita,” tambah Shaka lagi yang kemudian mulai beranjak dari duduk nya.


“Aku harus pergi sekarang,” tambah Shaka lagi.


Amira pun hanya mengangguk lesu melihat tingkah Shaka yang begitu buru-buru.


“Aku janji akan kembali secepatnya,” Shaka tersenyum tipis sembari mengecup ujung kepala Amira dan langsung beranjak pergi.


Shaka berjalan cepat menuju teras rumahnya, Kevin ternyata sudah menunggunya di mobil untuk pergi bersama.


“Di mana orang itu sekarang?” Tanya Shaka dengan tatapan dingin saat baru saja masuk ke dalam mobilnya.


“Ia sedang di sekap di markas,” jawab Kevin lalu langsung melajukan mobil.


Mobil pun melesat dengan cepat menuju markas yang dimaksud, dalam benak Shaka dia sudah tak sabar ingin menghajar dan mengintrogasi orang itu agar segera bisa menemukan dalangnya.


Shaka dan Kevin akhirnya tiba, dengan langkah cepat Shaka langsung berjalan memasuki markas.


“Dimana dia?” Tanya Shaka pada salah satu orang suruhannya yang saat itu tengah duduk bersantai bersama rekannya.


“Dia ada di dalam tua muda,” jawab mereka yang langsung berdiri sembari membungkukkan badan.


“Kerja bagus,” puji Kevin sembari menepuk pundak salah satu orang suruhannya.


Shaka sedang berdiri tegak di dalam salah satu ruangan tertutup, ia berdiri menghadap seseorang yang saat itu wajah nya ditutupi kain hitam, dia duduk di sebuah kursi dengan tangan dan kaki nya yang sudah terikat.


“Buka!” Tegas Shaka kepada orang suruhan yang sedang berjaga di ruangan itu.


Dengan sigap, kain hitam yang menutupi kepala sang penjahat itu pun langsung di buka, kini wajah lelaki itu begitu jelas terlihat, ia memiliki usia yang nampaknya tak jauh beda dari Shaka dan Kevin, masih sangat muda.


Wajah nya pun cukup rupawan, dengan memiliki kulit sawo matang di tambah alis matanya yang begitu tebal menambah nilai plus bagi wajah nya, orang itu kini tak sadarkan diri.


“Ternyata ini orangnya,” Shaka tersenyum sinis, wajah dingin Shaka yang dulu sering ia tampilkan, kini telah kembali terpancar di wajahnya.


“Kalian boleh keluar, biar aku dan Kevin yang berada di dalam sini,” tegas Shaka pada kedua orang suruhan mereka sembari tangannya mukai bersedekap di dadanya.


Kedua orang suruhannya pun langsung keluar, menyisakan Shaka, Kevin dan sang penjahat di ruangan itu.


“Bangunkan dia!” Tegas Shaka pada Kevin.


Kevin pun langsung mengambil sebuah wadah berisi air, lalu dengan kuat menyiramkannya pada wajah sang penjahat, mendapat guyuran air seperti itu membuat sang penjahat tersentak dan gelabakan, mata nya pun langsung membulat sempurna saat melihat seorang Shaka Buwana kini berada di depannya.


“Shaka Buwana,” ucapnya pelan.


“Beraninya kau menyebut namaku seperti itu!” Ucap Shaka dan langsung memberikan tinjuan pertama pada pipi kanannya.


“Sekarang katakan, apa kau yang bernama Marsel Frederick?” Tanya Shaka yang mulai kembali tenang.

__ADS_1


“Apa pentingnya namaku untukmu ha?” Tanya orang tersebut seakan mencoba menantang.


Namun Kevin dengan sigap memeriksa kantong nya, lalu menemuka dompet dan langsung menggeledah isi dompetnya.


“Iya Ka, dia bernama Marsel Frederick sang pemilik mobil hitam yang sudah menabrak istrimu,” ujar Kevin sembari memandangi kartu identitasnya.


“Namun menurut informasi dari orang-orangku, untuk menghilangkan jejak, dia sudah menenggelamkan mobil tersebut di danau,” jelas Kevin lagi.


“Cara yang bodoh,” celetuk Shaka sembari tersenyum sinis.


“Sekarang katakan, siapa orang yang berani-beraninya menyuruhmu mencelakai istriku ha?” Tanya Shaka sembari mencengkram kuat rahang Marsel.


“Tidak ada yang menyuruhku, aku melakukannya atas dasar kemauanku sendiri,” jawab Marsel yang ikut menatap tajam ke arah Shaka.


“Penipu!” Sebuah pukulan keras kembali mengenai pipi Marsel hingga darah pun muncrat dari mulut nya.


“Brengsek! Katakan siapa yang menyuruhmu!” Teriak Shaka dan kembali mencengkram kerah kemeja Marsel.


Hahahahaha, cuih,” Marsel tertawa dan meludah kan darah yang ada di mulutnya ke lantai.


“Apa kau tuli? Sudah ku katakan aku melakukan semuanya sendiri Shaka Buwana!” Tambah Marsel lagi sembari tersenyum.


Melihat ekspresi wajah Marsel, sontak membuat emosi Shaka semakin membara, ia kembali memukuli Marsel dengan sekuat tenaga, hingga membuat wanah Marsel babak belur dan penuh darah.


“Kau masih ingin menutupinya?” Tanya Shaka dan lagi-lagi kembali meninju pipinya.


“Mau sampai mati pun kau memukuliku, jawaban ku tetap sama,” kini Marsel nampak nya mulai kehabisan tenaga, membuat suaranya menjadi pelan hingga terbatuk-batuk.


“Jika memang begitu, lalu kenapa kau sampai mau mencelakai istriku? Apa salah nya padamu ha?” Teriak Shaka yang kini meninju hidung Marsel hingga mengeluarkan darah di kedua lubang hidungnya.


“Kau benar-benar ingin tau alasannya?” Meski sudah babak belur Marsel terlihat masih mau menantang Shaka.


“Katakan!” Bentak Shaka lagi.


“Aku melakukan itu karena aku tak terima atas perbuatan istrimu yang hanya menjadikan ku pelampiasan nafsu nya saja,” jelas Marsel sembari kembali tertawa.


“Brengsek! Beraninya kau memfitnah istriku!” Amukan Shaka kini semakin menjadi-jadi, ia langsung menendang keras perut Marsel hingga ia beserta kursi yang ia duduki jatuh ke lantai.


“Hahaha… apa kau lupa kalau istrimu pernah berpisah denganmu dalam waktu yang lama? Saat itu ia menginap di rumah Reza, mungkin saat itu istrimu merindukan belaian seorang lelaki sehingga ia melakukan hubungan terlarang denganku, saat itu aku tak bisa menolak, karena ia menggoda ku ketika aku mabuk, dan lagi pula dia juga mengaku kalau waktu itu dia belum punya suami, buaya mana yang sanggup menolak bangkai! Hahahaha,”


“Hentikan omong kosongmu bangsat!” Bentak Shaka lagi.


Tak lama Kevin pun mulai menegakkan kursi itu, hingga membuat Marsel kembali terduduk dengan keadaan yang cukup terkulai lemas.


“Aku punya bukti nya, bukti bahwa istrimu pernah chec in bersamaku di hotel,”


Mendengar itu kedua tangan Shaka mulai kembali mengepal.


“Heh kacung! Kau bisa mengambil bukti itu di saku jaketku!” Ucap Marsel sembari menatap Kevin.


“Kau ini sudah sekarat, masih saja bisa mengataiku,” Kevin ikut geram dan langsung menempeleng Kepalanya.


Kemudian Kevin pun mengambil bukti itu di saku jaket nya, Kevin mendapatkan beberapa lembar foto, Kevin pun sontak terkejut melihat foto-foto itu.


“Benarkah ini?” Tanya Kevin dengan suara pelan sembari terus memandangi lembar demi lembar foto yang di tangannya dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2