
Semua orang termasuk Dewa terperangah melihat hasil tembakannya sendiri yang ternyata tak sesuai sasaran, alhasil darah segar kini mulai keluar bercucuran dari bahu Marsel, demi menyelamatkan Amira ia bahkan rela terkena tembakan dari kakak angkat sekaligus atasannya sendiri, kini tubuh tegap Marsel mulai melosot jatuh ke lantai dan di susul oleh teriakan Amira yang kembali melengking.
“Marseeellll,” teriak Amira yang begitu histeris.
“Marseelll, tidaaakkk!” Teriak Dewa yang tak kalah melengking.
Akhirnya polisi pun dengan cepat langsung meringkus Dewa, kedua tangan Dewa di borgol dan di bawa paksa turun.
Begitu juga dengan kedua anggota mereka yang menahan Shaka, para polisi pun akhirnya berhasil meringkus mereka semua.
“Pergi lah Amira, kau ternyata seorang wanita yang baik dan lembut, tolong maafkan aku,” ucap Marsel lirih.
Amira pun terduduk di hadapan Marsel dengan masih menangis.
“Tidak Marsel, kau harus selamat,” ucap Amira.
Kemudian Marsel pun tak sadarkan diri, Amira mengguncang-guncang tubuh Marsel, namun tak ada jawaban apapun lagi.
Shaka dengan cepat berlari ke arah Amira, ia membantu Amira untuk berdiri dan langsung memeluknya begitu saja.
Beberapa polisi pun segera mengangkat Marsel, untuk segera melarikannya di rumah sakit terdekat.
Shaka memeluk Amira dengan begitu erat, saat itu Shaka pun ikut menangis sembari membelai lembut rambut Amira, Amira sama sekali tak membalas pelukan Shaka, ia hanya diam mematung dengan air mata yang masih mengalir deras.
Tak lama Kevin pun menghampiri Shaka sembari menepuk pundaknya.
“Akhirnya misi kita berhasil Ka, ayo segeralah turun,” ucap Kevin yang langsung berlari pergi.
Tak lama Shaka pun melepaskan pelukan mereka, Shaka dengan kedua tangannya mengusap air mata yang membasahi pipi Amira.
“Sudah sayang, semuanya sudah berakhir, ayo kita pulang,” Shaka pun menarik tangan Amira dan membawanya memasuki lift.
Amira masih diam seribu bahasa, tubuhnya masih nampak gemetaran atas kejadian yang baru saja ia lihat di depan matanya, dia masih memikirkan keadaan Marsel, dia masih heran, Marsel yang begitu jahat padanya, kini rela meindunginya dan rela tertembak.
__ADS_1
*Tinngg*
Lift berbunyi menandakan mereka sudah tiba di lantai dasar gedung itu, lagi-lagi Amira kembali di buat terkejut saat melihat banyak orang yang sudah tergeletak di lantai dasar gedung itu, penampakan lantai dasar itu pun nampak berantakan dan mencekam bagi Amira, meja dan kursi-kursi berhamburan, bercak-bercak darah di mana-mana, membuat Amira semakin histeris dan semakin gemetaran.
“Sudah, jangan di lihati,” Shaka pun segera merangkul Amira dan menutupi matanya.
Shaka terus menuntun Amira berjalan melewati lantai dasar dengan keadaan mata Amira yang masih tertutup, hingga akhirnya, tiba lah mereka di depan gerbang, para polisi terlihat banyak berlalu lalang di depan mereka untuk menggotong orang-orang Dewa dan Marsel yang juga terluka, beberapa di antaranya ternyata ada anggota baru yang sengaja di kirimkan oleh bos mafia yang menjadi sekutu Dewa untuk membantunya, namun kali ini mereka tak berhasil karena nasib baik lebih berpihak pada Shaka.
Begitu juga dengan Kevin dan Vicko yang nampak juga tengah sibuk memapah anggotanya yang cedera dan terluka, lalu di masukkan ke dalam mobil untuk di bawa ke rumah sakit.
“Baiklah tuan muda, kami akan membawa Marsel dan anggotanya yang lain ke rumah sakit untuk di obati, lalu setelah itu kami akan memprosesnya sesuai hukum yang berlaku,” jelas komandan polisi.
“Terima kasih pak, terima kasih sudah membantu meringkus para penjahat itu,” jawab Shaka.
Sang komandan pun mengangguk singkat lalu beranjak pergi, Amira hingga saat itu masih terdiam, Shaka pun segera memegang kedua pundak Amira, dengan tatapan yang begitu lekat ia kembali memandangi Amira.
“Sayang, kamu sungguh tidak apa-apa kan? Apa ada yang terluka?” Tanya Shaka yang kembali mengamati sekujur tubuh Amira.
“Syukurlah, aku begitu mencemaskan mu,” ucap Shaka dengan lirih.
Amira masih tak membalas pelukan Shaka, ia masih terdiam terpaku, matanya sejenak mulai terpejam, aroma mint yang begitu khas dari tubuh Shaka kini kembali menyegarkan indera penciumannya, sesungguhnya hati Amira begitu senang melihat Shaka dalam keadaan baik-baik saja, dalam hatinya pun begitu merindukan Shaka.
“Shaka Buwana, aku sangat merindukanmu,”
Namun lagi-lagi, bayang-bayang Shaka yang mengusir Amira kembali terlihat jelas saat ia menutup mata, hal itu pun membuat mata Amira sontak kembali terbuka, wajahnya berubah menjadi datar dan perlahan ia melepaskan pelukan Shaka.
“Ya sudah sayang, ayo kita pulang, nenek dan orang tuamu begitu pun dengan Queen anak angkat kesayangan mu itu sudah menunggumu, mereka begitu merindukan mu,” ucap Shaka yang langsung menarik tangan Amira untuk membawanya menuju mobil.
Amira pun langsung melepaskan tangannya dari tangan Shaka sembari menggelengkan kepalanya, hal itu sejenak membuat Shaka tercengang.
“Sayang, ada apa?” Tanya Shaka yang nampak begitu kebingungan.
“Kamu benar Shaka, semuanya memang sudah berakhir, termasuk hubungan kita yang bagiku juga sudah berakhir,” ucap Amira lirih.
__ADS_1
“Tidak sayang, jangan berkata seperti itu, tidak kamu masih istriku, dan aku masih suamimu,” Shaka meraih kedua pipi Amira untuk kembali meyakinkan Amira.
Amira kembali menggelengkan kepalanya, perlahan ia kembali melepaskan tangan Shaka dengan sebuah senyuman yang begitu lirih.
Kevin pun yang memandangi dan mendengar hal itu dari jarak yang sedikit jauh pun ikut di buat terperangah.
“Aku mohon, pulang lah Shaka tolong biarkan aku sendiri,” Amira pun langsung berbalik badan membelakangi Shaka dan melangkah menjauh.
“Tidak Amira, aku mohon jangan, kamu tidak tau betapa tersiksanya aku tanpa kamu,” Shaka masih berusaha mengejar Amira dan menarik kembali tangannya.
“Aku ingin sendiri, aku ingin menenangkan diri, tolong lepaskan aku,” Amira menepis tangan Shaka, ia kembali berjalan cepat dan langsung menyetop taksi yang kebetulan lewat.
“Jalan pak!” Ucap Amira pada supir taksi.
“Amira, tidak aku mohon tidak,” teriak Shaka yang masih berusaha mengejar taksi yang membawa Amira.
Namun Kevin segera menghentikannya.
“Vin, ayo kejar dia,” Shaka menarik Kevin masuk ke dalam mobil mereka.
Kevin pun berlari memasuki mobil dan langsung melaju cepat untuk mengikuti ke arah mana taksi itu membawa Amira.
“Ayo cepat Vin, aku tidak mau kehilangan Amira lagi untuk kesekian kalinya,” tegas Shaka.
“Tenanglah Ka, biarkan aku konsentrasi,” jawab Kevin yang nampak begitu serius mengemudi.
Namun ketika mobil mereka hendak melintasi perempatan jalan, tiba-tiba saja ada Truk yang lewat membuat Kevin melakukan rem mendadak.
“Sial,” umpat Kevin.
Ketika Truk itu sudah lewat, akhirnya mereka pun kembali bisa melintasi perempatan jalan itu, namun sayang ketika hendak mengejar kembali taxi yang membawa Amira, tiba-tiba saja taxi itu sudah tidak terlihat lagi.
“Vin kita hilang arah,” ketus Shaka yang semakin terlihat kesal.
__ADS_1