Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 132 Pilihan Genta


__ADS_3

Yura sedang duduk melamun di balkon kamarnya, ia duduk bersandar dengan melipat kedua lututnya, kepalanya menghadap ke samping, mamandang ke arah luar jendela, menikmati pemandangan pagi yang masih berhias kabut yang tebal, burung-burung berkicau, menambah kesan pagi hari yang menyejukkan raga, selesai menyiapkan sarapan dan keperluan kantor Reza, Yura kembali duduk berdiam diri di kamarnya.


Semenjak kepergian Queen, Yura selalu menyendiri dan lebih banyak diam, namun dia tetap tidak melupakan tugasnya sebagai istri, Yura masih tetap melayani Reza seperti biasa.


Kebetulan hari ini Reza pergi ke kantor pagi-pagi sekali, sehingga Yura harus bangun jam 4 dini hari, selesai dengan tugasnya, ia kembali duduk melamun seperti itu, dia juga sudah jarang ke butik.


Tak lama pintu kamar terbuka, Yura menoleh ke arah sumber suara.


“Salsa,”


Salsa tersenyum dan mengayunkan kakinya mendekati Yura, ia kemudian duduk menghadap Yura yang kini sedang menatapnya juga.


“Ada apa kak?” Tanya Salsa sembari mengusap lembut pundak Yura.


Yura menggeleng lalu tersenyum dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah luar.


“Aku tau apa yang kak Yura pikirkan, kakak pasti memikirkan Queen kan?” Tanya Salsa seakan tau isi pikiran Yura.


“Aku sudah mengikhlaskan Queen kembali pada Amira, tapi aku begitu merindukannya Salsa, walau pun aku bisa menjenguk Queen kapan saja, tapi aku tetap merindukannya, aku juga ingin menjadi seorang ibu Salsa,” jelas Yura dengan mata yang berkaca-kaca.


Selama ini, itulah yang menjadi kegundahan di hati Yura, mendengar penuturan Yura, Salsa pun begitu khawatir, dia takut semua itu akan mempengaruhi psikologi Yura.


“Kak, aku memang belum pernah menikah dan berpengalaman punya anak, tapi aku punya teman seorang dokter kandungan, katanya stres bisa mempengaruhi proses kehamilan, kakak tidak boleh seperti ini, kakak harus semangat dan harus bahagia tentunya, kalau kakak seperti ini, bisa-bisa kakak jadi stres, dan itu bisa menghambat program hamil kakak, kakak ingin hamil secepatnya kan? Kakak jangan banyak pikiran dan jangan banyak melamun seperti ini,” papar Salsa mencoba memberi semangat untuk kakak iparnya tersebut.


“Rumah tangga itu, ada berbagai macam cobaan, ada yang punya banyak anak tapi di uji dengan ekonomi yang kurang, ada yang punya banyak anak, tapi suaminya tidak setia, ada yang belum di berikan anak, tapi ekonominya baik, suaminya penyayang dan setia seperti kak Reza,”


Yura terdiam sejenak, ia mencerna semua perkataan Salsa, tak bisa dipungkiri, selama ini dia terlalu banyak memikirkan program hamil yang selalu gagal ia jalani, ia lupa kalau hal itu bisa membuatnya stres, akhirnya Yura memutuskan akan mulai bangkit dari rasa galau nya selama ini dan mulai menemukan semangat baru, kini dia akan belajar berlapang dada, menerima semua takdir yang sudah tuhan gariskan, yang terpenting baginya, Reza tidak mempermasalahkan hal itu, dan rasa cinta Reza tidak akan pernah berkurang.


“Iya Salsa, kamu benar, mungkin stres yang aku alami ini lah yang membuat aku susah hamil, aku janji, mulai saat ini aku tidak akan stres lagi, aku akan menerima semua takdir yang tuhan berikan padaku dengan hati ikhlas, asalkan Reza masih mencintaiku dan tidak meninggalkanku, rasanya itu sudah lebih dari cukup, selama ini aku kurang bersyukur,” pungkas Yura lirih.


“Aku memang belum di karuniai anak oleh tuhan, tapi aku memiliki suami yang begitu baik dan setia, harusnya aku bersyukur akan hal itu, aku terlalu banyak mengeluh Salsa, aku menyesal dengan sikapku selama ini, maaf ya Sa, dan terima kasih kamu sudah mengingatkan ku,” lanjut Yura lalu kemudian memeluk Salsa dengan hangat, Salsa membalas pelukannya lalu tersenyum sembari mengusap lembut punggung Yura.


Sementara di sisi lain, mobil Genta sudah terparkir di depan gerbang rumah keluarga Buwana, pandangannya menelisik pekarangan rumah Shaka dari balik Gerbang, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 sore, Genta sengaja datang sore itu karena ia tau, Shaka pasti sudah pulang dari kantor, dia memang menunggu Shaka untuk mengutarakan perihal Safa dan papanya pada Shaka dan mantan pacarnya itu.

__ADS_1


Tak lama Genta memajukan mobilnya sampai ke depan gerbang tepat di mana pos satpam sedang berjaga, Genta menurunkan kaca mobilnya dan bertanya.


“Sore pak,” sapa Genta membuat dua satpam itu berdiri dan menghampiri Genta.


“Sore, ada apa pak?” Tanya satpam itu dengan sopan.


“Apakah pak Shaka dan bu Amira ada di dalam?”


“Iya ada, tapi maaf ini dari siapa ya?” Tanya salah satu satpam itu pada Genta.


“Katakan saja ini dari Genta, mau membicarakan perihal Safa dan Dewa Atmadja,” pungkas Genta dengan sengaja agar Shaka dan Amira tidak salah paham perihal dirinya yang mengira akan datang mengambil Queen.


“Baik pak, tunggu sebentar akan saya panggilkan,” tukas Satpam lalu meraih ponsel menelepon salah satu pelayan di dalam rumah Shaka, karena jarak gerbang dan rumah yang sangat jauh tidak memungkinkan satpam itu untuk memanggil majikan mereka ke dalam rumah, itu lah sebabnya mereka selalu menggunakan telepon menghubungi pelayan di rumah itu jika ada tamu yang akan datang berkunjung.


Selesai menelepon, satpam itu beralih menatap Genta lalu mempersilahkan Genta masuk.


Sampailah Genta di depan pintu rumah keluarga Buwana, ia menekan bel pintu tersebut dengan perlahan, tak lama pintu itu pun terbuka, pelayan langsung mempersilahkan Genta masuk.


“Terima kasih,” tukas Genta kemudian mengayunkan kakinya menuju ruang tamu, ia lantas mendudukkan dirinya di sofa king size itu.


“Jadi apa yang akan kau bicarakan perihal Safa dan papamu?” Tanya Shaka setelah mendudukan dirinya di sofa miliknya tepat di depan Genta, kemudian di susul oleh Amira yang juga duduk di samping suaminya.


Genta menghela nafas panjang, lalu berbicara.


“Saya ingin meminta kebebasan Safa dan juga papa saya kepada kalian, karena saya berniat ingin menikahi Safa dalam waktu dekat ini,” ungkap Genta menatap Shaka dan Amira secara bergantian.


“Jadi kau mau menikahi Safa?” Tanya Amira merespon ucapan Genta, hal itu sontak membuat Shaka menatap Amira.


“Iya Mir,” jawab Genta tersenyum tipis sembari menatap sendu wajah Amira.


Shaka melihat Amira dan Genta secara bergantian, ekspresi Amira memang biasa saja, tapi tatapan Genta pada Amira mengundang panas di hati Shaka, ia dapat mengartikan tatapan Genta pada istrinya itu.


“Jauhkan tatapan menjijikkan mu itu dari istri saya,” tegas Shaka tiba-tiba sembari merangkul pundak Amira, seakan itu menjadi kode keras pada Genta bahwa Amira hanya miliknya.

__ADS_1


“Maaf, maafkan saya,” Genta langsung mengalihkan pandangannya.


“Jadi maksud kedatangan kamu ke sini, ingin meminta kebebasan Safa dan juga papamu?” Kini giliran Amira yang bertanya.


“Iya Amira, aku mohon bebaskan mereka, aku janji akan merubah sikap mereka, aku akan selalu mengawasi Safa dan juga papaku, apa lagi aku akan menikahi Safa, jadi aku bisa punya banyak waktu untuk mengawasinya, atas nama Safa dan juga papa, aku minta maaf yang sebesar-besarnya,” tutur Genta menangkupkan kedua tangannya.


Amira menatap Shaka sebagai isyarat untuk bertanya.


“Aku tidak akan langsung membebaskan keduanya, kau hanya boleh pilih salah satu,” tandas Shaka kemudian.


Genta pun tampak berpikir sejenak, sudah lama dia tidak menjenguk papanya di penjara, dia tidak tau apakah papanya sudah berubah atau belum, sedangkan Safa, dia yakin dia bisa mengendalikan Safa karena dia akan menikahi Safa, walau pun itu hanya terpaksa, tentu saja semua itu dia lakukan karena Amira.


“Jujur saya tidak suka dengan mereka, dua orang itu sangat bejat, terlebih dengan Safa, setelah tau kebenaran bahwa Safa sudah dengan tega menukar putri saya dengan anak orang lain, saya sangat tidak terima itu sehingga saya tak segan-segan memberikannya pelajaran, begitu pun dengan papa kamu, dia sudah berani menculik Amira yang sedang hamil putra keduaku, namun keputusan itu saya serahkan semuanya pada istri saya, siapa pun yang kau pilih, tentu itu harus atas persetujuan istri saya,” ketus Shaka dengan wajah sinisnya.


Mendengar Shaka menyebut Queen sebagai putrinya, hati Genta sontak di buat memanas, bagaimana tidak, putrinya kini lebih akrab dengan orang lain, bahkan Shaka denga terang-terangan menyebut Queen sebagai putrinya.


“Baik, aku memilih untuk kalian membebaskan Safa, bagaimana Amira? Bisa kah kalian mebebaskan Safa?”


Amira pun menatap Shaka sejenak, setelah mendapat anggukan dari Shaka, Amira beralih menatap Genta lalu berkata.


“Baik, aku akan mencabut tuntutan ku terhadap Safa, tapi kalau dia sampai kembali melakukan hal jahat lagi, terutama pada anak-anakku atau keluargaku, aku tidak akan tinggal diam, aku akan memberikan pelajaran yang setimpal kepadanya, bahkan itu akan lebih menyakitkan dari hukumannya sekarang,” ancaman Amira kali ini tak main-main.


Shaka pun tersenyum bangga melihat sikap tegas istrinya, ia pun mengusap lembut pundak Amira yang ada dalam rangkulannya.


“Baik terima kasih Amira, Shaka, kalau begitu, saya per…” ucapan Genta terpotong saat suara anak kecil tiba-tiba berlari menghampiri Shaka dan Amira, sembari memeluk sebuah boneka.


“Jadi dia anak ku?” Gumam Genta dalam hati setelah melihat keberadaan Queen.


Shaka pun segera mengangkat Queen dan mendudukan bocah 5 tahun itu ke atas pangkuannya, anak itu mengoceh sembari sesekali tertawa bersama Shaka, melihat itu hati Genta seperti di remas-remas, bagaimana tidak, anaknya lebih nyaman berada dalam pelukan ayah sambungnya di bandingkan dia ayah kandungnya sendiri.


“Amira, kau begitu beruntung bisa menikah dengan pria yang begitu mencintai kamu dan menerima anak kita dengan tangan terbuka, bahkan dia terlihat menyayangi anak kita, tapi sebenarnya, menyaksikan pemandangan ini membuat hatiku berdenyut Amira, sakit sekali rasanya, mungkin ini karma untukku, sampai saat ini, hatiku tidak pernah tenang dan bahagia, aku begitu tersiksa karena terpisah dari kalian karena kebodohanku, aku tidak bisa berbuat apa-apa Amira, aku adalah laki-laki yang plin plan dan lemah, aku bukan laki-laki yang banyak berkorban demi kamu dan anak kita seperti Shaka, aku sangat jauh berbeda dengan Shaka,” tutur Genta dalam hati sembari memperhatikan keluarga kecil itu yang sedang tertawa bersama.


Tanpa mereka sadari, dengan langkah gontai, Genta pergi meninggalkan ruangan itu menyisakan mereka bertiga di dalamnya.

__ADS_1


“Aku tidak siap bertemu Queen, aku sangat tidak percaya diri, aku sangat malu pada anak itu, kalau seandainya aku menyapanya, aku takut dia akan mengabaikan ku, atau bahkan berlari ketakutan menjauhi ku karena dia tidak mengenalku,” batin Genta lalu berjalan keluar menuju mobilnya.


__ADS_2