Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 81 Titik Terang


__ADS_3

Saat ini Amira sudah merasa baikkan, dia juga ingin segera pulang.


“Apa kamu yakin ingin pulang sekarang sayang?” Tanya Shaka lembut kepada Amira yang kini tengah duduk bersandar di atas kasur nya.


“Iya aku yakin, tubuh ku sudah terasa lebih segar sekarang, jadi untuk apa lagi berlama-lama di sini,” jawab Amira sembari meraih tangan suaminya.


“Ya sudah, ayo aku bantu ganti baju,”


“Tidak perlu, aku bisa ganti baju sendiri,” Amira tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tak lama Mama Riana dan Nenek Emely pun datang.


“Mama, Nenek kalian datang sepagi ini?” Tanya Amira dengan wajah berbinar sembari menuruni tempat tidur.


“Iya kami merasa tak tenang jika hanya berdiam di rumah, sedangkan kau sedang dirawat di sini,” jawab Emely dengan lembut.


“Oh iya mana Papa?”


“Papa sedang merasa tak enak badan,” jawab Mama Riana.


“Benarkah? Tapi Papa tidak apa-apa kan?” Amira tampaknya mulai cemas saat mendengar itu.


“Tidak apa-apa, mama sudah memberinya obat, lagi pula papa yang menyuruh mama ke sini untuk menjenguk mu,” jawab Riana.


“Amira mau kemana?” Tanya Emely saat melihat Amira yang mulai beranjak dari tempat tidur.


“Aku sudah bisa pulang nek, jadi aku ingin ganti baju,” jawab Amira tersenyum.


“Benarkah Shaka?” Tanya Riana menatap Shaka dengan wajah sumringah.


“Benar ma, kondisi Amira juga sudah mulai membaik, Dokter juga sudah mengizinkan Amira untuk pulang,” jawab Shaka sembari tersenyum.


“Ah syukurlah,” Riana nampak sumringah.


Amira pun masuk ke dalam toilet untuk ganti baju, berapa lama kemudian ia keluar dengan sudah memakai dress selutut yang begitu simpel.


“Sudah siap?” Tanya Shaka.


“Emmm,” jawab Amira sembari tersenyum manis.


Akhirnya mereka berempat keluar dari kamar inap itu.


“Apa kamu sanggup berjalan hingga ke parkiran sayang? Jika tidak aku akan meminta kursi roda,” tanya Shaka dengan lembut.


“Tidak apa-apa, aku bisa berjalan sendiri,” jawab Amira sembari menggandeng tangan Shaka.


Namun lagi-lagi, di salah satu sudut rumah sakit, muncul kembali orang misterius yang sama seperti dua hari lalu mengintai mereka.


“Halo bos, nampaknya kita sedikit kecewa, karena ternyata wanita itu masih selamat,” ucap orang yang misterius yang menelepon dalang di balik semua itu.


“Ya sudah kita pakai cara lain untuk menghancurkan mereka, kau mengerti maksudku?” Jawab seseorang dibalik telepon.


“Baik bos, mengerti!” Jawab orang misterius sembari tersenyum sinis lalu ia pun langsung mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


Shaka, Amira, Emely dan juga Riana pulang ke rumah.


Shaka begitu bahagia melihat Amira yang sudah pulih dan kembali ceria seperti sedia kalah.


Kini Shaka menuntun Amira masuk ke dalam rumah diikuti oleh nenek Emely dan mama Riana.


Tak lupa pula para pelayan menyambut kedatangan Amira dengan wajah yang berbinar.


“Selamat datang kembali di rumah nona muda, kami bahagia sekali melihat nona muda sudah pulih,” ucap salah satu pelayan kepada Amira.


“Iya sama-sama, terimakasih sudah mengkhawatirkan ku,”


“Ya sudah sayang, ayo kamu makan dulu,” Shaka menuntun Amira ke meja makan untuk makan.


Shaka dengan sigap langsung beralih ke tempat duduk di samping Amira, membalikkan piring dan menyendok nasi dan lauk untuk Amira.


“Ayo makan,” Shaka menyendokkan nasi yang ada di piring hendak menyuapi Amira.


“Sayang sudah lah biar aku yang makan sendiri,” ucap Amira sembari mengambil sendok makan dari tangan Shaka.


“Tidak apa sayang, biar suami mu yang menyuapi,” ucap Riana sembari tersenyum.


Kini mereka berempat sedang makan bersama di meja makan, namun ketika baru saja selesai makan tiba-tiba Reza menelepon Shaka.


“Halo,” Shaka mengangkat telepon setelah berjalan sedikit jauh dari meja makan.


“Shaka kau di mana?” Tanya Reza.


“Aku ada di rumah, ada apa Za?”


“Baik aku akan ke sana sekarang,” jawab Shaka dan langsung mematikan teleponnya.


“Sayang, ada apa?” Tanya Amira yang sudah berada di belakang Shaka sejak tadi.


“Aku ingin ke rumah Reza dulu, ada yang akan dia perlihatkan padaku, kamu istirahatlah dulu, aku akan segera kembali,” ucap Shaka sembari mencium kening istrinya yang hanya berdiri mematung di hadapannya, Amira tampak heran melihat tingkah suaminya yang baru saja datang namun harus pergi lagi.


Sisi lain kediaman rumah Reza…


“Sayang, bisa kah kita mengatur ulang jadwal fitting baju pengantin kita? Aku akan menunggu Shaka sekarang, Shaka akan segera datang ke sini untuk melihat rekaman cctv yang aku temukan pagi tadi,” jelas Reza kepada Yura.


Dalam hati Yura terbesit sedikit rasa kecewa karena nampaknya Reza masih begitu peduli dengan Amira, namun di sisi lain hati nurani Yura turut prihatin atas apa yang terjadi pada Amira tempo hari hingga membuatnya tak mungkin menolak permintaan Reza.


“Baiklah nanti kita atur ulang jadwalnya,”


“Terima kasih atas pengertianmu sayang,” jawab Reza sembari menggenggam tangan Yura.


Tak lama Shaka pun datang dan langsung menghampiri Reza dan Yura yang tengah duduk di ruang tamu menungguinya.


Shaka dan juga yang lainnya hingga sekarang belum tau kalau Reza dan Yura akan segera melangsungkan pernikahan, mereka sepakat akan mengumumkan nya lewat undangan agar surprise.


“Reza, ayo kita langsung saja melihat cctv rumah ini terutama di bagian depan rumah mu,” ucap Shaka kepada Reza.


“Baiklah ayo,” ucap Reza yang kemudian mengajak Shaka masuk ke ruang kerja pribadinya yang ada di rumah nya.

__ADS_1


Akhirnya mereka bertiga langsung beranjak pergi menuju ruang kerja pribadi Reza, dengan menaiki anak tangga kini tibalah mereka di ruang kerja pribadi Reza.


Reza dengan sigap langsung membuka laptopnya, dia sengaja membuka akses cctv dari laptop agar lebih jelas melihatnya ketimbang lewat ponsel.


“Kejadiannya jam berapa?” Tanya Reza kepada Yura sembari mengotak ngatik tombol keyboard nya.


“Sekitar jam 2 siang,” jawab Yura begitu serius.


Mendengar pernyataan Yura, dengan cepat Reza memilih rekaman di jam yang di sebutkan Yura, dan membuka rekaman di bagian depan rumah.


Di jam itu terlihat dari jarak sedikit jauh depan rumah Reza ada mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan, tak lama Amira keluar dari rumah Reza dengan keadaan menangis, Amira terlihat berjalan begitu cepat kemudian menyebrang jalan, di saat Amira hendak menyebrang jalan, terlihat mobil hitam ysng sedari tadi terparkir agak jauh dari depan rumah Reza menancapkan gas nya dan dengan sengaja langsung menabrak Amira yang tengah menyebrang jalan, Amira terpental jauh dan mobil itu pun langsung pergi begitu saja


“Astaga ini sungguh tindak kriminal Ka, kita harus melaporkannya ke polisi,” ucap Reza sembari menutup mulutnya karena kaget melihat rekaman cctv tersebut.


Di rekaman itu begitu jelas terlihat plat nomor dari mobil itu, dengan segera Shaka langsung mencatat nya di sebuah kertas, begitu juga dengan wajah sang penabrak yang jelas terlihat, karena kaca mobil nya yang cukup transparan.


“Tolong zoom, tepat di bagian wajah,” ucap Shaka lagi.


Ketika di zoom, makin terlihat jelas sang pengendara mobil yang memakai kacamata dam topi serba hitam itu.


“Siapa dia? Apa kau mengenal nya?” Tanya Reza mengerutkan dahi nya.


“Sama sekali tidak,” jawab Shaka yang mssih fokus menatap ke layar laptop nya.


“Lalu kenapa dia tega melakukan semua ini,” tanya Reza yang nampak penasaran.


“Aku rasa orang ini hanyalah pion,” jawab Shaka yang kembali berdiri tegak.


“Pion? Maksudmu? Ada orang lain yang menggerakannya begitu?”


“Benar, aku yakin orang ini begitu mengenal Amira, dan aku yakin orang ini juga yang sudah menyebarkan berita hoax tentang Amira tempo hari,”


“Masuk akal juga,”


“Ku rasa dia sudah lama mengikuti Amira, dia seakan begitu paham kalau Amira akan datang ke sini,” tambah Reza lagi.


Kemudian Reza melacak kembali rekaman cctv di jam yang lain, dan benar saja orang itu terlihat tengah berada di depan rumah nya, hanya selang beberapa detik saja setelah Amira datang.


Orang itu juga terlihat tengah menelepon seseorang yang mungkin dalang di balik semua ini.


Tak lama Shaka pun meminta Reza untuk mengeprint foto wajah sang pelaku yang mereka dapat dari rekaman cctv itu.


“Shaka, apa sebaiknya kita jangan lapor polisi dulu? Bagaimana kalau kalian lacak saja plat nomor itu, karena kalau dalang nya tau itu akan membuat nyawa keluargamu akan semakin terancam, bagaimana kalau kau andalkan orang kepercayaanmu terlebih dahulu, karena kita belum tau siapa sebenarnya dalang di balik semua ini,” ucap Yura memberi saran.


“Benar juga,” jawab Shaka.


Akhirnya mereka bertiga pun sepakat untuk tidak lapor polisi dulu.


Shaka langsung menelepon Kevin, untuk menyuruh nya melacak plat nomor sang penabrak.


“Aku juga sudah mengirim foto orang yang menabrak Amira ke ponsel mu, segera kau temukan dia dan seret dia di hadapanku!” Tegas Shaka.


“Baik Ka, aku dan orang-orang ku akan segera menemukannya,” jawab Kevin dengan tegas.

__ADS_1


“Ku tunggu kabar dari mu,” Shaka pun langsung mengakhiri panggilannya.


__ADS_2