
Suasana rumah Reza sudah semakin ramai, tamu undangan sudah memadati ruangan pesta.
“Panjang umur ya nak,” ucap Yura memeluk tubuh mungil putrinya.
Tak ada tanggapan, Queen masih saja memasang wajah cemberut.
“Ini hadiah untuk Queen,” menunjuk kotak besar yang ada di sampingnya.
Tetap saja hal itu tidak membuat Queen tersenyum, ekspresinya sedatar batu bata yang baru kering.
Yura seakan mengerti melihat ekspresi Queen, ia tau siapa yang tengah di tunggu oleh anak itu, ia mulai cemburu namun lagi-lagi ia menepis perasaannya itu.
Bagaimana tidak, sudah 6 bulan pernikahan Yura dan Reza namun Yura juga tidak kunjung hamil, hal itu membuat Yura tambah sayang dengan Queen karena ia mendambakan seorang anak yang sampai saat ini belum hadir di tengah-tengah mereka.
Suasana berlangsung sangat meriah, semua tamu menikmati acara yang baru saja dimulai, banyak pasang mata yang melirik ke arah Queen yang terus saja memanyunkan bibirnya.
“Queen sayang, senyum dong,” pinta Reza dengan pelan.
Queen menggeleng, meski pun dikelilingi keluarga tercinta dan orang tuanya yang lengkap, tetap saja ada yang kurang, hatinya terasa hampa saat orang yang ia tunggu belum hadir.
“Queen,” sapa Amira yang datang bersama Shaka.
“Mama,” teriak Queen melihat Amira yang baru saja tiba, senyum itu kembali terbit setelah beberapa saat lenyap.
Amira segera menghampiri Queen dan memeluk tubuh mungil itu dengan erat, menyalurkan kasih sayang yang begitu tulus bak seorang ibu pada putrinya.
“Selamat ulang tahun sayang, semoga Queen panjang umur, diberi kesehatan dan juga semakin pintar,” ucap Amira mengecup ujung kepala Queen berulang kali.
Kini Amira dan Shaka berdiri di samping kue Queen yang besar dan tinggi.
Nyanyian ulang tahun itu sangat meriah, semua bertepuk tangan dengan serempak, kebahagiaan tercipta tanpa celah.
Queen dengan di bantu Yura dan Reza meniup lilin yang bertengger di atas kue yang besar nan tinggi itu.
Ia meminta Amira untuk membantu memotong kue, tak seperti tadi yang terus merengut kali ini Queen tak henti-hentinya mengulas senyum saat melihat kehadiran Amira di tengah-tengah mereka.
Amira sedang asik bermain-main dengan Queen, bayi itu sudah mulai besar, dia sudah mulai bisa menyebutkan dua tiga patah kata termasuk kata mama, Queen juga sudah mulai bisa berjalan, saat ini Queen memanggil Amira dan Yura dengan sebutan yang sama yaitu sebutan mama.
Namun tiba-tiba saja ponsel Shaka berdering tanda panggilan masuk, Shaka melirik layar ponsel nya yang menampilkan nama Viona, melihat nama itu Shaka sontak membulatkan matanya, melihat itu Amira pun menghampiri Shaka sembari menggandeng tangan Queen yang berjalan mengikutinya.
“Ada apa Ka?” Tanya Amira membuyarkan lamunan Shaka.
__ADS_1
“Ada yang menelepon, kamu bisa mengangkatnya,” ucap Shaka berusaha untuk tidak menyembunyikan hal apa pun dari Amira.
“Ah tidak, siapa tau itu nomor dari rekan bisnis mu, aku tidak berani mengangkatnya,” jawab Amira tanpa melihat nama yang tertera di layar ponsel suaminya.
“Bukan, ini dar….”
“Ma, ma, itu,” ucap Queen yang tiba-tiba saja memotong ucapan Shaka, sembari menunjuk ke arah salah seorang anak balita yang merupakan anak dari teman Yura yang sudah lumayan akrab dengan Queen.
“Sebentar ya Ka, aku temani Queen dulu,” tukas Amira, lalu beranjak meninggalkan Shaka begitu saja.
Tak lama ponsel Shaka kembali berdering, namun Shaka tidak mengangkatnya, akhir nya ada pesan masuk.
“Kamu di mana? Kenapa tidak angkat telepon ku?” Tanya wanita itu di balik pesan.
Shaka pun berjalan keluar menjauh dari keramaian dan mulai mengangkat telepon yang sedari tadi terus berdering.
“Ada apa?” Jawab Shaka setelah menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
“Akhirnya kamu angkat juga, kamu di mana sih? Aku sekarang ada Indonesia, aku ingin bertemu dengan mu,” ucap wanita itu pada Shaka.
“Iya, tapi nanti ya aku sekarang sedang sibuk,” jawab Shaka, di dalam pikirannya saat ini hanyalah Amira, dia tidak mau menyakiti Amira hanya karena bertemu diam-diam dengan wanita lain.
“Apa kamu sibuk dengan istrimu?” Tanya wanita itu menyelidik, sama halnya dengan orang-orang, Viona pun tau kabar pernikahan Shaka dengan wanita lain, meski pun hatinya sakit, ia mencoba untuk bersikap santai agar tidak membuat Shaka ilfil.
“Ya sudah kalau begitu, kapan-kapan kau harus mengenalkan aku dengan istrimu itu,”
“Iya tenang saja, aku akan mengenalkan kamu dengan istriku,”
Viona adalah teman Sekolah Shaka, Shaka tidak banyak dekat dengan wanita, dengan Viona pun dia dekat karena dulu Viona sudah menolong nenek Emely mendonorkan darah untuk nenek Emely yang dulu pernah masuk rumah sakit, itu lah sebab nya Shaka berteman dekat dengan Viona.
Dari dulu Viona sangat menyukai Shaka, bahkan saat Shaka masih bersama Yura, Viona tetap kekeh mendekati Shaka, ia bahkan secara terang-terangan menyatakan cinta nya pada Shaka saat acara kelulusan sekolah, namun Shaka menolaknya karena dulu Shaka sangat mencintai Yura.
Yura juga mengenal sosok Viona, dan Yura juga tau bagaimana perasaan Viona terhadap Shaka, tapi dulu Yura tidak cemburu dengan Viona karena dia tidak mencintai Shaka, cinta nya untuk Reza membuat dia malah mendukung hubungan Shaka dan Viona secara diam-diam, dulu Yura berharap kalau suatu saat Shaka akan menerima Viona agar Shaka juga bisa menemukan tambatan hatinya dan melupakan Yura, namun ternyata Yura salah, seorang Shaka Buwana tidak semudah itu menaruh hati pada seseorang, bahkan sampai Yura pergi ke luar negeri menyusul Reza, Shaka tidak pernah menerima cinta Viona, hingga akhirnya Viona berangkat keluar negeri selama 3 tahun untuk panggilan kontrak kerja sama dari salah satu management di sana, ya sekarang Viona adalah seorang model yang nama nya sudah di kenal sampai ke manca negara.
Nama Viona Clara juga terkenal di Indonesia, setelah 3 tahun Viona tidak muncul di layar kaca, kini Viona kembali karena menjalin kontrak kerja sama dengan management yang ada di Indonesia, menjadi Brand Ambassador di salah satu Brand besar dan terkenal di Indonesia serta menerima tawaran membintangi sebuah sinetron yang akan segera tayang di televisi, dan tentu saja salah satu alasan utama nya adalah Shaka.
Di sisi lain, Amira sedang sibuk menemani Queen, tak lama pesta pun berakhir, sampai saat itu Amira tidak melihat sosok Shaka di tengah-tengah mereka, namun Amira sedikit mengusir rasa cemas nya, ia pun lanjut menemani Queen, satu persatu tamu sudah pulang menyisakan Amira, Queen, Salsa, Kevin, Reza dan Yura di ruangan itu.
Amira pun minta izin untuk mencari Shaka, mendengar Amira yang hendak mencari Shaka, salah satu pelayan di rumah Reza berkata pada Amira kalau saat ini Shaka sedang ada di taman samping rumah Reza, dahi Amira mulai mengkerut, pasalnya tidak biasa nya Shaka pergi menyendiri dengan waktu yang lumayan lama, akhirnya Amira pun berjalan menuju taman samping.
Saat sudah sampai di taman samping, langkah Amira terhenti saat mendengar suara tawa renyah sang suami dari taman.
__ADS_1
“Memangnya kamu belum punya suami?” Suara Shaka terdengar dengan jelas, Amira hanya menguping dari pintu yang menyambungkan rumah dan taman itu.
“Iya iya, kita pasti kita ketemu, tapi aku tidak janji ya,”
Amira mengintip dan menatap Shaka yang nampak bahagia dengan benda pipih di telinganya.
Tawa nya terus meluncur seakan tak ada beban sama sekali membuat dada Amira tiba-tiba sesak.
“Iya Vi, sampai kapan pun aku tidak akan lupa dengan mu, kamu gadis yang paling cantik yang pernah aku kenal, jangan khawatir, pokoknya kalau ada waktu aku traktir sepuasnya,”
Amira mengurungkan niatnya, ia pergi lagi tanpa menemui Shaka.
“Sepertinya Shaka sangat akrab dengan perempuan itu, siapa perempuan itu?” Tanya Amira dalam hati.
Amira kembali ke ruangan perayaan pesta ulang tahun tadi, ia tak suka suaminya menyebut nama wanita lain, apa lagi itu terdengar sangat akrab.
“Amira,” suara Yura membuyarkan lamunan Amira.
“Iya Ra ada apa?” Tanya Amira berusaha terlihat baik-baik saja.
“Shaka mana?” Tanya Yura lagi.
“Ada di taman samping, tapi aku harus buru-buru pulang, sepertinya Shaka sedang sibuk mengobrol di telepon dengan rekan bisnisnya, aku jadi takut ganggu, jadi aku pulang lebih dulu nanti kalau Shaka tanya bilang saja kalau aku sudah pulang ke rumah, ada hal mendesak yang harus segera aku selesaikan,” jawab Amira beralasan.
Bagaimana pun ia tidak mau satu orang pun tau keburukan suami nya, karena baginya itu adalah aib rumah tsngga yang tidak boleh ia ceritakan pada siapa pun.
Dengan raut wajah heran semua yang mendengarkan penjelasan Amira berusaha untuk percaya dan membiarkan Amira pulang.
Namun tiba-tiba saja langkah Amira terhenti saat tangan mungil Queen merengkuh kedua kaki Amira.
“Ada apa sayang?” Amira berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan bayi itu.
“Itut,” ucap Queen dengan manja nya ingin ikut dengan Amira.
Amira pun menatap Reza dan Yura secara bergantian.
“Sayang, mama Amira pulang dulu nanti mama Amira balik lagi ke sini besok, Queen tidak usah ikut ya kan ada mama Yura,” bujuk Yura jadi tak enak hati merepotkan Amira.
Namun Queen terus saja menangis, dia tetap kekeh ingin ikut dengan Amira, akhirnya mereka pun tak ada pilihan lain selain membiarkan Queen ikut bersama Amira.
“Sudah tidak apa-apa Ra, biar Queen ikut dengan ku, boleh kan Ra? Kak Reza?” Tanya Amira meminta izin Yura dan Reza.
__ADS_1
“Tapi Queen harus janji, besok Queen harus pulang ke sini, kasihan mama Yura, Queen nggak boleh lama-lama meninggalkan mama Yura, nanti kalau mama Yura nangis karena rindu dengan Queen, gimana?” Jelas Amira sembari mengusap-usap kepala Queen yang kini bersandar manja di pundaknya.
Queen pun mengangguk tanda setuju dengan syarat Amira, akhirnya Amira pun pamit dengan membawa Queen pulang bersamanya.