Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 35 Bahagia


__ADS_3

Kediaman Keluarga Buwana..


Shaka dan Nenek Emely masih terdiam di ruang tamu.


"Apa itu tadi?" Ketus Emely sembari menatap tajam ke arah Shaka.


"Apanya yang apa?" Tanya Shaka pelan.


"Apa kau sadar dengan semua yang kau katakan?" Emely meninggikan suaranya.


"Nek terserah padamu kau suka atau pun tidak aku akan tetap mencari Amira".


"Jadi sekarang kau sungguh sudah mengakui perasaanmu pada wanita itu?" Bentak Emely lagi.


"Iya!" Jawab Shaka dengan begitu lantangnya.


"Dasar anak bodoh, bisa-bisanya kau membuatku malu". Emely yang sangat kesal langsung saja memukuli Shaka dengan tongkat.


"Agh sakit nek, kenapa kau memukuliku seperti ini?" Tanya Shaka sembari mengusap-usap lengannya yang sakit dan memerah.


"Kau memang benar-benar bodoh, bagaimana mungkin aku memiliki cucu sepayah ini". Keluh Emely yang nampak semakin kesal sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Walau nenek tidak setuju aku tidak peduli aku akan tetap membawahnya pulang kembali". Ucap Shaka dan kembali mengusap pahanya yang sakit.


"Siapa bilang aku tidak setuju ha? Kau benar-benar payah dan bodoh kenapa kau membiarkan Amira pergi dari rumah ini? Bahkan di saat aku mulai mengajukan cerai untuk kalian berdua kau malah menunggu waktu 1 minggu lebih lamanya untuk mengakui perasaanmu. Bagaimana mungkin kau bisa tahan untuk hidup tanpa istrimu ha?Kau benar-benar bukan lelaki sejati, aku tidak akan menganggapmu sebagai cucu". Ketus Emely menggelengkan kepalanya.


"Jadi.. " Shaka nampak begitu terkejut dan jadi tak menyangka.


"Iyaa, ini semua rencanaku, semenjak aku di Singapore aku sudah tau tentang semua pernikahan sandiwara kalian. Itu lah sebabnya aku segera pulang dan menguji apa kalian benar-benar tidak saling mencintai, aku juga mendapat telepon dari orang tua Amira kalau Amira pulang ke rumahnya karena bertengkar hebat denganmu. Dan yang membuatku tak habis fikir kau tidak mencegah kepergiannya setelah kau menghinanya. Kau benar laki-laki bodoh Shaka".


Aku tidak mungkin menjodohkan mu dengan wanita sembarangan, sebelum aku menjodohkan kalian, aku sudah tau lebih dulu tentang kehamilannya. Aku yang menyuruhnya merahasiakan ini dulu dari kamu, karena aku tidak mau kau menolak perjodohan ini kalau kau tau Amira tengah mengandung. Aku bersih keras ingin menjodohkan kalian karena aku sangat tau Amira adalah gadis yang baik. Sudah terlalu banyak penderitaan dia alami selama ini, dia dihamili pacarnya, alih-alih bertanggung jawab pacarnya malah menyuruh dia untuk menggugurkan kandungannya. Saat itu keadaan Amira benar-benar hancur, belum lagi saat orang tuanya tau, dia dimarahi habis-habisan, setelah orang tuanya meminta pertanggung jawaban dari laki-laki itu, laki-laki itu malah pergi ke London bersama orang tuanya meninggalkan Amira sendiri. Belum lagi selama di Sekolah dia selalu di kerjai dan di bully oleh teman-temannya yang tidak menyukainya karena kecurigaan mereka tentang kehamilan Amira. Tapi untung saja semuanya tidak terbongkar sampai Amira lulus Sekolah. Dan sekarang kau malah membuat nya lebih mederita lagi". Jelas Emely sembari menatap tajam ke arah Shaka.


"Aku juga menelpon orang tua Amira untuk membawanya ke Bandung agar kau semakin sulit untuk mencarinya, dan setelah kau tau keberadaan mereka di Bandung ku fikir kau akan mengaku padaku tentang perasaan mu pada Amira tapi ternyata kau benar-benar keras kepala, kau juga masih belum menyatakan cintamu. Sehingga akhirnya aku berinisiatif untuk memanggil Tuan Handika untuk mengurus perceraian kalian dan perjodohanmu dengan Yura. Sampai akhirnya kau baru mengakuinya sekarang. Dasar bodoh". Tambah Emely lagi.


Mendengar itu Shaka jadi tak tegah, dia semakin merasa bersalah, dan juga tak menyangka kalau neneknya membuat rencana sejauh ini.


"Nek terimakasih, kau sungguh nenek terbaik di dunia, walaupun sebelumnya nenek hampir membuatku mati karena ku fikir nenek benar-benar akan menjauhkan ku dari Amira". Shaka sontak kembali sumringah dengan kembali memeluknya.


"Aku janji, aku akan menebus kesalahan ku padanya dengan membawahnya kembali ke sini. Maafkan aku nek, aku tidak tau sama skali tentang semua ini. Aku tidak tau kalau ternyata Amira sudah melewati penderitaan yang begitu banyak". Ucap Shaka dengan rasa bersalahnya.


"Yah sudah tunggu apa lagi? Cepatlah kau bawah Amira kembali,aku tidak akan menganggapmu sebagai cucuku kalau kau belum membawah Amira pulang". Ketus Emely masih menatap tajam ke arah Shaka.


"Iyaa nek, tunggulah di sini aku akan segera menjemput Amira, tidak akan ku biarkan dia pergi lagi dariku walau sedetik pun". Ucap Shaka tersenyum.


Tak lama Shaka pun pamit undur diri dari hadapan neneknya untuk menemui Amira. Namun di tengah jalan tiba-tiba Shaka mendapatkan telepon dari Kevin untuk segera menyelesaikan urusan bisnisnya di Jerman, dan Kevin memintanya untuk hadir karena akan menangani pembangunan cabang Buwana Group yang baru sekaligus menyelesaikan Hotel Buwana Group di Jerman yang hampir terjun bebas karena jarang di kunjungi Shaka.


Shaka mengehela nafas kasar dan memutar balik mobilnya menuju rumah untuk bersiap-siap ke Jerman malam ini juga dan tak lupa dia pamit kepada neneknya terlebih dahulu dan berjanji akan pulang untuk membawah Amira kembali. Akhirnya dengan berat hati Shaka berangkat ke Jerman selama 3 bulan untuk urusan bisnisnya dan terpaksa dia harus menahan rindu nya untuk Amira sampai dia kembali.


Sisi Lain Kediaman Nenek Amira..


Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..


Telepon tanda panggilan masuk. Amira meraih ponsel di atas nakas dan melihat nomor yang tak di kenal di layar ponsel.


"Halloo.."

__ADS_1


"Halloo Amira.."


"Kak Reza?" Tanya Amira dengan wajah sumringah.


"Wah kau begitu pintar mengenali suara seseorang".


"Emm.. Kakak tau nomor baruku dari mana?" Tanya Amira tampak penasaran.


"Sudah ku bilang itu bukan hal yang sulit".


"Emm.. Yah sudah kalau begitu, aku tidak akan bertanya lagi".


"Oh yaa, Aku mau mengajakmu dinner apakah boleh?". Tanya Reza.


"Ta.. Tapi.. Apa Kak Reza tidak malu berjalan dengan wanita hamil sepertiku?" Tanya Amira ragu.


"Loh kenapa? Bilang saja kalau kita adalah pasangan. Mudah kan?" Jawab Reza santai.


"Yah sudah kamu siap-siap sekarang, kita ketemu di restorant, nanti aku share lock tempat nya". Ucap Shaka lalu mematikan sambungan telepon.


Amira pun segera bersiap-siap dengan memakai dress selutut berbahan strecth berwarna pink khusus ibu hamil dan memoles wajahnya dengan make up tipis. Namun tetap terlihat begitu anggun dan cantik. Setelah Reza mengirim share lock kepada Amira, Amira lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke depan untuk menunggui taksi.


Amira tengah berdiri di depan rumah nenek nya menunggui taksi. Setelah taksi datang, Amira langsung menaiki taksi tersebut menuju restorant yang di share lock Reza.


Taksi telah sampai di depan loby restorant, Amira membayar taksi dan turun dari taksi kemudian berjalan menuju restorant, sesampainya di restorant, mata Amira menyapu seluruh ruangan untuk mencari sosok Reza. Amira lalu melihat ke arah meja VIP, ternyata Reza sedang duduk di sana dengan melambaikan tangannya ke arah Amira.


Amira membalas lambaian tangan Reza sembari tersenyum manis dan berjalan menghampiri Reza. Setelah sampai di meja VIP, Amira langsung menarik kursi yang ada di hadapan Reza dan duduk di hadapannya.


Reza menatap Amira dengan tatapan kagum. Bagaimana tidak, meski sedang hamil kecantikan Amira tidak pernah pudar malah kecantikannya seperti bertambah mungkin karena bawaan hamil.


"Kenapa menatapku terus?" Tanya Amira tampak kikuk.


"Ah Kak Reza bisa aja". Amira semakin gugup.


"Oh yah tunggu sebentar ya".


Reza pun memanggil salah satu pelayan dengan isyarat menggunakan tangannya. Tak lama, pelayan itu datang.


"Selamat malam pak, ini buku menunya" Ucap seorang pelayan dengan ramah sembari memberikan buku menu kepada Reza.


Reza dan Amira melihat buku menu itu.


"Kakak mau pesan apa?" Tanya Amira yang kebingungan melihat begitu banyak menu.


"Aku pesan skirt steak, kalau kamu?"


"Sama aja deh, aku juga skirt steak aja".


" Yakin hanya itu? Gak mau tambah yang lain?"


"Emm.. Itu aja deh".


"Jadi skirt steak nya 2 sama minum nya juga 2 ya". Ucap Reza kepada pelayan itu.


"Baik pak, tunggu sebentar ya". Ucap pelayan itu pamit undur diri untuk ke belakang sembari membungkukkan badannya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian pesanan pun sudah sampai. Reza dan Amira menyantap makanan mereka masing-masing.


"Gimana enak nggak?" Tanya Reza sembari tersenyum manis.


"Iyaa enak".


"Abis ini, kamu mau ke mana?" Tanya Reza sembari memotong steak yang ada di piring.


"Emm.. Aku ikut ke mana kak Reza pergi". Jawab Amira tersenyum manis.


Selesai makan Reza membayar pesanan makanan mereka dan mengajak Amira keluar dari restoran itu menuju tempat yang bisa membuat Amira bahagia. Kini Reza dan Amira memasuki mobil, Reza kemudian melajukan mobilnya. Tak berapa lama, sampai lah mereka di suatu tempat yang sangat ramai, di sana terdapat banyak kios pameran makanan yang berbaris dan menjual berbagai jenis makanan yang unik-unik mulai dari makanan yang manis, pedas, asam hingga asin. Di sana juga ada kios pameran lukisan, kios pameran pakaian tradisional, berbagai macam aksesoris. Dan ada berbagai macam permainan seperti kuda pusing, biang lala dan masih banyak lagi.


Reza pun memegang tangan Amira dan membawahnya menyusuri jalanan panjang yang di bagian kanan dan kirinya di penuhi berbagai pameran itu. Amira pun terus berjalan perlahan mengikuti langkah Reza sembari matanya terus saja menatap kagum setiap sudut tempat yang di penuhi oleh lampu-lampu kecil itu.


"Kenapa kau hanya diam? Pilihlah mana yang kau suka". Ucap Reza tersenyum.


"Ah tidak usah melihatnya saja sudah membuatku sangat senang". Jawah Amira kembali cengengesan.


Mereka terus berjalan hingga sampai lah ke area wahana permainan, mata Amira sontak langsung tertuju ke sebuah permainan yaitu kuda pusing.


"Kalau aku tidak hamil, aku pasti mau menaiki wahana itu. Aku ingat dulu mama dan papa sering membawah ku ke wahana permainan seperti ini dan pasti aku akan selalu memilih permainan kuda pusing ini". Ucap Amira sembari menatap senang ke arah permainan itu.


Reza yang melihat itu ikut senang melihat wanita yang ia sukai kembali ceria.


"Bagaimana kalau kita ke kios pameran aksesoris". Ucap Reza mencoba menawarkan.


"Boleh juga".


Mereka pun berjalan menuju kios pameran aksesoris itu. Sesampai nya di sana mereka masuk ke dalam kios itu. Amira menatap kagum semua aksesoris yang ada di kios itu, semuanya unik-unik, Amira perlahan mendekati sebuah anting unik berbentuk makanan french fries dalam kios itu.


"Kau suka?" Tanya Reza menatap Amira sembari mengangkat kedua alisnya.


Amira hanya mengangguk tersenyum. Reza pun mengambil anting itu dan membayarnya.


"Apa hanya itu?" Tanya Reza lagi.


"Iyaa itu saja dulu".


Mereka pun berjalan keluar dari kios itu. Mereka berjalan melihat-lihat beberapa wahana lainnya. Hingga akhirnya Amira merasa kelelahan dan mengajak Reza untuk pulang. Tepat pukul 22.00 malam Reza mengantar Amira pulang sampai ke rumah neneknya.


"Kak.. Terimakasih ya sudah mau repot-repot mengajakku ke wahana tadi". Ucap Amira sembari tersenyum manis menatap Reza.


"Aku tidak repot sama skali, asalkan kau senang aku juga ikut senang". Jawab Reza mengusap-usap lembut rambut Amira.


" Yah sudah aku masuk dulu ya".


"Amira.."


Amira yang hendak turun dari mobil sejenak terhenti dan kembali menatap Reza.


"Ada apa kak?" Tanya Amira mengerutkan dahinya.


"Aku harap, kamu pikirkan baik-baik lamaran ku kemarin ya, aku harap kau bisa menerimaku". Ucap Reza menatap lekat ke arah Amira.


"Aku masih memikirkannya, ku harap kak Reza memberiku waktu". Jawab Amira menatap sendu ke arah Reza.

__ADS_1


" Iyaa pasti, aku akan tetap menunggumu".


Amira pun turun dari mobil dan berdiri di dekat mobil Reza sembari melambaikan tangannya. Tak lama Reza melajukan mobilnya dan meninggalkan pekarangan rumah nenek Amira dengan Amira yang masih berdiri menatap kepergian Reza.


__ADS_2