
Kini Riana sudah sampai di rumah Salsa, Riana berjalan perlahan menuju pintu rumah Salsa dan mengetuknya dengan pelan.
Perasaan Riana bercampur aduk, rasa cemas Riana semakin bertambah, dia berfikir bagaimana kalau Amira juga tidak ada di sini, namun dengan perasaannya yang kalut Riana tetap ingin membuktikan apa benar Amira ada di dalam atau tidak.
Setelah beberapa kali mengetuk, akhirnya pintu di buka, dan kebetulan Reza yang membukanya.
“Bu’ Riana?” Reza membulatkan matanya dengan sempurna, dia tau persis apa gerangan yang mendatangkan ibu’ Riana ke rumahnya.
“Nak Reza, apa boleh saya bertanya? Maaf kalau saya lancang dan mengganggu nak Reza sepagi ini, saya sengaja datang ke sini untuk bertanya apa semalam Amira datang ke sini? Mungkin dia datang menemui Salsa,” tanya Riana dengan raut wajah sedih.
“Emmm, bu’ mari masuk biar saya jelaskan di dalam,” ucap Reza sopan sembari mempersilahkan Riana masuk.
Riana pun masuk ke dalam rumah Reza tepatnya di ruang tamu, setelah dipersilahkan Riana mendudukkan dirinya di sofa milik keluarga Reza.
Reza pun ikut duduk dan menawari Riana minum, namun dengan halus Riana menolaknya, ia hanya ingin mendengar penjelasan Reza dulu karena perasaan khawatirnya yang begitu besar pada Amira.
Tak lama Reza pun menjelaskan semua kronologi yang dia tau, dia juga menjelaskan kalau dia sudah mencoba meyakinkan Shaka dan mencari buktinya, setelah dia mendapati Shaka tengah berada di rumahnya untuk mencari Amira, dia pun meyakinkan Riana bahwa Shaka sudah pergi mencari Amira.
Namun mendengar penjelasan Reza, Riana semakin menangis.
“Tidak, tidak mungkin anakku seperti itu, Amira adalah wanita baik-baik, tidak mungkin dia melakukan hal serendah itu,” tangis Riana kembali pecah.
Reza pun terdiam dengan perasaannya yang semakin bercampur aduk.
“Reza, Amira tidak seperti itu, aku mohon tolong katakan pada Shaka jangan menilai Amira buruk hanya karena itu, aku mohon yakinkan dia nak Reza,” ucap Riana menatap lirih ke arah Reza, sementara Reza mencoba menenangkan Riana.
“Bu’ Riana, aku akan pergi bersama Shaka mencari Amira, jadi bu’ Riana tunggu saja di sini,” Reza mencoba meyakinkan Riana.
“Aku ikut,” pintah Riana kemudian.
“Tapi bu..”
“Reza aku mohon biarkan aku ikut,” pintah Riana lagi dengan memelas.
Akhirnya Reza pun menyetujui permintaan Riana, ia sudah tidak bisa membantah lagi, namun sebelum pergi dia sudah menghubungi Kevin dan menceritakan segalanya pada Kevin sehingga mereka berdua akan sama-sama membantu Shaka mencari Amira.
Sementara Shaka, dengan penuh rasa cemas ia terus mengemudikan mobilnya untuk menyusuri jalanan kota, sebelumnya ia telah mencari Amira ke berbagai tempat yang ia tau, namun sama sekali tidak membuahkan hasil, sepanjang jalan dia terus mencoba menghubungi Amira, di awal menelepon nomot teleponnya masih terdengar aktif, tapi sama sekali tidak ada jawaban dari Amira, hingga pada akhirnya ponsel Amira sudah tidak aktif lagi ketika di telepon kedua kali dan seterusnya, kini rasa penyesalanpun mulai datang menghampiri Shaka, dia terus mengutuk dirinya sendiri.
“Kenapa aku jadi begitu bodoh dan ceroboh, kenapa aku tidak mendengarkan penjelasannya dulu,” gumam Shaka dalam hati.
“Maafkan aku Amira, aku terlalu cepat emosi, aku menyesal sudah mengusirmu, aku mohon kembalilah, pulanglah ke rumah Amira,” ucap Shaka seorang diri sembari kembali mencoba menghubungi Amira.
Namun lagi-lagi panggilan itu hanya disambut dengan suara operator yang menyatakan nomor Amira sedang tidak aktif, Shaka pun dibuat semakin frustasi dengan pencariannya, dengan rasa penyesalan yang semakin nyata ia rasakan.
__ADS_1
Tak terasa sudah sepagi ini namun Amira tak kunjung ditemukan, namun Shaka tak menemukan jejak apapun tentang Amira, kemudian ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan, lalu turun dan melirik ke sana kemari untuk mencari sosok Amira.
“Dimana kau Amira? Aku akan jadi orang paling bersalah jika terjadi sesuatu padamu,” ucap Shaka lirih yang nampak semakin kacau sembari mengusap kasar wajahnya sendiri.
“Dasar bodoh, kau sungguh lelaki bodoh Shaka!” Bentak Shaka yang terus mengutuk dirinya sembari menendang kasar ban mobilnya.
Tak lama mobil Reza pun terlihat berhenti di depan mobil Shaka, dengan begitu cepat Reza dengan diikuti oleh Kevin turun dari mobil Reza dan menghampiri Shaka yang nampak begitu kacau.
“Ka apa kau belum menemukan istrimu?” Tanya Kevin dengan raut wajah cemas.
Shaka pun hanya menggeleng lesu.
Tak lama Riana pun ikut turun dari mobil, ia berjalan cepat ke arah Shaka, dengan tatapan tajam dari matanya yang berfokus menatap Shaka.
*Paaakk*
Suara tamparan keras yang dilayangkan tangan Riana ke pipi kiri Shaka.
“Dasar jahat!” Bentak Riana.
“Suami macam apa kau ini, Amira baru saja pulang dari rumah sakit karena kecelakaan, dia belum sembuh total, tapi kau tega membiarkan dia pergi dari rumah di tengah malam, suami macam apa kau ini?” Ketus Riana.
Shaka dengan tatapan kosongnya hanya bisa terdiam, ia sama sekali tak marah saat Riana menampar pipinya dengan keras, hingga meninggalkan bekas merah.
“Sekarang katakan dimana anakku? Kenapa kau tega mengusirnya? Dimana otakmu?” Riana mulai kembali menangis dan meninggikan suaranya.
“Maafkan aku ma, aku sangat menyesal,” jawab Shaka dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Kau berjanji di depan aku dan suamiku, bahwa kau akan menjaganya, tapi mana? Semua janji mu palsu, jika terjadi apa-apa dengan anakku, aku tidak akan pernah memaafkanmu!” Ucap Riana lagi dengan emosi yang begitu menggebu-gebu.
“Bu’ Riana, sudah, aku mohon tenanglah,” Reza mencoba menenangkan Riana.
“Maafkan aku, aku memang lelaki bodoh, aku tidak pantas disebut suami yang baik,” ucap Shaka lirih dengan tatapannya yang masih kosong.
“Sudah sudah jangan saling menyalahkan, yang penting saat ini adalah Amira, kita harus mencari dan menemukan Amira hari semakin larut,” Kevin pun mencoba jadi penengah.
“Ka apa Amira membawa tasnya?”
“Sepertinya iya,”
“Apa mungkin dia menginap di hotel?” Tanya Kevin.
Shaka pun langsung melirik wajah Kevin.
__ADS_1
“Benar juga, kalau begitu kau aku minta agar kau cek seluruh hotel di kota ini, kau memiliki banyak akses dan kenalan jika menyangkut perhotelan kan? Tolong segera selidiki sekarang,” Shaka nampak mulai kembali bersemangat.
“Baik,” Kevin pun dengan cepat meraih ponsel di saku celananya.
Ia menelepon seluruh pihak hotel di kota itu, namun ternyata lagi-lagi mereka harus menelan kekecewaan saat mengetahui tidak ada wanita bernama Amira Zavia Wijaya melakukan check in di seluruh hotel, Shaka yang awalnya yang mulai semangat kini kembali terkulai lesu.
“Apa jangan-jangan dia kembali ke rumah neneknya di Bandung?” Tanya Kevin lagi.
“Benar, dia pasti pulang ke sana, aku ingat dulu ketika ada masalah dia memilih untuk ke sana untuk menenangkan pikirannya, dan aku yakin sekarang pun begitu, ayo kita segera ke sana,” ucap Shaka yang langsung ingin masuk ke mobilnya.
“Tunggu Ka,” Reza sontak menghentikan Shaka.
“Tapi apa kau yakin dia pergi ke desa tadi malam? Itu kan sudah sangat larut,” tanya Reza lagi sedikit ragu.
“Tidak ada salahnya mencarinya ke sana sekarang,” jawab Riana menyambut pertanyaan Reza.
Namun ketika hendak pergi, tiba-tiba ponsel Riana berdering panggilan dari Adi Wijaya suaminya, dengan perlahan Riana mengangkat telepon dari suaminya.
“Halo pa,” jawab Riana pelan.
“Ma, mama di mana?”
“Emmm… mama… mama…” Riana mulai gelagapan.
“Mama kenapa? Kok jadi gelagapan begitu?” Tanya Adi mulai curiga.
“Mama pergi bersama Shaka, Reza dan Kevin untuk mencari Amira,” jawab Riana mencoba jujur pada suaminya.
“Mencari Amira? Memangnya Amira kemana?” Tanya Adi yang mulai panik.
Akhirnya Riana menjelaskan semuanya kepada suaminya tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Setelah semuanya jelas, Adi pun menyusul ke tempat mereka berkumpul untuk ikut mencari Amira ke desa.
Kini mobil Adi melesat dengan cepat sampai ke tempat mereka berkumpul, Adi nampak begitu emosi memandangi Shaka dan hendak mau meninjunya namun di cegah oleh Riana.
“Pa… pa.. tenang dulu, yang paling penting kita cari Amira dulu,” Riana mencoba menenangkan suaminya.
“Awas saja kalau terjadi apa-apa dengan Amira!” Bentak Adi dengan raut wajah yang memancarkan emosi.
Sementara Shaka hanya terdiam menunduk, rasa bersalahnya semakin besar ketika melihat kedua mertuanya yang begitu menyayanginya kini menatapnya dengan amarah.
Akhirnya orang tua Amira naik ke mobil Reza, dan Kevin pindah ke mobil Shaka untuk pergi mencari Amira, mereka pergi menggunakan 2 mobil saja, sedangkan mobil orang tua Amira di jemput pak Ardi dan pak Dody, atas perintah Shaka.
__ADS_1