
Amira menaiki mobil menuju rumah Salsa. Melihat mobil yang dinaiki Amira sudah jalan lelaki yang sedari tadi mengawasi Amira segera menghidupkan mobilnya dan mengikuti mobil Amira. Amira dengan di supiri Dody kini sampai di pekarangan rumah Salsa.
"Pak, saya masuk dulu ya. Nanti pak Dody pulang dulu, kayaknya saya agak lama di sini nanti kalau saya pulang saya telepon bapak." Ucap Amira pada pak Dody.
"Baik nona."
Amira pun turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah Salsa. Sementara dari kejauhan, lelaki yang sedari tadi mengawasinya dari jauh terus melihat ke arah Amira yang berjalan masuk ke dalam rumah Salsa.
"Ternyata dia pergi ke rumah Salsa." Ujar lelaki itu seorang diri.
"Amira, i miss you." Ucap lelaki itu lagi, yang tak lain adalah Genta. Ya Genta kembali ke indonesia, karena saat ini kampus mereka sedang libur jadi dia kembali ke indonesia hanya selama 2 minggu.
Selain karena sedang libur, dia juga sangat ingin menemui Amira, dia sangat rindu dengan Amira yang di kiranya masih menunggunya sampai saat ini. Genta tidak tau bahwasanya saat ini Amira sudah menikah dengan orang lain, jadi dia masih dengan begitu percaya diri ingin menemui Amira. Safa bukan tidak memberitahu Genta soal Amira yang sudah menikah, hanya saja setiap dia ingin memberitahunya selalu saja gagal.
Saat ini Amira sudah ada dalam rumah Salsa. Amira duduk di ruang tamu dan menunggui Salsa.
"Hei Amira. How are you?" Tanya Salsa begitu sumringah dan langsung memeluk Amira.
"Aku baik, kamu gimana?" Amira membalas pelukan Salsa.
"Aku juga baik, aku senang banget akhirnya kamu datang berkunjung lagi ke rumah aku. Sudah lama sekali kita gak ketemu." Ujar Salsa sembari melepas pelukannya.
"Iya, tadi aku baru dari kantor Shaka, terus Shaka ke rumah sakit untuk melihat keadaan Yura. Yura sekarang masuk rumah sakit." Jawab Amira tampak lesu.
__ADS_1
"Amira, apa kau tidak masalah jika suamimu terus menemui Yura?" Tanya Salsa tampak khawatir dengan rumah tangga sahabatnya itu sembari mempersilahkan Amira duduk.
"Justru aku sangat merasa bersalah pada Yura, bagaimanapun aku yang orang ketiga di antara mereka, karena mereka bersama di saat aku belum hadir dalam hidup Shaka."
Salsa menangkap ekspresi aneh dari sahabatnya itu di saat berbicara soal Shaka. Sepertinya dia sudah mulai mencintai Shaka namun dia masih gengsi untuk mengakuinya, sehingga Salsa berinisiatif untuk menasehati Amira agar tetap teguh mempertahankan Shaka yang saat ini sudah berstatus sebagai suaminya. Salsa juga sudah tau soal Yura sejak lama karena Reza sering menceritakan sahabat-sahabatnya itu kepada Salsa, dia juga tau semua tentang perjalanan cinta segitiga mereka.
"Amira, kalau menurut saranku, kamu jangan terlalu memikirkan perasaan Yura, walau pun Yura yang lebih dulu kenal Shaka dari pada kamu, tapi yang istrinya Shaka itu kamu, jadi kamu jangan membiarkan Shaka terlalu dekat dengan Yura." Salsa mencoba mengingatkan.
Amira pun hanya diam sembari menundukkan kepalanya, pikirannya melayang entah ke mana.
"Oh ya Mir, aduh aku sampai lupa buatin kamu minum sebentar aku ke dapur dulu ya." Ucap Salsa dan mengajak Amira ke ruang keluarga untuk duduk menunggunya di sana.
Salsa berlalu ke dapur untuk mengambil minum sementara Amira duduk di ruang keluarga menunggui Salsa sembari memainkan ponselnya. Namun tiba-tiba, ia mendengar suara tangisan bayi dari dekat kamar Reza. Amira penasaran, ia pun melangkah pergi menuju sumber suara dan perlahan membuka gagang pintu kamar itu.
Setelah masuk ke dalam kamar itu, Amira mengerutkan dahinya tampak heran dengan keberadaan bayi di rumah Reza dan Salsa. Dengan langkah gontai, Amira berjalan menuju box bayi itu dan melihat ada bayi yang tengah menangis di dalam sana. Melihat bayi itu menangis Amira segera mengangkat bayi itu dan mendekapnya, melihat bayi itu, seketika Amira tersenyum sembari meneteskan air mata dia bahagia melihat bayi itu dan menangis karena teringat bayinya yang diduganya sudah tiada.
"Kamu siapa? Kenapa kamu ada di rumah Reza dan Salsa? Kau tau? Melihatmu aku jadi teringat dengan anakku. Kalau dia masih hidup, pasti sekarang dia sudah sebesar kamu." Ucap Amira pada bayi itu sembari mengusap lembut hidung bayi itu dengan jari telunjuknya.
"Amira." Panggil Salsa saat melihat Amira tengah menggendong ponakannya.
Amira segera mengusap air matanya dan menoleh ke arah Salsa.
"Eh Salsa, maaf aku mendengar suara tangisannya, jadi aku ke sini untuk melihatnya." Jelas Amira tampak kikuk.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku malah senang karena kamu berhasil menenangkannya, kamu seperti sudah mahir ya menenangkan bayi padahal kamu belum sempat mengurus bayi."
"Hehehe iya." Jawab Amira yang sebetulnya juga bingung kenapa anak itu bisa tenang padahal baru saja di peluknya.
"Oh iya, namanya siapa?" Tanya Amira sembari menatap bayi dalam dekapannya itu.
"Namanya Queen Edelenyi." Jawab Salsa tersenyum.
"Dia ponakanku, anak dari kakak sepupuku Roy, dia menghamili seorang perempuan dan meninggalkan perempuan itu tidak mau bertanggung jawab. Sampai akhirnya dia kecelakaan saat dia lari dari perempuan itu dan meninggal." Jelas Salsa menahan tangisnya.
"Lalu ibunya ke mana?"
"Ibunya seperti mengalami trauma berat baru-baru ini tetangganya menelepon kak Reza kalau perempuan itu menangis histeris setiap hari dan tertawa sendiri. Mereka memvonis wanita itu gila dan meminta kak Reza membawanya ke rumah sakit jiwa, kak Reza pun setuju dan membawa wanita itu agar mendapatkan perawatan yang tepat dan bisa sembuh kembali. Kak Reza sendiri sudah mengadopsi anak ini, untuk menggantikan tanggung jawab kak Roy." Jelas Salsa menerawang jauh ke depan.
Mendengar itu, Amira jadi teringat dengan anaknya yang bernasib sama dengan bayi ini. Hingga tak terasa air mata Amira menetes.
"Amira, kau menangis?" Salsa tampak cemas.
"Tidak, aku hanya teringat anakku, melihat Queen aku tiba-tiba rindu padanya." Jawab Amira yang masih menitihkan air mata.
Tak lama, Amira mengahapus air matanya dan melepas kembali bayi itu dari dekapannya dan meletakkannya kembali ke box bayi. Setelah itu mereka berdua keluar dari kamar bayi itu dan kembali ke ruang keluarga.
Setelah cukup lama berbincang Amira pamit pulang karena pasti Shaka akan mencarinya. Ia pun menelepon pak Dody untuk menjemputnya kembali. Selang beberapa saat pak Dody datang, Amira dengan di antar Salsa sampai depan rumah langsung masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan pekarangan rumah Salsa. Setelah memastikan Amira pergi, Salsa kembali masuk ke dalam rumahnya namun langkahnya terhenti sejenak saat seeorang memanggilnya.
__ADS_1
"Salsa tunggu."
"Genta!!" Ucap Salsa yang begitu terperanjat ia sontak membulatkan matanya seolah tak percaya dengan keberadaan Genta di depan matanya.