
Amira menatap tajam ke arah Shaka..
"Kau bilang aku munafik? Yaa aku memang munafik. Kau bilang aku sok polos? Ya benar. Lalu apa lagi? Aku berbohong? Ya aku memang pembohong. Semua yang buruk ada padaku, apa aku puas? Apa kau senang Shaka Buwana? Dan apa tadi katamu? Nenek tidak akan suka? Bukankah itu bagus? Maka bicaralah pada nenekmu tentang keburukanku sehingga kamu dan aku akan segera bercerai tanpa harus terus bersandiwara. Masalah uangmu? Kau tenanglah, aku akan menggantinya. Aku hanya perlu mencari pria kaya dan menjebaknya dengan kepolosanku. Maka aku akan dapat banyak uang darinya dan segera mengembalikan uangmu. Pemikiran yang cerdas bukan?" Ketus Amira meluapkan emosinya yang selama ini dia tahan.
"Kau ini lelaki yang menyedihkan yang hidup dengan bergelimang harta dan fasilitas mewah namun hidupmu hampa dan hatimu mati. Bahkan ternyata kekayaan dan kemewahan tidak bisa membuat kemampuan berfikir otakmu menjadi lebih baik, malah tingkah lakumu seperti ini membuatmu terlihat semakin bodoh. Seharusnya kau bisa menggunakan uangmu itu untuk mencari taunya terlebih dulu tanpa harus memvonis orang sembarangan". Ucap Amira lagi dengan suara pelan sembari meneteskan air matanya.
Shaka terdiam mematung sembari mencerna ucapan Amira yang membuatnya semakin kesal namun entah kenapa dia tidak bisa berbuat apapun saat Amira meluapkan emosinya.
Amira melangkah pergi meninggalkan Shaka yang masih diam mematung. Amira berjalan menuju meja VIP di mana Reza dan Kevin menunggu.
"Amira kau baik-baik saja?" Tanya Reza tampak khawatir.
"Kak Reza boleh kah aku bertanya?" Tanya Amira sembari mengusap air matanya namun lagi-lagi terjatuh.
"Tentu saja boleh, kau mau bertanya apa?" Tanya Reza sembari mengusap air mata Amira dengan ibu jarinya.
"Bagaimana aku menurut penilaianmu? Apa kau memandang ku dengan buruk?" Tanya Amira menangis sesenggukan.
"Hei apa yang kau katakan, aku tidak pernah bernilai buruk padamu". Ucap Reza memegang kedua pundak Amira.
Amira menatap Reza dengan tatapan sendu sementara cairan bening di matanya yang dia usap dari tadi kini keluar kembali dari matanya. Amira kembali menangis dan dengan spontan dia memeluk erat tubuh Reza. Reza yang cemas membalas pelukan Amira dan mengusap rambutnya.
"Apa yang terjadi? Katakan padaku." Reza berbisik dengan sangat lembut.
Amira melepas pelukannya dan kembali bertanya.
"Apa kau menilaiku sebagai wanita yang sok polos?" Tanya Amira lirih.
"Pertanyaan macam apa itu? Aku tidak menilaimu begitu, dari sorot matamu aku bisa menilai kalau kepolosanmu sangat natural tidak di buat-buat". Jawab Reza tertawa, sembari mengacak ujung kepala Amira.
Reza memang benar- benar berhati baik, dia bisa menilaiku dari berbagai sisi, tidak seperti Shaka yang hanya menilaiku dari satu sisi dia hanya mengandalkan pikirannya sendiri tanpa mencari tau terlebih dahulu. Batin Amira sembari menatap sendu ke arah Reza.
"Sudah sudah.. Kamu tenang yaa jadi mau kamu bagaimana?" Tanya Reza dengan kembali memegang kedua pundak Amira.
"Aku mau pulang saja, ayo kita pulang". Ajak Amira sembari menggenggam tangan Reza.
Selang beberapa saat Shaka tiba di meja VIP dengan ekspresi yang sulit di tebak. Amira yang melihat kedatangan Shaka sangat kesal saat melihatnya, lantas Amira mengajak Reza untuk segera pulang.
"Shaka, Kevin kalian masih ingin di sini? Aku pulang lebih dulu ya suasana hati Amira sedang tidak baik". Ucap Reza berpamitan sembari menggenggam erat tangan Amira.
Shaka yang melihat itu menjadi begitu muak, dia mengalihkan pandangannya tidak mau melihat mereka. Setelah Amira dan Reza sudah hilang dari pandangannya Shaka langsung bangkit dari duduknya dan berdiri.
"Heii kau mau ke mana?" Tanya Kevin yang masih ingin menikmati suasana di restoran itu.
"Pulang". Jawab Shaka singkat sembari berlalu meninggalkan Kevin.
"Heii kenapa kau meninggalkan ku begitu saja? Coba lah untuk sedikit bersikap manis padaku, kalau kau seperti ini terus semua wanita takut mendekatimu". Celetuk Kevin sontak saja membuat Shaka menatap tajam ke arah Kevin.
"Ah.. Kau ini kenapa menatapku seperti itu? Kau benar-benar tidak punya selera humor". Ucap Kevin sembari tertawa.
Shaka dan Kevin pun segera masuk ke mobil sport milik Shaka dengan dikemudikan oleh Kevin dengan kecepatan tinggi, membuat suara yang di hasilkan dari mobil itu menjadi lebih sangar saat berada di jalanan.
"Mobilmu ini sangat keren, tapi kenapa selalu kau kurung di garasi?" Celetuk Kevin saat menaikan kecepatan.
Sementara Shaka lagi lagi tidak menggubris ucapan Kevin ia hanya diam sembari memiringkan senyumnya.
Melihat tingkah Shaka yang hanya diam saja membuat Kevin heran dan bertanya
"Heii Shaka, dari tadi aku lihat kau diam saja, dan kau juga tidak menggubris semua ucapanku, kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Kevin yang sedari tadi bingung dengan sikap temannya itu.
__ADS_1
"Aku mau kau melakukan sesuatu untukku". Ucap Shaka dengan tatapan dingin.
"Apa itu?" Tanya Kevin mengerinyitkan dahi.
"Aku mau, kau mencari tau latar belakang wanita yang sedang bersama Reza tadi". Ucap Shaka.
"Apa? Apa kau juga mulai tertarik dengan wanita yang sedang bersama Reza tadi? Ayolah Shaka masih banyak perempuan yang lebih cantik di luar sana tidak usah menikung sahabatmu sendiri". Celetuk Kevin mencoba menggoda Shaka.
"Kau jangan sok menasehatiku, dan tidak usa banyak bertanya lakukan saja perintahku! Apa kau mau di pecat". Ancam Shaka dengan kesal. Padahal sebenarnya Shaka sudah mengetahui latar belakang Amira, tapi itu hanya alibinya saja agar Kevin tidak curiga.
"Ah.. Kau ini tidak usa terlalu serius hidupmu begitu kaku dan penuh keseriusan. Apa hanya itu saja? Kenapa hanya mencari tau latar belakang seseorang membuat kamu jadi pendiam? Bukankah itu sangat mudah". Ucap Kevin tertawa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
SISI LAIN RUMAH REZA..
Ketika Reza membuka pintu Reza terkejut melihat Salsa sudah berdiri di depan pintu menungguinya.
"Oohh jadi kalian berdua pergi bersama tanpa mengajakku?" Ketus Salsa mencoba menggoda kakaknya.
"Untuk apa kau protes lagian siapa suruh kau lama pulang". Ucap Reza sembari tersenyum meledek.
"Salsa maafkan aku, aku tiba-tiba di panggil kak Reza untuk menemaninya makan malam bersama teman-temannya". Ucap Amira dengan wajah memelas.
"Yah sudah kalau begitu aku sudah tidak mau memberikan surprise lagi, ini tiup lilinnya". Ucap Salsa sembari memberi kue ulang tahun kepada Reza dengan lilin di atasnya.
Reza yang melihat itu pun sontak tersenyum bahagia dia pikir adiknya yang menyebalkan ini sudah lupa dengan ulang tahunnya ternyata dia masih ingat juga.
"Lalu ini hadiahnya". Tambah Salsa lagi sembari memberikan kado ulang tahun kepada Reza.
Reza pun meraih kado ulang tahun dari tangan Salsa dan langsung membukanya. Setelah di buka ternyata isinya adalah jam tangan branded yang harganya cukup fantastis.
"Selamat ulang tahun kakakku satu-satunya". Ucap Salsa sembari memeluk Reza. Reza sangat menyayangi Salsa, orang tua mereka meninggal dalam kecelakaan pesawat, saat itu Reza masih duduk di bangku kuliah sedangkan Salsa masih di bangku SMP jadi bisa di bilang Reza lah yang sudah menjaga Salsa sedari Salsa kecil sampai sekarang ini, semua keperluan Salsa juga selalu di penuhi oleh Reza jadi tidak heran kalau mereka saling menyayangi. Amira yang melihat itu begitu kagum dengan Reza yang begitu menyayangi Salsa, Reza selalu melindungi Salsa.
Melihat itu Amira jadi ingat kalau dia tidak memberikan kado apapun untuk Reza sehingga dia hanya berdiri kikuk di depan mereka.
Setelah selesai memberikan hadiah tiba-tiba Salsa mendapat telepon dari seseorang lalu ia izin ke belakang untuk menerima telepon.
Tinggalah Amira dan Reza di dalam ruangan itu. Akhirnya Amira memberanikan diri bersuara.
"Kak Reza, maafkan aku karena tidak memberi apapun di ulang tahunmu". Ucap Amira dengan wajah kikuk.
"Ah tidak apa-apa, aku hanya ingin kamu berhentilah menangis". Ucap Reza lalu berjalan menghampiri Amira dan memegang kedua pipinya dengan lembut.
" Tapi ini kan hari ulang tahunmu, apa lagi tadi aku sudah merusak acara makan malam mu bersama teman-temanmu di hari ulang tahunmu". Ucap Amira lirih.
"Tidak usah merasa bersalah begitu, aku tidak peduli dengan acara istimewaku atau hari istimewaku yang penting bagiku kebahagiaan kamu". Ucap Reza menatap lekat ke arah Amira.
"Terimakasih Kak, kau memang lelaki yang baik dan sangat mengagumkan pasti wanita di luar sana akan rela berkelahi demi mendapatkan perhatianmu". Ucap Amira dengan polosnya.
"Benarkah begitu? Apa kau juga akan melakukannya?" Tanya Reza sedikit tersanjung mendengar ucapan Amira.
"Tentu saja aku akan melakukannya, mulai malam ini dan seterusnya aku tidak akan menangis lagi dan akan selalu bahagia". Jawab Amira polos sembari tersenyum.
Sementara Reza mengerinyitkan dahinya karena merasa jawaban Amira itu bukan jawaban dari pertanyaannya yang sebenarnya. Maksud hati Reza ingin memastikan apa Amira juga akan melakukan hal yang sama seperti para wanita yang di sebutkannya tadi. Ternyata di tanggapi berbedah oleh Amira yang benar-benar polos.
Waktu menunjukan pukul 09.00 pagi, Shaka kini sedang berada di kantornya dan duduk di kursi kejayaannya. Shaka seketika teringat dengan perkataan Amira semalam yang mengatakan kalau Shaka tidak menggunakan uangnya untuk mencari tau yang sebenarnya, Shaka jadi penasaran apa sebenarnya yang akan Amira tunjukkan, dan di saat bersamaan dia juga teringat semalam dia menyuruh Kevin untuk mencari tau latar belakang Amira. Shaka kembali merasa penasaran, karena hingga detik ini Shaka belum membuka email yang di kirimkan Kevin tadi malam, Shaka meraih ponselnya dengan segera dia membuka email melalui ponsel pintarnya.
Terdapat beberapa email baru yang masuk namun Shaka melewatkannya dan berhenti tepat di email Kevin. Shaka membuka email itu dia melihat seluruh informasi tentang Amira.
Informasi itu di awali dengan biodata Amira yang menyangkut tempat dan tanggal lahir, pendidikan dan riwayat pekerjaan. Di situ juga tertera beberapa photo Kegiatan Amira beberapa hari terakhir ini dan seluruh rekaman cctv yang di retas oleh Kevin. Di situ di tunjukkan kalau malam itu Amira menaiki taksi dan berjalan menuju rumah Reza, tapi bukan Reza yang membukakan pintu untuk Amira melainkan seorang gadis yang seusia Amira yang mempersilahkan masuk. Tidak hanya biodata Amira tapi biodata gadis itu juga tertera di situ dan hubungannya dengan Amira. Ternyata dia adalah adik kandung Reza dan sahabat dekat Amira. Amira mengunjungi rumah Reza karena ingin menemui Salsa. Shaka memang sahabat Reza dia hanya tau Reza mempunyai adik perempuan tapi dia tidak kenal dengan wajah adiknya.
__ADS_1
"Kenapa aku bisa kecolongan informasi begini? Ternyata begitu? Dia menginap ke rumah Reza bukan karena ingin menemui Reza tapi karena ingin menemui sahabatnya. Dan dirumah itu juga tidak hanya mereka berdua tapi ada adik Reza juga di sana. Apa mungkin dia tidak pulang ke rumah orang tuanya karena tidak mau membuat mereka sedih?" Shaka berbicara seorang diri dia merasa bersalah sembari mengacak-acak rambutnya.
"Baiklah aku akan menjemputnya besok dari rumah Reza". Ucap Shaka sembari meletakkan kembali ponselnya.
Sore harinya..
Shaka mengendarai mobil menuju rumah Reza, ia berinisiatif untuk menjemput Amira. Sesampainya di rumah Reza Shaka langsung masuk ke rumah Reza dengan di sambut pelayan Reza. Shaka lantas meminta mereka untuk memanggilkan Amira. Tapi Shaka berpesan kepada pelayan untuk tidak memberitahu kalau dia yang datang.
"Nona.. Ada seseorang mencari anda di depan". Ucap pelayan sembari membungkukan badannya.
"Siapa?" Tanya Amira tampak bingung.
"Maaf nona dia tidak memberitahu namanya".
Amira langsung ke ruang depan dan memastikan siapa yang datang. Amira mengerinyitkan dahinya bingung untuk apa Shaka ke sini.
" Maaf untuk apa anda ke sini?" Tanya Amira tampak bingung.
"Amira!! Aku ke sini mau mengajakmu untuk pulang ke rumah". Ucap Shaka sembari berdiri dari duduknya.
"Untuk apa? Bukankah kita akan berpisah?" Celetuk Amira sedikit kesal.
"Amira, pernikahan kita baru 2 bulan apa kata nenek dan orang tua kita kalau kita berpisah secepat ini?" Shaka mencoba memberi pengertian.
Tak lama kemudian Reza pun datang dan tampak bingung melihat Shaka dan Amira berdiri saling berhadapan seperti orang yang sudah kenal lama.
"Shaka? Ada apa kamu ke sini?" Tanya Reza tampak bingung.
"Aku ke sini untuk datang menjemput istriku". Ucap Shaka dengan lantang.
"Apa katamu? Siapa istrimu?" Tanya Reza tambah bingung.
"Amira Zavia Wijaya dia istriku!! Wanita yang kau ajak ke acara ulang tahunmu adalah istriku". Ucap Shaka yang sontak membuat Amira membulatkan matanya karena kaget. Amira bergegas mendekat ke arah Shaka dan menarik kuat tangannya keluar. Sementara Reza yang melihat itu makin bingung, Reza pun mendekat ke arah pintu depan dan mencoba menguping pembicaraan mereka.
"Apa apaan kau beraninya mengatakan itu di depan Kak Reza?" Ketus Amira dengan penuh emosi.
"Aku sudah mencari tau tentangmu dan kau tidak berbohong sehingga kau ku izinkan untuk kembali lagi ke rumahku". Cetus Shaka yang masih tidak mau meminta maaf karena saking gengsinya.
"Apa? Kamu mengizinkan aku kembali ke rumah? sejak kapan aku meminta izin padamu?" Tanya Amira kesal.
"Pulanglah jangan membuat nenekku cemas, kalau dia tau kita bertengkar dia akan sangat sedih itu akan berpengaruh pada kesehatannya apa kau tegah melihat nenekku terbaring tak berdaya, lagi pula perjanjian pernikahan kita selama 1 tahun dan ini baru 2 bulan, saya tidak mau membuat nenekku dan orang tuamu kecewa". Ucap Shaka mencoba membujuk Amira namun dengan caranya yang dingin.
Reza mendengar itu sontak terperanga. Dia tidak menyangka Amira sudah menikah dengan sahabatnya sendiri dan ternyata mereka hanya menikah kontrak.
Setelah melihat Amira mulai memasuki ruang tamu tadi, Reza bergegas kembali berdiri di tempatnya semula.
"Kak Reza maafkan aku, aku harus pulang sekarang Salsa aku pamit pulang dulu yaa terimakasih banyak karena kalian mau menampungku di sini". Ucap Amira sembari menatap Salsa dan Reza bergantian.
"Amira kamu tidak usa sungkan, kami akan selalu menerimamu kapan pun kamu mau". Jawab Salsa sembari mengusap pundak Amira.
Amira melihat ke arah Reza yang hanya tersenyum kikuk ke arahnya. Amira membalas senyuman Reza dan pamit kepadanya.
" Kak Reza, maaf aku tidak mengatakan yang sebenarnya, aku tidak bermksud..
"Sudah Amira tidak apa-apa tidak semua privasi kamu harus aku tau". Ucapnya sembari memegang pundak Amira. Reza begitu kaget mengetahui semua apa yang di dengarnya hatinya begitu hancur namun dia mencoba bersikap baik-baik saja di hadapan Amira dan Shaka. Dia tidak mau melihat Amira merasa bersalah.
" Ekhem". Shaka berdehem.
Reza sontak saja melepaskan tangannya dari bahu Amira dan menatap kikuk ke arah Shaka. Amira mengambil barang-barangnya di kamar Salsa dan menghampiri Shaka lagi yang sudah menunggunya di loby depan rumah Reza. Amira lantas memasuki mobil dan duduk di jok depan di samping Shaka. Lalu Shaka segera melajukan mobilnya. Sementara Reza hanya berdiri mematung di depan loby rumahnya memandangi kepergian mereka.
__ADS_1