
Malam hari…
Shaka sedang duduk di ruang tengah sembari memainkan ponsel, sementara Amira berjalan menghampirinya dengan membawa secangkir kopi untuk Shaka.
Shaka melirik Amira dan tersenyum, ia pun meraih kopi yang di berikan Amira padanya, di susul Amira yang duduk di sampingnya, Shaka menyeruput kopi buatan Amira, ia memejamkan mata menikmati manis gula dari kopi itu tapi tidak meninggalkan cita rasa kopi secara alami, kopi buatan Amira memang selalu menjadi kesukaannya, menurut Shaka rasanya beda.
“Apa Samudra sudah tidur?” Tanya Shaka setelah meletakkan kembali secangkir kopi itu di atas meja.
“Sudah,”
Shaka pun kembali menyeruput lagi kopinya, sembari menatap wajah Amira yang sedang berada di depannya, begitu lah Shaka, setiap bersama, ia selalu menatap wajah Amira seakan tak pernah bosan memandang indahnya ciptaan tuhan yang satu ini, detik kemudian, Shaka menarik tangan Amira dan mendudukan istrinya itu di pangkuannya, Shaka menyibak rambut panjang Amira yang tergerai ke depan.
“Shaka, terima kasih ya.” Cetus Amira sembari melingkarkan lengannya di leher Shaka, hari ini ia menghargai usaha Shaka yang sudah mengatakan kebenaran tentang putrinya.
Shaka pun sontak mendaratkan bibirnya ke bibir Amira.
“Tidak perlu berterima kasih pada suami mu sendiri,” jawab Shaka setelah melepas tautan bibir mereka.
“Tapi..” ucapan Amira terpotong karena Shaka mengecup bibirnya untuk kedua kali.
Amira pun tersenyum sembari menunduk, rona merah di pipinya kian nampak, lalu ia pun kembali mendongakkan kepalanya menatap lekat wajah Shaka.
“Aku sungguh mencintaimu,” ucap Amira kemudian.
Shaka pun diam sejenak, dengan pandangan mata yang belum teralihkan.
“Kenapa kau diam saja?” Tanya Amira dengan dahi mengkerut.
Tanpa pikir panjang, Shaka langsung berdiri sembari menggendong tubuh Amira.
“Dari pada berbicara, lebih baik bertindak,” ucap Shaka sembari terus membawa tubuh Amira masuk ke dalam kamar.
Sesampainya di kamar Shaka menurunkan tubuh Amira dengan membaringkan tubuhnya di ranjang, ia membantu melepas piyama yang membalut tubuh Amira, hingga lekuk tubuh Amira terlihat jelas.
Shaka menatap manik mata Amira dengan lekat, mengukung tubuh Amira yang ada di bawahnya.
Jari Shaka bergerak menyusuri kening, turun ke pipi, hidung dan berhenti di bibir ranum Amira.
“Apa sudah boleh? Ini sudah 3 bulan kamu melahirkan,”
Amira mengangguk sembari tersenyum malu.
“Aku akan melakukannya dengan pelan,” bisik Shaka dengan suara parau.
Amira menahan dadanya yang bergemuruh, di sisi lain ia masih takut, trauma dengan rasa sakit karena baru beberapa bulan usai melahirkan buah cinta mereka, namun juga tak ingin mengecewakan sang suami yang tampak penuh harap padanya, maklum sudah 3 bulan nganggur.
Amira yang sudah lihai dan percaya diri, ia sudah semakin pintar membalas ciuman sang suami, menyeimbangkan gerakan demi gerakan yang menghadirkan rasa nikmat.
Melupakan semua rasa sakitnya, mencurahkan cinta dengan penyatuan tubuh.
Amira memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya saat Shaka menyusuri leher jenjangnya, gigitan demi gigitan mampu membuatnya terlena, beberapa tanda cinta pun sudah bertebaran di kulit putih Amira.
Amira menikmati alur yang sudah di pimpin oleh Shaka, sesekali Amira mengeluarkan suara erotis yang tertahan hingga terdengar merdu di telinga sang suami.
“Jangan di tahan,” bisik Shaka menggigit daun telinga Amira.
Malam semakin larut, dingin kian mencekam, namun di kamar ber ac itu terasa panas, peluh bercucuran saat Shaka mulai menerobos gawang Amira, Shaka lupa Amira baru melahirkan, sehingga ia menghentak dengan keras, Shaka pun beberapa kali meluncurkan kata maaf.
Buliran bening menetes membasahi pelipis Amira yang kesakitan saat Shaka berhasil menembus gawangnya.
Shaka menatap setiap jengkal wajah istrinya yang nampak meremang menahan sakit, ada rasa kasihan namun ia pun tak bisa menahan misinya yang hampir finish.
__ADS_1
Hingga beberapa menit kemudian, Shaka menyemburkan lahar panas nya, ke dalam rahim Amira setelah beberapa bulan menahannya.
Shaka ambruk di atas tubuh Amira, mengatur nafasnya yang terengah, keduanya bertukar keringat yang membasahi sekujur tubuh.
“Aku mencintaimu,” bisik Shaka diiringi dengan kecupan lembut di kening Amira.
Tak ada jawaban, Amira masih merasakan perih yang menjalar hingga ke tubuhnya, ia tak menyangka melakukan itu sehabis nifas akan sesakit itu, selama ini ia meremehkan cerita orang-orang yang sudah pernah melahirkan dan kini ia merasakannya sendiri, kehamilan pertama Amira tidak merasa sakit saat melakukannya karena itu sudah lewat setengah tahun dia melewati masa nifas, tapi saat ini ia begitu kesakitan karena itu baru 3 bulan dia melewati masa nifas.
Suara rintihan kembali terdengar saat Shaka mulai memejamkan mata, ia memiringkan tubuh dan mengecup pipi Amira.
“Sakit ya?” Tanya Shaka konyol.
Untuk apa menangis kalau tidak sakit dasar laki-laki, sudah melukai pakai tanya segala, apa dia pikir langsung nikmat seperti yang ia rasakan.
“Sakit,”
“Maaf aku terlalu bersemangat, aku lupa kalau kamu baru habis melahirkan,”
“Sekarang tidur lah aku akan menjagamu,” mendekap Amira di dada bidangnya untuk melewati malam yang tinggal beberapa jam lagi.
Keesokan harinya…
Amira menatap wajah tampan yang terlelap di samping nya, senyum mengembang mengingat keganasan pria itu, membuat rasa cinta dalam hatinya tumbuh semakin besar.
“Ka bangun,” ucap Amira lirih.
Mengelus rahang kokoh Shaka dengan lembut, mengusap dadanya yang hanya tertutup selimut, dada bidang yang menghangatkan tubuhnya setelah pergulatan, kini menjadi tempat ternyaman untuk dia bersandar.
Sebenarnya belum pagi, namun Amira sudah tidak bisa tidur, rasa sakit yang menyeruak di bagian area sensitifnya, membuat Amira terganggu.
Shaka menggeliat meregangkan otot-ototnya yang kaku, pelepasannya yang pertama setelah sekian bulan membuat ia tidur nyenyak dan nyaman.
Menatap Amira yang yang duduk bersandar di headboard.
“Iya, aku tidak bisa tidur, masih sakit,” jawab Amira jujur.
“Maaf sayang,” cetus Shaka sembari membangkitkan dirinya untuk duduk ikut bersandar di heardboard, ia meraih kedua tangan Amira dan menatap lekat.
“Aku mau ke kamar mandi,” celetuk Amira manja.
Shaka pun mengangkat tubuh Amira dan membawanya ke kamar mandi, menurunkan gadis itu begitu sampai di kamar mandi.
Amira mencengkram erat tepi bathub, menahan rasa perih yang menerpa bersamaan dengan mengalirnya urine.
Shaka yang bersandar di depan pintu kamar mandi tersentak kaget melihat istrinya yang masih berjongkok sembari mendesis.
“Kenapa sayang?” Tanya Shaka antusias, sembari membantu mengikat rambut Amira yang terurai.
“Tidak apa-apa,” jawab Amira tidak mau terlalu banyak mengeluh.
“Aku bantu ya,” tawar Shaka yang seketika di tolak oleh Amira.
Tak lama Amira keluar dari kamar mandi menghampiri Shaka dan memakai bajunya kembali, rasa nyeri itu sedikit reda setelah di basuh dengan air hangat.
“Sudah tidak sakit sayang?” Tanya Shaka melingkarkan tangannya di pinggang Amira.
Amira menggeleng pelan, setelah itu tanpa basa basi lagi Shaka langsung mencium bibir ranum Amira, entah kenapa rasa nikmat semalam membuatnya ketagihan dan ingin mengulangnya lagi.
“Ad.. ada apa?” Tanya Amira saat Shaka mulai menggendongnya kembali ke atas ranjang.
“Aku ingin lagi,” bisin Shaka dengan lembut.
__ADS_1
Detik kemudian mereka sudah kembali bergulat di atas ranjang, Amira mencengkram punggung Shaka saat sesuatu akan keluar dari bawah sana, entah itu apa, Amira bingung dan meminta Shaka segera mengakhirinya, perutnya kembang kempis menahannya, takut ia akan pipis saat Shaka menikmati pergulatan mereka.
“Jangan ditahan!” Shaka memberi instruksi hingga akhirnya Amira menyerah dan mengeluarkan apa yang seharusnya terlepas.
Shaka bersyukur bisa merasakan kembali nikmatnya bercinta.
Akhirnya permainan pun berakhir, Shaka mencabut senjatanya sembari mengecup kening Amira.
Tok… tok… tok
Ketukan pintu mengejutkan Amira yang masih telanjang.
“Nona, tuan kecil menangis,” panggil Santi pada nona mudanya.
“Iya san sebentar,” jawab Amira sembari kembali memakai bajunya.
Shaka turut memakai bajunya dan menyusul istrinya ke kamar Samudra, pada saat masuk Shaka mendapati Amira yang tengah menyusui anaknya, senyum mengembang di bibir Shaka, melihat dua orang paling berharga dalam hidupnya.
Shaka mendekati Amira dan putranya, lalu mengusap pelan kedua pundak Amira, Amira yang sedang menyusui Samudra mendongakkan kepalanya menatap Shaka yang sedang berdiri di sampingnya, tak lama Shaka duduk di samping Amira.
“Sayang, bagaimana kalau kita bertiga jalan-jalan ke mall?” Tanya Shaka menawarkan.
“Boleh, lagi pula Samudra sudah mulai besar, dia sudah bisa ikut dengan kita ke mana-mana,” jawab Amira sembari mengusap lembut pipi mungil anaknya.
“Ya sudah setelah dia selesai menyusu, kamu siap-siap ya, aku juga mau siap-siap,” Shaka pun meninggalkan kamar Samudra menuju walk in closet di kamar mereka untuk mengganti pakaian.
Kini mereka bertiga sudah siap untuk berangkat, Shaka membantu membuka kan pintu mobil untuk Amira yang sedang menggendong putranya.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang, melewati gedung-gedung tinggi yang menjulang, sembari menyetir Shaka sesekali melirik putranya dan juga Amira, kini kebahagiaan nya hampir lengkap dengan kehadiran Samudra, dia berjanji suatu saat nanti akan membawa Queen putri pertama Amira untuk bersama mereka agar kebahagiaannya semakin lengkap.
Baru saja turun dari mobil, Amira melihat 3 orang keluarga kecil yang juga baru keluar dari mobil hendak berjalan memasuki mall tersebut.
“Yura,” panggilan Amira menghentikan langkah Yura yang kini sedang menggandeng tangan Queen.
Melihat Amira, dengan sigap Yura segera menggendong Queen, takut Amira akan merampas anak angkatnya itu.
“Mama,” teriak Queen ketika melihat keberadaan Amira.
Amira tersenyum dan mengayunkan langkahnya ke arah mereka, ketika Queen hendak turun, Yura tidak mengizinkannya, namun Queen terus meronta memaksa ingin turun, tapi tetap saja Yura tidak membiarkan dia turun, melihat itu Amira nampak khawatir, dia begitu merindukan anak pertamanya itu, namun Yura tidak mengizinkan Amira untuk mendekatinya lagi sekarang, tiba-tiba saja hati Amira seperti di remas, sakit tak berdarah.
“Jangan pernah mendekati Queen lagi,” Yura memberi peringatan pada Amira.
“Yura tolong izinkan Amira memeluk Queen sebentar saja,” pintah Shaka memohon.
“Tidak! Pokoknya aku tidak mau, Reza ayo kita pulang saja,” buliran bening mulai turun membasahi pipinya.
“Yura aku mohon, kembalikan anakku, sudah cukup selama setahun lebih aku terpisah darinya, aku mohon tolong berikan dia padaku Yura, dia anakku,” ucap Amira dengan nada memohon.
“Jangan harap, enak saja, aku sudah merawat dan membesarkan dia selama ini, aku tidak akan memberikan anak ini, dia anak ku!” Pekik Yura membuat Queen takut dan semakin menangis.
Melihat perdebatan antara dua wanita itu membuat Reza dan Shaka kelimpungan, tak lama Reza mengambil langkah untuk segera menyusul Yura yang sudah lebih dulu masuk ke mobil.
“Shaka, Amira maafkan Yura, aku janji, aku akan membujuk Yura agar dia memberikan Queen pada kalian,” ucap Reza meyakinkan, ia pun segera masuk ke mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan Amira dan Shaka di sana.
Amira pun semakin menangis, melihat keadaan itu Shaka segera merangkul Amira dan mengusap pelan kepalanya, lalu memutar tubuh Amira menghadap Shaka.
“Sayang, berhentilah menangis, kita pulang ya, kasihan Samudra, aku akan berusaha membujuk Yura agar dia mau menyerahkan Queen pada kita, kamu serahkan saja semuanya padaku, kamu percaya padaku kan?” Tanya Shaka sembari memegang kedua pundak Amira, lalu mengusap air mata di pipi mulus istrinya itu.
Menyadari keberadaan Samudra dalam dekapannya, Amira jadi merasa bersalah.
“Maafkan mama sayang,” ucap Amira mengusap kepala putranya dengan sayang.
__ADS_1
Shaka pun menuntun ibu dan anak itu masuk ke mobil, acara jalan-jalan yang sudah mereka rencanakan gagal total, akhirnya mereka memilih pulang ke rumah.