
Mendengar itu sontak Amira meneteskan air matanya, sudah 5 tahun lamanya ia terpisah dengan anaknya, sudah 4 tahun dia dan Yura memperebutkan Queen, akhirnya hari ini, Yura merelakan Queen kembali padanya, dia tidak menyangka, pengorbanannya akan berbuah manis.
“Be.. benar.. kah?” Tanya Amira masih terbata-bata karena keadaannya yang belum pulih total dengan sungkup oksigen yang masih menutupi mulut dan hidungnya.
“Iya Amira, mulai hari ini kau boleh memiliki Queen,” jawab Yura dengan buliran bening yang sejak tadi sudah membasahi netranya.
“Nak, mama Amira ini adalah mama kandung mu, mama Amira yang sudah melahirkan Queen,” jelas Yura yang kini beralih menatap Queen.
“Jadi mama Yura itu bukan mama kandung Queen?” Tanya bocah itu dengan raut wajah sedih.
Bagaimana pun selama ini bocah 5 tahun itu mengira kalau Yura dan Reza lah orang tua kandungnya, karena selama ini, tidak ada yang berani membocorkan jati dirinya kepada siapa pun, ia mengira Amira hanya lah ibu angkat yang sudah baik padanya selama ini, tentu saja semua itu ide Yura, dia sengaja tidak mau membongkar jati diri Queen yang sebenarnya, karena sebelumnya ia tidak mau kehilangan Queen, namun sejak kejadian nahas itu, mata hatinya sudah terbuka lebar, hingga akhirnya dia mau dengan sukarela memulangkan Queen pada Amira, ibu kandungnya.
“Iya sayang, mama Yura, hanya merawat Queen dari kecil, tapi yang melahirkan Queen sebenarnya adalah mama Amira,” jelas Yura lagi.
“Kenapa baru di bilang sekarang?” Tanya Queen mendongak menatap Yura dengan mata yang berkaca-kaca, Queen memang sangat ingin dekat dengan Amira, tapi dia juga sudah terlanjur menyayangi Yura, karena yang dia tau, Yura lah ibu kandungnya, dan lagi, Yura lah yang setiap saat menemani hari-harinya.
“Karena mama mau menunggu kamu besar dulu, sekarang kan Queen sudah mengerti jadi sekarang lah saatnya mama Yura menjelaskannya pada Queen,” jelas Reza menimpali.
“Queen, sini sayang, kamu peluk mama Amira,” Shaka mengulurkan tangannya.
Queen pun turun dari pangkuan Yura dan berjalan mendekati Shaka yang sudah mengulurkan tangan hendak memeluk Queen.
Setelah dalam dekapan Shaka, Shaka langsung mendekatkan Queen pada Amira dan mereka pun saling berpelukan melepas rindu antara ibu dan anak, dengan derai air mata haru.
“Ya tuhan, aku sangat berat menyerahkan anak yang sudah 4 tahun lebih ini bersamaku, tapi aku tidak mau egois, aku harus ikhlas menyerahkan dia pada ibu kandungnya,” gumam Yura dalam hati dengan menahan tangis, ia sudah mengusap air matanya mencoba tegar di depan mereka.
“Mama, walau pun Queen akan tinggal bersama mama dan papa Shaka, boleh kah Queen sesekali bertemu mama Yura?” Tanya balita mungil itu, saat sudah melonggarkan pelukannya dari Amira.
Yura yang mendengar itu sontak memalingkan wajahnya ke samping, air matanya kini kembali tumpah ruah, Reza yang sedang berdiri di samping Yura menyadari itu, dengan sigap ia langsung menyandarkan kepala istrinya yang sedang duduk, dan mengusap lembut pundak istrinya sembari mengecup singkat ujung kepala Yura.
“Za, kamu telepon Ijah ya, suru dia mengemasi barang-barang Queen dan antarkan ke rumah Shaka,” ucap Yura mendongakkan kepalanya yang langsung di angguki oleh Reza.
“Tidak perlu di kemasi semua Yura, biar lah barang-barangnya yang lain di rumah kamu, barang kali besok lusa dia mau menginap ke rumah kalian,” ucap Amira lembut.
“Kau masih mau mengizinkan aku bertemu Queen?” Tanya Yura dengan tatapan sendu.
Amira pun tersenyum dan mengangguk.
“Terima kasih Amira, maaf kalau dulu aku egois, dan sama sekali tidak mengizinkan kamu bertemu Queen, aku sangat merasa bersalah,” sesal Yura mengingat perlakuannya pada Amira selama ini.
__ADS_1
“Jangan minta maaf, semua sudah berlalu, sekarang yang harus kita hadapi adalah masa depan, yang penting kita besarkan Queen bersama-sama, bagaimana pun kau juga ikut andil merawat Queen dari kecil, bagaimana jadinya anak ku bila tidak bertemu kalian, mana mungkin aku melupakan hal itu,” jelas Amira untuk mengusir rasa bersalah dalam hati Yura.
Yura pun beranjak dan memeluk Amira yang masih terbaring.
“Sekali lagi terima kasih Amira, kau masih mau mengizinkan aku merawat Queen, kau begitu baik, hatimu begitu lembut,” ucap Yura dengan tangis haru.
Dua wanita itu saling memeluk dan menangis haru, sedangkan Shaka dan Reza, hanya berdiri dan tersenyum melihat istri mereka.
“Amira,” seru Riana yang kini berada di ambang pintu ruang rawat.
“Mama,”
Riana pun mengayunkan kakinya berhamburan memeluk anaknya, di susul nenek Emely dan juga pak Adi.
“Kau tidak apa-apa nak? Maaf mama baru datang sekarang, mama baru mendapat kabar dari suami mu,” ucap Riana setelah melonggarkan pelukannya.
“Tidak ma, Amira sudah membaik sekarang,” jawab Amira dengan tersenyum tipis.
“Nak, kami benar-benar khawatir dan takut saat mendengar kabar dari Shaka tentang kamu, jadi kami langsung saja bergegas datang,” ucap Emely denga mata yang sudah berkaca-kaca melihat keadaan cucu menantu kesayangannya.
“Ya sudah kalau begitu kami pamit dulu, aku dan Yura mau ke rumah untuk membersihkan diri, nanti malam, kami akan datang lagi untuk menjenguk Amira,” ucap Reza pada semuanya.
“Ah tidak apa Ka, aku berhutang nyawa pada Amira, jadi aku harus selalu ada untuk menjaganya selama dia menjalani perawatan,” sergah Yura menimpali.
“Tidak usah repot-repot Ra, tubuh ku sudah lumayan membaik, mana tau kamu punya banyak pekerjaan di butik,”
“Pokoknya aku akan tetap datang untuk membantu menjaga mu sampai kau sembuh, jangan membantah oke, daa,” ucap Yura lalu langsung berpamitan bersama Reza keluar dari ruang rawat Amira.
Melihat Yura dan Reza pergi tanpa membawa Queen, dahi ketiga orang tua itu mengkerut menatap Amira dan Shaka secara bergantian.
“Mereka sudah mengembalikan Queen pada kami berdua,” ucap Shaka seakan tau perihal yang akan di tanyakan oleh nenek dan juga kedua mertuanya.
“Benarkah itu Amira?” Tanya Riana dengan senyum sumringah.
Amira pun tersenyum dan mengangguk, Adi dan Emely juga tak kalah sumringah nya seperti Riana.
“Akhirnya, aku punya dua cicit di rumah yang akan menemani hari tua ku ini,” ucap Emely beralih menatap Queen.
“Haii oma,” sapa Queen lalu langsung memeluk pinggang Emely.
__ADS_1
“Hai nak, kau pintar sekali,” ucap Emely sembari mengusap ujung kepala balita kecil itu.
“Iya dong oma, Queen kan anak yang paling pintar dan cantik,” canda anak itu mengikuti perkataan Yura yang selalu memujinya seperti itu.
Semua yang mendengar ocehan bocah 5 tahun itu sontak tertawa riang, kini keluarga mereka sudah lengkap.
“Amira, apa boleh Queen papa bawah pulang?” Tanya Adi yang sejak tadi hanya diam dan tersenyum.
Mendengar itu seketika Amira mengingat ucapan papa dan mama nya waktu dia hamil Queen dulu, mereka berkata kalau mereka akan menganggap Queen anak kedua mereka, dan membawa Queen tinggal bersama, membayangkan itu Amira pun sontak menggeleng.
“Pa, Queen kan baru sebentar bersama Amira, masa mau di ambil aja,” sergah Amira dengan nada manja.
“Bercanda sayang, papa mu ini memang suka membuat mu kesal,” jawab Riana menatap tajam suaminya.
“Karena Amira sudah menikah, jadi biar lah kami yang merawat dan membesarkan dia ya ma pa,” kini giliran Shaka yang bersuara.
“Iya, iya, ya sudah itu kan anak kalian, jadi kalian lah yang merawat dan membesarkan dia,” cetus Adi sembari merangkul pundak istrinya.
“Tapi boleh kan ma Queen main-main ke rumah oma dan opa?” Tanya Queen tiba-tiba.
Amira dan Shaka saling berpandangan dan tersenyum, Shaka memberi kode pada Amira untuk mengiyakan.
“Iya sayang boleh,” jawab Amira kemudian.
Kembalinya Queen di keluarga mereka membuat keluarga mereka semakin lengkap, kini Shaka dan Amira sudah mempunyai 2 anak yaitu Queen dan Samudra, Shaka juga sudah menganggap Queen seperti anaknya sendiri, dia menyayangi Queen layaknya ia menyayangi Samudra.
3 hari kemudian..
Keadaan Amira sudah berangsur-angsur pulih, luka tembakan di punggung nya juga sudah semakin membaik, Amira juga sudah di perbolehkan pulang, sedangkan Reza dan Yura tak lupa selalu datang menjenguk Amira setiap hari dan membawakan makanan untuknya, walau pun Amira menolak dengan halus, namun Yura tetap kekeh ingin membalas kebaikan Amira padanya.
Sampailah Amira di rumah keluarga Buwana dengan di antar oleh kedua orang tuanya dan juga Yura tentunya, Reza tidak ikut mengantar karena masih ada meeting di kantor.
Para pelayan sudah menyambutnya dengan sukacita, hari ini bukan hanya kepulangan Amira yang membuat mereka ikut bahagia, tapi kehadiran satu bocah kecil lagi, yang akan menghiasi rumah keluarga Buwana yang dulunya sepi kini jadi ramai.
Di sebuah rumah….
“Jadi anak yang selama ini tinggal di rumah Salsa adalah anak ku?” Tanya Genta pada anak buahnya lewat telepon.
Selama ini Genta memang mencari tau soal Amira, dia banyak tau tentang kabar Amira, termasuk kabar Queen juga tentunya, mendengar anak nya masih hidup, hati Genta begitu senang, dia jadi semakin merasa bersalah karena dulu sudah tega mengabaikan Amira dan anaknya, ia juga mendengar kabar bahwa selama ini Queen sangat dekat dengan Shaka, dan memanggil Shaka dengan sebutan papa, hal itu membuat hati Genta semakin teriris, tak henti-hentinya ia merutuki kesalahannya.
__ADS_1
Jangan pernah menyia-nyiakan orang yang mencintai kita dan yang kita cintai selagi ada, karena jika dia sudah pergi, sulit untuk dia kembali bahkan bukan hanya sulit tapi mustahil, jaga lah selagi ada, sayangi lah dan jangan sakiti, karena waktu tidak akan bisa di putar kembali.