
Setelah dokter berlalu meninggalkan Amira, Shaka dan juga nenek di ruangan itu, nenek Emely pun kini beralih menatap Shaka dengan raut wajah cemas.
“Ka kenapa kau tidak mengatakan hal ini? Bisa bahaya kalau di biarkan,” ucap Emely yang nampak mulai cemas.
“Aku hanya tidak ingin menambah beban pikiran nenek, ku pikir kalau di biarkan akan sembuh dengan sendirinya,” jawab Shaka mencoba berusaha untuk tidak membuat neneknya khawatir.
“Ya sudah kau harus minum obat yang akan dokter berikan, dan jangan membantah lagi,” tegas Emely sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah Shaka yang saat ini sedang menatapnya.
Amira pun berjalan menuju nakas dan mengambil sarapan untuk nenek Emely.
“Nenek mau makan yang mana? Ada banyak sarapan di sini,” ucap Amira sembari tersenyum.
“Berikan aku sandwich saja,” jawab Emely yang mulai berusaha untuk duduk.
Amira pun membantu mendudukkan nenek Emely dan memberikan sepotong sandwich untuknya.
Melihat masih ada sepotong sandwich lagi, Amira pun berinisiatif untuk memberikannya pada Shaka.
“Makanlah,” ucap Amira masih dengan nada yang datar.
Shaka pun memandangi sandwich itu dan Amira bergantian.
“Lalu kamu tidak sarapan? Lebih baik kamu makan lah itu aku nanti makan di rumah saja,”
Melihat mata Amira yang mulai menatapnya tajam, membuat Shaka ciut dan akhirnya meraih sepotong sandwich itu.
“Baiklah akan ku makan, terima kasih,” ucap Shaka kemudian.
“Baiklah kalau begitu sekarang aku akan membereskan baju-baju nenek agar kita bisa segera pulang ke rumah dan nenek bisa beristirahat dengan nyaman,” ucap Amira lalu kemudian beralih menuju lemari yang sudah terisi baju Emely di dalamnya.
Amira pun mulai mengambil baju Emely yang ada di dalam lemari untuk dimasukan ke dalam tas yang berukuran cukup besar, tas itu memang sengaja disediakan untuk mengemasi pakaian Emely selama berada di rumah sakit.
Setelah semuanya beres, Amira pun menatap nenek dan lalu berkata.
“Nek bagaimana apa kita harus pulang sekarang? Nenek benar-benar sudah merasa baikan kan?” Tanya Amira mencoba memastikan.
“Iya, aku sudah ingin sekali pulang, bosan sekali rasanya jika aku harus terus berada di sini, tubuhku juga sudah mulai terasa membaik,” jawab Emely sembari tersenyum.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu kita pulang sekarang ya,” Amira pun mulai mendekati Emely dan membantunya berdiri, melihat itu Shaka pun dengan sigap membantu Emely menuju kursi roda, karena ia tidak ingin melihat istrinya yang sedang hamil muda terlalu banyak bergerak.
Siang hari di kediaman keluarga Buwana…
Mobil Shaka berhenti tepat di depan teras rumahnya, nenek Emely sudah merasa jauh lebih baik sehingga ia memutuskan untuk pulang siang itu, jarum jam kini sudah menunjukkan pukul 12.30 siang, nenek Emely pun memilih mengajak mereka semua untuk makan siang bersama.
“Ayp Ka, kau makanlah agar kau bisa segerea meminum obatmu,” ucap Emely sembari membalikkan piringnya.
“Yang sakit itu nenek, kenapa malah mengingatkan ku?”
“Kau juga sedang sakit!” Ketus Emely sembari melotot.
Shaka pun akhirnya membalikkan piringnya dan ikut menuangkan nasi di piringnya, namun tiba-tiba saja muncul dalam benaknya untuk menarik perhatian Amira.
“Sepertinya aku harus berakting pura-pura sakit agar Amira bisa perhatian padaku,” gumam Shaka dalam hati.
Ia pun ingin menggerakkan tangannya ke arah sebuah lauk, namun tiba-tiba ia pun meringis kesakitan.
“Aaagghh” teriak Shaka meringis sembari memegangi bahunya yang memang terdapat memar.
“Ada apa Ka?” Tanya Emely terkejut dan nampak cemas.
“Bahu ku nek, terasa sakit sekali saat digerakkan,” keluh Shaka sembari terus meringis.
“Sepertinya tadi kau tidak kelihatan kesakitan begini,” ucap Amira dengan datar sembari terus melahap makanannya.
“Astaga harusnya aku berakting dari tadi,” celetuk Shaka dalam hati.
“Entahlah tapi sepertinya gerakan refleks seperti ini benar-benar membuat bahuku terasa sakit sekali,” jawab Shaka yang masih saja terus memegangi bahunya.
“Apa memar di bahunya sangat besar dan cukup parah Ka?” Tanya Emely pada cucunya yang jadi cemas sungguhan.
“Iya nek, lebamnya cukup besar dan semakin lama semakin sakit,” jawab Shaka dengan lirih.
Akhirnya Amira pun memutuskan untuk menolong Shaka mengingat di meja makan itu ada nenek, ia tak ingin nenek Emely di buat tak tenang karena sikap ketusnya pada Shaka.
“Baiklah, kau mau lauk yang mana? Biar ku ambilkan,” tanya Amira kemudian.
__ADS_1
“Sayang, terima kasih sebelumnya, kamu baik sekali,” ucap Shaka yang tersenyum puas.
“Cepat katakan mau lauk yang mana?” Tanya Amira lagi tanpa merespon kata-kata Shaka.
“Aku mau sup daging sayang,”
Amira pun mulai menuangkan sup daging hangat itu ke piring Shaka.
“Aku ingin kuah nya yang banyak ya sayang,” ucap Shaka dengan manja.
Seketika mata Amira melotot sejenak menatap Shaka karena nampaknya Shaka berani memanfaatkan situasi saat di depan nenek Emely.
Namun Amira tetap patuh dan menuangkan banyak kuah sup ke piring Shaka.
“Sudah,” ucap Amira datar dan kembali duduk di kursinya.
Namun baru beberapa saat melahap makanannya, Amira kembali di buat kesal saat Shaka meringis lagi.
“Ya tuhan untuk makan saja terasa begitu sulit, tanganku sangat sakit,” ratapan Shaka terdengar begitu lirih.
“Apa sungguh sesakit itu Ka?” Tanya Emely yang nampak cemas.
“Iya nek, sejak kemarin aku sudah merasakan sakit seperti ini, namun aku menahannya karena aku tidak ingin membuat nenek cemas,” jawab Shaka sembari terus meringis.
“Ya tuhan Shaka, aku sungguh tidak tega melihat kamu sakit begini, wajahmu juga terlihat semakin pucat,” Emely pun akhirnya semakin percaya dengan akting Shaka.
“Amira tolong suapi suami mu, kasihan sekali dia,” ucap Emely menatap sendu ke arah Amira.
Mendengar itu, Shaka pun ikut mengangguk dengan menampilkan wajah sendunya.
Amira yang melihat ekspresi Shaka itu semakin di buat menggumam dalam hati.
“Dasar menyebalkan, dia terus saja memanfaatkan rasa sakitnya itu untuk menarik perhatianku di depan nenek,” ucap Amira sembari terus memicingkan matanya menatap Shaka.
Akhirnya Amira tak bisa mengelak lagi, dia pun patuh dan dengan penuh keterpaksaan ia mulai menyuapi Shaka, Shaka pun jadi semangat, ia terus saja menampilkan senyumannya sepanjang ia mengunyah makanan di mulutnya.
“Bagaimana pun kamu berusaha cuek dan ketus padaku, pada dasarnya kamu tidak akan tega melihat aku kesakitan seperti ini,” gumam Shaka dalam hati sembari terus memandangi Amira.
__ADS_1
Beberapa saat berlalu makan siang pun selesai, nenek Emely di antar oleh pelayan menuju kamarnya untuk istirahat.
Sementara Amira memilih untuk membantu pelayan membereskan meja makan, karena sudah lama ia tidak berbincang hangat dengan para pelayan itu, sehingga membuatnya rindu akan moment kebersamaan mereka, Shaka pun memilih naik lebih dulu menuju lantai dua, namun ia memilih berbaring di sofa yang ada di ruang TV karena ingin menunggui Amira.