Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 34 Kembalinya Masa Lalu


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap, Shaka perlahan mengerjapkan mata nya, dia mendapati diri nya sedang tertidur di ranjang dengan masih mengenakan pakaian kerjanya.


Tok.. Tok.. Tok


Suara ketukan pintu. Shaka melirik ke arah pintu dan dengan keadaan lesu Shaka berjalan mendekati pintu dan perlahan membukanya. Ternyata itu neneknya.


"Kenapa?" Tanya Shaka datar.


"Aku minta kau turun ke bawah Ka, ada hal penting yang akan ku bicarakan".


"Sepenting apa?"


"Sudah lah, tolong patuhi saja aku sebagai nenekmu".


"Baiklah". Ucap Shaka lesu, dan kemudian langsung masuk kembali ke kamarnya.


Shaka masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah selesai membersihkan diri Shaka mengganti pakaian kerja nya dengan kaos oblong biasa. Shaka kemudian melangkah menuruni anak tangga dan berjalan menuju ruang tamu. Namun betapa terkejutnya Shaka saat mendapatkan Tuan Handika ternyata sudah terduduk bersama neneknya di ruang tamu.


"Paman". Ucap Shaka.


"Ka, duduk lah di sini". Ucap Emely sembari menepuk sofa di sampingnya.


Shaka yang masih sedikit bingung pun mulai duduk di samping Emely.


"Nek ada apa ini? Kenapa ada Paman Handika di sini?" Tanya Shaka yang ternyata masih kebingungan.


"Aku di panggil oleh nyonya Emely untuk mengurus surat perceraianmu". Jawab Tuan Handika dengan raut wajah berbeda.


Tuan Handika awalnya sangat terkejut dengan kabar pernikahan Shaka. Sehingga Shaka yang mendengar jawaban Tuan Handika sontak membulatkan matanya.


"Aku benar-benar terkejut dengan ini semua Shaka, ternyata kau sudah menikah dan kenapa kau tidak mempublikasikan pernikahanmu?" Tanya Tuan Handika.


"Itu karena dia menikah hanya karena paksaan dariku. Dia sama skali tidak mencintai wanita itu. Itu lah sebabnya ia tidak mau mempublikasikan pernikahannya karena dia tidak menganggap istrinya ada". Jawab Emely dengan begitu tenang.


"Bukan begitu Shaka Buwana?" Tanya Emely sembari melirik ke arah Shaka dengan tatapan sinis.


Namun Shaka hanya diam menahan kesalnya.


"Oh ya Tuah Handika ku dengar antara Shaka dan Yura memiliki hubungan dekat, dan aku juga tau jika cucuku ini sudah lama menyukai putri anda. Mungkin itu lah sebabnya sampai saat ini Shaka tidak bisa membuka hati untuk istrinya. Jadi menurutku saat urusan perceraian Shaka selesai, bagaimana jika kita atur pernikahan untuk Shaka dan Yura?" Tanya Emely tersenyum tipis.


"Benarkah nyonya? Anda yakin ingin menjodohkan cucu anda dengan putriku?" Tanya Handika begitu sumringah.


Sementara Shaka membulatkan matanya dia menjadi resah dan gelisah mendengar rencana neneknya yang kembali menjodohkannya.


"Tentu saja, Shaka dan Yura kelihatannya saling mencintai, jadi setelah Shaka resmi bercerai kita atur saja tanggal pernikahan untuk mereka berdua". Jawab Emely sembari melirik Shaka sejenak.


"Baiklah Nyonya, Yura pasti akan senang sekali mendengar ini. Pulang dari sini aku akan langsung memberitahunya". Ucap Handika begitu bersemangat.


"Tunggu paman!" Tegas Shaka yang kembali bersuara.

__ADS_1


"Ada apa Shaka?" Tanya Tuan Handika mengangkat kedua alisnya.


"Ada yang harus aku luruskan, aku mohon jangan beritahu Yura dulu". Ucap Shaka lagi.


"Apa lagi yang ingin kau luruskan Ka?" Tanya Emely.


Shaka menundukkan kepalanya sejenak, ia menghela nafas panjang beberapa kali, dan ia akhirnya bersuara.


"Nenek.. Paman.. Sepertinya kalian salah paham".


"Salah paham bagaiman maksudmu?" Tanya Emely mengerinyitkan dahinya.


"Baiklah begini nek". Shaka mulai bangkit dari duduknya berdiri menghadap Emely dan Handika.


"Aku memang pernah mencintai Yura, tapi itu dulu! Semenjak Yura pergi meninggalkan aku ke Paris, perasaan itu sudah mulai pudar, hingga akhirnya nenek mengahadirkan Amira untukku nikahi. Perasaanku untuk Yura semakin hilang dan sama skali tidak ada perasaan cinta untuknya saat ini". Jelas Shaka secara lantang di hadapan nenek dan Tuan Handika.


Mendengar itu Emely dan Handika hanya terdiam.


"Dan jika tempo hari nenek bertanya kalau aku sudah mulai mencitai Amira atau tidak? Jawabannya adalah.. " Shaka menghentikan sejenak ucapannya dan kembali menghela nafas.


"Jawabannya adalah iya. Iya akhirnya aku sudah mencintai Amira. Aku secara diam-diam telah mencintainya nek. Yang nenek bilang di awal pernikahan kami semuanya benar, Amira sesungguhnya adalah gadis yang baik dan polos. Aku bahkan berkali-kali menyakiti hatinya saat merendahkannya, aku menghinanya, bahkan sempat terpikir ingin melecehkannya namun akhirnya, dia tetap memaafkan ku. Kali ini aku sudah tidak bisa menutupinya lagi nek, demi tuhan aku sudah mencintainya". Jelas Shaka dengan begitu tegas sembari matanya kembali berkaca-kaca.


"Jadi ku harap, nenek berhenti untuk menjodohkan ku lagi dengan wanita lain. Nenek terima atau tidak aku akan membawanya kembali kesini. Jika nenek tidak suka, aku akan membawanya tinggal di tempat lain". Tegas Shaka lagi.


Mendengar pengakuan Shaka yang terlihat begitu tegas dan gentle, sontak membuat Emely tercengang dan tak bersuara sedikit pun. Sementara Tuan Handika jadi tertunduk. Tersirat raut kekecewaan terpancar dari wajahnya. Namun ia berusaha untuk tenang dan tetap menampilkan senyum tipisnya. Lalu kemudian dia pamit pulang dari rumah Shaka.


Beberapa menit kemudian Tuan Handika sudah berada di rumahnya. Saat memasuki rumah Tuan Handika mendapati Yura sedang duduk di ruang keluarga menungguinya. Melihat kedatangan Ayahnya , Yura tersenyum lebar.


"Kamu belum tidur nak?" Tanya Tuan Handika.


"Aku nunggu Ayah. Ayah dari mana saja? Apa sudah makan?" Tanya Yura.


"Iyaa Ayah sudah makan. Ayah baru dari rumah keluarga Buwana". Jawab Tuan Handika keceplosan.


"Maksud Ayah? Ayah dari rumah Shaka Buwana?"


"Iyaa nak, ada kasus yang sedang Ayah tangani. Hanya kasus kecil tentang perusahan saja". Jelas Tuan Handika gugup.


"Ayah aku sungguh ingin berbicara dengan Shaka Ayah. Bisakah Ayah menelponnya untukku?"


Mendengar hal itu sontak membuat Tuan Handika tampak bingung. Dia tidak bisa menolak keinginan putrinya itu karena pasti akan berpengaruh untuk kesehatannya. Karena saat ini Yura belum sepenuhnya pulih dari kecelakaan yang sedang dia alami beberapa waktu lalu. Tuan Handika akhirnya memilih menelpon Shaka dan sedikit menjauh dari Yura.


"Hallo paman"


"Shaka, Yura memintaku untuk berbicara denganmu". Ucap Tuan Handika.


"Tapi paman, aku tidak mau memberikan ia harapan palsu jika itu menyangkut soal perasaan".


"Tolonglah Ka, setidaknya tunggu sampai dia benar-benar pulih dulu. Aku harap kau bisa jadi penyemangatnya".

__ADS_1


Mendengar itu Shaka pun diam sejenak sembari berfikir.


"Yah sudah paman berikan padanya". Ucap Shaka.


Tuan Handika memberikan ponselnya pada Yura.


"Hallo Ka, kau kah ini? Aku sangat merindukanmu".


"Jika merindukan ku maka segeralah sembuh". Jawab Shaka.


"Aku tak kan sembuh jika kau tidak memberikanku perhatian lebih".


"Jangan bicara begitu, kau harus tetap sembuh, pikirkan Ayahmu, dia begitu kesepian saat kau tak ada di sisinya".


" Apa karena Ayahku saja? Bukan karena kau merindukanku?"


"Tentu saja kami semua di sini merindukanmu". Jawab Shaka.


"Baiklah. Jika begitu berjanjilah satu hal padaku".


" Apa?" Shaka mulai mengerutkan dahinya.


"Kau harus memenuhi semua keinginanku agar aku bisa sembuh".


"Minta lah apa pun Yura, aku akan memberikannya demi menyemangatimu. Asal jangan meminta hal yang tak bisa ku lakukan".


"Apa ada yang tidak bisa di lakukan oleh seorang Shaka Buwana?"


"Ada.. Aku tidak bisa menghidupkan orang mati aku juga tidak bisa membuat matahari terbit dari barat dan terbenam di timur". Jawab Shaka santai.


" Hahaha apa hanya itu saja?"


"Ada satu.. Aku tidak bisa mengubah status hubungan kita kembali seperti dulu".


Mendengar hal itu Yura sontak bagai di sambar petir. Matanya langsung membulat dan senyum yang dari tadi merekah kini pudar kembali.


"Ka.. Kenapa kau berkata seperti itu padaku?" Tanya Yura yang sontak terdengar jadi begitu lirih.


Kini tanpa sadar air mata Yura mulai menetes, bibir dan tangannya seakan kembali gemetaran.


Shaka menjadi tak tegah. Akhirnya Shaka pun mulai kembali menghela nafasnya.


"Tidak Yura, maksudku bagaimana aku bisa memenuhi keinginanmu kalau kau saja belum sembuh". Akhirnya Shaka harus berkilah.


"Astaga Shaka kau hampir saja membuat jantung ku lompat dari tempatnya kau hampir saja membuatku mati. Kau begitu tegah mengerjai ku disaat ku sedang sakit begini". Ucap Yura yang akhirnya kembali tersenyum sembari menghapus air matanya.


" Yah sudah aku tutup dulu ya. Aku masih banyak pekerjaan".


"Baiklah Ka, tapi ingat kau punya janji padaku kau harus memenuhi semua keinginanku".

__ADS_1


" Iyaa aku akan mengingatnya". Jawab Shaka tersenyum tipis.


Akhirnya obrolan antara Yura dan Shaka berakhir. Yura kembali memberikan ponselnya kepada Ayahnya dengan raut wajah yang begitu sumringah.


__ADS_2