Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 77 Hari yang di Tunggu


__ADS_3

1 minggu kemudian…


Amira tampak cantik dan anggun menggunakan gaun pengantin warna putih dengan potongan off shoulder.


Busana yang ia kenakan di hari pernikahannya itu merupakan gaun milik mendiang ibu dari suaminya, Lauza Buwana yang tak lain adalah mertua Amira memakai gaun tersebut saat menikah dengan mendiang Surya Buwana Ayah mertuanya.


Meski gaun pengantinnya sudah berusia belasan tahun, namun tetap terlihat pas membalut tubuh Amira, bagian depannya terdapat belahan yang menampilkan kaki jenjang Amira.


Butiran-butiran mutiara dibagian atas gaun tampak berkilauan yang dimodifikasi Emely nenek dari Shaka untuk mempermanis penampilan Amira.


Tak hanya itu Amira juga menyempurnakan penampilannya dengan veil panjang penuh dengan bordiran yang menyapu lantai tampak indah, Amira juga memilih konsep make up yang natural namun tetap terlihat sangat cantik.


Tok… tok… tok


“Amira, apakah sudah selesai? Ayo turun nak sudah banyak yang menunggu,” panggil Riana kepada putrinya, lalu kemudian membuka pintu kamar hendak menjemput Amira.


“Yuk ma, Amira sudah siap,”


“Wah sayang, kamu terlihat sangat cantik, mama sampai pangling loh lihatnya,” puji Riana kepada anaknya yang memang saat itu terlihat sangat memukau.


“Siapa dulu dong mamanya,” timpal Amira sambil terkekeh.


“Ya udah yuk kita kebawah,” ajak Riana sembari menggandeng tangan Amira.


Shaka dan lainnya sedang menunggu di lantai bawah, mereka mengadakan resepsi pernikahan mereka di rumah mewah milik keluarga Buwana.


Shaka yang tengah berdiri di atas panggung kini sontak terperangah saat matanya memandang ke arah tangga menyaksikan kedatangan istri tercintanya.


Melihat penampilan Amira yang tak biasa membuat Shaka semakin terpukau dan tercengang, Amira yang pada dasarnya sudah cantik kini terlihat lebih cantik lagi dengan gaun pengantin dan polesan make up natural yang membuat wajahnya semakin fresh dan flawless.


Amira dengan digandeng ibunya perlahan menuruni anak tangga satu demi satu dan berjalan menghampiri Shaka yang sudah menunggu dengan antusias di singgasana.


Kini sampailah Amira di depan Shaka, tak mau berlama-lama, Shaka langsung mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Amira.


Riana pun melepaskan genggaman tangannya pada Amira untuk diberikan pada Shaka.


“Shaka, mama harap kamu bisa membahagiakan dia sampai maut memisahkan ya nak,” pintah Riana kepada menantunya itu.


“Tentu ma, aku akan selalu menjaga dia dan membahagiakan dia selamanya, terimakasih sudah melahirkan istri yang begitu sempurna seperti Amira,” jawab Shaka sembari menyanjung ibu mertuanya.


Kini Shaka dan Amira sedang duduk di kursi pengantin, para tamu satu persatu mulai berdatangan.


Tak lupa pula semua karyawan Shaka di kantor juga di undang menghadiri pesta pernikahan mereka.


Banyak wartawan yang berdatangan dan memotret Shaka dan Amira untuk dijadikan berita terhangat saat ini.


Melihat ada banyak wartawan yang memotret dirinya sontak membuat Amira gugup dan merasa tak nyaman pada dirinya sendiri.


“Shaka aku begitu gugup dan tidak nyaman di potret seperti ini,” bisik Amira yang jadi terlihat kikuk.

__ADS_1


“Biarkan saja, biar semua orang tahu kalau Shaka Buwana yang dikagumi banyak wanita ini telah menjadi milikmu seutuhnya, kamu seharusnya berbangga diri, karena dari sekian banyak wanita kamulah yang mampu memenangkan hatiku,” bisik Shaka sembari menggoyangkan kedua alisnya.


“Tapi aku malu, apakah penampilanku ini sudah bagus?” Tanya Amira yang tidak percaya diri.


“Kenapa masih pusing memikirkan penampilan kamu hah? Kamu pakai apa saja tetap aku suka, apalagi jika tidak memakai baju sama sekali,” bisik Shaka yang kini menggenggam tangan Amira.


Medengar itu Amira jadi geram dan sontak mencubit perut Shaka.


“Aduh sakit,” keluh Shaka


“Biarkan saja kamu pantas mendapatkannya karena sudah berbicara tak senonoh di tempat ramai,” ketus Amira namun masih dengan keadaan berbisik.


Shaka terus menggenggam erat tangan Amira, banyak mata yang tampak aneh memperhatikannya sehingga membuat Amira semakin tidak nyaman.


Begitu juga di sudut ruangan, yang berjarak lumayan jauh dari Amira dan Shaka ada 2 pegawai wanita yang tengah memandang sinis ke arah Amira, dua pegawai itu memang sudah menaruh hati kepada Shaka bos mereka.


“Sungguh sulit dipercaya wanita seperti itu bisa menjadi istri dari pak Shaka, padahal kan cantikan juga aku,” gumam salah satu pegawai memandang sinis ke arah Amira.


“Benar juga sungguh diluar nalar, aku fikir jika nona Yura lah pacar pak Shaka, karena dari segi penampilan saja nona Yura jauh lebih unggul, kenapa harus wanita itu sih?” Jawab temannya juga merasa tak terima.


“Berhenti bicara buruk tentang Amira,” tiba-tiba saja dari belakang terdengar suara ketus yang begitu tak suka dengan obrolan mereka.


Mendengar hal itu sontak membuat dua pegawai wanita itu berbalik badan secara serentak melihat sang pemilik suara yang sudah berani menguping pembicaraan mereka.


Mereka sontak begitu kaget melihat pemilik suara itu yang sedang menatap tajam ke arah mereka.


“Nona Yu.. Yura,” ucap salah satu pegawai begitu terperangah.


“Ah ti.. tidak nona kami hanya sedikit kaget mengetahui kenyataan kalau pak Shaka sudah menikah,” ucap salah satu pegawai wanita terlihat begitu gemetaran.


“Lihatlah, Shaka begitu menyayangi istrinya, aku tidak bisa jamin kalau kalian bisa bekerja dan menjalani hidup dengan tenang kalau dia tahu kalian berbicara buruk tentang istrinya,” ketus Yura lagi.


Tak lama Reza pun datang menghampiri Yura.


“Ada apa Yura?” Tanya Reza.


“Lihatlah kedua pegawai baru ini, mereka sangat lancang berbicara buruk tentang istri dari bos mereka sendiri,” jawab Yura sembari terus menatap tajam ke arah mereka.


“Nona Yura maafkan kami, kami berjanji tidak akan mengulangi kesalahan kami ini, tolong jangan laporkan kami,” ucap dua pegawai itu dengan memelas.


“Baiklah kali ini saya maafkan, tapi sekali lagi saya dengar kalian berbicara buruk lagi tentang Amira, saya pastikan Shaka akan memecat kalian dan kalian tidak akan hidup ddngan tenang,” ketus Yura lagi lalu kemudian melanjutkan langkahnya.


Mendengar hal itu Reza pun tersenyum dan begitu bangga dengan sikap Yura.


Shaka yang tengah di dampingi Kevin dan Amira, sedang asik berbincang dengan salah satu rekan bisnis Shaka yang juga datang, namun mata Amira membulat melihat sosok Yura dan Reza yang juga datang, Amira rupanya tak tahu kalau Shaka juga mengundang mereka.


“Yura,” sapa Amira terlihat gugup.


Amira langsung menepuk pelan punggung Shaka, membuat Shaka sontak meliriknya.

__ADS_1


“Kenapa sayang?” Bisik Shaka.


“Lihatlah siapa yang datang,” bisik Amira pelan sembari menunduk.


Shaka melirik ke arah Yura dan Reza, dia pun juga sedikit terlihat gugup melihat mereka berdua meskipun dia sendiri yang mengundang mereka.


“Oh itu, aku yang mengundang mereka sayang, tenanglah bukankah bagus kalau mereka datang, tandanya mereka sudah mulai mau berdamai dengan kita berdua,” ucap Shaka mencoba menenangkan Amira.


“Baiklah tuan muda, saya mau ke sana dulu,” ucap rekan bisnis yang sedari tadi berbincang dengan Shaka.


Shaka pun tersenyum tipis lalu mengangguk singkat.


“Aku ucapkan selamat ya Shaka atas resepsi pernikahan kalian,” ucap Yura mengulurkan tangannya sembari memandang Amira.


Shaka sedikit tersentak dan membalas jabatan tangan Yura.


“Terima kasih Yura, terima kasih sudah mau datang,” ucap Shaka tersenyum manis namun masih merasa sedikit canggung.


“Selamat Amira, semoga pernikahan kalian langgeng,” ucap Yura berganti menjabat tangan Amira.


“Iya terimakasih Yura,” Amira membalas jabatan tangan Yura sembari tersenyum kikuk.


“Ya tuhan aku sungguh merasa tak enak hati padanya,” celetuk Amira dalam hati.


Kemudian Reza pun juga ikut memberi selamat kepada mereka, hal itu membuat Shaka terlihat canggung mengingat hubungan mereka saat ini belum begitu membaik.


“Selamat Amira, kini kau akan dikenal banyak orang dan siap-siaplah menghadapi wanita-wanita yang iri padamu karena pasti sebagian dari mereka akan menjadi heatersmu,” bisik Reza tersenyum membercandai Amira.


“Terima kasih kak Reza, aku mulai takut akan hal itu tapi semoga saja tidak terjadi,” jawab Amira tersenyum dengan keadaan tangan yang masih berjabat tangan.


Melihat itu membuat hati Shaka memanas.


“Apa-apaan ini? Kenapa berjabat tangan saja harus lama sekali,” celetuk Shaka dalam hati sembari memandang tajam ke arah tangan Amira dan Reza.


“Ah sepertinya tidak perlu terlalu lama, kalian bisa berbincang tanpa harus dengan keadaan tangan yang terus menyatu,” celetuk Shaka memasang senyuman aneh, sembari menarik tangan Amira hingga membuat tangan mereka yang bertautan jadi terlepas.


Reza sontak tersenyum melihat kelakuan Shaka yang kekanak-kanakan.


“Tak perlu cemas Shaka, aku tidak akan mendekati wanita yang tidak mencintaiku,” ucap Reza terlihat begitu tenang.


Yura yang menyaksikan itu hanya bisa diam dan tersenyum lirih.


“Jangan menangis Yura, kau harus kuat kau sudah bukan Yura yang cengeng lagi,” batin Yura mencoba menguatkan dirinya.


“Bagaimana keadaanmu Yura? Apa semua baik-baik saja?” Tanya Shaka kemudian.


“Aku baik, semuanya baik,” Yura mengangguk dan kembali tersenyum.


Akhirnya keadaan yang awalnya begitu canggung karena kedatangan Yura dan Reza kini perlahan mulai mencair, Yura mencoba menguatkan hatinya saat pertama kalinya ia melihat Shaka yang terus menggenggam tangan Amira, meski sedang berbincang dengan rekan bisnisnya tangan Amira tidak pernah lepas dari genggaman Shaka.

__ADS_1


“Rasanya sangat sakit Ka, melihat perlakuan istimewamu terhadap Amira, andai saja dulu aku sedikit lebih peka dengan perasaanmu padaku, pasti saat ini akulah yang berada di sisimu,” gumam Yura dalam hati sembari tersenyum lirih memandang Shaka dan Amira.


__ADS_2