
Keesokan harinya di kediaman Reza..
"Aduuhh Queen, kamu kenapa sih.. Aku nggak tau lagi harus gimana." Ucap Salsa sendirian saat tengah menggendong Queen dan berusaha mendiamkannya.
Sementara Queen terus saja menangis meski Salsa sudah berusaha mendiamkannya dengan berbagai cara.
"Kenapa dia?" Tanya Reza tiba-tiba muncul sembari melangkah menghampiri Salsa yang tengah mendiamkan Queen.
"Aku nggak tau. Sejak tadi dia terus saja menangis. Aku sudah berusaha untuk menenangkannya tapi dia tetap juga menangis." Jelas Salsa yang tampak begitu kewalahan.
"Coba sini." Reza mengulurkan tangannya meraih Queen dari pelukan Salsa.
Kini Queen sedang berada dalam dekapan Reza, namun tidak ada efek apa pun tangisan Queen malah semakin menjadi.
"Susunya sudah di minumkan?" Tanya Reza yang juga berusaha menenangkan Queen.
"Sudah tapi dia nggak mau." Jawab Salsa tampak cemas.
Setelah sudah berusaha melakukan berbagai cara untuk menenangkan bayi itu. Akhirnya Salsa mengingat sesuatu.
"Kak.. Sepertinya aku tau siapa yang bisa menenangkan dia." Ucap Salsa yang mulai menemukan ide.
"Siapa?" Tanya Reza sembari terus berusaha menenangkan Queen.
"Amira."
"Amira?"
"Iya, kemarin dia datang ke sini. Lalu dia mendengar suara tangisan Queen, lalu dia masuk ke kamar ini dan menggendong Queen yang sedang menangis, dan anehnya setelah berada dalam pelukan Amira, dia udah nggak nangis lagi. Dia langsung diam. Mungkin dengan memanggil Amira ke sini, pasti Queen akan tenang seperti kemarin." Ujar Salsa sembari tersenyum.
Medengar itu Reza terdiam sejenak. Dia masih merasa canggung kalau harus bertemu Amira lagi.
"Kak.. Bagaimana? Kenapa hanya diam? Aku cuma nggak mau Queen menangis terus kayak gini." Tanya Salsa antusias menunggu jawaban dari Reza.
"Baiklah, kau panggil saja dia ke sini." Ucap Reza kemudian.
Akhirnya Salsa meraih ponsel di atas nakas dan menelepon Amira.
"Halo."
"Amira, kamu di mana?" Tanya Salsa.
"Sa, itu Queen kenapa nangis?" Tanya Amira yang langsung saja mendengar suara tangisan bayi.
"Aku nggak tau Mir, aku sudah berusaha menenangkannya, tapi dia terus saja menangis. Aku bingung Mir. Kamu bisa ke sini nggak? Aku rasa cuma kamu yang bisa nenangin dia seperti kemarin." Jelas Salsa langsung pada intinya.
"Yah sudah sebentar ya, aku tanya Shaka dulu." Ucap Amira sembari menatap ke arah Shaka yang kini juga menatapnya dengan mengangkat kedua alisnya.
"Iya Mir, aku tunggu ya."
"Iya sebentar ya." Ucap Amira sembari menurunkan ponsel yang di telinganya.
"Ka, kamu ingat kan bayi yang aku ceritain kemarin? Hari ini dia terus menangis, Salsa sudah berusaha menenangkannya tapi tidak bisa. Apa aku boleh ke sana untuk menenangkannya?" Tanya Amira memelas.
"Baiklah kalau begitu kita ke sana berdua." Ucap Shaka yang langsung beranjak dari duduknya bersiap untuk pergi.
__ADS_1
"Benarkah? Yah sudah sebentar aku ambil tas dulu ya." Ucap Amira begitu sumringah.
"Halo Sa." Panggil Amira pada Salsa yang belum memutuskan panggilan telepon.
"Gimana Mir?" Tanya Salsa terdengar antusias.
"Iya aku akan ke sana sekarang juga." Ucap Amira sembari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Baiklah Mir di tunggu ya."
"Iya." Amira pun memutuskan panggilan telepon.
Tak lama Amira pun turun kembali dengan membawa tas miliknya. Mereka berjalan berdampingan menuju garasi mobil mereka. Sesampainya di garasi, mereka bergegas menaiki mobil mewah yang di kemudikan Shaak itu, dan langsung melajukannya meninggalkan garasi dan loby rumah Buwana.
Di perjalanan Amira terus saja diam, dia tampak cemas memikirkan bayi itu. Sekali-kali dia melirik jalanan dan berharap agar cepat sampai dan dia bisa langsung menggendong bayi itu.
Entah kenapa aku begitu cemas kalau mendengar dia menangis seperti tadi. Gumam Amira dalam hati yang benar-benar merasa begitu cemas.
"Kamu tenang dulu, tidak lama lagi kita sampai." Ucap Shaka sembari menambah kecepatan mobilnya.
Selang beberapa menit, mobil pun sampai di pekarangan rumah Reza. Amira dan juga Shaka turun bersamaan dari mobil, dan bergegas melangkah menuju rumah Reza.
Tok.. Tok.. Tok..
Reza yang kebetulan duduk di ruang tamu mendengar suara ketukan pintu. Ia pun perlahan membukanya. Namun setelah pintu dibuka Reza cukup terkejut melihat Amira yang datang bersama Shaka. Reza masih tampak canggung melihat Amira lagi. Walau pun hatinya masih mencintai Amira namun kali ini dia mulai mencoba mengikhlaskan Amira bersama Shaka.
"Apa kau tidak akan menyuruh aku dan istriku masuk?" Tanya Shaka sedikit memberi penekanan kalau Amira adalah istrinya. Sampai saat ini Shaka masih merasa kesal dengan Reza yang selalu berusaha mendekati Amira. Mereka yang dulunya bersahabat, kini seperti musuh bebuyutan saja ketika bertemu.
"Silahkan." Ucap Reza singkat sembari memberi jalan pada Amira dan Shaka untuk masuk.
Reza mempersilahkan Amira dan Shaka duduk di ruang tamu. Lalu ia segera melangkah menaiki anak tangga untuk menemui Salsa dan memberitahu kedatangan Shaka dan Amira.
Tak lama Reza dan Salsa terlihat menuruni anak tangga. Mereka berjalan menghampiri Shaka dan Amira.
"Amira.. Kak Shaka." Ucap Salsa yang langsung duduk di sofa ruang tamu itu dengan di ikuti oleh Reza.
"Gimana? Apa Queen masih menangis?" Tanya Amira tampak cemas.
"Iya, kita langsung ke kamarnya aja yuk." Ajak Salsa.
Salsa dan Amira pun langsung melangkah menuju kamar Queen. Kini tinggallah Reza dan Shaka di ruang tamu itu. Shaka mencoba bersikap biasa saja dan mengalihkan pandangannya dari Reza. Mereka saling diam dengan pikiran mereka masing-masing.
"Jadi kau sudah berdamai dengan Amira?" Tanya Reza memulai percakapan namun dengan tatapan sinis.
"Aku dan Amira adalah sepasang suami istri, jadi sudah sepantasnya kita berdamai. Aku juga akan merubah kontrak pernikahan kita menjadi pernikahan yang sesungguhnya, jadi kami tidak akan pernah bercerai." Jelas Shaka memberi penegasan.
"Lalu apa yang kau khawatirkan? Kalau memang kau percaya dengan Amira seharusnya kau tidak perlu menemaninya ke sini. Bukan kah kepercayaan itu penting dalam pernikahan? Atau karena Amira tidak mencintai kamu, makanya kamu khawatir kalau Amira datang ke sini sendirian dan hatinya bisa berpaling padaku." Ucap Reza tersenyum sinis.
"Rupanya kau begitu senggang sehingga kau terlalu mencampuri urusan rumah tanggaku." Ucap Shaka yang juga tersenyum sinis.
"Rumah tangga seperti apa? Apa pantas seorang suami pergi sendiri menemani perempuan lain yang sedang sakit di rumah sakit?" Reza menyindir Shaka karena saat dia pergi menjenguk Yura di rumah sakit dia melihat Shaka baru keluar dari ruangan Yura.
"Berhentilah bersikap serakah Shaka, dan jangan menyakiti Amira! Kalau kau tidak sanggup untuk membahagiakan Amira biar aku yang akan membahagiakan dia!!" Cetus Reza pelan namun penuh penekanan sembari beranjak dari duduknya.
Mendengar itu Shaka sontak mengepalkan tangannya. Dia berjalan mendekati Reza dan menarik kerah kemeja Reza dengan kedua tangannya hendak memukul Reza namun dia mengurungkan niatnya itu.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengotori tanganku dengan memukulmu. Tapi perlu kau ingat, aku tidak akan pernah membiarkan kamu merebut apa yang ku miliki. Mungkin dulu saat Yura jatuh cinta padamu aku mengalah tapi tidak dengan Amira, aku tidak akan mengalah lagi padamu." Jelas Shaka dengan penuh penekanan. Ia pun melepaskan kerah kemeja Reza dan pergi begitu saja meninggalkan Reza yang masih berdiri terdiam di ruang tamu.
Shaka berjalan menuju mobil dan memilih menunggu Amira di mobil saja karena dia begitu muak melihat Reza.
Sementara Amira kini tengah menidurkan Queen yang mulai terlelap dalam dekapannya.
"Tu kan benar, cuma kamu yang bisa menenangkannya Amira." Ucap Salsa tersenyum sembari mengelus-elus pipi bayi itu.
"Kamu benar-benar cocok jadi ibunya karena kamu bisa menenangkannya." Tambah Salsa lagi membuat Amira terdiam dan kembali teringat bayinya. Amira jadi begitu sensitif dan kembali merasa sedih kalau mendengar hal seperti itu.
Salsa pun seketika merasa bersalah melihat Amira tiba-tiba terdiam dengan tatapan kosong dan raut wajahnya tampak sedih.
"Mir, sorry ya aku lupa kalau anak kamu baru meninggal." Sesal Salsa sembari memegang pundak Amira.
"Tidak apa-apa, mulai sekarang aku akan menganggap Queen seperti anak aku sendiri jadi kalau ada apa-apa kamu gak usah sungkan hubungin aku." Jelas Amira tersenyum tipis.
"Iya Mir, makasih ya. Kamu baik banget." Salsa memeluk Amira.
"Harus dong kita kan sahabatan jadi harus saling membantu." Ujar Amira lagi sembari membalas pelukan Salsa.
"Oh ya Sa, Queen udah tidur tuh aku pulang dulu ya. Shaka pasti udah nunggu lama." Ucap Amira melepaskan pelukan Salsa lalu membaringkan Queen di box tempat tidurnya.
"Iya Mir aku antar ke bawah ya."
Amira dan Salsa berjalan menuruni anak tangga. Sampainya di ruang tamu Amira tidak melihat sosok Shaka berada di sana.
"Loh Shaka ke mana ya." Ucap Amira tampak bingung sembari mengerutkan dahinya.
"Mungkin ada di luar. Yah sudah kita lihat di luar ya."
Amira pun keluar bersama Salsa. Ia berjalan menuju mobil Shaka dan memastikan keberadaan Shaka di sana, namun Amira kembali mengerutkan dahinya tampak bingung dengan Shaka yang memilih duduk di mobil menunggunya.
"Sudah selesai?" Tanya Shaka melirik ke arah Amira.
"Iya. Sa, kita pulang dulu ya." Amira menoleh ke arah Salsa dan berpamitan.
"Iya hati-hati ya Mir." Jawab Salsa dengan tersenyum.
"Iyaa." Ucap Amira singkat lalu masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya ke arah Salsa saat Shaka hendak melajukan mobilnya.
Saat di perjalanan Amira dan Shaka berdiam diri. Amira merasa terjadi sesuatu lagi di antara Shaka dan Reza.
"Kenapa kau memilih menunggu di mobil? Kenapa tidak di ruang tamu saja?" Tanya Amira mulai membuka suara.
"Aku muak melihat Reza." Jawab Shaka jujur.
"Apa kalian bertengkar lagi?" Tanya Amira memastikan.
"Tidak, aku hanya tidak suka dengan sikapnya yang terlalu mencampuri urusan rumah tangga kita." Ucap Shaka yang terus memandang ke depan.
"Mencampuri urusan rumah tangga bagaimana maksud kamu?" Amira mengerinyitkan dahinya.
"Sudah lah tidak usah terlalu di bahas, bagaimana kalau kita ke bioskop? Aku mau memenuhi rencana kita yang tertundah.
"Emm.. Boleh juga." Ucap Amira tersenyum tipis.
__ADS_1
Shaka pun ikut tersenyum sembari mengusap ujung kepala Amira lalu segera melajukan mobilnya menuju bioskop.