Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 140 Sadar


__ADS_3

Kini Safa sedang berada di ruang khusus pemeriksaan, Amira mondar mandir di depan pintu ruangan itu dengan perasaan yang begitu kalut.


“Sayang, tenang dan duduk lah, Safa pasti akan baik-baik saja,” ucap Shaka menghentikan langkah istrinya, sembari memegang kedua pundaknya.


“Tapi aku benar-benar tidak bisa tenang sebelum dokter keluar dan memberitahukan keadaannya, aku merasa bersalah karena bagaimana pun dia sudah rela menyelamatkan putri kita,” papar Amira dengan wajah sendu.


Tak lama Genta terlihat berjalan menghampiri Amira dan Shaka dengan langkah tergesa-gesa.


“Amira, apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa istriku bisa sampai seperti ini?” Tanya Genta dengan raut wajah cemas.


“Safa di tusuk beling pecahan kaca saat menyelamatkan Queen,” tutur Amira mulai menjelaskan.


“Apa? Separah itu kah? Lalu siapa yang berani menusuknya seperti itu?” Tanya Genta lagi yang memang belum tau sepenuhnya tentang cerita yang sebenarnya.


“Ibu kamu yang sudah menusuk istrimu sendiri, karena ambisi nya ingin memiliki Queen, dia berani menusuk menantunya saat sedang menyelamatkan Queen dari cengkraman tangannya yang mengancam hendak menusuk Queen dengan beling serpihan kaca, bahkan dia sudah tega mengarahkan beling itu ke leher Queen, untungnya istrimu ada menyelamatkan putri kami, meski pun akhirnya dia lah yang menjadi korban amukan ibu mu,” jelas Shaka dengan lugas.


“Apa? Ti… tidak mungkin, tidak mungkin mama ku mencelakai menantunya sendiri,” elak Genta lalu terduduk lesu di kursi ruang tunggu itu.


“Tidak mungkin apanya? Bahkan ibu mu sekarang sudah di amankan di kantor polisi,” ungkap Shaka menimpali.


“Apa? Mama ku ada di kantor polisi? Jadi benar mama ku pelakunya, benar-benar keterlaluan!” Geram Genta dan mulai mengepalkan tangannya.


Tak lama Genta pun beralih menatap Safa yang terhalang kaca bening di depannya, hati Genta benar-benar terpukul kala itu, melihat istrinya terbaring lemah tak sadarkan diri yang sedang di tangani oleh perawat dan dokter.


“Kenapa kamu harus mengalami hal seperti ini saat kamu benar-benar sudah berubah, mama benar-benar keterlaluan dia nyaris mencelakai cucu kandungnya sendiri dan berhasil mencelakai menantunya juga hanya demi keegoisannya, aku tidak akan memohon pada Shaka dan Amira untuk membebaskan mama, biar lah mama tinggal di jeruji besi dulu agar dia bisa menyadari kejahatannya seperti hal nya papa yang sudah menyadari kejahatannya dan akan segera mendapatkan kebebasan,” batin Genta dengan perasaan yang berkecamuk.


Saat ini Dewa Atmadja sudah mulai menyadari kesalahannya selama tinggal di jeruji besi, melihat kesadaran papanya, Genta memohon pada Amira dan juga Shaka agar mereka bersedia membebaskan papanya, tentu saja mereka setuju akan hal itu, dan tentu saja itu semua atas bujukan dari Amira sehingga Shaka setuju akan hal itu.


Sisi lain kantor polisi…


Anisa terduduk lesu di lantai dingin itu dengan memeluk lututunya yang ia lipat sebatas dada, ia menangis merutuki nasibnya yang sangat malang itu menurutnya.


Sejenak ia mulai merasakan penyesalan yang menyeruak jauh ke dalam sanubarinya, tak lama cairan bening itu lolos begitu saja dari netranya.


Tangisan yang awalnya pelan kini berubah jadi tangisan yang semakin menjadi-jadi, dia bahkan menangis sesegukan, hingga suaranya membuat penghuni sesama wanita dalam penjara itu terganggu.


“Hei orang baru! Pelankan suaramu itu, kau pikir hanya ada kau seorang diri di sini!” Teriak salah satu wanita yang memiliki tubuh lebih besar dari Anisa, dengan kulit hitam dan rambut acak-acakan, di tambah dengan mukanya yang garang menambah kesan seram padanya.


“Memangnya penjara ini punya nenek moyangmu? Siapa bebas menangis di sini,” bantah Anisa membalas tatapan tajam wanita galak itu.


“Apa katamu!” Teriak wanita itu, langsung berdiri lalu berjalan menghampiri Amira sembari mengecakkan pinggangnya di hadapan Anisa.


“Apa telinga mu sudah tuli ya? Sehingga tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang ku katakan?” Tantang Anisa yang sudah berdiri di hadapan wanita itu.

__ADS_1


Melihat tingkah Anisa yang terlihat begitu menjengkelkan, membuat emosi wanita itu tersulut, sehingga tanpa aba-aba, dia langsung saja menampar dengan keras pipi Anisa sehingga membuat tubuh Anisa terhempas ke lantai, Anisa dengan memegangi pipinya menatap wanita itu dengan raut wajah yang mulai takut.


“Tenaga wanita ini benar-benar kuat, tubuhnya juga jauh lebih besar dari tubuhku, kalau aku melawannya dan berkelahi dengannya, bisa-bisa aku babak belur dan mati sia-sia di sini,” celetuk Anisa dalam hati dengan tatapan yang tak lekang terus memandangi wanita garang itu.


“Apa? Kamu mau melawanku ha?” Bentak wanita itu lalu mulai menarik kasar rambut Anisa hingga membuat Anisa berhasil berdiri.


“Tidak.. tidak.. aku tidak berani melawan mu, tolong lepaskan rambut ku,” jawab Anisa sembari memegang lengan wanita itu yang sedang meremas kuat rambut Anisa.


Seolah tak ingin berhenti, wanita itu langsung saja menampar pipi sebelah Anisa dengan tamparan yang lebih keras dari tamparan yang tadi, sehingga menyebabkan ujung bibir Anisa mengeluarkan darah.


Keributan itu terdengar sampai ke ruangan polisi wanita.


“Seperti ada keributan di sana,”


“Coba kau cek lah dulu,”


Polisi wanita itu pun bergegas pergi ke arah sumber suara dan mendapati Anisa sudah di hajar habis-habisan oleh wanita garang itu.


Melihat itu, polisi wanita itu dengan sigap membuka slot sel, dan segera melerai wanita itu.


“Kamu lagi ternyata, selalu saja berbuat onar di sini, sebaiknya kau saya pindahkan ke sel yang kosong saja,” bentak polisi wanita itu lalu langsung menyeret tangan wanita itu keluar dari tempat itu.


Anisa pun segera merapikan rambut dan pakaiannya yang di buat berantakan karena amukan dari wanita galak tadi, sembari merapikan dirinya dan mengusap darah di ujung bibirnya, suara berat seseorang menghentikan aktivitasnya.


“Ibu Anisa, Pak Dewa Atmadja ingin menemui anda,” ucap sang polisi pada Anisa.


Anisa berjalan dengan mengikuti langkah polisi itu, sesampainya di ruang besuk, mata Anisa berkaca-kaca melihat suaminya dengan pakaian tahanan berwarna orange itu sedang melirik ke arahnya, Anisa tidak menyangka, kini mereka berakhir dengan sama-sama mengenakan baju tahanan.


“Papa,” panggil Anisa lalu langsung berhamburan memeluk suaminya itu dengan hangat, Dewa pun membalas pelukan istrinya dan mengusap lembut punggung Anisa dengan buliran bening yang juga ikut membasahi pipinya.


Setelah puas berpelukan dan saling melepas rindu, kini Dewa melonggarkan pelukannya dan menatap Anisa dengan dahi yang mengkerut, dia menatap wajah Anisa yang lebam dan ujung bibir yang berdarah.


“Ada apa dengan wajahmu? Apa sesama penghuni sel itu memukul mu?” Tanya Dewa dengan raut wajah khawatir.


Anisa pun mengangguk dan semakin menangis, Dewa dengan lembut mengusap air mata istrinya, bagaimana tidak, penjara ternyata berhasil menyadarkan seorang Dewa Atmadja yang begitu jahat berubah menjadi lembut dan perhatian pada istrinya, sikap tempramennya pada Anisa seolah lenyap begitu saja.


“Kenapa kamu bisa sampai berada di sini?” Tanya Dewa yang ternyata belum tau apa gerangan yang membawa istrinya ke tempat yang ia huni selama kurang lebih 4 tahun itu.


Anisa pun menceritakan semua kesalahannya secara detail tanpa ada yang ditutup-tutupi, dengan raut wajah penyesalan yang semakin dalam, Anisa menyatakan penyesalannya pada suaminya itu.


Puas menceritakan semuanya, Anisa pikir Dewa akan memarahinya, namun semua di luar ekspektasi, alih-alih memarahi Anisa, kini Dewa justru kembali memeluk hangat tubuh Anisa.


“Besok aku akan di bebaskan, aku harap kamu akan benar-benar berubah menjadi orang lebih baik agar hati Shaka dan Amira tergerak, dan mau membebaskan kamu,” ujar Dewa mencoba menyalurkan ketenangan dalam diri istrinya.

__ADS_1


“Jadi kamu tidak marah padaku seperti biasanya?” Tanya Anisa dengan tatapan tidak percaya.


“Aku sudah bukan lah Dewa yang dulu, hukuman penjara ini sudah cukup menyadarkan aku, aku ingin menjadi orang yang lebih baik lagi, hidup tenang bersama anak dan cucu kita, menjalani hari tua dengan damai bersama mu, aku sangat mencintai mu dan aku tidak akan menyakitimu lagi, aku janji,” ujar Dewa menatap lekat istrinya.


“Aku pun begitu, aku ingin berubah menjadi lebih baik lagi,”


Sedangkan di rumah sakit, Genta begitu cemas mondar mandir di depan ruang tunggu sembari mengusap kasar wajahnya.


Tak lama dokter pun terlihat keluar dari ruangan khusus pemeriksaan itu, melihat keberadaan dokter di depan mereka, Genta pun segera menghampiri dokter dan bertanya.


“Dok, bagaimana keadaan istri saya?” Tanya Genta antusias.


“Syukurlah cepat di bawa kemari, istri anda sudah siuman, luka di punggungnya juga sudah berhasil di tangani sehingga tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi,” jelas sang dokter dengan tersenyum.


“Benarkah? Apa kami bisa menjenguknya?” Tanya Amira kemudian.


“Tentu, silahkan nona Buwana,” jawab dokter itu lalu kemudian pamit undur diri dari hadapan mereka.


Kini Amira, Shaka dan Genta memasuki ruangan itu.


Hati Genta terasa sesak melihat istrinya terbaring lemah, Genta pun mengayunkan kakinya ke arah Safa.


“Sayang, maafkan aku yang sudah gagal menjagamu,” ucap Genta mulai meraih tangan istrinya lalu menciumnya.


Melihat Amira dan juga Shaka sontak membuat deru jantung Safa berdegub dengan cepat.


“Safa, jangan menatap kami seperti itu, kami tidak akan menghukum mu, justru aku dan suami ku sangat berterima kasih padamu karena sudah menyelamatkan anak kami,” ucap Amira dengan senyuman hangat.


“Ma…maafkan ak..ku A… mira, ak..aku…”


“Ssstt,” Genta meletakkan jari telunjuknya ke bibir istrinya.


“Jangan banyak bicara dulu, aku yakin Amira dan Shaka sudah memaafkan mu, mereka adalah orang baik, kamu jangan cemas lagi ya, sekarang kamu harus istirahat,”


“Genta benar Fa, kamu istirahat ya, terima kasih sekali lagi karena sudah menyelamatkan Queen, aku dan suamiku pamit pulang dulu, anak-anak sudah menunggu di rumah,”


“Oh ya Genta, sebagai tanda terima kasih kita untuk Safa, kamu tidak perlu membayar biaya perawatan Safa di rumah sakit ini, bahkan Safa bisa menempati ruang VVIP secara gratis di sini,”


“Terima kasih banyak, ku rasa tidak perlu seperti itu, kami akan tetap membayar biaya perawatan di sini,”


“Jangan sungkan, saya akan memberitahu bagian administrasi untuk jangan menerima sepeser pun uang dari pasien bernama Safa Alfahri,” tegas Shaka lalu kemudian merangkul pundak istrinya hendak berlalu meninggalkan ruangan Safa.


“Tunggu,” panggi Genta sontak menghentikan langkah Shaka dan juga Amira.

__ADS_1


“Ada apa lagi?” Tanya Shaka menoleh ke arah Genta.


“Salam untuk Queen,”


__ADS_2