
Beberapa saat kemudian, Amira terlihat menaiki anak tangga, Shaka yang melihat itu langsung bangkit dari sofa dan menghampirinya untuk mengajaknya masuk ke kamar bersama.
“Tidak, sebaiknya aku tidur di kamar lamaku saja, aku punya pengalaman buruk di kamar itu,” ketus Amira sembari terus berjalan melewati Shaka menuju kamar lamanya.
“Sayang, tolong jangan begini, bagaiamana pun kita masih suami istri sehingga harus tidur bersama,” bujuk Shaka sembari menghalangi Amira untuk masuk ke kamar lamanya.
“Minggir!” Amira menatap tajam ke arah Shaka.
“Tidak!” Tegas Shaka lagi.
Amira semakin di buat kesal dengan tingkah laku Shaka, ia pun beralih dan memutuskan untuk turun lagi ke bawah, melihat itu Shaka dengan sigap langsung menahan tangan Amira.
“Kau mau ke mana?” Tanya Shaka dengan lembut.
“Aku mau turun ke bawah dan tidur di ruang tamu saja,” jawab Amira dengan ketus.
“Tidak, jika nenek tau hal itu, nenek bisa sedih dan bisa-bisa dia akan kembali terkena serangan jantung karena terus memikirkan keadaan rumah tangga kita yang tidak harmonis lagi,” Shaka mulai memberi penjelasan pada Amira.
“Oh jadi kau menggunakan nenek agar aku bisa berbuat baik padamu dan melupakan begitu saja semua rasa sakit hatiku? Begitu?”
“Tidak Amira, sama sekali tidak begitu, tidak apa-apa jika kau masih marah padaku dan bersikap ketus padaku, tapi ku mohon Amira pikirkan kesehatan nenek, aku tidak mau melihat nenek sakit lagi karena kepikiran dengan keadaan kita yang seperti ini,” ucap Shaka yang mulai kembali lirih.
Amira pun terdiam sejenak sembari mencerna ucapan Shaka.
“Benar juga, aku tidak ingin melihat nenek sakit lagi karena sikapku, aku tidak mau membuat masalah lagi di keluarga ini,” batin Amira.
“Baiklah lalu kau mau aku tidur di mana?” Tanya Amira dengan tangan yang bersedekap.
“Kalau bisa kita tidur sekamar saja, karena aku takut sewaktu-waktu nenek akan mengecek kamar kita seperti waktu itu,” ucap Shaka dengan ragu-ragu.
“Baiklah,” balas Amira mulai melangkah menuju kamar mereka.
“Sungguh? Kau mau tidur sekamar denganku?” Tanya Shaka dengan raut wajah yang berbinar membuatnya seolah tak percaya.
Begitu mulai membuka pintu, Amira pun berbalik badan dan menatap tajam ke arah Shaka.
“Tapi ingat, tidak ada kontak fisik!” Ketus Amira memberi peringatan, lalu kemudian masuk ke kamar mereka.
Sejenak Shaka di buat terdiam, ia sedikit kecewa dengan pernyataan Amira, sejujurnya dia begitu merindukan istrinya itu, seakan ingin sekali ia melahap istrinya saat itu juga karena saking rindunya.
“Baiklah, tidak apa-apa jika kau menolakku sekarang, tapi aku tidak jamin, beberapa hari lagi, apa kau bisa menahannya?” Gumam Shaka dalam hati kemudian ikut memasuki kamarnya.
Pagi harinya…
Kini surya mulai menampakkan cahayanya menembus tirai jendela kamar Amira dan mengenai wajahnya, merasa wajahnya yang mulai menghangat karena paparan sinar mentari pagi, Amira pun terbangun dari tidurnya, ia membalikkan badannya dan mendapati suaminya yang masih tertidur pulas, kebetulan hari ini hari libur, jadi Shaka tidak perlu bangun pagi-pagi sekali.
Amira pun menatap suaminya dengan sayang, entah kenapa di saat tidur seperti itu, Amira merasa sangat sayang dengan suaminya itu.
Tak lama kemudian, Shaka pun mengerjapkan matanya dan perlahan mulai membukanya, Amira pun tersentak dan langsung mengalihkan pandangannya dari Shaka, Shaka yang mengetahui Amira memperhatikannya saat sedang tidur pun tersenyum senang saat tau ternyata Amira masih mau memperhatikannya, bagaimana tidak, saat Shaka membuka perlahan matanya ia melihat Amira yang saat itu sedang menatapnya dengan tersenyum sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
“Good morning sayangku,” ucap Shaka yang masih menatap Amira dengan senyuman yang tidak pernah pudar.
Amira pun tidak merespon ucapan Shaka, ia pun beranjak dari tempat tidur, mengambil pakaiannya yang ada di lemari lalu melangkah menuju kamar mandi untuk mandi
Shaka pun terdiam sejenak melihat tingkah laku Amira yang begitu cuek padanya, namun lagi-lagi ia memakluminya dan tidak terlalu memaksakan agar supaya Amira mau berbaikan lagi dengannya.
Setengah jam kemudian, Amira keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian rapi, Amira kini memakai crop sleeveless top warna dark brown, outer kemeja stripe dan highwaist jeans, ia pun membiarkan rambutnya tergerai rapi.
Melihat itu Shaka mulai mengerutkan dahinya lalu ia pun bertanya.
“Kamu mau ke mana?”
“Aku ingin ke rumah Salsa, aku sangat merindukan Queen,” jawab Amira yang masih belum menatap Shaka.
“Aku antar,”
“Tidak perlu!” Jawab Amira singkat.
“Aku akan tetap mengantarmu,” ucap Shaka kemudian langsung beranjak dari tempat tidurnya untuk mandi, karena tidak mau di tinggal, Shaka pun menyelesaikan acara mandinya dengan cepat.
Begitu selesai berpakaian, Shaka tidak melihat keberadaan Amira di situ, ia pun bergegas dan menyambar kunci mobilnya yang di meja rias Amira dan turun dengan cepat menuju parkiran.
Saat ia menjalankan mobilnya ke depan gerbang, untungnya Amira masih ada di depan gerbang menunggui taksi yang belum kunjung datang, ia pun segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Amira.
Melihat itu Amira pun mengerinyitkan dahinya dan memutar bola matanya saking tak habis fikir.
“Untuk apa kamu mengejarku?” Ketus Amira sembari menatap tajam ke arah Shaka.
Amira memicingkan matanya menatap Shaka, Amira tak punya pilihan lain, ia pun menuruti perkataan Shaka dan masuk ke dalam mobil, Shaka pun segera melajukan mobilnya meninggalkan gerbang rumah mewah mereka.
Sepanjang jalan, Amira hanya diam sembari menatap ke luar jendela untuk menikmati pemandangan yang ada, begitu juga dengan Shaka, ia pun hanya diam sembari sesekali menatap istrinya dengan binar wajah kegembiraan.
Kini mobil yang dikemudikan Shaka akhirnya sampai juga di pekarangan rumah Reza, Shaka pun turun dari mobil dan bergegas membukakan pintu untuk Amira, namun belum sempat Shaka membuka kan pintu mobil untuk Amira, pintu mobil itu sudah terbuka lebih dulu dan nampak Amira sedang turun dari mobil dan berjalan mendahului Shaka.
Amira pun menekan bel pintu rumah Reza, tak menunggu lama pintu rumah pun di bula oleh Reza sendiri, Reza pun di buat terkejut dengan keberadaan Amira.
“Astaga Amira, akhirnya kamu kembali?” Tanya Reza yang refleks langsung memegang kedua lengan Amira.
“Hehehe iya, aku sudah kembali,” jawab Amira dengan cengengesan.
Tak berapa lama, Yura pun terlihat baru saja datang dan langsung mendapati Shaka dan Amira yang sedang berada di rumah Reza, namun seketika langkah Yura terhenti sejenak saat melihat tangan Reza yang menyentuh lengan Amira.
“Ya tuhan, syukurlah, saat mendengar berita kamu hilang aku turut cemas, tapi karena aku terlalu sibuk makanya aku tidak banyak ikut membantu,” jelas Reza dengan wajah sumringah.
“Iya tidak apa, lagi pula aku baik-baik saja,” jawab Amira yang berusaha ingin menjauh sedikit dari Reza, namun Reza terus memegangi lengannya hingga membuatnya tak enak hati jika menepis tangan Reza begitu saja.
Melihat Reza yang nampak masih peduli dengan Amira, membuat hati Yura sedikit berdenyut namun ia masih terdiam, begitu juga dengan Shaka, Shaka pun di buat tak nyaman saat tangan Reza memegang kedua lengan istrinya dengan jarak yang lumayan dekat, Shaka pun langsung mendekati mereka berdua.
“Iya, istriku sudah selamat, aku menyelamatkannya dari Dewa,” jawab Shaka yang berusaha tersenyum sembari melepaskan tangan Reza dari lengan Amira.
__ADS_1
“Oh Ka, maafkan aku, aku, aku refleks,” ucap Reza kemudian.
Reza pun tersentak saat melihat ada Yura di situ, Yura pun hanya terdiam.
“Sayang, maafkan aku, aku sungguh refleks,” ucap Reza lagi.
“Tidak apa,” jawab Yura tanpa menatap Reza.
“Hai Amira, senang mengetahui kau sudah kembali, apa lagi kau terlihat baik-baik saja,” Yura langsung menghampiri Amira dan memeluknya dengan senyuman yang lirih.
“Terima kasih Yura, maafkan soal tadi,” ucap Amira yang juga merasa tak enak hati.
“Ah tidak apa, hal itu juga sudah biasa dilakukan Reza padamu kan,” jawab Yura yang terus mengutas senyuman.
Tak ingin membuat Yura lama-lama merasa sedih, Reza pun langsung kembali bersuara.
“Oh ya ada yang ingin kami berikan pada kalian, sebuah kabar bahagia,” ucap Reza sembari merangkul mesra Yura.
“Apa?” Tanya Shaka sembari mengerinyitkan dahinya.
“Ada baiknya kalian masuk dulu,” Reza pun tersenyum dan langsung melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan diikuti Shaka dan Amira.
Begitu masuk ke ruang tamu, Shaka pun segera menghampiri Reza dan duduk di sebelahnya.
“Sekarang katakan, kabar gembira apa yang ingin kau berikan pada kami?” Tanya Shaka lagi.
Yura pun kembali tersenyum, ia melirik sejenak ke arah Reza, Reza pun mengangguk, perlahan Yura mengeluarkan surat undangan dari dalam tasnya.
“Ini Ka,” ucap Yura sembari memberikan undangan itu pada Shaka.
Shaka seketika di buat tercengang, ia memandangi undangan itu lalu beralih memandangi Reza dan Yura secara bergantian.
“Ka, kalian akan menikah?” Raut wajah Shaka terlihat makin terkejut seakan tak percaya.
Reza kembali merangkul Yura, dan mereka pun mengangguk secara bersamaan.
“Kalian sungguh akan menikah?” Tanya Amira yang tak kalah terkejut.
Mereka pun kembali mengangguk sembari tersenyum.
“Tiga minggu lagi? Ku rasa kau terlalu cepat menyebarkan undangan ini,” tanya Shaka lagi.
“Iya hehehe, maafkan kami sudah membuatmu syok Ka, kami memang bermaksud memberimu surprise agar kalian terkejut,” jelas Reza.
“Dan undangan itu memang sengaja di berikan khusus untuk kalian dari jauh-jauh hari, agar kalian menjadi orang pertama yang kami undang,” sambung Yura kemudian.
“Sungguh sulit di percaya,” Shaka tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Shaka pun akhirnya memeluk Reza dengan begitu erat, karena akhirnya Reza berhasil menemukan jodohnya yang tak lain adalah Yura, wanita yang mati-matian ia tolak dulu, kemudian Shaka pun beralih memeluk Yura, karena bagaimana pun, Yura juga sahabatnya yang dulu begitu dekat dengannya.
__ADS_1
“Selamat Yura, akhirnya mimpi mu untuk mendapatkan si bodoh itu menjadi kenyataan,” bisik Shaka saat memeluk Yura.
Yura pun semakin tersenyum dengan matanya yang mulai berkaca-kaca, lalu ia hanya mengangguk-angguk saja.