Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 55 Mencoba Mengalah


__ADS_3

Saat ini perasaan Amira sudah jauh lebih baik, pun perasaan kecewanya terhadap Shaka perlahan mulai hilang. Dia mulai merasa bersalah saat dia berbuat kesalahan. Seperti saat ini, dia ingin menyusul Shaka ke apartemen Kevin, dan mengantar makan siang di sana.


"Pak Ardi, bisa antarkan saya ke apartemen Kevin?" Tanya Amira dengan ramah.


"Iya nona muda, akan saya antarkan." Jawab Pak Ardi setelah menyeruput kopinya.


"Minum dulu kopinya pak, nanti saya tunggu." Ujar Amira lagi.


"Tidak nona, saya antarkan nona dulu nanti saya buat kopinya lagi."


"Baiklah."


Amira dengan di supiri pak Ardi pergi menuju apartemen Kevin untuk menemui Shaka. Tak lama mobil mewah yang membawa Amira pun sampai di loby apartemen Kevin.


"Pak Ardi, apa kau bisa menunggu? Aku tidak lama. Ucap Amira dengan lembut.


"Baik nona."


Amira berjalan masuk ke apartemen menuju lift, tak lama ia pun sampai di depan ruangan Kevin. Dia menekan bel dan langsung di buka kan oleh Kevin.


"Amira!!" Kevin sontak terkejut dengan keberadaan Amira.


"Boleh aku masuk?" Tanya Amira tersenyum.


"Kamu pasti mau menemui suamimu kan?" Kekeh Kevin.


"Iya, apakah dia ada?" Tanya Amira kemudian.


"Ada, ayo masuk." Kevin berdiri memberikan jalan pada Amira untuk masuk.


Amira pun melangkah masuk ke apartemen Kevin, saat itu ia melihat Shaka yang sedang duduk santai sembari memainkan ponselnya.


"Shaka." Panggil Amira dan Shaka sontak mengangkat kepalanya.


"Ka.. Kau." Shaka membulatkan matanya, ia tercengang memandangi sosok Amira yang kini ada di apartemen Kevin sedang berdiri bersama Kevin.


"Lihatlah Shaka istrimu rela datang ke sini menghampirimu hanya untuk mengantarkan makan siang. Sungguh manisnya." Kekeh Kevin mencoba menggoda Shaka.


Shaka memandang tajam ke arah Kevin.


"Okee kalau begitu aku ke kamar dulu. Kalian mengobrol lah dulu jangan sungkan." Ucap Kevin yang seolah memberi kesempatan untuk Amira dan Shaka berdua.


"Kau melupakan makan siangmu, kau makanlah." Ucap Amira sembari tersenyum tipis.


Namun Shaka masih diam dan masih tercengang. Dia sungguh tak menyangka Amira datang ke apartemen Kevin menyusulnya hanya untuk mengantarkan bekal untuknya.

__ADS_1


"Aku minta maaf jika kau tidak suka aku ke rumah Reza dan berhubungan lagi dengannya selama surat perjanjian kita masih berlaku, maka aku tidak akan lagi berhubungan dengan Reza. Sekali lagi aku minta maaf." Amira berkata begitu lembut sembari menundukkan kepalanya.


Namun Shaka masih saja diam memandangi kotak bekal yang terletak di atas meja. Melihat Shaka yang diam saja sontak membuat Amira semakin gugup dan kikuk.


"Yah sudah, hanya itu saja yang ingin aku sampaikan, kau lanjut lah aktivitasmu di sini aku tidak akan mengganggu, jangan lupa makan. Aku pulang dulu." Ucap Amira tersenyum lirih dan langsung beranjak.


"Tunggu." Ucap Shaka.


Langkah Amira langsung terhenti saat ia sudah melangkah. Amira pun menoleh sembari menaikkan kedua alisnya.


"Emm.. Ada film bagus yang baru tayang di bioskop, apa kau mau menonton bersamaku siang ini?" Ucap Shaka dengan gugup sembari memandang Amira dengan ragu-ragu.


"Apa itu artinya kau memaafkan aku?" Tanya Amira begitu pelan sembari menahan senyumnya.


"Asal kau setuju maka aku akan pertimbangkan untuk memaafkanmu." Jawab Shaka ikut menahan senyumnya.


"Iya aku mau." Jawab Amira mengangguk dan akhirnya senyumnya keluar begitu saja dan tak bisa di tahannya lagi.


"Emmm.. Bagaimana kalau kita pergi sekarang? Setelah aku makan bekal yang kau bawakan ini." Tanya Shaka yang masih berusaha bersikap biasa saja.


"Yah sudah kalau begitu aku aku akan tunggu." Jawab Amira bersemangat.


"Tapi, aku ke toilet sebentar ya." Ucap Amira lagi.


Shaka hanya mengangguk sembari membuka kotak bekal yang di bawa Amira, dia tersenyum begitu lebarnya dan terus memandangi makanan itu dengan begitu sumringah.


"Makan sambil senyum, rupanya temanku ini sedang berbunga-bunga hatinya. Akhirnya kau jadi bucin juga Shaka." Kekeh Kevin tiba-tiba duduk di depan Shaka.


"Diam kau!! Aku tidak menyuruhmu bicara." Ketus Shaka sembari memandang tajam ke arah Kevin.


"Sudah jadi bucin tapi masih ketus juga, ayolah coba bersikap lembut, jangan sampai karena terbiasa bersikap ketus padaku kau juga akan bersikap ketus pada istrimu." Ucap Kevin terkekeh.


"Mana mungkin aku bersikap ketus padanya, kau tidak tau bagaimana rasanya di antarkan bekal makan siang oleh bidadari cantik di rumahmu." Ucap Shaka yang tersenyum meledek.


Amira yang baru keluar dari toilet tak sengaja mendengar pujian Shaka kepadanya. Dia pun tersenyum senang mendengar itu.


"Ekhem." Amira berdehem sembari melangkah mendekati dua lelaki tampan itu.


Shaka sontak membulatkan matanya dan menjadi salah tingkah saat Amira datang sedangkan dia baru saja mengutarakan pujian manis untuk Amira. Walau pun Shaka sudah mencintainya, namun Shaka masih gengsi kalau harus memuji Amira di saat dia mulai memaafkan Amira ketika Amira berbuat kesalahan padanya.


Shaka kembali merubah ekspresi wajahnya menjadi datar sembari terus menyuapkan makanan ke mulutnya. Tak lama Shaka sudah selesai makan, dia menutup kotak bekal itu dan mengajak Amira untuk pergi. Amira dan Shaka berpamitan pada Kevin dan berjalan keluar apartemen.


"Emm.. Shaka.. Aku menyuruh pak Ardi untuk menungguku karena aku pikir aku tidak akan lama." Ucap Amira tampak ragu-ragu.


"Yah sudah kita suru saja pak Ardi pulang dan kau di mobil bersamaku."

__ADS_1


Shaka menghampiri pak Ardi dan menyuruh dia pulang lebih dulu karena dia dan Amira akan pergi bersama. Namun baru saja Shaka menghidupkan mobilnya tiba-tiba dia mendapat telepon dari Yura, tapi Shaka mengabaikannya.


"Shaka itu telepon dari siapa?" Tanya Amira mendengar ponsel Shaka yang berdering.


"Yura." Jawab Shaka singkat.


"Angkat saja, pasti dia membutuhkanmu saat ini, atau jangan-jangan terjadi sesuatu padanya." Ucap Amira tampak cemas.


"Aku akan menonton denganmu. Aku tidak akan meninggalkanmu hanya untuk menemuinya." Ucap Shaka mulai menjalankan mobilnya.


"Shaka, kamu lupa kalau dia sakit karena memikirkan mu, kamu tidak boleh seperti ini, kan besok kita bisa pergi lagi. Jangan membuat keadaannya semakin parah, setidaknya kau temani dia dulu sampai keadaannya benar-benar pulih." Amira mencoba membuat Shaka mengerti.


"Amira, kau selalu memikirkan perasaan orang lain. Apa kau tidak memikirkan perasaanmu?" Shaka mulai kesal.


"Ada apa dengan perasaanku? Aku tidak apa-apa, Yura kan temanmu dan lagi pula sekarang dia sedang sakit kau harus menghiburnya saat ini yang ia butuhkan itu kamu."


Dan kamu tidak membutuhkan aku Amira? Gumam Shaka dalam hati dan kecewa dengan pernyataan Amira yang terus memaksa Shaka untuk pergi menemui Yura.


"Yah sudah , kita sama-sama ke sana sekarang." Shaka memutuskan untuk membawa Amira.


"Tapi Shaka.."


"Jangan membantah lagi." Celetuk Shaka.


Shaka melajukan mobilnya menuju rumah sakit, tak lama mobil itu sampai di depan rumah sakit Shaka turun dari mobil bersama Amira dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Namun ketika sampai di depan ruangan Yura, langkah Amira terhenti.


"Kenapa berhenti?" Tanya Shaka menoleh ke arah Amira.


"Aku tunggu di sini saja. Kau masuk lah dulu." Ucap Amira sembari melepas tangan Shaka yang sedari tadi terus menggenggam tangannya.


"Amira kau harus masuk bersamaku." Ucap Shaka pelan.


"Shaka, kalau aku masuk juga, Yura akan curiga dan keadaannya akan semakin parah kalau dia melihatmu datang bersama wanita lain dan wanita itu aku." Amira mencoba membuat Shaka mengerti.


"Tidak mungkin aku membiarkan kamu sendirian di sini."


"Shaka, kamu jangan lebay, ini rumah sakit bukan kuburan dan bukan medan perang sehingga kau takut membiarkan aku sendirian di sini. Lagi pula di sini ada orang yang lalu lalang ke sana kemari jadi tidak apa-apa, masuklah." Kekeh Amira dan mencoba meyakinkan Shaka.


"Amira.."


"Shaka, kau mencintaiku kan?" Tanya Amira menatap serius.


"I.. Iya." Jawab Shaka.


"Kalau kau mencintaiku, turuti apa yang aku katakan, masuklah dan temui Yura. Aku akan kecewa kalau kau tidak menuruti apa yang aku katakan." Kali ini Amira menatap serius.

__ADS_1


Akhirnya Shaka masuk sendiri ke dalam ruangan Yura dan meninggalkan Amira di depan ruangan itu. Amira seperti itu karena merasa tidak tegah dengan keadaan Yura, walau pun baru sekali bertemu tapi Yura sudah begitu baik padanya, sampai saat ini dia masih berpikir bahwa dia lah orang ketiga di antara Yura dan Shaka dan lagi pula pernikahan mereka hanya sementara dia takut berharap lebih. Dia takut kejadian bersama Genta terulang dan dia akan sakit hati lagi. Walau pun Shaka sudah menyatakan cinta padanya, tapi dia tidak tegah dengan Yura, sehingga dia berfikir untuk mengalah dari Yura.


Walaupun di hati kecilnya sudah mencintai Shaka dan merasa cemburu tapi dia berusaha tegar dia tidak ingin menjadikan Yura sebagai rival nya.


__ADS_2