
2 hari kemudian….
Sudah 2 hari ini juga Amira bekerja di dunia malam, ia bekerja menemani para pejudi dan bertugas menyemangati tamunya, saat itu senyum keikhlasan tak lagi terpancar dari wajah sendunya, yang tersisa saat ini hanyalah senyum keterpaksaan, di depan para tamunya ia harus tetap tersenyum, karena jika tidak, Dewa akan memarahinya habis-habisan.
Dalam 2 hari itu pula Amira tak melihat dunia luar dan tak tahu menahu tentang apapun lagi, terutama berhubungan dengan keluarganya, yang Amira bisa lakukan saat ini adalah berusaha untuk mempercayai Dewa yang sudah berjanji tidak akan mencelakai keluarganya, terutama Queen anak yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri, begitu juga dengan ponsel Amira yang tak pernah lagi aktif, ia sama sekali tak pernah memegang ponselnya lagi sejak malam itu karena ditahan oleh Dewa.
“Shaka Buwana, Nenek, Mama, Papa, Queen, kalian sedang apa? Apa kalian sudah mendapatkan hidup yang tenang di sana? Ku harap begitu, ku harap kalian baik-baik saja, sejujurnya aku begitu merindukan kalian, sangat rindu, tapi tak apa, biar ku tahan saja rindu ini, meski berat setidaknya bisa membuat ku sedikit tenang, karena Dewa takkan lagi datang mengusik kalian,” gumam Amira dalam hati sembari terus duduk melamun di atas ranjangnya dengan mata yang juga terus menatap kosong ke arah jendela kamarnya.
Pagi harinya, Amira terbangun dengan perasaan yang tidak enak, tiba-tiba saja kepalanya pusing dan mulai merasa mual, sudah 2 hari ini Amira merasakan hal seperti itu, namun dia tidak menggubrisnya karena tidak terlalu mengganggu, namun entah kenapa, hari ini perasaan tidak enak itu mulai membuatnya sangat terganggu.
Amira masuk ke kamar mandi dengan rasa mual yang mulai parah, namun saat ia masuk ke kamar mandi tiba-tiba pandangannya jadi gelap, sehingga tanpa bisa dikendalikan lagi, Amira mulai jatuh pingsan di dalam kamar mandi.
Tak lama Elisa pun masuk ke dalam kamar Amira seperti biasa, dia akan menjemput Amira untuk kembali menemani para tamu.
Elisa mengerutkan dahinya saat mendapati keadaan kamar yang kosong, dia tidak melihat sosok Amira di sana, dia berjalan menuju balkon untuk mencari keberadaan Amira, namun tidak ada, lantas setelah itu dia mulai melangkah memasuki kamar mandi, setelah pintu kamar mandi di buka, Elisa membulatkan matanya dengan sempurna, dia begitu terkejut melihat Amira yang sudah tergeletak di dalam kamar mandi dalam keadaan tak sadarkan diri.
“Amira bangun, heiii Amira,” panggil Elisa sembari menepuk pelan pipi Amira.
Kini Elisa mulai panik, dia lantas meraih ponselnya di saku dan menelepon tuan Dewa, namun tak diangkat.
Elisa tidak putus asa, ia lantas menelepon Marsel untuk memberitahukan keadaan Amira.
“Halo,”
“Marsel, kamu tolong ke kamar Amira sekarang, Amira pingsan!” Ucap Elisa nampak panik.
“Apa? Pingsan? Bagaimana bisa?”
“Sudahlah tidak usah banyak bertanya, lebih baik kau ke sini sekarang!”
“Baik, baik,” jawab Marsel mengakhiri panggilan teleponnya lalu beranjak menuju lantai 3 kamar Amira.
Melihat tubuh Amira yang mulai basah karena air di lantai kamar mandi itu, akhirnya dengan sekuat tenaga, Elisa membopong tubuh Amira menuju ranjang.
Elisa dengan sigap mengambil pakaian kering di lemari untuk mengganti pakaian Amira yang sudah basah.
Setelah selesai mengganti pakaian Amira, kini Marsel pun datang.
“Elisa apa kau sudah memberitahukannya pada tuan Dewa?”
“Belum, sebelum menghubungimu, aku menghubungi tuan Dewa terlebih dahulu, tapi tak diangkat,” jawab Elisa.
“Astaga, suru penjaga itu untuk ke ruangan tuan Dewa, karena sekarang ia sedang berada di ruangannya,” titah Marsel.
Akhirnya Elisa pun berjalan keluar kamar dan menyuruh penjaga lantai 3 itu untuk turun ke lantai 1 menemui Dewa, dengan sigap, penjaga itu pun beranjak menuju ruangan Dewa.
Melihat tubuh Amira yang begitu mulus membuat Marsel menelan salivanya, rasanya dia ingin menjamah tubuh Amira sekarang juga, namun dia tidak berani karena ada Elisa di situ.
Beberapa menit kemudian, ponsel Elisa berbunyi panggilan masuk dari Dewa.
__ADS_1
“Halo tuan,” jawab Elisa.
“Apa benar Amira pingsan?”
“Iya tuan, tadi saya ingin masuk untuk ke kamar Amira untuk menjemputnya seperti biasa, namun setelah masuk saya terkejut melihat Amira sudah tak sadarkan diri tergeletak di lantai kamar mandi tuan,” jelas Elisa yang jadi begitu panik.
“Ya sudah, kau dan Marsel antarkan dia ke rumah sakit sekarang, dan ingat jangan biarkan dia sendirian, bila perlu salah satu diantar kalian berdua ikut masuk ke dalam ruang pemeriksaan, jangan biarkan dia kabur setelah pulih, kau mengerti?” Tegas Dewa.
“I.. iya mengerti tuan,” jawab Elisa ketakutan.
Elisa pun memberitahu pesan Dewa tadi kepada Marsel, sehingga tanpa pikir panjang Marsel langsung menggendong Amira dan membawanya keluar menuju basement tempat mobilnya terparkir, setelah ia memasukkan Amira ke dalam mobil, dia dan Elisa pun ikut masuk ke mobil dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan basement menuju rumah sakit.
Akhirnya mobil Marsel melesat dengan cepat di depan rumah sakit yang di tuju, mereka tidak membawa Amira ke rumah sakit Green Light, karena mereka tau itu rumah sakit milik keluarga Buwana.
“Elisa, kau tunggu saja di sini biar aku saja yang membawanya,” ucap Marsel dan kemudian langsung turun dari mobil.
Marsel dengan cepat membuka pintu mobil dan menggendong Amira yang masih tak sadarkan diri, untuk masuk ke dalam ruang IGD.
“Heh wanita ini pingsan, tolong cepat periksa dia!” Ketus Marsel pada salah satu perawat yang sedang duduk di meja pendafataran.
Semua mata tertuju pada Marsel yang memang terlihat begitu menyeramkan dengan badannya yang tinggi tegap, ditambah tato yang menghiasi tangan dan lehernya menambah kesan kegarangannya.
Dengan cepat sang perawat pun langsung mengambil brankar dan meletakkan Amira di brankar, para pasien yang sudah lama mengantri hanya bisa tercengang dan pasrah karena tak ingin menentang Marsel.
Akhirnya kini Amira sudah lebih dulu di periksa oleh dokter, tak lama kemudian Amira pun sadar, ia tampak begitu asing melihat sekelilingnya.
“Nona sedang berada di rumah sakit sekarang, tadi nona pingsan,” jawab dokter umum itu.
Dokter pun melakukan anamnesa untuk menengakkan diagnosa kepada Amira, namun setelah mendengar keluhan Amira, dokter menyarankan Amira untuk ke ruangan dokter kandungan.
“Dokter kandungan? Memangnya kenapa dok?” Tanya Amira tampak kebingungan.
“Setelah saya periksa, nona Amira sedang tidak mengalami sakit yang serius, namun karena nona Amira sudah mengalami mual dan pusing selama beberapa hari ini, ditambah lagi dengan haid nona Amira yang sudah tak kunjung datang, oleh karena itu saya menyarankan nona Amira untuk pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan kandungan nona Amira,” jawab Dokter tersebut dengan tersenyum.
“Apa mungkin saya hamil dok?” Tanya Amira lagi dengan raut kebingungan.
“Bisa jadi, supaya tidak penasaran lebih baik nona pastikan saja dulu,”
Mendengar pernyataan dokter umum tersebut membuat Amira percaya kalau perkataan dokter ini ada benarnya juga, Amira juga mulai penasaran, karena sudah 1 minggu lamanya Amira mengalami terlambat haid, ini juga seperti yang Amira alami dulu waktu dia hamil anak pertama, Amira semakin semangat untuk memeriksakan kandungannya ke dokter kandungan, karena Amira sudah mulai menaruh harapan besar di sana, ia berharap kalau dia benar-benar hamil anak dari Shaka Buwana.
Marsel yang menunggu di depan pintu mulai bertanya tentang keadaan Amira.
“Bagaimana keadaanmu sekarang?” Tanya Marsel dengan wajah datarnya.!
“Kata dokter umum itu, saya harus periksa juga ke dokter kandungan,” jawab Amira.
“Dokter kandungan? Kamu hamil?” Tanya Marsel mulai penasaran.
“Entahlah, saya mau memastikannya dulu,” jawab Amira.
__ADS_1
Akhirnya Marsel pun mengantar Amira pindah ke ruang KIA untuk memeriksakan kandungan Amira, setelah sampai ternyata tidak ada pasien yang mengantri sehingga Amira langsung bisa mendaftar lalu kemudian masuk ke ruangan dokter, dengan diikuti oleh Marsel.
Sesampainya di dalam, sang dokter mulai memeriksa perut Amira dengan menyingkap sebagian baju Amira hingga menampakkan perut putih nan mulusnya, Amira sebenarnya merasa risih, karena ada Marsel, namun dia mencoba untuk tidak menghiraukannya.
Sementara Marsel yang melihat penampakkan itu, membuat geloranya mulai tercipta, ia mulai menatap liar ke arah Amira yang saat itu sedang terbaring, dengan sebuah senyuman sinis yang kembali terpancar, ia pun bergumam.
“Sebentar lagi, perut mulus mu itu akan bisa ku jilati dan basahi dengan lidahku, itu membuktikan kalau aku bisa mendapatkan apa yang aku mau, aku bisa meniduri gadis manapun yang aku mau, meski itu istri Shaka Buwana sekali pun hahahaha,” gumam Marsel dalam hati.
“Nona Amira, selamat ya saat ini nona Amira sedang mengandung, kantung kehamilannya sudah mulai terlihat,”
Mendengar itu Amira tampak begitu bahagia, ternyata dia sedang hamil, pantas saja dia merasa tak enak badan akhir-akhir ini, dengan raut wajah yang berbinar Amira menatap dokter wanita itu dan tersenyum.
Sementara Marsel yang mendengar itu sontak di buat terkejut, ternyata wanita yang dia sukai ini sedang hamil, namun ia tidak peduli, dia tetap penasaran dan tetap ingin menikmati tubuh Amira.
“Kehamilan nona ini masih begitu muda, tidak seharusnya nona mengalami stres dan kelelahan yang berlebih, hal itu bisa memicu kontraksi dini, jika terus berulang akan memicu terjadinya keguguran,” jelas dokter kemudian.
“Baiklah nona, saya akan memberikan anda vitamin khusus untuk ibu hamil,”
“Kandungan nona juga baik-baik saja, tuan saya berharap tuan bisa membantu menjaga kehamilan istri anda ini, karena usia kandungan yang begitu muda sangat rentan,” tambah dokter lagi.
“Ta.. tapi dokter, saya bukan is….” Amira mencoba menjelaskan kalau dia dan Marsel bukan suami istri.
Namun Marsel memberikan tatapan mematikan pada Amira seolah memberi ancaman baginya, melihat hal itu Amira jadi terdiam dan mengurungkan niatnya.
“Aku bukan istri dari lelaki jahat ini dokter, aku istri dari Shaka Buwana, bagaimana kau bisa tidak mengenaliku,” ucap Amira lirih dalam hati.
“Oh ya, saya juga mau mengingatkan kepada tuan, agar tuan mendukung kehamilan istri anda di awal kehamilan ini ia rentan sekali mengalami keguguran, jadi saran saya jangan berhubungan intim dulu demi kebaikan calon bayi kalian,” jelas dokter lagi secara detail.
“Apa?” Tanya Marsel yang begitu terkejut.
Bagaimana tidak, niat awal Marsel ingin memuaskan birahinya, ia jadi begitu penasaran.
“Benar tuan, hal seperti itu memang cukup wajar disampaikan oleh dokter kandungan di awal kehamilan, berbeda halnya dengan masa hamil tua, yang dimana justru disarankan agar sesering mungkin melakukan hubungan intim, karena bisa turut membantu membuka jalan lahir dan juga sebagai pelumas alami,” papar dokter lagi.
Marsel pun terdiam, dahinya jadi begitu mengkerut saat mendengar penjelasan sang dokter, tak lama Amira yang sejak tadi masih terbaring, kini mulai bangkit dari duduknya.
“Baiklah kami mengerti dokter, terima kasih,” ucap Amira.
Dokter tersenyum dan mengangguk, sembari memberi resep obat yang ia tuliskan.
“Berapa semuanya?” Tanya Marsel datar.
“Pembayaran bisa dilakukan di kasir tuan, sekaligus dengan penebusan obatnya,”
Marsel pun dengan cepat langsung keluar dari ruang pemeriksaan, setelah membayar semuanya, Marsel kini menarik kasar tangan Amira.
Amira pun hanya terdiam sembari refleks menangkap kresek yang berisi vitaminnya.
Sesampainya di mobil, Marsel langsung menghubungi Dewa dan memberitahukan kehamilan Amira, mendengar itu Dewa begitu kesal karena tujuannya untuk menjual Amira kini terhalang karena kehamilan Amira, Dewa pun segera memerintahkan Marsel dan juga Elisa untuk langsung pulang membawa Amira ke hadapannya.
__ADS_1