Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 46 Keberanian Shaka


__ADS_3

Selang beberapa saat, setelah Shaka bangun dan beranjak dari kamar, Amira perlahan membuka matanya. Amira mengerjap-ngerjap kan matanya dan melihat di sekelilingnya. Amira melihat ke sampingnya, ternyata tidak ada Shaka di sampingnya. Sampai akhirnya, beberapa saat kemudian, Amira mulai sadar dan sontak terkejut melihat tubuhnya yang polos di balik selimut.


"Oh tidak, di mana pakaianku? Kenapa aku tidur tanpa baju?" Ucap Amira membulatkan matanya sembari melihat ke dalam selimut.


Amira masih terdiam dan terlihat amat sangat syok, ia terus tercengang sembari mengingat kejadian yang sebelumnya terjadi.


"Oh ya tuhan, aku belum bisa mengingat semuanya". Ucap Amira seorang diri dan tubuhnya mulai gemetaran.


Amira mulai menenangkan dirinya dengan berdiam diri sejenak. Setelah cukup tenang, Amira mencoba mengingat kejadian sebelumnya. Ia pun mulai mendapat gambaran bagaimana dia di paksa minum oleh seorang lelaki yang mencoba menggodanya hingga ia di gendong oleh Shaka menuju mobil.


Amira beranjak dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang sembari mengingat apa yang terjadi selanjutnya. Jantung Amira kembali berdetak tak karuan, perasaan cemas dan takut mulai datang dan menyelusup masuk ke dalam benaknya.


Dengan lesu, Amira berdiri dan mulai memakai pakaiannya yang sudah terletak di atas ranjang. Dengan membawa rasa penasaran di dalam benaknya, Amira pun memberanikan dirinya untuk mencari Shaka. Amira mencoba membuka kamar pertamanya, setelah ia membuka kamarnya itu ia melihat Shaka yang saat itu sedang merapikan pakaiannya di depan cermin dan bersiap ingin ke kantor. Ia pun sontak melirik ke arah pintu saat ia mendengar suara pintu di buka.


Shaka mendapati Amira yang sedang membuka pintu, melihat Amira perasaan Shaka mulai tak karuan, Shaka mendekati Amira dan bertanya. Sementara Amira semakin bingung dengan Shaka yang memilih tidur di kamar lamanya. Amira pikir Shaka tidak tidur dengannya.


"Amira, kau sudah bangun?" Tanya Shaka tampak kikuk.


"Iya, aku ke sini mau melihat cctv di kamar mu". Celetuk Amira tegas.


"Cctv?" Shaka tampak terkejut.


"Iyaa, aku ingin tau apa yang terjadi sebenarnya." Ucap Amira lirih.


"Oh itu, emm.. Kau tidak perlu melihatnya Amira, tidak ada apa-apa di cctv itu." Ucap Shaka sembari menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Amira mulai curiga.

__ADS_1


"Tidak, justru karena tidak apa-apa jadi kau tidak perlu melihatnya." Shaka mencoba berkilah.


Amira memicingkan matanya semakin curiga.


"Mana ponselmu? Pokoknya aku mau melihatnya!!" Ketus Amira mulai kesal.


"Amira, lebih baik kau jangan melihatnya, demi tuhan kau pasti tidak sanggup melihatnya."


"Aku sudah terlalu banyak menghadapi cobaan selama aku hidup, bahkan itu yang terberat sekali pun, jadi berikan ponselmu biarkan aku melihatnya." Ucap Amira mengulurkan tangannya meminta ponsel Shaka.


Akhirnya dengan menghela nafas panjang, Shaka meraih ponsel di saku celananya dan membuka akses cctv kamarnya kemudian memperlihatkannya pada Amira.


Amira langsung merebut ponsel dari tangannya dan melihat rekaman cctv itu. Amira masih menyaksikan dengan tenang saat melihat Shaka menggendongnya memasuki kamar dan membaringkan tubuhnya, sementara Shaka melihat ekspresi Amira dengan was-was. Namun tiba-tiba dahinya berkerut dan matanya membulat saat melihat dirinya yang mengalungkan tangannya di leher Shaka dan menciumnya dengan begitu bringasnya.


Shaka yang melihat Amira yang mulai terkejut mencoba mencegah Amira dan hendak menarik ponselnya dari tangan Amira. Namun Amira menahan tubuh Shaka yang mulai mendekat padanya. Mata Amira terus membulat menyaksikan setiap adegan yang di lakukan ia dan Shaka di ranjang. Di cctv itu terlihat memang Amira lah yang paling menginginkan hal itu. Air mata Amira mulai menetes, namun ia masih tetap bertahan dan menyaksikan semua yang mereka lakukan dengan begitu liarnya.


"Maafkan aku, aku sungguh minta maaf". Ucap Shaka lirih sembari mengeratkan pelukannya pada Amira.


Amira masih mematung dan terus terdiam, air matanya kian mengalir deras dengan tatapan kosong. Kini Amira merasa masa depannya semakin hancur. Apa yang dulu ia lakukan bersama Genta, kini terulang kembali. Ia kembali teringat bagaimana hancurnya dirinya dulu, bagaimana terpuruknya dia dulu.


Yah tuhan, kenapa nasibku selalu seperti ini? Kenapa hal ini terjadi lagi. Batin Amira dan perlahan mulai melepaskan pelukan Shaka dari tubuhnya.


Shaka memandang lekat wajah Amira dengan tatapan sendu. Amira tanpa berkata apa pun langsung saja pergi melewati Shaka begitu saja. Melihat Amira yang mulai melangkah pergi darinya Shaka segera menarik tangan Amira.


"Amira kau mau ke mana?" Tanya Shaka mengeratkan genggaman tangannya.


"Aku mau pergi saja dari rumah ini." Jawab Amira sembari mencoba melepaskan genggaman tangan Shaka.

__ADS_1


"Tidak tidak Amira, kau jangan pergi lagi dari rumah ini, aku tidak akan membiarkan kau meninggalkan ku lagi." Tegas Shaka semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"Tolong Shaka, aku tidak bisa menahan semua ini, aku sangat menyesal, kenapa hal ini selalu terjadi padaku. Kenapa aku melakukannya lagi, dengan orang yang sama sekali tidak mencintaiku." Isak Amira di tengah tangisannya.


Mendengar itu Shaka terdiam sejenak, lidahnya begitu keluh, dia belum mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya pada Amira. Namun ia masih tetap mengeratkan genggaman tangannya pada Amira.


"Lepaskan aku Shaka, kenapa aku harus bertahan di rumah ini? Kenapa aku harus mempertahankan rumah tangga yang bahkan sama sekali tidak ada cinta di dalamnya." Tegas Amira memandang lirih ke arah Shaka.


"Aku juga tidak ingin jika sampai aku terbawa perasaan dan mulai mencintai orang yang salah untuk yang kedua kalinya." Tambah Amira lagi.


"Aku benar-benar trauma dengan hidup ku Shaka, aku amat sangat trauma dan takut, terlebih kita menikah bukan atas dasar cinta, melainkan paksaan dari nenek." Amira semakin terisak


Shaka mulai melepaskan tangan Amira, setelah tangannya di lepaskan, Amira langsung berjalan lagi menuju kamarnya untuk mengemasi barang-barangnya.


"Amira tunggu." Cegah Shaka dan menghela nafas panjang.


Langkah Amira sejenak terhenti.


"Ada apa lagi?" Tanya Amira masih dalam keadaan membelakangi Shaka.


Shaka membalikkan badannya menghadap Amira.


"Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk aku mengatakannya, tapi aku harus mengatakannya padamu". Ucap Shaka dengan lantang.


Mendengar itu Amira membalikkan badannya menghadap Shaka, dan menunggu apa yang akan Shaka ucapkan selanjutnya.


"Perlu kau tau Amira!! Sesungguhnya aku diam-diam sudah mencintaimu." Ucap Shaka mengungkapkan perasaannya.

__ADS_1


Amira terperanjat mendengar hal itu, dia sontak membulatkan matanya seakan tak percaya apa yang barusan di dengarnya. Dia tampak terperangah menatap Shaka yang sudah mengungkapkan perasaannya dengan begitu lantangnya.


__ADS_2