
2 bulan kemudian…
Sampai hari ini perasaan galau menyelimuti Amira, namun ia tak lupa untuk selalu menyiapkan segala sesuatu untuk Shaka sebelum ia bergulat dengan aktivitasnya, walau pun sudah di larang Shaka dan nenek, Amira tetap bersih keras untuk menyibukkan diri agar dia bisa melupakan sejenak anak pertamanya yang sekarang sedang berada dalam pelukan wanita lain, Amira ingin melayani suaminya seperti biasa, mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar, tidak ingin ada campur tangan orang lain.
“Masak apa Mir?” Tanya nenek Emely yang baru saja masuk di dapur menghampiri Amira yang sedang menggoreng sesuatu.
Menghirup dalam aroma masakan yang hampir matang.
“Aku membuat omlet, roti bakar isi daging, juga nasi goreng nek,”
“Sudah nenek katakan, tidak usa repot-repot, perut mu sudah semakin besar, kamu pasti kesulitan bergerak, lebih baik kamu istirahat saja menunggu waktu lahiran kamu,” ucap sang nenek dengan raut kecemasan.
“Tidak apa-apa nek, lagi pula ini tidak melelahkan kok, Amira bosan hanya diam di kamar tidak melakukan apa pun,” ucap Amira sembari meletakkan nasi goreng ke dalam sebuah wadah, lalu omlet dan roti bakar semuanya sudah tersedia di atas piring, siap di sajikan di meja makan.
“Nenek bantu ya,” tanpa persetujuan Amira, Emely membantu menyajikan beberapa menu makanan itu ke atas meja makan.
Setelah selesai disajikan, Amira tersenyum dan menarik kursi yang biasa nenek Emely duduki dan mempersilahkan nenek duduk, meski sudah lumayan lama menikah, Amira selalu memperlakukan sang nenek bak seorang ratu, Amira menyayangi nenek Shaka seperti ia menyayangi kedua orang tuanya.
Beberapa saat kemudian Shaka keluar dan langsung ke ruang makan.
“Pagi nek, pagi sayang,” sapa Shaka lalu menyeruput teh yang sudah menghangat.
“Pagi,” jawab dua wanita beda usia itu serempak.
Amira mencium pipi Shaka dengan lembut, menawarkan beberapa makanan yang ia masak, meski pun sudah tau apa yang akan Shaka pilih, setidaknya ia ingin memberikan pilihan menu seperti di restoran.
“Aku mau ajak Queen jalan-jalan, boleh nggak?” Tanya Amira sambil mengambil nasi.
“Iya boleh, tapi aku belum bisa menemani kamu, bagaimana kalau pergi bersama mama? Mama pasti senang bisa jalan-jalan dengan cucu pertamanya,” sudah 2 bulan ini nenek dan juga orang tua Amira tau tentang Queen, namun Amira meminta mereka untuk merahasiakan dulu, menunggu waktu yang tepat untuk mengambil Queen dari Yura dan Reza.
“Boleh, apa nenek juga mau ikut?” Tanya Amira beralih menatap sang nenek.
“Boleh, kebetulan nenek juga mau bertemu Queen, bagaimana pun dia adalah anak kamu, itu artinya dia juga cicit nenek,” jawab Emely dengan wajah berseri-seri.
Amira begitu senang melihat kebaikan dan ketulusan hati keluarga suaminya, mereka nampak begitu menerima dan menyayangi Queen sepenuh hati, Amira jadi semakin tidak sabar ingin bersama putrinya itu.
Sarapan berjalan lancar, Amira membantu Shaka memakai baju kantor, memastikan bahwa semua kebutuhannya itu lengkap, dan tidak ada yang tertinggal.
Amira menatap wajah tampan Shaka, kagum dengan sosok pria di depannya.
“Aku berangkat dulu,”
Mencium kening Amira berkali-kali, lalu mencium perut Amira kemudian diselingi bibirnya dengan lembut, enggan untuk berpisah jika mengingat pergulatan di atas ranjang.
“Nanti setelah kamu melahirkan, aku akan ambil cuti untuk kita bulan madu,”
Amira kembali tertawa, merapikan dasi Shaka yang sedikit melenceng.
“Tidak usah, usia pernikahan kita sudah lumayan lama, lagi pula di sini juga sudah nyaman,” Amira menyungutkan kepalanya ke ranjang, tempat yang menjadi saksi saat Shaka menyalurkan hasratnya.
“Kamu suka?” Bisik Shaka nakal.
Amira menepuk bahu lebar sang suami yang mulai terdengar mesum.
Keduanya berjalan keluar kamar menuju teras rumah.
“Hati-hati,” ucap Amira begitu sampai di teras rumah.
Lambaian demi lambaian terus mengiringi langkah Shaka hingga ke mobil, Amira menatap nanar mobil suaminya yang semakin menjauh, ia lalu menerbitkan senyum.
__ADS_1
Amira segera masuk ke dalam rumah, baru saja mengunci pintu, suara klakson mobil kembali menggema.
Amira hanya menerbitkan senyum, ia kembali membuka pintu dan menampilkan senyum termanisnya.
“Ada apa lagi sayang…”
Ucapan Amira terpotong saat melihat wanita cantik yang turun dari mobil itu berjalan ke arahnya, ternyata bukan Shaka melainkan orang lain yang datang.
“Untuk apa Viona ke sini?”
“Ngapain kamu ke sini?” Tanya Amira dengan nada ketus.
Viona tersenyum sinis, lalu merogoh tas miliknya.
“Aku cuma mau menunjukkan sesuatu padamu,”
Viona menyodorkan amplop berwarna coklat di depan Amira.
“Apa itu?” Tanya Amira tidak menyentuhnya, dadanya mulai bergemuruh, otaknya traveling saat mengingat saat Shaka keluar malam untuk menjemputnya.
“Bukan apa-apa, hanya moment penting yang tidak bisa aku lupakan,”
“Lebih baik, kamu pergi dari sini! Aku tidak mau kamu mengganggu kenyamanan rumah tangga ku dan Shaka,”
“Hahaha,” Viona tertawa renyah.
“Kamu itu lucu sekali,” ucap Viona menantang.
“Kamu pikir Shaka benar-benar mencintai kamu,” Viona tampak percaya diri dengan ucapannya.
“Dia hanya memanfaatkan kamu saja, dia menikahi kamu karena keinginan neneknya bukan karena cinta,”
“Bilang saja kamu iri padaku, terserah Shaka mau menikahi ku karena apa, yang penting sekarang dia milikku, aku istri sah nya, dan kamu harus terima nasib menjadi perempuan yang tidak laku,”
Amira menutup mulutnya dengan telapak tangan.
“Maaf, aku keceplosan, lain kali jangan memancing karena aku mudah emosi, dan lagi pula kalau dia tidak cinta, untuk apa di menanamkan benihnya di rahimku, sebentar lagi aku akan melahirkan penerusnya, itu artinya kita akan semakin terikat, belum punya anak saja dia sudah cinta setengah mati padaku, apa lagi sudah punya anak,”
Amira meninggalkan Viona yang nampak kesal.
Hampir seharian penuh, Amira tak bergerak matanya terus memandangi amplop coklat pemberian Viona, tubuhnya lemas mengingat malam itu, bahkan bekas bibir yang ada di jaket Shaka belum bisa ia lupakan.
Ia membatalkan acara jalan-jalan yang sudah di rencanakan sedemikian rupa, mengabaikan ponsel yang berkali-kali berdering, berusaha sekeras apa pun untuk cuek, tetap saja kedatangan Viona membuatnya cemas, apa lagi ia mendengar kalau Viona adalah wanita yang pernah akrab dengan Shaka, itu yang membuat hatinya kacau.
“Tidak mungkin Shaka tergoda padanya,”
Amira menatap penampilannya di depan cermin, memutar tubuhnya yang mulai membesar karena hamil, di lihat dari mana pun jelas ia dan Viona jauh berbeda, itu yang membuat ia menciut.
“Setelah melahirkan, aku akan perawatan,”
Amira mengerang lagi, mengacak rambutnya lalu menghempaskan tubuhnya lagi, ketukan pintu terdengar semakin menggebu, Amira menutup kedua telinganya dengan bantal.
“Pasti pelayan yang akan menyuruhku makan,” terka nya.
Di luar kamar.
“Nenek yakin seharian Amira tidak keluar kamar?” Tanya Shaka pada nenek Emely yang juga gelisah.
“Dia juga tidak makan, nenek takut,”
__ADS_1
Shaka menggenggam erat tangan sang nenek.
“Aku yakin Amira tidak apa-apa, jangan khawatir nek,”
Shaka melepas jas yang kenakan, melipat kemeja putih nya hingga ke siku, berlari keluar melintasi taman belakang, menaiki tangga yang ada di belakang yang tembus dengan jendela kamar mereka.
Senyum Shaka mengembang melihat Amira yang berbaring di ranjang, ia membuka jendela dengan pelan, lalu bersiul.
Amira yang baru saja melempar bantalnya menoleh ke arah sumber suara, wajahnya semakin kesal menatap sang suami yang nampak tak bersalah.
“Untuk apa kamu ke sini?” Tanya Amira ketus menyambut Shaka dengan kesal.
“Aku mencari kamu, kata nenek seharian ini kamu tidak keluar kamar, kenapa telepon ku tidak di angkat?”
Amira berjalan menghampiri Shaka, membuka kaca jendela dengan lebar, hatinya terus jengkel jika teringat wajah Viona.
“Sayang, ayo buka pintunya, kamu kenapa sih?” Shaka mencoba memasukkan tangannya ke dalam untuk meraih tangan Amira, namun percuma, teralis jendela yang terlalu rapat membuatnya kesusahan.
“Aku akan membuka pintunya, tapi kamu harus menjelaskan semuanya,”
“Menjelaskan apa? Aku tidak melakukan apa-apa,” gerutu Shaka dengan suara pelan namun masih bisa di dengar Amira.
Amira membuka pintu kamarnya, sedangkan Shaka langsung berlari masuk, aksi keduanya malah membuat pelayan yang sedang beraktivitas itu tertawa.
Shaka masuk ke kamar, menutup pintu, menghampiri Amira yang sudah berdiri berkacak pinggang di samping ranjang, dari raut wajahnya, Shaka menangkap ada sesuatu yang membuat Amira marah.
“Apa yang harus aku jelaskan?” Tanya Shaka meraih pinggul Amira yang sudah tak langsing lagi dan mencium pipinya tanpa ampun.
Meskipun Amira mencoba mencengkal tubuh kekarnya, Shaka tak peduli, malah semakin mengeratkan pelukannya.
Amira mengambil amplop pemberian Viona, dan meletakannya di dada Shaka.
“Jelaskan! Apa maksud dari semua ini?”
Amira mendorong tubuh Shaka hingga terhuyung.
Shaka membuka amplop itu dengan pelan, matanya melirik ke arah bibir merah Amira yang nampak manyun, betapa terkejutnya saat melihat dirinya yang sedang berciuman dengan Viona.
“Jangan bilang tidak sengaja juga seperti waktu itu,” celetuk Amira tiba-tiba.
Shaka mengingat saat ia baru masuk ke club, dan seketika itu Viona pun langsung memeluk dan menciumnya begitu saja.
“Iya sayang, ini kejadiannya seperti waktu itu,” jelas Shaka serius, bersimpuh di depan Amira sambil merobek fotonya.
Shaka menceritakan tragedi malam itu secara gamblang, sedikit pun ia tak mau menutupinya dari Amira, tak ingin mengulang hal yang sama, baginya, Amira adalah hidupnya dan harus tau semua yang ia lakukan di luar rumah.
“Dia hanya ingin menghancurkan rumah tangga kita,” ucap Shaka meyakinkan dan mengelus pipi Amira.
“Mungkin dia iri melihat kita bahagia,” imbuhnya lagi.
“Aku tidak mau berurusan dengan wanita mana pun termasuk Viona, jangan kecewakan aku,” pinta Amira manja.
Shaka duduk di samping Amira, membawa wanita itu ke pangkuannya.
“Tenang saja sayang, aku tidak akan berpaling dari wanita mana pun, aku sangat mencintai kamu dan aku tidak bisa membayangkan bagaiamana hidupku bila tidak ada kamu di sisiku,”
“Tapi wanita itu sangat cantik, dia seorang artis, sedangkan aku hanya wanita biasa,” cetus Amira yang inscure dengan dirinya.
“Kamu juga sangat cantik, bahkan aku juga bisa menjadikan kamu seorang artis seperti dia, namun aku takut kamu akan di goda lelaki bajingan yang akan merusak rumah tangga kita seperti Reza dan Marsel waktu itu, kamu cantik sayang, bahkan melebihi dia, kecantikan hati mu membuat aura positif terpancar di wajahmu sehingga membuat kamu semakin cantik, membuat siapa pun yang memandang mu menjadi teduh,” papar Shaka meyakinkan Amira, itu bukan gombalan asal-asalan yang keluar dari mulut Shaka, namun itu berasal dari hatinya yang memang benar-benar tulus mencintai Amira.
__ADS_1