
Kini Shaka berjalan menuju ruangan Kevin, saat masuk ia mendapati Kevin yang sedang sibuk dengan kerjaannya yang menumpuk.
“Vin segera kumpulkan semua orang-orangmu, aku sudah menemukan Amira, jangan lupa untuk lapor polisi, agar kita bisa mengepung tempat terkutuk itu, aku tidak mau buang waktu lagi, aku ingin menjemput istriku sekarang juga!” Tegas Shaka sembari mulai beranjak pergi mendahului Kevin.
“Shaka,” panggil Kevin kemudian menghentikan langkah Shaka.
“Kau tau dari mana berita itu? Lalu di mana tempat terkutuk yang kau maksud itu?” Tanya Kevin yang tampak bingung mendengar kabar dari Shaka.
“Tidak penting aku tau dari mana, tapi yang jelas saat ini Amira sedang di sandra oleh Dewa Atmadja, dia lah dalang dari semua kekacauan ini! Ayo cepat tunggu apa lagi,” tegas Shaka kemudian melangkah pergi meninggalkan Kevin yang sontak terperanjat mendengar kabar itu.
Akhirnya Kevin pun berjalan melangkah keluar dari ruangannya menyusul Shaka.
Shaka terus berjalan cepat menuju loby, kini dalam hatinya semua rasa bercampur menjadi satu, ada perasaan yang amat sedih, khawatir, rindu bahkan marah, ya membayangkan kembali wajah Dewa dan Marsel seakan menyulutkan api amarah yang begitu membara.
Kini Shaka takkan bisa tinggal diam lagi saat tau Dewa berani mengusik ketenangan keluarganya.
“Berani-beraninya kau menyentuh istriku! Lihat saja Dewa, tanganku sendirilah yang akan membuatmu bersimbah darah!” Gumam Shaka dalam hati.
Shaka dan Kevin pun masuk ke dalam mobil, mobil pun kini melaju meninggalkan gedung utama, Kevin sudah mengerahkan seluruh orang-orangnya untuk menuju ke gedung Cassino milik Dewa, begitu juga dengan polisi yang sudah menyiapkan pasukannya.
“Kemana perginya Genta Ka?” Tanya Kevin di pertengahan jalan setelah mengetahui Genta lah orang yang membawa kabar tentang Amira.
“Oh dia ku tinggalkan di ruanganku,”
“Apa?! Kau meninggalkannya sendirian di ruanganmu?”
“Eemm,”
“Ka, di sana banyak berkas-berkas penting tentang aset perusahaan Ka, apa kau sudah gila membiarkan orang asing berada seorang diri di sana? Apa lagi itu anak Dewa Atmadja,”
“Sudah lah, masalah itu sudah tidak terlalu penting lagi, yang terpenting saat ini adalah keselamatan Amira dan calon anak ku,”
“Calon anak? Apa Amira hamil?” Tanya Kevin sontak membulatkan matanya.
“Iya,” jawab Shaka singkat.
“Kau begitu tega Shaka, lihat lah Amira berada di tempat terkutuk itu dalam keadaan sedang hamil anakmu, jika saja sampai sekarang kita tidak tau keberadaan Amira, tidak tau apa yang akan terjadi pada istri dan calon anakmu ke depan,”
Mendengar itu Shaka pun kini terdiam, dia mencerna ucapan Kevin yang memang benar adanya, sehingga membuat ia semakin merasa bersalah dan fikirannya jadi semakin tak tenang.
Kevin pun semakin menamabah kecepatan pada mobilnya, kini jam sudah menunjukkan pukul 11.10 siang, orang-orang suruhan Kevin ternyata sudah sampai lebih dulu dan menunggu mereka di depan gerbang gedung Cassino.
Tak lama mobil yang dikemudi oleh Kevin pun berhenti di seberang gerbang gedung itu, dengan cepat Shaka pun turun dari mobil itu dan menghampiri orang-orangnya, dan tak lama di susul pula oleh Kevin.
“Ingat, lawan kita saat ini bukanlah orang sembarangan, apa kalian datang dengan sudah membawa persiapan yang lengkap?” Tanya Shaka memastikan.
“Sudah tuan muda, kami sudah tau tentang musuh kita saat itu, itulah sebabnya kami mempersiapkan senjata yang lengkap,” jelas Vicko selaku ketua tim itu.
Mereka pun mulai menyusun strategi karena mereka tau Dewa bukan orang sembarangan, ada banyak bos mafia yang juga berada di sisinya dan siap melindunginya kapan saja, bahkan dengan hanya membawa pasukan polisi pun tidak bisa dijadikan sebagai jaminan bahwa misi mereka akan berhasil.
Siang ini gedung Cassino nampak begitu lengang, tidak ada tamu yang terlihat berlalu lalang seperti biasa, karena memang Cassino ini buka mulai dari sore hari.
“Sekarang lah waktu yang tepat untuk kita menerobos masuk,” ucap Shaka dengan tatapan tajam.
“Apa sebaiknya kita tidak menunggu pasukan polisi terlebih dulu Ka?” Tanya Kevin.
“Akan kelamaan jika menunggu polisi datang,” jawab Shaka yang kemudian melangkah begitu saja mendekati gerbang.
Orang-orang suruhan Kevin pun langsung berlari menyusul Shaka.
“Buka gerbang ini!” Tegas Vicko pada seorang security yang berjaga di depan gerbang.
“Maaf tuan, tapi Cassino belum buka, anda bisa kembali lagi nanti sore jika ingin bermain judi,” jelas sang Security.
Vicko pun mendengus, perlahan ia mendekati Security itu, lalu mencengkram kerah bajunya, dan langsung menodongkan pistol ke arah kepalanya.
“Buka gerbang ini, atau nyawa mu lenyap!” Bentak Vicko kemudian.
Wajah Security itu tampak memerah, tubuhnya mendadak gemetaran saat memandang pistol yang sudah mengarah ke kepalanya.
“Ba baik tuan,” dengan cepat Security itu meraih kunci gerbang dari saku celananya, lalu ia pun langsung membuka gerbang itu.
Shaka, Kevin, Vicko dan anggota lainnya pun langsung melangkah masuk ke area pekarangan Cassino, mereka menerobos masuk ke dalam gedung, mereka menghajar semua penjaga yang berusaha untuk menghalangi mereka.
“Amiraaa!” Teriakkan Shaka menggema saat ia memasuki lantai dasar itu.
Vicko dan anggota lainnya mulai mengobrak abrik ruangan nan luas itu, para penjaga yang mengamati cctv sontak langsung bertindak, sebagian mereka mulai menyiapkan senjata, sebagian lainnya menelepon Dewa, Marsel dan yang lainnya.
“Bos, gawat bos!”
“Ada apa?” Tanya Dewa dengan datar.
“Ada segerombolan orang yang datang lalu mengacak-ngacak lantai dasar gedung Cassino bos,”
__ADS_1
“Apa?! Siapa mereka?” Dewa yang sedang bersantai dengan beberapa rekannya langsugn di buat terkejut bukan kepalang.
“Satu diantara mereka adalah Shaka Buwana bos,”
“Shaka Buwana?!” Dewa nampak semakin terkejut dengan mata yang sudah semakin membulat.
Ia pun langsung mematikan panggilannya, raut kemarahan kembali terpancar di wajahnya.
“Marsel, cepat kerahkan seluruh orang yang kita miliki saat ini, gedung Cassino sedang di serang!” Tegas Dewa pada Marsel.
Dewa dan Marsel pun langsung bergegas menuju Cassino yang berada tak jauh dari rumahnya.
“Sialan, dia pasti ingin menjemput Amira! Tidak, ini tidak boleh terjadi, Amira sudah menjadi milikku!” Ketus Marsel dalam hati.
Kini lantai dasar gedung Cassino pun telah di penuhi suara tembakan, para penjaga Dewa mulai melakukan perlawanan dan mencoba menembaki mereka yang berada di lantai dasar dari lantai dua.
Para wanita pekerja yang saat itu sedang melintasi area gedung itu pun di buat berteriak saat suara tembakan begitu menggema di ruangan megah itu.
Namun Shaka yang saat itu tengah bersembunyi di balik pilar-pilar menarik tangan salah satu wanita.
“Aagghh tolooonngg!” Teriak wanita itu.
Diam, atau kau akan ku tembak!” Ketus Shaka.
Wanita itu pun sontak terdiam.
“Sekarang katakan, apa kau kenal wanita bernama Amira? Sekitar seminggu lebih ia bekerja di sini,”
“Oh gadis tawanan itu?”
“Di mana dia sekarang?”
“Aku tidak tau, tapi sepertinya di saat-saat seperti ini dia pasti sedang berada di kamarnya, kamar kami semua berada di lantai 3, ada banyak kamar di sana, aku tidak tau yang mana kamar wanita itu, dia jarang terlihat selain jam kerja,” jelas wanita itu dengan raut wajah yang semakin ketakutan.
“Baiklah, kau boleh pergi,” Shaka pun langsung melepaskan cengkraman tangannya.
Wanita itu langsung berlari ketakutan dan memilih berlari keluar dari gedung itu, di sudut lain, terlihat Kevin yang juga sedang menghindari tembakan dari orang-orang Dewa, Shaka pun memberi kode dengan tangannya yang mengatakan Amira ada di lantai 3, Kevin pun mengerti apa maksud dari kode itu dan ia pun mengangguk.
Shaka melirik ke sebuah lift yang berada tak jauh darinya, kemudian dengan mengendap-endap di balik pilar, Shaka pun menekan tombol lift, setelah menunggu beberapa saat, pintu lift terbuka dan Shaka dengan cepat langsung keluar dari balik pilar dan berlari masuk ke dalam lift.
“Hati-hati Ka,” teriak Kevin yang terlihat masih berlindung dari balik pilar itu.
Shaka pun hanya mengangguk sampai akhirnya lift itu benar-benar tertutup.
“Ada apa ini?” Tanya Amira yang berlari menuju pintu lalu ia mengintip di balik lubang kunci.
Para wanita yang bekerja di Cassino terlihat berlarian keluar dari kamar mereka.
“Ya tuhan apa yang terjadi di luar sana? Kenapa mereka berlarian?” Tanya Amira sembari mengusap-usap perutnya.
“Nak apapun yang terjadi mama janji akan melindungi kamu, jangan takut ya,” ucap Amira mencoba berbicara pada calon bayinya.
Kemudian dengan perlahan Amira pun membuka pintu kamarnya, kepalanya clingak clinguk ke kanan dan kiri memandangi situasi yang terasa mencekam, semakin sering terdengar membuat Amira terkejut-kejut sembari mulai keluar dari kamarnya.
*Tiinngg*
Lift yang membawa Shaka pun akhirnya tiba di lantai 3, pintu lift pun terbuka, Shaka dengan cepat langsung melangkah keluar dengan sebuah pistol yang sudah standby di tangannya.
Baru beberapa langkah keluar dari lift, langkah Shaka di buat terhenti saat melihat sosok wanita yang sedang berlari di hadapannya, wanita itu berlari membelakanginya, Shaka sangat kenal dengan postur tubuh yang sedang berlari itu.
“Amira,” panggil Shaka dengan tatapan yang masih tercengang.
Benar saja, langkah Amira sontak terhenti, ia langsung berbalik badan untuk mendapati sang pemilik suara, begitu melihat sosok Shaka ada di hadapannya, mata Amira pun di buat membulat sempurna.
Lima detik menatap mata itu lagi, menarik Shaka pada lorong waktu masa lalu, saat retina mereka kembali saling bertemu.
“Sha Shaka Buwana,” ucap Amira sembari perlahan tangannya menutupi mulutnya yang sedikit menganga.
“Amira, akhirnya aku menemukan mu, ayo ikut lah, pulang bersama ku,” Shaka pun berjalan perlahan menghampiri Amira dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Sementara Amira masih terpaku di tempatnya diam membisu, ia tak kuasa beranjak, seakan tubuhnya mendadak terasa membeku.
“Ayo sayang, ayo ikut aku pulang,” ucap Shaka lagi yang mulai ingin mengulurkan tangannya.
Namun dari balik tembok yang berada di belakang Amira, secara tiba-tiba muncul lah Marsel, dia langsung menarik leher Amira dengan tangan kokohnya sembari menodongkan pistol ke arah leher Amira.
“Menjauh darinya!” Ketus Marsel sembari tersenyum sinis.
Shaka membulatkan matanya, dengan refleks ia langsung menodongkan pistol ke arah Marsel.
“Jangan sentuh istriku!” Teriak Shaka.
“Hahahaha apa kau masih menganggapnya suami mu?” Tanya Marsel pada Amira.
__ADS_1
Amira hanya terdiam dan ia pun mulai menangis dalam cengkraman Marsel.
“Tenang sayang, aku akan menyelamatkan mu, aku berjanji,” Shaka mencoba menenangkan Amira dan ia pun kembali melangkah perlahan mendekati Amira dan Marsel.
“Berhenti atau ku tembak mereka berdua!” Bentak Marsel yang memindahkan arah pistolnya ke arah perut Amira.
Langkah Shaka sontak terhenti.
“Satu langkah lagi kau maju, maka kau akan kehilangan dua orang yang kau cintai sekaligus,” tambah Marsel.
Shaka pun di buat tak berkutik, sementara Amira jadi semakin menangis dengan air mata yang semakin tumpah ruah.
“Pergi dari sini Shaka Buwana, semuanya akan percuma,” ucap Amira lirih.
“Kau dengar apa katanya? Dia menyuruhmu pergi, dia tidak membutuhkan mu lagi!” Ucap Marsel dan kembali menampilkan senyuman bengisnya.
“Diam kau brengsek!” Dengan cepat berlari ke arah Marsel, kemudian langsung menendang keras tangan Marsel hingga pistol yang ia pegang pun terlempar ke lantai dan tubuhnya pun terpental ke tembok.
Amira pun langsung berlari menjauh dari sudut ruangan itu dengan penuh ketakutan, Shaka pun langsung menodongkan pistol ke arah Marsel.
“Bangsat kau!” Teriak Marsel yang juga kemudian membalas menendang lengan Shaka dan pistolnya pun ikut terlempar.
Kini mereka sama-sama bertangan kosong, Shaka dengan keras meninju wajah kemudian di susul pukulan keras ke perut Marsel hingga membuatnya terbanting ke lantai.
“Berani-beraninya kau menyentuh istriku!” Shaka dengan kedua tangannya mencengkram kuat kerah kemeja Marsel dan menariknya agar kembali berdiri.
Namun Marsel nampaknya masih cukup kuat untuk membalas pukulan Shaka, ia pun menendang Shaka dengan begitu kuat hingga tubuh bidang Shaka pun harus ikut terpental ke lantai.
“Tolong hentikan!” Teriak Amira yang terdengar begitu lirih.
“Cuuiih,” Marsel meludahkan darah yang mulai memenuhi mulutnya.
“Kau pikir kau bisa menang begitu saja melawanku?” Ketus Marsel sembari mulai melangkah mendekati Shaka yang masih terduduk di lantai.
“Marsel, tolong jangan menyakitinya, tolong biarkan dia pergi dengan selamat, aku akan tetap di sini, aku janji,” ucap Amira sembari menatap lirih ke arah Marsel.
Sejenak Marsel pun terdiam, ia terpaku memandangi Amira karena matanya kembali sembab karena terus menangis, entah kenapa hatinya begitu teriris melihat Amira menangis dan memohon padanya.
Namun tak lama, serinai mobil polisi pun terdengar.
Shaka pun tersenyum sembari berusaha untuk bangkit kembali.
“Kau salah besar Marsel,” ucap Shaka yang akhirnya bisa berdiri kembali sembari mengusap ujung bibirnya.
Namun baru saja Shaka di buat tersenyum, lagi-lagi ia harus kembali menelan ludah saat dua anggota Marsel lebih dulu menodongkan pistol dan mencengkram kuat lengan Shaka.
“Lepaskan aku!” Bentak Shaka.
“Hahahaha, kau terlalu percaya diri,” Marsel pun di buat tertawa.
Marsel pun perlahan mulai melangkah mendekati Amira yang berada di sudut ruangan, baru ingin menarik tangannya sudah terdengar suara lantai dari pintu lift.
“Jangan bergerak!” Beberapa anggota polisi dan Kevin akhirnya tiba di lantai 3.
“Saudara Marsel, tolong angkat tangan!” Tegas polisi sembari mengarahkan tembak ke arah Marsel.
Marsel terdiam, dia berbalik badan dan akhirnya mengangkat kedua tangannya, namun begitu berbalik tak sengaja ia melihat Dewa yang ternyata sudah berdiri di lantai 4, saat itu Dewa terlihat sedang mengeker tembakannya ke arah Amira.
Mata Marsel kembali di buat membulat.
“Kak Dewa! Jangan lakukan!” Teriak Marsel.
“Aku tidak akan membiarkan mereka menangkap kita,” jawab Dewa.
“Hei kalian! Lepaskan senjata kalian, atau aku akan menembak wanita ini sekarang juga!” Teriak Dewa.
“Tolong, jangan biarkan dia menyakiti istriku,” ucap Shaka yang tangannya masih di tahan oleh anggota Marsel.
Para polisi dan Kevin pun terpaksa meletakkan senjatanya, namun hal itu bukan karena mereka menyerah, karena pihak polisi sudah tau, bahwa rekannya yang lain sedang berjalan pelan mendekati Dewa untuk meringkusnya juga.
“Jangan bergerak!” Akhirnya seorang polisi berhasil menodongkan pistol ke kepala Dewa.
“Kau ingin menangkap ku?” Tanya Dewa pada polisi itu.
Marsel hanya terus terdiam memandangi Dewa dari lantai 3.
“Baiklah kalau ingin menangkap ku, tapi biarkan aku membunuhnya lebih dulu,” ucap Dewa dan dengan cepat langsung menekan pelatuk tembaknya yang sejak tadi memang sudah ia arahkan ke arah Amira.
“Tidak Kak,” teriak Marsel yang langsung berlari menghampiri Amira
*Doorr*
Suara tembakan kembali menggema, semua orang yang ada di sana sontak di buat terperangah menyaksikan apa yang sedang terjadi.
__ADS_1