
"Apa kau yakin masih mau melanjutkan semua ini?" Tanya Shaka berhasil membuyarkan lamunan Amira.
Mendengar suara Shaka, Amira pun tersentak dan langsung membuka matanya. Ia melihat ke belakang ternyata sudah tidak ada siapa pun di balkon selain mereka berdua.
"Emm.. aku.. aku." Lidah Amira tiba-tiba kelu.
"Kau bisa menghentikan ini semua, masih ada waktu." Ucap Shaka lagi sembari melirik ke arah Amira.
Amira hanya terdiam sembari berfikir. Ingin rasanya ia mengakhiri semua ini, namun hatinya masih bimbang, dia masih ingin membuktikan perasaan Shaka untuk Yura.
"Ternyata kalian masih di sini." Ucap Yura tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka.
"Waktu mu menjawab sudah habis. Kau diam saja itu artinya kau masih mau melanjutkan semua ini." Bisik Shaka dengan pelan pada Amira.
Shaka pun berjalan menghampiri Yura sembari menggenggam tangannya. Sementara Amira yang melihat itu merasakan sakit yang menyelusup masuk dalam dadanya. Amira memalingkan wajahnya tidak tahan melihat Shaka dan Yura.
"Ayo kita ke bawa, aku sudah buatkan teh untuk kita berempat." Ucap Yura melirik Amira lalu kemudian melangkah turun ke ruang makan untuk menikmati teh bersama.
Mereka berempat duduk santai lalu berbincang ringan sembari menikmati teh yang di buatkan Yura.
"Oh ya setelah ini, aku akan memasak untuk kita berempat." Ucap Yura
"Memasak? Apa kau bisa masak?" Tanya Reza mengerinyitkan dahinya.
"Baru belajar sih, tapi aku akan mencoba memasak untuk kita berempat aku rasa aku cukup berbakat dalam memasak, buktinya waktu aku membawakan nasi goreng untuk Shaka tempo hari, Shaka kelihatannya sangat menikmati. Iya kan sayang?" Yura dengan wajah berbinar berdiri di belakang Shaka dan mengalungkan tangannya di leher Shaka.
"Iya benar, bagiku masakan Yura adalah masakan yang unik, bahkan itu adalah nasi goreng terunik yang pernah ku makan." Ucap Shaka berbohong sembari melirik Yura sejenak dan mengusap-usap tangan Yura yang di kalungkan ke leher Shaka.
Melihat itu, hati Amira berdenyut nyeri. Dadanya kembali terasa sesak namun dia mencoba berusaha untuk terlihat tenang.
"Yah sudah kalian duduk dan bersantailah dulu, aku akan ke dapur untuk memasak." Yura pun beralih menuju dapur yang tak jauh dari meja makan.
"Biar ku bantu ya." Ucap Amira menawarkan.
"Tidak usah Amira, kau tetaplah duduk di situ. Biar aku yang melayani kalian." Ucap Yura menolak tawaran bantuan dari Amira.
"Yura, kau belum sembuh sepenuhnya. Ingat jangan terlalu lelah." Shaka terus berusaha bersikap manis pada Yura di depan Amira.
"Tenanglah sayang, jangan terlalu mencemaskan ku." Jawab Yura yang terlihat begitu bahagia.
Berbeda halnya dengan Amira, wajahnya semakin terlihat kecut saat mendengar percakapan antara Shaka dan Yura.
Rasanya aku tidak tahan melihat semua ini, baru permulaan saja hatiku sudah babak belur rasanya. Celetuk Amira dalam hati.
Kini hanya tersisa Shaka, Amira dan Reza yang sedang terduduk.
"Amira apa kau mau ikut memancing denganku?" Ucap Reza menawarkan.
"Boleh." Amira pun mengangguk dan tersenyum tipis.
__ADS_1
Mendengar itu, giliran Shaka yang di buat kesal.
Apa-apaan ini? Beraninya mereka memancing hanya berdua.
Sementara Yura yang begitu bersemangat, membuatnya lupa kalau keadaannya masih lemah, karena saking lelahnya memasak, tiba-tiba kepala Yura terasa pusing saat sedang memegang nampan berisi makanan. Tubuh Yura terasa lemas dan tanpa sengaja ia terjatuh bersamaan dengan nampan berisi makanan dalam piring kaca yang di pegangnya, ikut terjatuh berserakan di lantai. Hal itu mengundang kaget Shaka dan yang lainnya.
Shaka pun sontak berlari menuju dapur dan mendapati Yura yang sudah jatuh di lantai bersamaan dengan nampan dan piring berisi makanan yang jatuh berderai di lantai. Shaka melihat ke jari tangan Yura penuh dengan darah karena teriris piring kaca karena tangannya terkena' beling saat terjatuh.
"Astaga Yura, tanganmu berdarah." Ucap Shaka yang nampak panik.
Amira dan Reza ikut menyusul dan memandangi tangan Yura yang mengeluarkan banyak darah.
Shaka tanpa ragu-ragu menghisap jari tangan Yura, membuat mata Amira sontak membulat, jantungnya seakan langsung berguncang hebat, hingga tanpa sadar tangannya mulai meremas pakaiannya sendiri.
Sementara Yura yang masih sadar mendadak jadi terpaku dengan perlakuan Shaka yang nampak cemas dan panik melihat keadaannya seperti itu. Ia begitu senang melihat Shaka masih begitu peduli padanya.
Sudah ku duga Ka, kau masih mencintaiku. Buktinya kau begitu mempedulikanku, hanya saja kau sedang menghukumku saat ini karena perlakuan ku padamu dulu yang sudah menyakiti hatimu. Gumam Yura dalam hati.
"Di mana kotak obat?" Tanya Shaka kemudian.
"Ada di sana." Jawab Yura menunjuk ke salah satu lemari kecil tempat penyimpanan obat-obat.
Shaka langsung berjalan melewati Amira begitu saja dan meraih plester yang ada di kotak obat.
"Kau tidak usah memasak lagi. Aku tidak mau terjadi apa-apa lagi denganmu." Shaka membantu Yura berdiri.
"Biarkan aku saja yang melanjutkan masakanmu, aku juga akan membersihkan belingnya. Kau istirahat lah dulu jangan terlalu lelah." Ucap Amira yang langsung memotong ucapan Yura.
"Maafkan aku Amira, aku sudah merepotkanmu." Yura memasang wajah murung.
"Kau istirahat lah." Jawab Amira tersenyum singkat.
"Ayo Yura, aku antar ke kamar." Shaka memegang kedua pundak Yura dan berjalan melewati Amira begitu saja.
Apa ini kebenarannya? Apa benar dia masih menyimpan cinta untuk Yura. Wajar saja, dia sudah bertahun-tahun lamanya mencintai Yura pantas saja jika memang dia masih begitu mencintai Yura saat ini. Gumam Amira dalam hati dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Amira pun perlahan berjongkok dan mulai memunguti beling yang berhamburan di lantai.
"Sini ku bantu." Ucap Reza yang ikut berjongkok.
Amira semakin tak kuasa menahan air matanya, air matanya langsung jatuh menetes ke lantai.
"Amira, kau menangis?" Ucap Reza langsung meraih wajah Amira.
"Ah tidak." Amira pun langsung memalingkan wajahnya dan cepat-cepat menghapus air matanya.
"Sudah biar aku saja yang membersihkan semuanya."
"Tidak kak, aku tidak apa-apa biar aku saja." Amira masih berusaha menampilkan senyum manis.
__ADS_1
Reza hanya diam dan mengangguk.
Andai saja kau memilih aku sebagai orang yang kau cintai. Aku bersumpah tidak akan membiarkan setetes pun air mata jatuh di pipimu. Celetuk Reza.
Setelah semua beres, Amira pun lanjut memasak, sesekali air matanya masih menetes namun dia segera menghapusnya.
Kau benar-benar keras kepala Amira. Celetuk Shaka yang ternyata terus memandanginya dari jauh.
Makan siang telah terhidang di atas meja, mereka pun langsung menyantap makanan yang di sajikan oleh Amira.
"Wah kwetiaw ini terasa enak sekali. Bagaimana kau membuatnya Amira?" Tanya Yura yang nampak begitu takjub saat mencicipi kwetiaw buatan Amira.
"Makanlah." Amira tersenyum tipis dan ikut duduk.
"Kau benar-benar istri idaman. Selain cantik dan baik kau juga pintar memasak." Bisik Reza dengan senyuman yang begitu lebar.
Mendengar perbincangan Reza dan Amira sontak membuat Shaka emosi ia pun langsung melemparkan tatapan tajam pada mereka berdua.
"Ka, kau mau ku suapi? Kwetiaw ini enak sekali. Sepertinya aku harus banyak belajar dari Amira." Ucap Yura sembari menuangkan kwetiaw di piring Shaka.
"Tidak usah biar aku makan sendiri saja." Jawab Shaka menolak tawaran Yura.
Shaka terus memandang tajam ke arah Amira dan Reza, sembari menyuapkan kwetiaw yang panas ke mulutnya hingga tanpa sadar Shaka refleks menjerit dan menghempaskan sendoknya.
"Panas." Shaka langsung memegangi bibirnya yang melepuh.
"Shaka." Amira refleks bangkit dari duduknya.
"Astaga Ka, pelan-pelan makannya." Di saat bersamaan Yura dengan cepat meraih tisu dan mengusap bibir Shaka dengan tisu.
Hal itu membuat Amira tersadar dan langsung kembali duduk dengan lesu di kursinya.
"Terimakasih tapi aku sudah tidak apa-apa." Ucap Shaka sembari meraih tisu di tangan Yura.
Seketika Amira kehilangan nafsu makan, setiap hal yang dilakukan Yura pada Shaka sukses menggores luka di hatinya, namun Amira berusaha menutupinya dari Yura untuk menjaga perasaan Yura walau hatinya sendiri sedang sakit.
Hari sudah petang. Selesai mandi Yura mengajak Reza dan Shaka untuk memasang tenda di tepi danau. Yura menyiapkan dua tenda, satu untuk dia dan Amira satu tenda lagi untuk Reza dan Shaka.
"Tendanya harus berdekatan tidak boleh ada jarak sedikitpun." Ucap Yura.
"Kenapa?" Tanya Reza mengerinyitkan dahinya.
"Iya, biar kita bisa mengobrol meski ada di tenda terpisah." Jawab Yura tersenyum lebar.
"Astaga." Reza mendengus dan hanya tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tak lama tenda kemah berhasil di buat. Setelah selesai memasukkan barang-barang di dalam tenda, Shaka pun berdiri di tepi danau dengan tenang. Sementara Yura ikut berdiri di samping Shaka sembari menggandeng lengan Shaka dari samping. Yura pun menyandarkan kepalanya di pundak Shaka. Shaka melirik Yura sejenak dan tersenyum tipis sembari sesekali melirik ke arah Amira.
Shaka, seperti itu kah perasaanmu pada Yura? Jadi apa artinya aku selama ini? Apa kau hanya menjadikanku pelampiasan? Jika memang benar begitu maka sepulang dari sini aku memilih mundur. Yura bukan rivalku, nampaknya akan lebih sepadan jika dia yang ada di sisimu. Air mata Amira kembali menetes saat memandangi mereka dari kejauhan.
__ADS_1