Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 136 Bak Singa Kelaparan


__ADS_3

Malam setelah selesai acara, Shaka pun mengajak Amira untuk menginap di hotelnya, ia meminta manager hotel untuk menyiapkan 1 kamar untuk mereka nikmati, kebetulan Queen dan Samudra sedang menginap di rumah kakek dan neneknya, yaitu pak Adi Wijaya dan ibu Riana, jadi ini merupakan kesempatan besar bagi Shaka untuk menghabiskan waktu berdua saja dengan istrinya.


Saat itu Amira masuk lebih dulu ke kamarnya, ia terduduk di depan cermin sembari melepaskan satu persatu perhiasan yang terpasang indah di tubuhnya selama pesta berlangsung, tak lama, Shaka yang akhirnya baru masuk ke kamar itu pun sontak di buat tersenyum saat memandangi istrinya yang malam itu terlihat begitu anggun dan menawan.


“Akhirnya, anak-anak kita tidur di rumah mama dan papa,” ucap Shaka kemudian mulai menciumi pundak Amira.


“Apa maksudnya?” Tanya Amira tersenyum sembari mengerinyitkan dahinya.


“Akhirnya kamu punya waktu luang untuk aku,” jawab Shaka setengah berbisik nakal sembari menggigit pelan telinga Amira.


Hal itu sontak membuat Amira merasa geli dan menggeliat pelan.


“Aku lelah sayang,”


“Ayo lah sayang, sudah seminggu kau tidak memberikan hak ku karena kau yang sedang datang bulan,” jawab Shaka sembari mencium lembut pundak hingga tengkuk Amira.


“Sayang, tapi bukan kah kita…” Amira nampaknya masih ragu sembari berusaha menolak halus.


“Ayolah sayang, sudah seminggu kau tidak memberikan jatah padaku,” bujuk Shaka.


Amira pun terdiam dan terus memandang bayangan diri mereka di cermin, tak lama Shaka pun melepaskan pelukannya, lalu mulai menepikan rambut panjang istrinya yang menutupi kancing bagian belakang bajunya.


Dengan pelan dan perlahan, Shaka pun menurunkan resleting gaun istrinya, hingga nampak lah dengan jelas punggung Amira yang begitu putih nan mulus, membuat gairah Shaka semakin tak terbendung, sebelah tangannya mulai membelai mesra punggung Amira, membuat Amira kembali menggeliat hingga memejamkan matanya.


“Aku merindukan mu sayang, aku sangat rindu sentuhan mu,” bisik Shaka lagi tepat di dekat telinga Amira.


Akhirnya secara perlahan, ia membalikkan tubuh Amira, membuat mereka kini saling berhadapan, dan saling menatap satu sama lain, sebelah tangan Shaka pun mulai menarik pinggang Amira, membuat tubuh mungil istrinya itu terbawa masuk ke dalam dekapannya, sementara sebelah tangannya lagi, ia gunakan untuk terus membelai lembut wajah mulus istrinya, mengusap lembut bibirnya yang merah merona, lalu dengan perlahan bibir Shaka pun mulai melesat ke arah bibir Amira, ia pun mulai mengecap lembut bibir istrinya, memainkan dan mulai membasahinya.


Amira pun hanya terdiam, nampaknya kali ini ia pun hanya bisa pasrah atas permintaan sang suami yang memang telah cukup lama tak mendapatkan hak nya sebagai suami.


Ciuman yang awalnya begitu lembut dan dilakukan secara perlahan, kini mulai berubah menjadi menuntut, hingga membuat Amira harus membuka lebar mulutnya, membiarkan lidah sang suami berpetualang sesukanya di dalam rongga mulutnya, tangan Shaka yang kokoh pun mulai menggendong tubuh mungil istrinya, membawanya ke ranjang dan langsung membaringkannya tanpa melepaskan tautan bibir mereka walau pun hanya sesaat.


Kini bibir Shaka telah berpindah ke leher dan dada Amira, perlahan tapi pasti, gaun yang indah pun mulai terlihat porak poranda di tubuh Amira, hingga akhirnya, dengan sempurna gaun mahal itu telah tercecer ke lantai.

__ADS_1


Tangan Shaka pun terus berkelana sesuka hatinya, terus menjelajah seluruh bagian di tubuh istrinya, ******* demi ******* pelan pun mulai terdengar merdu keluar dari mulut Amira, semakin Amira mendesah, ternyata semakin Shaka menyukai dan menikmatinya.


Malam itu, Shaka kembali menjadi layaknya sang singa yang begitu kelaparan saat tengah mendapatkan mangsanya, ia sama sekali tak memberi celah sedikit pun pada Amira untuk bernafas lega.


Hingga entah berapa jam mereka sudah bergulat di atas ranjang king size itu, bahkan penampakan ranjang mereka kini terlihat tak menarik lagi saking ganasnya permainan yang terjadi antara mereka berdua, kini tubuh kekar Shaka akhirnya ambruk, ia terkulai lemas di sebelah Amira, dengan kedua nafas mereka yang begitu terengah-engah seolah saling bersahut-sahutan.


“Terima kasih sayang,” ucap Shaka tersenyum puas sembari mengecup kening istrinya.


Amira pun hanya tersenyum tipis dengan nafasnya yang masih terputus-putus.


“Kau masih begitu hot sampai saat ini, itulah salah satu alasan yang membuatku tidak bisa berpaling darimu,” tambah Shaka lagi dan kemudian memeluk pinggang Amira.


Amira yang terlihat begitu kelelahan pun hanya bisa tersenyum sembari memejamkan matanya.


“Apa sekarang aku boleh tidur? Aku benar-benar sudah lelah,” tanya Amira.


“Tentu saja, ayo tidur, aku pun juga sangat lelah sekarang,” jawab Shaka yang semakin mengeratkan pelukannya.


Tak terasa waktu bergulir begitu cepatnya, hari berganti hari, hingga kini pernikahan Safa dan Genta sudah memasuki minggu pertama.


Rasa cinta Genta untuk Safa berangsur-angsur mulai tumbuh, terlebih setelah malam pernikahan itu, Genta sudah langsung mendapatkan hak nya sebagai suami, dan tak di sangka, Safa yang dulunya jahat, licik dan munafik itu ternyata masih perawan, apa lagi Safa suka party dan mabuk-mabukan di club dulu, hingga membuat Genta meragukan keperawanan Safa, namun semenjak tau salah satu sisi baik dari diri Safa itu, membuat cinta Genta mulai tumbuh.


Hubungan Genta dan Safa juga sudah semakin membaik, akhir-akhir ini Genta selalu bersikap manis pada Safa, namun lain hal nya dengan Anisa, sampai saat ini dia masih terus bersikap jutek pada Safa, dia sudah hilang respect pada menantunya itu karena sifat licik dan jahat yang di miliki menantunya itu, meski pun sekarang sang menantu sudah berubah, hal itu tidak menyulutkan sikap Anisa padanya, Anisa masih belum sepenuhnya menerima Safa sebagai menantu keluarga Atmadja.


Sisi lain kediaman keluarga Buwana…


Baru saja jam 5 pagi Amira sedang sibuk berkutat di dapur, dan itu sudah menjadi rutinitas harian Amira karena mempersiapkan segala keperluan Shaka dan juga kedua anaknya, saat ini Queen sudah masuk TK, sedangkan Samudra baru saja duduk di bangku PAUD.


Amira sudah selesai dengan kegiatannya di dapur, kini ia sudah menghidangkan makanan kesukaan mereka bertiga di atas meja, tak lama Shaka, kedua anaknya dan juga nenek Emely terlihat sedang berjalan menghampiri meja makan.


“Selamat pagi sayang,” ujar Shaka menyapa Amira.


“Pagi mama,” sapa kedua anaknya serentak.

__ADS_1


“Pagi nak,”


“Pagi juga,” jawab Amira memasang senyun termanis pada 4 malaikat terhebatnya itu.


Setelah mendudukkan kedua anaknya di kursi, Shaka pun duduk di samping Amira sembari membalikkan piring yang sudah Amira siapkan.


Amira pun tak lupa menyendokkan nasi dan juga lauk untuk Shaka.


“Amira, aku kan sudah berulang kali bilang padamu, jangan repot-repot menyiapkan sarapan untuk kami, di sini kan sudah ada pelayan, biar mereka yang menyiapkan sarapan di rumah ini,” tutur Emely yang tak bosan-bosannya mengingatkan Amira.


“Tidak apa nek, lagi pula, aku tidak bisa jika hanya duduk berdiam diri saja sepanjang hari, selain itu, aku juga sangat senang bisa menyiapkan sarapan untuk nenek, suami dan juga kedua anak ku,” jawab Amira tersenyum.


“Nenek benar sayang, tugas mu sebagai istriku cukup menjadi istri yang setia dan mencintaku dengan tulus juga mendidik dan merawat anak-anak kita dengan baik, itu saja, kamu itu aku peristri untuk menjadi bidadariku di rumah bukan pelayanku,” ungkap Shaka menimpali.


“Iya, tapi aku tidak lelah, ini adalah salah satu kebahagiaan tersendiri bagiku, bisa melayani kalian keluargaku,”


“Ya sudah terserah kamu saja, tapi ingat, jangan terlalu capek,” tutur Emely mengingatkan.


Amira pun mengangguk lalu tersenyum, mereka pun sarapan dengan tenang, selesai sarapan, nenek Emely hendak bangkit dari duduknya dengan di bantu oleh pelayan karena tubuh nenek Emely yang sudah rentah membuat ia kesulitan berjalan, sekarang usia nenek Emely sudah semakin bertambah, penglihatan nenek Emely sudah mulai menerawang, jalannya pun sudah begitu tertatih sehingga harus di bantu oleh pelayan saat berjalan.


Pada saat pelayan sedang membantu nenek Emely berjalan, tiba-tiba langkah pelayan itu terhenti mendengar suara Samudra.


“Biar aku saja yang mengantarkan nenek cantik ke kamar,” ucap Samudra sembari melepaskan tautan tangan pelayan itu di lengan nenek Emely.


“Tapi nak, nanti kalau nenek cantik jatuh, tubuhmu tidak akan kuat menopang nenek,” sergah Amira kemudian.


“Tidak ma, Samudra kan sudah besar, lihat otot Samudra, Samudra kuat kok,” ujar bocah 4 tahun itu sembari memperlihatkan ototnya.


Mereka pun serentak tertawa melihat tingkah Samudra yang begitu menggemaskan.


“Ya sudah biarkan saja dia yang mengantarku, tapi di samping itu, Samudra izinkan bi’ Mirna juga ya memegang lengan sebelah kanan nenek?”


“Baiklah,” jawab Samudra dengan raut wajah pasrah, lalu membantu memegang lengan kiri nenek Emely untuk menuntunnya berjalan ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2