Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 65 Saling Mengungkapkan Cinta


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, Amira tersadar dari lamunannya dan segera menghapus air matanya. Tak terasa sudah 1 jam dia duduk dan menangis di situ. Dia langsung teringat Shaka dan segera pulang. Dia bergegas mencari taksi sebelum Shaka sampai di rumah tak lupa dia mengecek panggilan dari Shaka di ponselnya, dia segera membuka tasnya hendak mengambil ponsel di dalamnya tapi dia tidak menemukan ponselnya di dalam tas.


"Astaga ponselku di mana?" Ujar Amira sembari mengacak-acak tasnya. Amira terdiam sejenak mencoba mengingat-ingat.


"Oh iya ponsel aku kan ketinggalan di rumah yah ampun kenapa bisa lupa sih kalau Shaka sampai cek-cek ponsel aku gimana." Ucap Amira yang mulai panik. Tak lama dia melihat taksi dari kejauhan, dia pun segera berdiri di tepi jalan dan segera memanggil taksi. Setelah taksi berhenti, Amira bergegas naik dan segera menyuruh supir untuk melajukan mobilnya.


Taksi pun sampai di loby rumah Shaka, Amira segera turun dan semakin panik saat melihat mobil Shaka sudah terparkir di garasi rumahnya. Amira bergegas masuk ke dalam rumah dan langsung berjalan cepat menuju kamarnya. Setelah di depan pintu kamar Amira menghela nafas panjang lalu perlahan membuka pintu kamar mereka dan mendapati Shaka yang terduduk di atas sofa kamar mereka sembari melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan kosong.


Amira masuk ke dalam kamar dan meletakkan tasnya di atas nakas. Amira berjalan mendekati Shaka dan tersenyum kikuk. Amira pun duduk di samping Shaka.


"Emm.. kamu sudah pulang?" Tanya Amira tersenyum kikuk.


"Menurutmu?" Jawab Shaka singkat.


Kenapa dia seperti marah? Dan astaga kenapa ponselku ada di tangannya. Amira sontak membulatkan matanya dan jadi semakin panik melihat ponselnya ada di tangan Shaka.


"Dari mana saja kamu?" Tanya Shaka sembari menatap tajam ke arah Amira.


Karena sudah tertangkap basah, Amira pun akhirnya jujur. Amira menghela nafas panjang lalu kemudian bicara.


"Aku ketemu Genta." Ucap Amira mencoba jujur.


Mendengar itu Shaka menatap tajam ke arah Amira.


"Untuk apa kamu menemuinya lagi?" Tanya Shaka yang kini mulai meninggikan suaranya.


"Ma..maaf aku menemuinya karena aku kaget dia tiba-tiba saja datang ke sini dan meminta aku untuk turun. Aku panik dan takut kalau sampai kamu tau. Dia mengancamku agar aku menemuinya malam ini di restoran tempat kami biasa makan dulu kalau tidak dia tidak akan pulang dari sini. Aku semakin takut dan akhirnya aku mengabulkan permintaannya kalau kamu tidak percaya coba kamu tanya satpam atau lihat cctv di depan gerbang apa yang kami bicarakan di depan." Jelas Amira panjang lebar.


Sebelum Amira menjelaskan itu Shaka sudah terlebih dahulu mengecek cctv yang ada di depan gerbang rumahnya. Dia sedikit legah karena di cctv itu Amira terlihat memarahi Genta dan bisa di lihat dari matanya bahwa Amira sudah tidak mencintai Genta lagi. Namun Shaka mencoba menguji kejujurannya. Dan benar saja Amira jujur padanya namun dia tetap khawatir dan tidak rela kalau sampai Amira kembali pada Genta sehingga dia mencoba memberi peringatan pada Amira.


"Aku tidak tau apa yang kalian bicarakan di restoran tadi." Ucap Shaka datar.


"Shaka maafkan aku. Aku hanya mengabulkan permintaannya itu agar dia tidak berani datang lagi ke sini. Dan aku juga sudah memperingatkannya untuk tidak menggangguku lagi. Sumpah hanya itu yang aku bicarakan." Jelas Amira sembari mendekati Shaka.


"Jangan mendekat!" Ketus Shaka.


Amira pun terkejut dan langsung berpindah duduk di ujung sofa yang cukup berjarak dari Shaka.


"Maafkan aku. Maafkan aku Shaka aku tidak mendengarkan kamu." Ucap Amira lirih sembari menundukkan kepalanya.


"Kenapa kamu begitu keras kepala? Aku sudah bilang jangan membangkang kenapa kau membangkang sekarang?" Bentak Shaka dan tak melirik Amira sama sekali.


"Iya aku minta maaf, aku memang salah. Aku janji aku tidak akan membangkang lagi dan tidak akan menemui Genta apa pun alasannya." Jawab Amira pelan.


"Shaka." Ucap Amira yang kembali mendekati Shaka.


"Hei siapa yang menyuruhmu mendekat?" Bentak Shaka lagi.


Amira pun langsung cemberut, namun dia kembali duduk di dekat Shaka.


"Maafkan aku Shaka, aku janji mulai hari ini aku akan mendengarkan semua ucapanmu. Tapi aku mohon kali ini maafkan lah aku." Ucap Amira mencoba membujuk Shaka sembari mengguncang-guncang manja lengan Shaka.


"Benarkah itu?" Tanya Shaka datar yang mencoba untuk tetap bersikap cuek pada Amira.

__ADS_1


"Tentu saja." Jawab Amira tersenyum sembari semakin menempelkan tubuhnya pada Shaka.


Hal itu sontak membuat Shaka melotot melihat tubuh Amira yang menempel padanya.


"Apa kau masih marah?" Tanya Amira menatap lekat ke arah Shaka.


"Iya." Jawab Shaka singkat.


"Aku ada cara lain agar kamu tidak akan marah lagi padaku."


"Cara apa?" Shaka mengerutkan dahinya lagi.


Amira pun tersenyum dan langsung mencium singkat bibir Shaka. Hal itu sontak membuat Shaka terkejut hingga membulatkan matanya.


"Bagaimana? Apa masih marah?" Tanya Amira sembari menaikkan kedua alisnya.


"Tidak ada yang berubah." Jawab Shaka yang masih terlihat cuek.


Amira pun kembali mencium bibir Shaka lagi.


"Gimana?" Tanya Amira lagi dengan senyuman semakin berkembang.


Mendapat perlakuan seperti itu dari Amira membuat pertahanan amarah Shaka luntur seketika.


"Mungkin akan lebih baik kalau sedikit lebih lama." Ucap Shaka cuek sembari memalingkan wajahnya.


Mendengar hal itu sontak membuat Amira semakin melebarkan senyumannya. Ia pun akhirnya kembali meraih wajah Shaka dan mengarahkan wajah Shaka agar kembali menatapnya, dan perlahan kembali mencium bibir Shaka lagi, kini Amira mencium bibir Shaka lebih lama lagi sesuai permintaan Shaka. Shaka awalnya masih diam dan tak melawan, membuat Amira ******* bibir Shaka, hal itu membuat Shaka akhirnya tak mampu berlagak cuek lagi, kedua tangannya kini melingkar di pinggang Amira dan membalas ciuman hangat Amira. Beberapa menit kemudian Amira perlahan melepaskan ciuman mereka.


Akhirnya Shaka pun mulai kembali tersenyum.


"Apa yang sudah kamu lakukan padaku? Kenapa membuatku jadi selemah ini sekarang ha? Aku bahkan tidak bisa lama-lama marah padamu." Jawab Shaka lembut sembari ikut mengusap bibir Amira.


Amira hanya tersenyum sembari menggigit bibir bawahnya sendiri.


"Amira aku ingin.." Ucapan Shaka terputus sembari kembali memandangi bibir Amira.


"Ingin apa?" Amira mengerinyitkan dahinya.


Shaka tersenyum sejenak hingga akhirnya tanpa aba-aba ia kembali melahap bibir Amira. Bibir mereka pun kembali bertautan dengan waktu yang cukup lama, tak puas hanya dengan berciuman, Shaka pun menggendong Amira dan membawanya naik ke atas ranjang.


Begitu pun dengan Amira yang hanya pasrah saat Shaka melakukan hal sesukanya pada tubuhnya. Hingga akhirnya kini tubuh Amira tanpa sehelai benang.


"I love you." Bisik Shaka di telinga Amira dan kemudian langsung membasahi telinga Amira hingga membuat tubuh Amira menggeliat kegelian.


Entah berapa lama sudah pemanasan dilakukan, kini tubuh keduanya pun sudah nampak polos. Tanpa sehelai benangpun yang menempel, ruangan kamar Shaka yang tadinya rapi, kini berubah jadi begitu berantakan. ******* Amira pecah begitu saja saat akhirnya milik Shaka kembali menerobos jauh ke dalam surgawi miliknya. Amira tidak bisa mengendalikan desahannya yang terus menerus mengalun indah dari mulutnya, hingga akhirnya dia terus menutup kuat mulutnya agar suaranya tak terdengan keluar. Ia lupa kalau kamar Shaka kedap suara.


"Kenapa di tutup? Kamar ini ada kedap suara, suaramu begitu seksi aku ingin mendengarnya." Bisik Shaka.


Shaka lagi-lagi tersenyum dan kembali mencium bibir Amira dengan penuh cinta.


Pagi yang cerah..


Sudah jam 07.00 pagi. Sinar matahari pagi datang kembali menyapa dan memberi sengatan hangat pada tubuh Amira dan Shaka dari sela-sela jendela. Saat itu penampakan kamar mereka terlihat begitu berantakan akibat peperangan sengit yang mereka lakukan semalam, mulai baju, celana, dalaman semua berhambur di sekitar ranjang. Mata Shaka perlahan terbuka, ia pun langsung tersenyum saat mendapati Amira yang masih tertidur dalam pelukannya. Shaka pun semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Amira dan kembali menciumi pundak Amira yang terbuka.

__ADS_1


Amira nampaknya masih begitu nyaman dengan tidurnya, hingga membuatnya masih tak terbangun meski Shaka berkali-kali menciumi pundaknya.


"Kamu nampaknya begitu kelelahan sayang, baiklah kalau begitu aku tidak akan mengganggu tidurmu." Celetuk Shaka lembut sembari menyelimuti Amira.


Shaka mulai bangkit namun tiba-tiba Amira terbangun dan malah semakin memeluk erat tubuh Shaka.


"Kau mau ke mana?" Tanya Amira namun masih memejamkan matanya.


"Kamu sudah bangun?" Tanya Shaka kembali menatap Amira dan kembali memeluk erat tubuhnya.


"Iya."


Shaka mengusap-usap lembut rambut Amira dan mencium keningnya.


"I love you sayang." Ucap Shaka setelah mencium kening Amira.


"I love you to." Jawab Amira sembari tersenyum dan menatap lekat ke arah Shaka.


"Apa? Aku nggak salah dengarkan? Coba ulangi lagi." Ucap Shaka dengan senyuman yang mengembang.


"I love you to Shaka Buwana. Aku juga mencintaimu. Sangat sangat mencintaimu." Ucap Amira dengan lantang.


Mendengar itu Shaka semakin mengeratkan pelukannya dan menghujani Amira dengan ciuman.


"Terimakasih Amira, kamu sudah membalas cintaku. I love you i love you i love you sayang." Ucap Shaka tersenyum bahagia.


"Oh ya, sejak kapan kamu mulai mencintaiku?" Tanya Shaka kembali memastikan.


"Sejak kamu mulai menyatakan cinta padaku bahkan jauh sebelumnya."


"Oh ya? Kenapa kamu tidak langsung memberitahuku? Kenapa kamu malah bersikap cuek dan jual mahal padaku ha?" Shaka mencubit gemas pipi Amira.


"Aku bahkan tersiksa dengan pikiranku sendiri dan gelisah takutnya kamu tidak mencintaiku." Ucap Shaka menatap lekat wajah Amira.


"Waktu itu aku berfikir kalau kamu masih mencintai Yura. Jadi aku diam dan tidak mengungkapkan perasaanku saat itu. Aku benar-benar dilemah dan juga takut kalau kamu kembali mencintai Yura. Mengingat cintamu padanya dulu begitu besar." Jelas Amira mulai mengutarakan semua uneg-uneg di hatinya.


"Dengar ya, aku sudah melupakan Yura seutuhnya di saat aku menyatakan cintaku padamu tempo hari, bahkan jauh sebelum aku mengungkapkan perasaanku padamu aku sudah melupakan Yura. Dan perlu kamu tau sayang, sekarang hatiku sudah mencintaimu kamu seutuhnya bahkan cintaku padamu saat ini lebih besar dari cintaku padanya dulu. Jadi sangat tidak mungkin kalau aku kembali padanya. Bagaimana mungkin aku kembali padanya sedangkan di rumah, sudah ada bidadari cantik yang selalu menungguiku setiap saat." Jelas Shaka sembari mencubit kecil hidung Amira.


"Benarkah?" Tanya Amira tersenyum manis.


"Demi allah sayang ini benar. Ambil jantungku sebagai gantinya agar kau percaya padaku Amira." Jawab Shaka.


"Gombal." Amira mencubit kecil pinggang Shaka.


"Aww.. sakit, jangan pancing dong sayang nanti juniornya bangun lagi terus minta jatah gimana." Ucap Shaka mencoba menggoda Amira.


Mendengar itu Amira langsung menggelengkan kepalanya dan sedikit menjauh memberi jarak di antara dia dan Shaka.


"Aku sudah cukup lelah."


"Aku tidak lelah sama sekali." Ucap Shaka tersenyum menyeringai dan kembali mendekap erat tubuh Amira serta menutup seluruh tubuh sampai kepala mereka dengan selimut.


"Shaka stop." Ucap Amira dari balik selimut. Namun Shaka tidak peduli dan terus malanjutkan aksinya lagi.

__ADS_1


__ADS_2