
Beberapa menit kemudian mobil memasuki gerbang depan rumah keluarga Buwana. Shaka pun turun dari mobil dan berlalu begitu saja meninggalkan Amira yang kemudian ikut turun dan menyusul Shaka dari belakang.
Dody kepala pelayan di rumah itu menyambut mereka dengan ramah.
"Selamat siang Tuan.. Nona.." Sapa Dody dengan ramah sembari membungkukan badannya
"Selamat siang tuan.." Sapa Amira yang juga membungkukan badannya.
"Di mana nenek?" Tanya Shaka datar.
"Nyonya besar sudah menunggu di ruang makan tuan". Jawab Dody.
Shaka dan Amira pun berjalan menuju ruang makan. Emely sudah menunggu mereka untuk makan siang. Emely tersenyum menatap Amira.
" Selamat siang nyonya Emely". Sapa Amira ramah sembari membungkukan badannya.
"Selamat siang nona manis". Ucap Emely sumringah.
Shaka pun langsung duduk di kursi dekat meja makan itu yang kemudian di susul Amira duduk di depan Shaka.
" Saya senang sekali bisa bertemu kembali denganmu, saya sudah menyiapkan masakan spesial untuk kamu, semoga kamu suka ya". Ucap Emely pada Amira lalu tersenyum manis.
"Ah tidak perlu repot-repot begini nyonya bertemu dengan mu saja sudah membuat saya sangat senang". Ucap Amira tidak enak hati.
" Tidak apa-apa anggap lah ini sebagai ucapan terimakasih saya kepadamu, dan jangan panggil saya nyonya panggil saja saya nenek saya sudah menanggap kamu sebagai cucu saya sendiri". Cetus Emely bahagia.
Menganggap cucu sendiri? Apa nenek akan mengangkatnya menjadi cucu di rumah ini celetuk Shaka dalam hati.
"Iyaa nek.." Jawab Amira malu-malu.
Mereka menyantap hidangan makan siang dengan tenang, kecuali Amira yang sedikit kesulitan saat makan Tenderloin Steak menggunakan pisau dan garpu Emely pun tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Shaka yang melihat tingkah konyol Amira sontak terperangah keheranan.
"Hei.. Kau apa dengan memakan steak saja kau harus di ajarkan?" Bentak Shaka.
Amira yang mendengar teriakan Shaka pun terkejut hingga membuat potongan wortel terpental ke wajah Shaka.
Shaka mematung sejenak saat menerima serangan wortel Amira lalu menggeram kesal.
__ADS_1
"Kauu!!" Teriak Shaka lalu berdiri dari duduknya.
"Berani nya kau!! " Teriak Shaka menggebrak tangannya di meja.
Amira yang sadar dengan kelakuannya sontak saja menganga lebar saking terkejutnya. Sementara Emely yang berada di tengah mereka memegang tangan Shaka dan memberi kode menyuruhnya duduk.
"Ka, tenang dan duduklah!" Perintah Emely menahan tawa nya.
Mendengar perintah Emely, Shaka pun menghela nafas panjang lalu duduk sembari menatap tajam ke arah Amira.
"Ma.. Maaf tuan Shaka saya tidak sengaja" Ucap Amira lirih seraya menundukan wajahnya.
"Kepolosanmu selalu membuatku sial". Ucap Shaka kesal.
"Sudah lah nak, lagian hanya dengan terkena' potongan wortel saja tidak akan melukaimu". Ucap Emely yang masih menahan tawanya.
"Lagian aku senang melihat tingkah gadis ini apa adanya. Gadis seperti ini bahkan tidak pernah kutemui lagi di jaman sekarang. Jadi bersikap lembut lah padanya". Tambah Emely lagi.
Shaka dan Amira pun terdiam, Amira kembali melanjutkan makannya dengan gerakan pelan sedangkan Shaka masih terus menatap Amira dengan tatapan tajam.
" Oh ya dari tadi aku belum tau siapa namamu?" Tanya Emely seraya meraih gelas berisi air mineral di samping nya.
"Amira?" Tanya Emely lagi memastikan.
"Iyaa Nek.. Amira Zavia Wijaya". Jawab Amira.
Mendengar nama Wijaya Emely merasa familiar, Emely pun berniat untuk mencari tau asal usul Amira.
Selesai makan Emely mengajak Amira duduk di ruang keluarga. Emely begitu senang dengan sikap Amira yang ramah dan polos itu. Mereka ngobrol-ngobrol ringan. Namun tiba-tiba ketika asik mengobrol kaki Emely sakit.
"Aduh" Keluh Emely sembari memegangi kakinya dan meringis kesakitan
"Kenapa nek?" Tanya Amira panik.
"Aku tidak tau tiba-tiba kaki ku sakit". Jawab Emely masih memegangi kaki nya.
" Yah sudah, aku urut ya nek". Tawar Amira.
Amira pun mengurut kaki Emely dengan lembut, Emely sudah merasa lebih baik, melihat perhatian Amira kepada Emely, kekaguman Emely terhadap Amira semakin bertambah. Emely pun berpikir hendak menjodohkan Amira dan Shaka, karena dia pikir Shaka pantas mendapatkan wanita yang begitu baik dan sayang dengan keluarga Shaka. Setelah ini Emely pun berniat menyampaikan keinginannya ini kepada Shaka.
__ADS_1
Melihat kedekatan Amira dan Neneknya hati Shaka seketika menghangat, seumur hidupnya Shaka belum pernah melihat ada orang asing yang memperlakukan neneknya dengan tulus. Namun lagi-lagi Shaka menepis tatapan kagum nya itu dan merubah ekspresinya dengan tatapan dingin seperti biasa.
Setelah puas berbincang-bincang Amira pun pamit pulang ke rumah. Kini Emely dan Shaka mengantar Amira sampai di depan pintu, supir pribadi Shaka sudah menunggu di samping mobil yang sudah berada di loby.
"Amira sering-sering lah berkunjung ke sini". Ucap Emely sembari memberikan kotak kecil ke genggaman Amira.
"Apa ini Nek?" Tanya Amira sembari membuka genggamannya.
"Bukalah saat kau sudah pulang nanti". Ucap Emely mengusap-usap tangan Amira.
"Baiklah, terimakasih banyak Nek.. Terimakasih banyak tuan muda". Ucap Amira sembari membungkukan badannya. Kemudian langsung memasuki mobil yang akan mengantarnya pulang.
Shaka kembali membawah mendorong Emely masuk ke dalam rumah.
" Sepertinya dia gadis yang baik Ka, aku suka kepolosannya yang tanpa di buat-buat". Ucap Emely.
"Jangan terlalu cepat menilai orang asing dengan baik nek.." Ucap Shaka menegaskan neneknya.
"Tapi aku yakin dia benar-benar baik Ka, aku bisa melihat dari sikap nya tadi. Seringlah bawah dia ke sini Ka". Pintah Emely memohon.
Shaka yang mendorong kursi roda neneknya tidak menggubris lalu kemudian membantu Emely berbaring di atas ranjang.
"Apa kau tidak ingin melihatku bahagia Ka?" Tanya Emely yang sudah terbaring lemah.
"Aku sangat ingin melihat nenek bahagia, bahkan saya akan melakukan apapun untuk membuat nenek bahagia".
" Kalau begitu turutilah permintaan ku Ka, selama ini kan aku tidak pernah meminta apapun darimu". Pintah Emely sambil menggenggam tangan cucunya.
"Apa yang nenek pintah? Aku akan melakukan apapun untuk nenek. Nenek adalah satu-satunya wanita yang paling berharga dalam hidupku".
" Segeralah menikah Ka, aku takut umurku tidak lama lagi dan aku belum melihat kamu menikah". Pintah Emely lagi.
"Apa yang nenek katakan? Nenek akan hidup 1000 tahun lagi, dan nenek adalah satu-satunya wanita dalam hidupku". Ucap Shaka menekan suaranya.
"Aku yakin Amira adalah gadis yang tepat untuk kamu, aku yakin dia pasti akan membawah dampak baik dalam hidupmu". Ucap Emely lagi meyakinkan cucunya.
Gadis bodoh itu bagaimana dia bisa membawah dampak yang baik untukku. Celetuk Shaka dalam hati.
" Nanti akan aku pikirkan lagi ya nek, nenek istirahat dulu kita akan bicarakan ini lagi nanti aku masih banyak pekerjaan". Ucap Shaka mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Shaka mengecup lembut ujung kepala Emely lalu beranjak pergi. Shaka menaiki anak tangga menuju lantai 2, lalu memilih masuk ke ruang kerja yang ada di samping kamarnya. Shaka mencampak kan jas nya di sandaran kursi, kini pikiran Shaka menjadi kalut dia teringat dengan omongan Neneknya tadi. Dia rasa permintaan neneknya itu sangat mustahil.