Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 50 Dilema


__ADS_3

Shaka berjalan menuju kamarnya dan berhenti di depan kamar Amira, Shaka mendekati pintu kamar Amira dan membuka gagang pintu.


Ceklek..


Pintu kamar terbuka, Shaka mendapati Amira tengah berbaring di atas ranjang sembari memainkan ponselnya. Shaka berjalan ke arah Amira dan langsung berbaring begitu saja di samping Amira dengan menindih tangan kanannya di belakang kepala. Melihat Shaka yang berbaring di sampingnya, Amira terperanjat dan sontak bangun dari tidurnya dan turun dari ranjang.


"Kenapa turun?" Tanya Shaka seolah tanpa beban.


"Tidak usah takut denganku, aku tidak akan macam-macam." Ucap Shaka yang kemudian bangun.


"Aku hanya kaget saja, kenapa kau tiba-tiba berbaring di dekatku." Cetus Amira kesal.


Shaka bangkit dari ranjang dan berpindah duduk di sofa, sementara Amira duduk di tepi ranjang sembari mengalihkan pandangannya dari Shaka.


"Kenapa duduk di situ? Ayo duduk di sini." Ucap Shaka menepuk-nepuk sofa di sampingnya.


"Tidak di sini saja." Jawab Amira ketus.


"Kenapa kau jadi takut padaku? Aku tidak akan macam-macam, aku hanya ingin duduk di dekatmu." Ucap Shaka.


"Lagi pula malam itu, kan kau sendiri yang memintanya aku mana berani kalau bukan kau yang memaksanya. Kau tau secara tidak langsung kau sudah merebut keperjakaanku kau sangat keterlaluan Amira." Kata Shaka menahan senyumnya.


"Tidak, tidak mungkin!!" Teriak Amira yang langsung menenggelamkan wajahnya di balik bantal.


"Kenapa kau histeris? Kau benar-benar keterlaluan sudah merampas keperjakaanku." Kata Shaka lagi dengan terus tersenyum meledek.


"Hentikan ocehanmu itu, itu tidak mungkin!! Tidak!!" Teriak Amira dan terus menggelengkan kepalanya di balik bantal.


Kali ini Shaka berjalan mendekati Amira dan duduk di tepi ranjang tepat di depan Amira.


"Lihatlah tingkah mu ini, apa sekarang kau mau lari dari tanggung jawab? Kau lihatlah sendiri bagaimana kau mencoba merayuku dan tak membiarkan aku keluar dari kamar kita, ayo lihatlah sekali lagi rekaman cctv ini." Shaka mencoba menarik bantal yang menutupi kepala Amira namun tangan Amira menahan bantalnya sekuat tenaga sambil terus menggelengkan kepalanya.


Oh tidak, apa benar aku sudah merampas keperjakaannya? Bagaimana itu bisa terjadi? Dan apa benar dia masih perjaka? Gumam Amira dalam hati.


"Baiklah kau tidak perlu merasa bersalah. Kali ini aku akan memaafkanmu, sudahlah, singkirkan bantal ini." Shaka menarik paksa bantal yang sedari tadi menutup wajah Amira.


Amira pun kembali terduduk lesu dan kembali menundukkan kepalanya karena malu, wajahnya terlihat memerah seperti kepiting rebus. Shaka yang melihat itu pun kembali tersenyum puas karena berhasil membuat Amira yang tadinya takut dengannya kini tampak kikuk.


"Apa pinggangmu sudah baikkan?" Tanya Shaka memandang lekat ke arah Amira.

__ADS_1


Amira hanya menggeleng pelan dan terus menundukkan kepalanya.


"Amira angkat kepalamu." Ucap Shaka dengan nada pelan.


"Aku malu."


"Malu?" Tanya Shaka yang kini tengah menahan senyumnya.


"Iya, maafkan aku." Ucap Amira dengan begitu polosnya, karena dia benar-benar merasa bersalah karena dia pikir Shaka benar-benar menyalahkannya karena telah merampas keperjakaanya. Padahal Shaka sama sekali tidak merasa di rugikan, ia justru sangat bahagia karena sudah memadu kasih dengan orang yang sangat dia cintai.


Shaka berkata seperti itu, hanya ingin mengerjai Amira yang tampak takut bila ia dekati.


"Minta maaf untuk apa?" Shaka pura-pura bertanya.


"Karena telah merampas keperjakaanmu." Jawab Amira dengan polosnya.


"Aku akan memaafkanmu asal dengan satu syarat." Shaka mencoba bernegosiasi sembari tersenyum geli' melihat tingkah Amira yang begitu polos.


"Syarat apa?" Amira mengangkat kepalanya dan beralih memandang Shaka.


"Malam ini kau harus pindah ke kamar kita dan kita tidur sekamar lagi seperti sebelumnya."


"Kenapa? Masih takut? Aku tidak akan macam-macam kamu lupa terakhir kita tidur seranjang aku benar-benar tidak macam-macam kan? Lagi pula apa kau lupa kalau.."


"Sudah sudah tidak usah kau ingatkan itu lagi, aku ingat kok. Ku mohon jangan ungkit itu lagi." Ucap Amira dengan memelas.


"Jadi kau setuju jika kita tidur sekamar lagi?" Tanya Shaka tampak sumringah.


Amira hanya mengangguk pelan. Namun tak lama ponsel Shaka berdering, Shaka melihat panggilan masuk itu dan mengaktifkan mode senyap untuk mengalihkannya. Melihat itu Amira mengerutkan dahinya.


"Kenapa tidak di angkat?" Tanya Amira tampak bingung.


"Tidak penting."


"Telepon dari siapa?" Tanya Amira penasaran.


"Yura." Jawab Shaka singkat.


"Angkat saja, kau tidak boleh mengabaikan panggilan dari pacarmu." Ucap Amira tampak lesu.

__ADS_1


"Pacar? Sejak kapan aku dan dia pacaran? Dia hanya mantan pacarku tidak lebih dari itu." Jelas Shaka mencoba meyakinkan Amira.


"Tapi, bukan kah malam itu dia mengenalkan mu sebagai pacarnya?" Amira mengerutkan dahinya.


"Memang, tapi dia sudah salah paham, dulu dia pacarku aku sangat mencintainya tapi dia pergi meninggalkan ku demi menyusul Reza, mulai saat itu aku mencoba untuk melupakannya terlebih setelah aku bertemu denganmu aku sudah 100% melupakannya karena saat ini kau tau sendiri kan aku sudah mencintaimu. Dia hanya salah paham, dia baru mengetahui perasaanku padanya sekarang itulah sebabnya dia masih mengira kalau sampai sekarang aku masih mencintainya." Jelas Shaka panjang lebar.


"Saat ini aku benar-benar sudah mencintaimu Amira, dan aku harap kau membalas perasaanku ini, ku harap cintaku ini tidak bertepuk sebelah tangan." Ucap Shaka dengan lembut sembari menggenggam kedua tangan Amira.


Aku sebenarnya sangat bahagia Shaka mendengar ungkapan cinta darimu, tapi aku juga tidak enak pada Yura, dia sangat baik padaku padahal kita baru pertama kali bertemu, tapi aku sudah merebutmu darinya aku sudah tidur denganmu sedangkan Yura sangat mengharapkanmu. Aku tidak bisa memungkiri kalau sebenarnya aku lah orang ketiga di antara kalian berdua, karena aku bertemu denganmu di saat kalian sudah saling mengenal sejak lama. Batin Amira yang dilema dengan perasaannya sendiri.


Shaka mengecup kedua tangan Amira, dan memandang lekat wajah Amira.


"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, karena aku tidak akan memaksamu. Aku yakin seiring berjalannya waktu kau akan membalas perasaanku, aku percaya cinta itu akan hadir karena terbiasa." Ucap Shaka lembut.


Aku juga sebenarnya sudah mencintaimu, aku sangat ingin mengatakan kalau cintamu terbalaskan, tapi aku masih tidak sanggup untuk mengungkapkannya Shaka. Gumam Amira dalam hati sembari menatap sendu wajah Shaka.


"Yah sudah ayo kita ke kamar sekarang, kita istirahat." Ucap Shaka sembari menarik tangan Amira.


"Ta.. Tapi." Amira tampak ragu.


"Kenapa?"


"Aku masih belum siap jika harus tidur seranjang."


Shaka mengerti dengan kegundahan Amira yang masih trauma dengan kejadian malam itu.


"Baiklah kalau begitu kau tidur di ranjang dan aku tidur di sofa."


"Apa kau tidak apa-apa kalau harus tidur di sofa?" Tanya Amira mendadak merasa bersalah.


"Tidak apa-apa kau tak perlu cemas aku bisa tidur di sofa kok." Jawab Shaka meyakinkan Amira.


Merasa yakin, Amira pun beranjak dari ranjang dan dengan di gandeng Shaka Amira berjalan menuju kamar mereka. Sesampainya di kamar Amira kembali gugup seperti pertama kali dia masuk ke kamar Shaka tempo hari. Dia menghentikan langkahnya sejenak membuat Shaka menoleh ke arahnya.


"Apa apa?"


Amira kembali meyakinkan dirinya, dia mencoba menghilangkan rasa traumanya dan berjalan naik ke atas ranjang. Amira langsung berbaring dan Shaka menyelimuti tubuh Amira lalu kemudian mengecup lembut kening Amira.


"Tidur yang nyenyak ya." Ucap Shaka lembut lalu kemudian berjalan menuju sofa dan langsung membaringkan tubuhnya di sana.

__ADS_1


Hati Amira terenyuh melihat kelembutan sikap Shaka padanya. Amira jadi semakin merasa dilema di buatnya.


__ADS_2