Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 85 Tak Berdaya


__ADS_3

Shaka tampak begitu kacau, ia duduk di salah satu sudut kamarnya dengan keadaan yang berantakan namun tak menghilangkan ketampanannya.


Cintanya kepada Amira begitu besar sehingga membuatnya begitu merasa sakit hati, ia teramat kecewa karena berfikir Amira sudah mengkhianatinya, dengan bermain api bersama pria lain, sedangkan ia sendiri tak pernah melirik wanita lain sedikit pun.


Saat ini Amira sedang berada di halte untuk menunggui taksi, waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 tengah malam, saat itu jalanan begitu sepi, karena begitu Amira tiba, taksi yang hendak ia tumpangi terus melaju karena sudah ada penumpang di dalamnya.


Kini tinggal lah Amira sendiri di halte itu, ia duduk termenung seorang diri menunggu taksi berikutnya yang ia sendiri tak tau kapan akan datang, Amira sama sekali tak punya tujuan, ia tidak akan pulang ke rumah orang tuanya karena dia tidak mau kalau sampai membuat orang tuanya khawatir, dia juga tidak siap jika harus menceritakan setiap masalah rumah tangga nya kepada kedua orang tuanya, ia berfikir akan mencoba menyelesaikannya sendiri tanpa campur tangan siapa pun.


Amira kembali menangis sembari menundukkan kepalanya, ucapan Shaka kembali terngiang-ngiang dalam benaknya, hingga membuat jantungnya seoalah-olah seperti di tusuk.


“Tidak, aku harus kuat, aku yakin aku kuat, seperti yang sudah sudah, aku bisa melewati setiap masalah yang lebih besar dari ini, toh sampai sekarang juga aku tidak apa-apa, aku masih baik-baik saja, saat ini aku hanya perlu sendiri dan mencoba melupakan Shaka,” ucap Amira dengan pelan mencoba menyemangati dirinya.


Namun tiba-tiba, sudah ada seseorang yang berdiri tegak di sisi kanan Amira.


“Benar nak, kau harus tetap hidup dan jangan mati dulu,” ucap orang itu sembari tersenyum dengan memiringkan kepalanya menatap Amira.


Amira pun langsung melirik ke arah sang pemilik suara, Amira cukup tersentak sekaligus heran melihat sosok yang ternyata begitu familiar baginya, lelaki paruh baya dengan badan tegap, kepalanya kini botak licin tak seperti biasanya, wajah nya dihiasi beberapa bekas luka jahitan akibat ulah Shaka yang sempat menyuruh orang-orang nya untuk menghajar nya pada saat ia berusaha membakar salah satu perusahaan Shaka, namun lebih dulu di ketahui Shaka, semua itu tentu ia lakukan untuk balas dendam atas semua yang Shaka perbuat pada diri nya, saat itu ia tengah tersenyum sinis pada Amira, dan sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Dewa Atmadja ayah Genta.


Setelah perusahaannya berhasil dibuat bangkrut oleh Shaka, kini ia telah menjadi sang dewa judi pemilik Cassino terbesar di kota itu.


“Pak Dewa,” ucap Amira yang sontak langsung berdiri dari duduknya.


“Halo nak, senang bisa bertemu dengan mu lagi, dan ternyata kau masih mengingatku hehehe,” Dewa semakin melebarkan senyumannya sembari melambaikan tangan ke arah Amira.


“Kenapa bapak bisa berada di sini?” Amira mulai curiga dengan gelagat aneh lelaki paru bayah yang hampir saja menjadi ayah mertua nya itu.


“Kau mau tanya kenapa aku berada di sini? Oh nak, tentu saja aku turut prihatin dengan masalah rumah tangga yang kini menimpah mu,” ucap Dewa yang kemudian mulai melangkah mendekati Amira.


Dengan raut wajah bingung, Amira melangkah mundur ke belakang, dia mulai takut dengan tingkah ayah Genta yang seperti psikopat.


“Jangan takut, aku tidak akan melukai mu seperti yang di lakukan suami mu kepada ku waktu itu hehehe, kau tau tanda ini? Ini perbuatan suami mu,” Dewa tersenyum sinis, ia terus mendekati Amira sembari terus menunjukkan bekas luka jahitan di wajah dan sebagian di kepala nya.


“Ini tanda murka suami mu padaku, karena aku hampir saja mau membakar perusahaannya karena tingkah sombong nya yang seenaknya saja membatalkan kontrak kerja sama dengan perusahaanku, dan tidak hanya itu nak, suami tercinta mu itu juga dalang di balik bangkrut nya perusahaan yang mati-matian aku bangun selama ini,”


Amira begitu terkejut mendengar semua itu, dia tidak tau ternyata Shaka melakukan hal sejauh itu untuk melindungi nya, dia juga kaget mendengar penuturan Dewa tentang balas dendam yang ia lakukan kepada Shaka, dia tidak menyangka Shaka lebih memilih menutupi hal sebesar itu darinya.


“Apa maksud bapak? Shaka melakukan itu karena ingin melindungiku, dia juga mencoba melindungi perusahaan keluarga nya dari tangan jahat bapak, lagi pula kenapa bapak tidak membicarakan hal tersebut secara baik-baik dengan Shaka? Aku yakin jika bapak mau berbicara baik-baik dengannya, pasti dia akan luluh dan mau mengembalikan perusahaan bapak,” ucap Amira yang terus memundurkan langkahnya, ia jadi begitu takut dengan Dewa.


“Ya ya ya, tapi suami mu sudah begitu lancang memberi 30 jahitan di kepala ini, andai saja saat itu dia tidak berbuat hal menjengkelkan seperti itu, pasti saat ini hubungan rumah tangga kalian tidak akan seperti ini, dan tidak akan ada insiden kecelakaan di depan rumah sahabatmu,” jelas Dewa yang mulai mencengkram kedua lengan Amira.

__ADS_1


“Oh ya dan satu lagi, kau tidak akan malu kepada seluruh dunia, karena semua sudah tau aib-aib mu hahaha,” ucap Dewa lalu kemudian tertawa puas.


Mata Amira membulat sempurna, tubuh nya semakin gemetaran di tambah detak jantung nya yang berpacu dengan cepat.


“Apa maksudmu?” Tanya Amira menatap tajam ke arah Dewa.


“Aku menyuruh orang suruhan ku untuk menyebarkan berita hoax itu sekaligus memfitnahmu sehingga kau dan suami mu bertengkar hebat malam ini, dan orang suruhan ku juga yang menabrak mu waktu itu, namun sayang kamu tidak mati padahal aku berharap kamu mati supaya anakku Genta berhenti memikirkan mu dan Shaka suami mu stres bahkan gila karena kematianmu,” jelas Dewa yang semakin menguatkan cengkramannya.


“Jadi, jadi kau dalang di balik semua ini? Kau hampir membunuhku dan membuat aku nyaris berpisah dengan suamiku? Dasar brengsek!” Amira sontak menjadi histeris dan memukul keras tubuh kekar Dewa.


“Hahaha bukan aku yang menabrakmu Amira, tapi Marsel Frederick, kau ingat Marsel?”


“Marsel Frederick? Kau mengenalnya?” Amira semakin dibuat terperangah.


“Tentu saja, lelaki tampan dan macho itu adalah orang suruhanku, sekaligus adik angkat ku yang sangat ku percaya hahaha, oh ya dan satu lagi, dia juga yang menyebarkan berita miring itu di media sosial, namun tentu saja semua itu atas perintahku,” Dewa semakin melebarkan tawanya.


“Kau yang sudah merencanakan semua ini? Kau juga yang sengaja memotretku saat aku menolong Marsel lalu menggunakan foto itu untuk membuat Shaka salah paham padaku?” Tanya Amira yang begitu syok mendengar fakta ini.


“Oh iya jelas, saat itu Marsel memang benar-benar butuh pertolongan seseorang, namun secara kebetulan ternyata yang menolong Marsel itu adalah kau, saat itu aku memang menyuruh orang suruhanku yang lain untuk pergi menolong nya, namun aku mendapat informasi bahwa dia sudah di tolong oleh seorang wanita, orang suruhanku itu memotret kalian dan mengirimkannya padaku, karena aku seperti familiar dengan wajahmu makanya aku meminta dia memotrtmu sebanyak mungkin sehingga aku bisa dengan jelas melihat wajahmu,”


“Tapi apa kau tau? Aku tidak menyangka bahwa foto itu bisa berguna di kemudian hari untuk membalas dendam ku pada kalian,” tambah Dewa lagi dengan senyum menyeringai.


“Amira, begitu malang nasib mu nak,” Dewa mulai mengusap lembut ujung kepala Amira.


“Baiklah nak, biarkan aku menghibur mu, suami mu itu begitu payah, bagaimana bisa dia meragukan mu dan lebih percaya pada Marsel hahaha,” dia mencoba menepuk-nepuk pundak Amira.


“Lepaskan aku lelaki jahat!” Bentak Amira yang langsung menolak kasar sentuhan Dewa.


Bukannya marah, Dewa malah tertawa sejadi-jadinya melihat kemarahan Amira.


“Kali ini kau sama sekali tidak mempunyai daya untuk melawan ku, kau hanya wanita lemah yang sebentar lagi akan menjadi wanita malam di tempatku,” Dewa dengan cepat merubah tatapannya terhadap Amira.


Yang awalnya dia tertawa melengking, kini ia mulai menatap wajah sendu Amira dengan tatapan tajam dan kembali menarik tangan Amira.


“Ayo masuk ke mobil!!” Bentak Dewa.


“Tidak akan!” Ketus Amira yang terus memberontak.


“Kau mau melawanku? Kau mau mengalami nasib yang lebih buruk lagi?”

__ADS_1


“Kau tidak bisa mengancamku!” Amira menginjak kuat kaki Dewa dengan tapak sepatunya yang keras, hingga sontak membuat Dewa kesakitan.


“Aaaghhh,” teriak Dewa sembari memegangi kakinya.


Amira pun langsung berlari, dan Dewa pun kembali tertegak dan berteriak.


“Jika kau pergi, maka orang tua mu akan bernasib sama dengan mu,”


“Mama, papa?” Ucap Amira pelan yang akhirnya kembali mengingat kedua orang tuanya.


Mendengar hal itu langkah Amira terhenti, ia berbalik badan dan menatap tajam ke arah Dewa.


“Kau tau bagaimana aku kan? Aku bisa melakukan apapun di luar dugaan mu, jangan kan orang tua mu, suami mu bahkan nenek dari suami mu pun bisa ku habisi dengan caraku hahaha, jika kau tak percaya, maka pergilah sejauh mungkin, namun aku pastikan setelah itu kau akan melihat mayat orang tua mu,”


“Dan bukan hanya itu, Queen Edelenyi anak yang begitu kau sayangi, juga akan menjadi korban berikutnya,”


Mendengar nama Queen Amira semakin tersentak, bagaimana bisa anak sekecil itu bisa menjadi korban kejahatan Dewa, Amira jadi semakin tak berdaya.


“Apa yang sebenarnya kau inginkan? Kenapa kau begitu kejam!” Teriak Amira.


“Aku ingin sekarang kau masuk ke mobil!” Bentak Dewa.


Amira kembali menangis, seketika wajah orang tua nya, Shaka, nenek Emely dan Queen terngiang-ngiang dalam benak nya.


“Ya tuhan, beginikah jalan hidup yang harus ku lalui? Haruskah aku harus menjadi budak nya seumur hidup?” Gumam Amira dalam hati sembari menangis.


“Cepat masuk!” Bentak Dewa lagi.


“Tolong jangan sakiti mereka, aku mohon,” ucap Amira menangis.


“Mereka akan aman, jika kau bisa menjadi anak yang penurut! Semua pilihan ada padamu, ingin berlari pergi, atau ikut denganku,” Dewa pun kembali tersenyum sembari membuka pintu mobil nya.


Dengan air mata yang mengalir deras, dengan tangan yang mulai mengepal dan di barengi dengan tarikan nafas yang panjang, akhirnya Amira pun perlahan mulai melangkah ke arah Dewa.


“Baiklah, aku bersedia ikut denganmu dan melakukan apapun, namun tolong jangan sakiti mereka dan aku mohon jangan usik ketenangan Queen, biarkan dia tumbuh menjadi anak yang bahagia, aku mohon,”


“Tidak masalah, semua bisa ku atur,” jawab Dewa singkat.


Kini Amira pun akhirnya semakin memantapkan hati nya, ia terus melangkah dan akhirnya dengan tarikan nafas yang panjang sekali, ia pun masuk ke dalam mobil, Dewa semakin tersenyum lebar dan akhirnya ia pun ikut mssuk ke mobil dan duduk di samping Amira.

__ADS_1


__ADS_2