
Reza kembali mengunjungi panti asuhan untuk mencari tau tentang ponakannya, setelah kemarin tidak berhasil bertemu dengan pemilik panti asuhan karena pemilik panti asuhannya sedang tidak berada di tempat.
"Permisi pak, bapak yang datang kemarin?" Tanya seorang wanita yang tak lain adalah penjaga panti asuhan itu.
"Iya, bagaimana? Apa ibu pemilik panti asuhan ini sudah ada?"
"Iya pak, ibu ada di dalam mari saya antar ketemu ibu". Ucap wanita itu ramah sembari berjalan masuk ke ruangan pemilik panti asuhan itu dengan di ikuti Reza dari belakang.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk".
"Assalamualaikum bu' ini ada seseorang yang ingin bertemu". Cetus penjaga panti asuhan itu ramah.
" Waalaikumsalam, ayo silahkan duduk pak". Pemilik panti asuhan itu mempersilahkan Reza duduk.
Reza pun duduk di hadapan wanita pemilik panti asuhan itu.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya ibu itu dengan ramah.
"Begini bu' saya mau bertanya apa tiga bulan lalu ada seorang wanita datang menyerahkan seorang bayi perempuan di panti asuhan ini?"
"Seorang wanita? Tidak, tiga bulan ini kami hanya mengambil satu bayi perempuan, itu pun bayi nya hanya di letakkan di depan pintu panti asuhan ini". Jelas pemilik panti asuhan itu tampak bingung.
"Satu bayi perempuan? Di mana bayi itu? Boleh saya melihatnya?"
"Boleh, ayo saya antar". Ucap wanita itu, sembari beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruangan tempat bayi itu di letakkan.
Reza berjalan mengikuti wanita itu, sampailah dia di ruangan yang minimalis itu dengan di penuhi hiasan kamar nuansa anak-anak . Reza berjalan mendekati bayi itu dan menatap sendu ke arah bayi itu.
"Ini dia bayi nya pak".
Bayi itu tengah menangis meraung-raung, melihat itu Reza berinisiatif untuk memeluknya dengan meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik panti asuhan. Setelah di izinkan Reza memeluk bayi itu, namun ibu panti asuhan itu tersenyum ketika melihat tangisan bayi itu tiba-tiba terhenti saat dalam dekapan Reza.
"Rupanya bayi ini cocok dengan anda pak". Ucap pemilik panti asuhan itu sembari tersenyum.
"Iya, saya memang berniat mau mengadopsi nya bu', jagalah bayi ini baik-baik besok aku akan segera mengurus surat-suratnya untuk mengadopsi anak ini".
"Apa sebelumnya bapak sudah menikah?" Tanya pemilik panti asuhan itu.
"Saya memang belum menikah, tapi saya mempunyai kecukupan finansial dan motivasi yang besar ingin mengadopsi anak ini, jadi biarkan saya mengasuhnya".
Mendengar itu, wanita pemilik panti asuhan itu mulai yakin dengan pernyataan Reza dan menyetujui bayi itu di adopsi oleh Reza. Setelah mendapat persetujuan dari pemilik panti asuhan, Reza pamit undur diri dan langsung mengurus persyaratan untuk mengadopsi anak, yang tanpa Reza sadari kalau anak yang akan dia asuh itu adalah anak Amira.
__ADS_1
Sisi Lain Kediaman Keluarga Buwana..
Amira sedang berdiri di balkon kamar nya, tiba-tiba saja dia teringat dengan kontrak pernikahannya dengan Shaka yang tinggal 3 bulan lagi akan berakhir.
"Amira" Suara Shaka membuyarkan lamunan Amira. Ia menoleh dan tersenyum tipis sembari memandang sendu ke arah Shaka.
Shaka sedang berdiri di samping Amira dan ikut memandangi langit sore itu.
"Shaka". Amira akhirnya membuka suara setelah beberapa detik saling diam.
"Kenapa?" Tanya Shaka beralih memandang Amira.
"Apa kau ingat, kalau pernikahan kita tinggal 3 bulan lagi". Ucap Amira lirih.
"Kenapa kau mengingat-ingat itu". Celetuk Shaka mengerutkan dahinya.
"Tentu saja aku ingat, apa kau tidak berniat untuk melakukan satu hal yang bisa menjadi kenangan indah untuk kita". Ucap Amira yang langsung membuat Shaka menatap lekat ke arahnya.
Seakan mengerti dengan tatapan Shaka, Amira langsung menyela.
"Mm.. Maksud ku sesuatu yang seperti kita harus lebih dekat lagi dan berbaikkan tidak ada perdebatan atau pertengakaran lagi di antara kita". Ucap Amira sedikit gelagapan.
Amira berkata seperti itu karena dia sudah melihat kebaikan Shaka selama beberapa bulan ini saat dia mengalami depresi, sehingga ia berinisiatif untuk berbuat baik pada Shaka selama 3 bulan terakhir ini. Selain itu, Amira juga sudah semakin nyaman dengan Shaka.
"Jadi kau setuju untuk berbuat baik padaku?"
Tentu saja Amira, kau kan istri ku jadi aku harus selalu berbuat baik padamu. Batin Shaka sembari memandangi Amira.
"Iya, kita juga harus lebih dekat lagi, apa kau tak keberatan untuk kita tidur seranjang bersama? Kau lupa nenek sudah bisa berjalan, terlebih saat ini dia tau kalau kau sudah pulih, tidak mungkin kita tidur terpisah, bagaimana kalau nenek naik ke atas dan mengecek kamar tidur kita?". Jelas Shaka mencoba memanfaatkan situasi.
"Iya juga ya, t-tapi apa benar kita tidur seranjang?" Tanya Amira gugup, dia menarik dirinya menjauhi Shaka yang memandangnya.
"Tentu apa ada masalah? Lagi pula kita sudah sah". Amira menggigit bibirnya dia belum siap melakukan hal itu dengan Shaka. Memikirkan kejadian yang akan terjadi membuat wajah Amira memerah sempurna.
"Tenang saja, aku hanya akan tidur bersamamu, aku tidak akan berbuat macam-macam". Ucap Shaka seakan tau kegundahan Amira.
"Ba.. Baiklah, tapi hanya tidur saja ya!" Jawab Amira menyetujui walau hatinya deg-degan menunggu malam tiba. Shaka tersenyum dan mengacak rambut Amira.
Kali ini dia tidak akan membiarkan Amira pergi lagi. Belajar dari pengalaman kemarin Amira pergi dari rumahnya dan menginap di rumah Salsa yang ada Reza di sana. Dia sangat tidak suka.
"Pak Dody". Panggil Shaka.
"Ya tuan". Jawab Dody setelah mendekati Shaka.
__ADS_1
"Bawa baju dan keperluan Amira ke kamarku, dia akan pindah ke kamarku". Dody si kepala pelayan segera melakukan tugas yang di perintahkan Shaka padanya.
Malam tiba, Amira berjalan pelan menuju kamar Shaka di mana Shaka sudah menunggunya. Jantung Amira semakin berpacu dengan hebat namun Amira berusaha mengatur nafasnya. Jika tidak mungkin dia akan pingsan.
Amira mengumpulkan keberaniannya dan membuka kamar Shaka. Amira menahan nafasnya melihat Shaka yang sedang membaca dokumen. Kacamata yang bertengger tanpa bingkai membuat penampilannya makin sempurna.
"Amira jangan hanya berdiri di situ, masuklah!" Amira melangkah masuk dengan ragu mendekati Shaka.
"Kenapa kau bekerja di sini? Bukan kah lebih baik kau bekerja di ruang kerjamu?" Tanya Amira.
"Hanya sedikit kok, lagi pula aku ingin bekerja di sini untuk melihatmu". Amira yakin wajahnya memerah sekarang, kenapa Shaka selalu membuatnya tersipu malu?
Walau bukan godaan, tapi kata-kata sederhana itu sukses membuat wajah Amira memanas.
"A.. Aku tidur dulu, aku lelah sekali". Ujar Amira cepat.
Dia berjalan menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya menyamping membelakangi Shaka. Amira menutup matanya berusaha untuk tidur.
Tak lama Amira membuka matanya dan menghela nafas panjang. Dia tidak akan bisa tidur di kamar ini apa lagi ada Shaka di belakangnya.
Amira yakin saat ini Shaka pasti mempehatikannya. Amira berpikir sesaat agar dia tak terus-terusan deg-degan. Dia baru ingat kalau tak ada jarak, Amira mengambil guling yang ada di depannya menjadi di belakangnya untuk membuat jarak antara dia dan Shaka saat berada di ranjang yang sama.
"Kenapa kau menaruh guling di belakangmu? Apa kau tak takut jatuh?"
Amira tak menjawab pertanyaan Shaka dan membenarkan posisi nyaman untuk tidur. Tapi sekeras apapun usaha Amira, dia tetap tak bisa tidur. Sudah 10 menit Amira masih belum bisa tidur.
Lampu di matikan tiba-tiba, jantung Amira makin berdetak kencang saat dia merasakan ranjang yang dia tempati bertambah beban.
"Amira kau belum tidur?" Tanya Shaka dengan nada pelan nyaris berbisik.
Bantal guling yang awalnya di belakang kini berubah saat Shaka menempatkannya di depan Amira. Amira kembali menahan nafasnya saat lengan Shaka mendekapnya dari belakang.
"Aku tau kau belum tidur, balikkan tubuhmu ada yang akan aku bicarakan padamu".
Amira ragu apa dia harus menuruti permintaan Shaka atau tidak, tapi Shaka suaminya. Dia membalikkan tubuhnya dan mendapati wajah Shaka tinggal secenti lagi.
"Kenapa kau tidak bisa tidur? Apa kau tak suka tidur di sini bersamaku?" Sensasi gelitik di rasakan oleh Amira karena nafas Shaka.
"Ti.. Tidak, hanya saja a... aku.." Kata-kata Amira terhenti saat mendapatkan kecupan kening dari Shaka.
"Aku ada di sini, jangan gelisah lagi. Tidurlah". Shaka membawa Amira ke dalam pelukan hangatnya. Sama seperti Amira, Shaka bisa merasakan detak jantung satu sama lain. Muncul satu pertanyaan di benak Amira, apa Shaka mempunyai perasaan yang sama padanya seperti perasaannya pada Shaka? Ya, Amira sudah mulai mencintai Shaka.
Amira sangat bahagia bisa tidur bersama Shaka, walau mereka belum berhubungan layaknya suami istri tapi hanya tidur bersama saja sudah membuat Amira sangat terkesan.
__ADS_1