
Kini waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari, Shaka yang sedang berada di atas sofa tiba-tiba menggigil kedinginan. Saat itu Amira baru dari kamar mandi, ia terbangun karena rasa ingin buang air kecil. Ia melihat Shaka yang sedang menggigil, Amira yang melihat itu dengan sigap segera mengambil selimut dan menyelimuti Shaka.
Amira seketika di buat kagum dengan wajah Shaka yang begitu tampan dan meneduhkan apa lagi saat sedang tidur, sehingga tanpa sadar Amira tersenyum, ia kemudian berjongkok di dekat sofa menghadap Shaka dan perlahan mengelus pipi Shaka.
"Apakah aku tampan?" Tanya Shaka tiba-tiba yang membuat Amira sontak terperanjat, dia begitu kaget luar biasa.
Shaka kemudian membuka matanya sembari tersenyum menatap Amira, ia lalu memegang tangan Amira yang mengelus pipinya tadi dan membawa Amira ke dalam dekapannya.
"Sha.. Shaka, lepaskan aku." Amira mencoba melepaskan tubuh mungilnya dari tangan kekar Shaka tapi tidak bisa.
"Tunggu sebentar, aku sangat nyaman." Ucap Shaka memeluk erat tubuh Amira dengan memejamkan matanya.
Amira pun akhirnya pasrah saat Shaka memeluknya seperti itu.
"Bisa kah aku tidur di sampingmu? Aku sangat kedinginan di sini." Bisik Shaka tepat di telinga Amira.
Amira yang merasa tak tegah melihat Shaka menggigil mengangguk. Perlahan Amira melepas pelukannya dan menatap lekat wajah Shaka.
"Kau tau, aku sangat bahagia berada dekat denganmu seperti ini." Ucap Shaka yang juga menatap lekat wajah Amira. Shaka perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Amira hendak mencium bibirnya namun Amira segera menundukkan kepalanya membuat Shaka gagal menciumnya.
"Ayo kita tidur." Ucap Amira tampak gugup.
Shaka menghela nafas panjang dan menuruti ucapan Amira, ia pun naik ke atas ranjang dan langsung membaringkan tubuhnya begitu pun dengan Amira yang ikut berbaring dengan posisi membelakangi Shaka. Namun Shaka melingkarkan tangannya di pinggang Amira dan memeluknya dari belakang. Amira yang merasakan tangan Shaka kini melingkar di pinggangnya semakin gugup, perasaannya semakin tak karuan.
Pagi Hari..
Pagi ini Amira bangun lebih awal, selesai mandi Amira turun ke dapur dan membantu para pelayan untuk menghidangkan sarapan. Semenjak Amira tinggal di rumah keluarga Buwana, dia selalu memasak sendiri untuk sarapan atau pun makan malam, namun pagi ini dia hanya memasak saja sedangkan para pelayan melanjutkan untuk memindahkan semua makanan ke dalam piring.
Tak lama Emely pun keluar dari kamar dan tersenyum sumringah melihat Amira yang sudah sehat.
"Amira, apa kau sudah baikkan?" Tanya Emely sumringah.
"Eh nenek, iya aku sudah baikkan, ayo nek duduk kita makan bersama." Ucap Amira sembari membalikkan piring di meja dekat kursi Emely biasa duduk.
"Wah aku senang sekali akhirnya kau bisa bergabung lagi di meja makan. Oh iya di mana suamimu?" Tanya Emely yang baru menyadari ketidak hadiran Shaka.
"Aku di sini nek." Jawab Shaka yang tiba-tiba saja muncul di ruang makan.
"Kau masak dimsum lagi?" Tanya Shaka dengan berbinar-binar sembari meraih satu dimsum di piring dan mencocolkannya di saos kemudian langsung melahapnya.
"Yah ampun Shaka, kenapa makan sambil berdiri duduklah dulu." Tegur Amira sembari membalikkan piring Shaka.
"Dimsum mu ini terlalu enak sehingga membuat aku lupa untuk duduk." Jawab Shaka yang kembali meraih satu dimsum lagi.
"Shaka duduk dulu kalau makan." Amira berjalan menghampiri Shaka dan memegang kedua pundaknya menyuruhnya untuk duduk.
Emely yang melihat itu tersenyum bahagia, kini cucunya terlihat bahagia bersama Amira, ia juga semakin menyadari kedekatan Amira dan juga Shaka yang semakin hari semakin akrab.
Mereka pun duduk dan makan dengan tenang.
"Kelihatannya kalian semakin akrab saja. Bagaimana apa kalian sudah membuatkanku cicit?" Tanya Emely sengaja menggoda Amira dan Shaka.
Mendengar itu Amira dan Shaka sontak terkejut dan saling berpandangan. Kini jantung Amira semakin berdetak kencang perasaannya tak karuan namun berbeda halnya dengan Shaka, dia malah iseng terus memandangi Amira sembari mengedipkan matanya mencoba menggoda Amira. Amira yang melihat itu semakin terkejut dengan sikap Shaka yang bukannya kaget malah menatap mesum seperti itu.
__ADS_1
Amira mengalihkan pandangannya dan mulai menyuapi makanan di mulutnya.
"Oh ya nek, ini juga aku buatkan sandwich untuk mu, kau makan lah ini, ini.. Ini sangat enak." Ucap Amira gelagapan mencoba mengalihkan pembicaraan. Sementara Shaka yang melihat tingkah Amira tersenyum puas karena berhasil mengerjai Amira.
Selesai makan Amira mengantarkan Shaka sampai loby depan rumah.
"Aku pergi dulu ya." Ucap Shaka sembari mengecup kening Amira.
Degg..
Seketika jantung Amira berdegup kencang saat Shaka menciumi keningnya dengan begitu lembut.
"Aku ke kantor ya jaga dirimu baik-baik." Ucap Shaka lembut.
Amira mengangguk sembari tersenyum tipis, Shaka menaiki mobil dan segera melajukan mobilnya meninggalkan Amira yang masih berdiri di depan loby rumah nya.
Amira masuk ke dalam rumah dan mendapati kotak makanan Shaka yang sudah dia siapkan tertinggal di dapur. Dia pun berinisiatif ingin mengantarkan makanan di kantor Shaka. Amira berjalan menuju kamarnya dan mulai bersiap-siap, kali ini Amira terlihat begitu anggun dengan mengenakan dress selutut bermotif kotak warna biru, rambutnya di kuncir dengan gaya ponytail, membuat Amira tampak menawan.
Amira keluar dari kamar dan meminta dody untuk menyupirinya menuju kantor utama Shaka. Kini mobil sudah sampai di loby kantor utama Buwana Group, Amira memandangi sejenak bangunan gedung yang menjulang tinggi itu dan mendadak jadi gugup karena ini pertama kalinya dia masuk ke kantor itu.
"Pak dody, apakah kau bisa menungguku?"
"Baik nona, saya akan memarkirkan mobil di basement saja, jika sudah selesai nona bisa menelpon saya."
Akhirnya setelah menyimpan nomor Dody, Amira pun keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam gedung yang nampak begitu luas dan megah. Mata Amira, tak pernah diam memandangi kagum interior kantor yang begitu mewah dan unik.
Kemudian Amira pun berhenti di depan meja resepsionist.
Sang resepsionist pun memandang Amira dengan mengerutkan dahinya tampak berpikir karena wajah Amira seperti familiar.
"Maaf nona kalau boleh tau anda dari perusahaan mana? Apa sudah membuat janji dengan tuan Shaka?"
"Saya tidak datang dari perusahaan mana pun dan saya tidak membuat janji, tapi ini sangat penting saya harus bertemu dengannya."
"Maaf nona, tapi saya tidak akan mengizinkan sembarang orang untuk bertemu dengan tuan muda."
"Tapi saya harus bertemu dengannya, saya adalah temannya yang ingin mengantarkan ini untuknya." Ucap Amira sembari memperlihatkan kotak makanan yang di bawanya.
"Maaf nona, saya tidak bisa membantu kalau anda belum membuat janji, saya takut mengambil resiko."
"Saya mohon, tolong izinkan saya masuk."
"Tidak bisa nona, lagi pula ada banyak sekali wanita menggilai tuan muda di luar sana yang beralibi sepertimu, agar bisa bertemu secara langsung dengan tuan muda Shaka Buwana, sehingga kami takkan mau tertipu lagi dengan hal semacam itu. Jadi anda boleh pergi sekarang." Ucap sang resepsionist.
Amira pun pasrah dan tidak memaksa lagi, akhirnya Amira berjalan menuju sofa di loby depan kantor Buwana Group, Amira tampak lesu dan langsung mendudukkan dirinya di sofa tersebut. Ia pun duduk bersandar sembari menopang dagu dengan tangannya dan wajah yang tampak begitu lesu. Setengah jam Amira menunggu, akhirnya ia tanpa sengaja tertidur di sofa sembari duduk dengan menopang dagu menunggu Shaka.
Tak lama Shaka pun lewat di sofa loby kantor dan melihat ke arah Amira. Shaka begitu terkejut melihat Amira sedang tertidur dalam posisi duduk di sofa kantornya. Ia melihat kotak bekal di dekat Amira. Shaka perlahan mendekati Amira dan menepuk nepuk pelan pipi Amira membangunkannya.
"Amira hey kenapa kau tidur di sini." Ucap Shaka dengan lembut.
Amira perlahan membuka matanya, dan sontak terkejut melihat wajah Shaka berada di dekat wajahnya.
"Shaka.. Sejak kapan kau di sini?" Tanya Amira membulatkan matanya.
__ADS_1
"Aku baru selesai meeting dan hendak pulang, namun aku begitu terkejut melihat kau tengah tidur di sofa ini dalam keadaan duduk."
"Aku mau mengantarkan kotak bekal ini untukmu, aku sengaja membuatkan makanan untuk kau bawa tapi aku lupa memberikannya padamu tadi, jadi aku memutuskan untuk ke sini dan mengantarkan langsung padamu." Jelas Amira sembari memeberikan kotak bekal itu pada Shaka.
"Tapi kenapa kau tidak langsung masuk ke ruanganku?" Tanya Shaka tampak cemas.
"Aku mau masuk, tapi wanita yang di meja resepsionist itu tidak mengizinkan ku masuk karena tidak membuat janji dengammu. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk saja di sini menungguimu." Jawab Amira dengan polosnya.
"Astaga. Tunggu sebentar." Ucap Shaka langsung berlalu pergi meninggalkan Amira, menuju meja resepsionist.
"Hei kau, kenapa kau membiarkan nona itu duduk sendiri di sofa loby? Kenapa kau tidak mengizinkannya masuk ke ruanganku?" Bentak Shaka tampak emosi.
"Maaf tuan muda, nona itu belum membuat janji sehingga saya takut jika mengizinkannya masuk." Jawab Wanita itu tampak gelagapan, sembari menundukkan kepalanya karena takut. Tubuh wanita itu mendadak gemetaran dan menyesal.
"Shaka, sudah tidak apa-apa, dia tidak tau lagi pula dia kan hanya menjalankan peraturan di kantor ini." Ucap Amira tiba-tiba menghampiri mereka.
"Awas saja kalau sampai kau membiarkan nona Amira menungguku seperti tadi, aku tidak akan segan-segan untuk memecatmu. Mengerti!!" Teriak Shaka di hadapan wanita itu.
Wanita itu mengangguk pelan, sembari terus menundukkan kepalanya karena takut.
"Yah sudah ayo, kau mau pulang kan? Lebih baik kita pulang sekarang." Ucap Amira lembut mencoba menenangkan Shaka.
Amira dan Shaka pun berlalu pergi meninggalkan wanita yang di meja resepsionist itu. Baru saja Shaka melangkah hendak pulang, Kevin buru-buru mencegah Shaka.
"Shaka, kau mau ke mana?" Tanya Kevin melirik sedikit ke arah Amira.
"Eh Amira, kau di sini juga?" Tanya Kevin tampak gelagapan.
"Ada apa Kevin?" Tanya Amira tampak mengerutkan dahinya melihat Kevin yang tampak gelagapan.
"Ada apa? Cepat katakan?" Tanya Shaka dengan ketus.
"Ka, Yura masuk rumah sakit." Ucap Kevin tampak cemas namun merasa tidak enak pada Amira.
"Apa? Masuk rumah sakit?" Shaka pun terkejut begitu pun dengan Amira yang tak kalah terkejut.
"Iya, emm... A.. Apa apa kau bisa datang? Aku juga akan ke sana." Ucap Kevin sembari melihat ke arah Amira.
"Kau juga bisa membawa Amira." Tambah Kevin.
"Emmm.." Shaka tampak berfikir.
"Pergilah Shaka!! Dia pasti sangat membutuhkan mu saat ini." Ucap Amira meyakinkan Shaka.
"Tapi."
"Tidak usah mencemaskan ku, aku ke sini di antar pak Dody jadi aku bisa pulang bersamanya." Amira meyakinkan Shaka lagi sembari memegang pundaknya.
Shaka hanya diam seperti tengah berpikir.
"Apa yang kau pikirkan? Pergi lah."
Akhirnya Shaka pun pergi ke rumah sakit bersama Kevin dan meninggalkan Amira di loby kantornya.
__ADS_1