Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 16 Permintaan Emely Kepada Amira


__ADS_3

KEDIAMAN KELUARGA BUWANA


Mobil memasuki kediaman keluarga Buwana, Emely masuk ke dalam rumah dengan di sambut oleh Dody dan beberapa pelayan lainnya. Kemudian Pelayan pun mengantarkan Emely ke kamarnya.


"Saya permisi dulu nyonya". Ucap pelayan yang menemaninya sembari membungkukkan badannya.


"Santi, kalau Shaka sudah pulang suru dia ke kamar saya ya". Titah Emely pada Santi pelayannya.


"Baik nyonya besar". Jawab Santi yang kembali membungkukan badannya. Santi pun berlalu pergi meninggalkan kamar Emely.


Waktu menunjukan pukul 12.00 siang hari ini Shaka pulang cepat karena tidak ada meeting dengan klien. Setelah turun dari mobil Shaka melangkah masuk ke dalam rumahnya, namun ketika dia hendak menaiki tangga langkahnya terhenti ketika seorang pelayan memanggilnya.


"Selamat siang tuan muda, nyonya besar sedang menunggu anda di kamarnya". Ucap Santi sembari membungkukkan badannya.


Shaka pun mengurungkan niatnya ke kamar lalu berbalik dan berjalan menuju kamar Emely.


"Nenek.. " Sapa Shaka kepada Emely yang sedang terduduk di atas ranjang.


"Shaka.. Kau sudah datang?" Emely terlihat sumringah menyambut kehadiran Shaka.


Shaka pun berjalan menuju ranjang Emely dan mendekat ke arah di mana Emely sedang terduduk.


"Ada apa nek? Memanggil aku ke sini". Tanya Shaka lembut.


"Tadi aku baru pulang dari rumah Amira". Jawab Emely tersenyum senang.


" Ke rumah Amira? Untuk apa? Dan Nenek tau alamat Amira dari mana?" Tanya Shaka bingung.


"Setelah mendengar nama belakang Amira, aku penasaran, nama itu seperti familiar. Jadi aku memutuskan untuk menyuruh orang mencari tau asal usul keluarga Amira. Setelah aku mendapatkan informasinya aku begitu terkejut ternyata Amira adalah cucu dari Kakek Wijaya dan Nenek Maria, sahabat dekat kami dan anak dari Adi Wijaya sahabat dekat mendiang Papamu". Ucap Emely menjelaskan.


Mendengar itu Shaka juga sama terkejutnya, Shaka sering mendengar tentang keluarga mereka dari Emely, karena sedari kecil Emely selalu menceritakan mereka. Bahkan Shaka tau seberapa dekat hubungan mereka. Shaka juga senang kalau nanti bisa bertemu dengan mereka tapi bukan berarti Shaka menyukai Amira, bagi Shaka Amira hanyalah seorang gadis yang menyebalkan.


"Jadi Amira adalah anak mereka?" Tanya Shaka pada neneknya.


"Iyaa.. Aku sangat senang, aku memilih orang yang tepat untuk kau nikahi. Amira adalah anak dari keluarga Wijaya jadi pasti dia juga adalah anak yang baik". Ucap Emely menegaskan


"Shaka, aku mau besok kau membawah Amira ke sini lagi, tapi aku mau kau sendiri yang menjemputnya dan bertemu langsung dengan kedua orang tuanya untuk berkenalan dengan mereka sebagai anak dari Surya sebelum menikahi Amira". Tambah Emely.


" Ta.. Tapi nek, kenapa harus aku kan ada pak Ardi". Keluh Shaka mengerutkan dahinya.


"Shaka, apa kamu tidak mau menuruti keinginan nenekmu ini". Ucap Emely lalu memalingkan wajahnya sedikit kecewa


"Tidak nek aku tidak bermaksud begitu.. Yah sudah besok sepulang dari kantor aku akan menjemput Amira untuk nenek". Ucap Shaka mencoba membujuk neneknya.


" Benarkah?" Tanya Emely sumringah.

__ADS_1


"Iyaa nek, nenek istirahat lah dulu aku mau ke kamarku dulu". Ucap Shaka kemudian mencium ujung kepala Emely.


Shaka sedang berada di kamarnya memikirkan semua permintaan neneknya dia juga bingung harus melakukan apa besok di depan orang tua Amira. Kalau saja perjodohan ini tidak ada, pasti Shaka akan sangat senang bertemu dengan pak Adi dan bu Riana tanpa ada rasa canggung sedikit pun. Tapi ini dia harus bertemu dengan mereka sebagai calon mertuanya. Shaka mondar mandir di kamarnya sambil mengacak-acak rambutnya. Shaka sangat bingung, tapi Shaka juga tidak bisa menolak permintaan Neneknya itu, dia takut terjadi sesuatu pada Neneknya jika dia menolak permintaanya.


Tok.. Tok.. Tok


Suara ketukan pintu rumah Amira.


Amira pun membuka pintu rumahnya. Amira tersentak ketika melihat Shaka berada di depan pintu rumahnya.


Tumben sekali dia datang sendiri, biasanya dia sangat malas menggunakan kakinya ini untuk melangkahkan kakinya datang menjemputku sehingga dia selalu menyuruh supirnya untuk menjemputku. Batin Amira sembari menatap Shaka heran.


"Apa kamu tidak belajar bagaiman cara menyambut tamu yang benar?" Ucap Shaka datar.


"Eh maaf tuan, silahkan masuk". Seru Amira sembari memberi ruang untuk Shaka masuk ke dalam rumahnya.


" Silahkan duduk tuan, mau minum apa?" Tanya Amira.


Shaka pun mendudukan dirinya di sofa minimalis berwana gelap di ruang tamu berukuran kecil di rumah Amira.


"Tidak usah repot-repot, saya ke sini untuk mengajakmu bertemu nenek. Nenek ingin kamu menemuinya sekarang". Ucap Shaka datar.


"Tapi tuan.. " Amira belum menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Adi muncul dan menyapa Shaka


Adi sedikit bingung dengan seorang pria yang sedang berada di hadapannya ini. Melihat Adi Shaka langsung berdiri dan menyalami Adi dengan mencium punggung tangan Adi.


"Shaka! Jadi kamu anaknya Surya?" Tanya Adi, yang kemudian menyambut uluran tangan Shaka dan menyalami nya.


"Iyaa om". Jawab Shaka singkat


Adi pun sontak memeluk Shaka, Adi sangat senang melihat Shaka berkunjung ke rumahnya. Melihat Shaka, Adi seperti melihat Surya datang. Shaka benar-benar mirip dengan Surya dari postur tubuhnya sampai dengan wajahnya yang begitu tampan semuanya mirip Surya. Shaka pun membalas pelukan Adi dengan hangat karena Adi adalah sahabat baik Papanya, Shaka begitu merindukan pelukan hangat seorang Ayah yang sudah lama tidak Shaka rasakan.


Melihat pemandangan itu Amira pun kaget melihat seorang Shaka yang terkenal sombong dan dingin memeluk hangat Papanya seperti itu. Ternyata Shaka masih menghormati orang tua, pikir Amira.


Shaka pun melepaskan pelukannya dari Adi, setelah mereka duduk mereka berbincang-bincang sedikit lama, sampai akhirnya Shaka menyampaikan maksudnya datang ke sini, tanpa pikir panjang Adi pun mengijinkannya dan menyuruh Amira untuk siap-siap.


Adi yang over protektif dengan anak gadisnya itu mempercayai Shaka membawah Amira. Padahal sebelumnya tidak ada satu orang lelaki pun yang berani menampakan diri meminta izin kepada Adi untuk membawah Amira. Adi terkenal sebagai Ayah yang tegas dan overprotektif terhadap Amira, namun dengan Shaka Adi begitu mempercayainya.


"Tunggulah sebentar tuan, saya bersiap-siap dulu". Ucap Amira kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Amira langsung mandi dengan gerakan cepat dan memilih pakaian sederhana seperti biasa, mengikat rambutnya yang tidak sempat dia keramas dan memakai sepatu kets. Amira teringat dengan kotak kecil yang di berikan Emely tempo hari. Dengan sigap Amira membuka laci mejanya dan meraih kotak kecil itu dengan perlahan Amira membuka kotak kecil itu dan menemukan sebuah cincin.


"Apa maksud Nenek memberikan aku sebuah cincin?" Tanya Amira dalam hati sembari mengamati cincin itu.


Amira pun kembali menyimpan cincin ke dalam kotak dan memasukan kembali kotak itu ke dalam laci. Lalu dia meraih tas miliknya yang berada di atas nakas, kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


"Ayo pergi tuan". Ucap Amira kepada Shaka.


Shaka pun pamit kepada Adi dan kembali mencium punggung tangan Adi kemudian di susul oleh Amira yang ikut mencium punggung tangan Adi dan berlalu pergi meninggalakan ruang tamu.


Mobil pun melaju dengan meninggalkan rumah Amira. Sepanjang jalan Amira hanya melamun sedangkan Shaka dengan tampang dinginnya fokus menghadap lurus ke depan.


KEDIAMAN KELUARGA BUWANA


Amira kembali masuk ke dalam rumah mewah nan megah itu, dengan di sambut oleh Dody dan beberapa pelayan lainnya. Kemudian Dody pun mengantarkan Amira ke kamar Emely.


"Nenek.." Sapa Amira membungkukan badan memberikan hormat kepada Emely yang sedang terduduk di atas ranjang.


"Amira kau sudah datang?" Sambut Emely bersemangat.


Dody meninggalkan Emely dan Amira untuk berbincang. Amira pun masuk ke dalam kamar Emely dan mendekat ke arah di mana Emely sedang terduduk.


"Nenek.. Apa kau sudah makan?" Tanya Amira sembari menggenggam tangan Emely.


"Sudah, aku sudah makan" Jawab Emely tersenyum.


Amira melirik obat dan salep yang ada di atas nakas kemudian mengamatinya.


"Apakah Nenek sudah minum obatnya?" Tanya Amira lagi sembari menunjukan obat itu pada Emely.


Emely hanya menggeleng pelan. Amira pun berinisiatif untuk memberinya obat dan mengoleskan salep itu ke jidat Emely. Amira mengoleskan salep itu dengan sangat hati-hati karena takut Emely merasakan sakit. Amira sudah tahu penyebab memar di kepala Emely, karena Emely sudah menceritakan kecelakaan kecil yang di alaminya itu saat Emely berkunjung ke rumah Amira kemarin.


"Amira kau gadis yang sangat baik, aku bahkan sangat merasa nyaman saat berbincang denganmu, padahal aku baru mengenalmu". Ucap Emely saat Amira mengoleskan salep ke jidatnya.


"Nenek.. Jangan terlalu memuji, saya juga senang bisa mengenal nenek apalagi nenek adalah sahabat baik mendiang kakek dan nenek saya, anda sangat baik dan ramah berbeda dengan.. " Ucap Amira menggantung kalimatnya karena merasa enggan dan ragu untuk mengatakannya.


"Apakah yang kau maksud adalah Shaka cucuku?" Tanya Emely tersenyum.


Amira hanya cengengesan tanpa menjawab, Amira merasa sangat bodoh mengatakan itu kepada Emely dan mendadak takut Emely akan marah.


"Maafkan saya Nenek, saya sungguh tak bermaksud. "


"Tak apa aku suka saat kau berani mengatakan hal yang jujur, tapi sebenarnya yang perlu sedikit kau tahu, cucuku adalah lelaki yang baik, dulu saat usianya baru menginjak 17 tahun, Ayah dan Ibunya di kabarkan meninggal dalam kecelakaan mobil. Anak seusia dia seharusnya bisa melakukan hal yang dia sukai, namun tidak dengan Shaka yang sudah di bebani tanggung jawab yang sangat besar untuk menggantikan posisi Papanya untuk mengelola kerajaan bisnis yang sudah di bangun sejak lama oleh suamiku dulu. Mendengar kematian kedua orang tua Shaka Membuat beberapa saham di hotel Buwana Group turun drastis, saat itu lah Shaka yang masih sangat muda harus bekerja dan berfikir mati-matian untuk menstabilkan kembali saham yang hampir terjun bebas itu. Dan sejak saat itulah dia berubah menjadi sosok yang sangat serius dan sangat datar, bahkan menjadi dingin sehingga membuatnya terlihat angkuh, dalam hidupnya yang sekarang dia sangat jarang tersenyum apalagi tertawa bahagia". Jelas Emely panjang lebar kepada Amira.


Amira sejenak merasa hanyut dalam cerita Emely tentang masa muda Shaka, dia sangat mengerti dengan apa yang Shaka rasakan saat itu. Namun Amira melihat Shaka begitu beruntung, bisa sukses di usia yang masih sangat muda. Sedangkan dia sangat ingin melanjutkan cita-citanya menjadi seorang dokter namun harus tertunda karena keadaannya saat ini.


Amira, mau kah kau membantuku?" Tanya Emely sembari meraih jemari Amira.


"Saya akan selalu membantu nenek selama saya bisa nek." Jawab Amira mengusap tangan Emely yang sedang menggenggam tangannya.


"Aku tak tau berapa lama lagi usiaku di dunia ini, aku tidak akan merasa tenang sebelum melihat cucuku ada yang mendampinginya dengan tulus. Namun semenjak aku mengenalmu, aku melihat ada aura kebaikan dalam dirimu yang dapat mengubah cucuku. Apalagi kau adalah cucu dari sahabatku. Mau kah kau menjadi cucuku dengan menikah dengan Shaka dan mendampinginya?" Tanya Emely mengeratkan genggaman tangannya.

__ADS_1


Amira yang mendengar itu sontak saja terperanjat sembari membulatkan matanya. Seketika tubuh Amira mendadak gemetar, jantung nya seperti mau lepas, bahkan mendadak jadi keringat dingin.


__ADS_2