
Shaka berjalan tenang menuju ruang tamu tempat di mana Rayhan sudah menunggu.
"Ada apa kau datang kemari Tuan Rayhan?" Tanya Shaka santai sembari menghampiri Tuan Rayhan yang saat itu tengah terduduk bersama sang anak.
"Oh rupanya anda datang bersama anak brandal ini ya." Celetuk Shaka lagi sembari tersenyum sinis.
Kini Shaka menghentikan langkahnya, ia pun berdiri dengan tenang tepat di depan tuan Rayhan dan Radit, sembari memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Tuan muda Shaka, niat ku datang kemari datang untuk meminta maaf pada tuan muda atas kejadian yang kurang berkenan yang di lakukan putraku kepada anda." Ucap Tuan Rayhan mulai membuka suara sembari bangkit dari duduknya.
Sementara Radit masih saja duduk sembari menundukkan kepalanya karena ketakutan.
"Ayo minta maaf pada tuan muda!!" Ketus Tuan Rayhan sembari menepuk pundak anaknya.
Mendengar perintah sang ayah sontak membuat ia langsung berlutut begitu saja di hadapan Shaka.
"Tuan muda Shaka, aku minta maaf atas kejadian malam itu, aku sama sekali tidak tau kalau kau tuan muda Shaka Buwana yang sangat di segani di kota ini." Ucap Radit lirih dengan tubuhnya yang mulai gemetaran.
"Siapa namamu?" Tanya Shaka datar.
"Radit tuan muda." Jawab Radit sembari terus menunduk.
"Sekarang kau jelaskan kenapa kau mengganggu nona Amira dengan memberikannya obat perangsang?" Tanya Shaka menatap tajam Radit.
Radit pun mulai menjelaskan kronologi yang sebenarnya tanpa ada yang di tutup-tutupi. Sementara di sisi lain, Amira yang merasa penasaran pada tamu Shaka itu memilih berjalan perlahan dan mengintip di balik dinding.
Bukankah lelaki itu yang menggodaku dan memaksa ku untuk meminum wine yang sudah di campur obat perangsang itu? Tanya Amira dalam hati sembari menatap tajam ke arah Radit yang saat itu tengah menjaskan pada Shaka.
"Jadi wanita itu yang menyuruhmu? Dan dia mengaku-ngaku sebagai teman Amira? Dan kau memaksanya meminum wine yang sudah di campur obat perangsang itu agar dia bisa melayani mu dengan sukarela hah?" Tanya Shaka yang mulai meninggikan suaranya.
"Tuan muda tolong maafkan lah putraku, dia tidak ada niat untuk mengganggu anda sedikitpun. Aku yakin dia hanya ingin bermain-main dengan wanita itu, tolong jangan anggap serius. Lagi pula dia hanyalah wanita biasa seharusnya anda tidak perlu terlalu pusing dengan masalah kecil seperti itu." Jelas Tuan Rayhan secara gamblang.
"Iya benar tuan muda, dia hanyalah wanita biasa yang kebetulan hadir di pesta Yura. Jadi ku harap anda tidak terlalu membelanya, dan bisa memaafkan aku yang saat itu memaki anda karena saya sungguh tidak tau kalau anda Shaka Buwana." Tambah Radit yang mencoba membela diri.
"Wanita biasa katamu? Jadi menurutmu dia pantas melayanimu secara sukarela karena dia hanyalah wanita biasa?" Tanya Shaka pelan namun dengan suara yang penuh penekanan.
"Iya tuan muda, saya hanya ingin bermain-main dengannya lagi pula dia bukan siapa-siapa anda." Jawab Radit masih menundukkan kepalanya.
"Jadi kau menganggapnya wanita rendahan yang bisa kau mainkan sesuka hatimu hah? Kau tidak tau siapa dia." Suara Shaka semakin menggelegar ia semakin tersulut emosi dan ingin langsung meninju Radit.
Namun Amira yang menyaksikan itu, sontak berlari ke arah Shaka dan menahan tangannya yang mulai mengepal.
"Shaka stop!!" Ucap Amira sembari menahan tangan Shaka.
Shaka pun menatap Amira dan cukup terkejut melihatnya yang mendadak muncul di hadapannya. Begitu pula dengan Radit dan Tuan Rayhan yang tak kalah terkejut melihat keberadaan wanita yang hampir di perkosanya berada di rumah Shaka.
"Amira apa yang kau lakukan di sini?" Bisik Shaka yang nampak terkejut.
__ADS_1
Amira tidak menjawab ia kembali memandang tajam ke arah Radit dan tuan Rayhan secara bergantian.
"Ka.. Kau." Ucap Radit semakin terkejut dan nampak gugup.
"Ya dia lah wanita yang kalian bilang wanita biasa yang pantas di mainkan itu." Shaka kembali meninggikan suaranya.
"Astaga tuan muda, kenapa dia bisa ada di sini? Apakah kalian berdua memiliki hubungan khusus?" Tanya Tuan Rayhan yang jadi begitu kebingungan namun juga ketakutan.
"Tentu saja. Dia adalah istriku." Ucap Shaka dengan lantang, sehingga membuat Tuan Rayhan dan Radit semakin ketakutan dan sontak berlutut di hadapan Shaka.
Amira pun tak kalah terkejut setengah mati mendengar pernyataan Shaka tentang hubungan mereka, ia membulatkan matanya dengan mulut yang menganga saking terkejutnya.
"Tuan muda, kami sungguh tidak tau kalau nona ini adalah istri anda. Tolong ampuni kami tuan muda, tolong jangan batalkan rencana investasi anda ke perusahaan kami tuan muda." Ucap Tuan Rayhan dengan sangat lirih.
"Iya tuan muda tolong ampuni aku. Jika saja aku tau kalau nona ini adalah istri anda, tentu aku takkan berani mengganggunya. Tolong jangan batalkan investasi ke perusahaan ayahku. Lagi pula aku hanya di suruh." Tambah Radit yang langsung ingin mencium kaki Shaka sembari mulai menangis.
"Jangan minta ampun dan berlutut padaku!!" Bentak Shaka sembari menunjang Radit yang ingin merangkak mendekatinya.
"Berlutut dan minta ampun lah pada istriku! Karena dalam hal ini, dia yang mempunyai kuasa bukan aku!" Ucap Shaka lagi dengan tatapan kosong.
Radit dan Tuan Rayhan secara bersamaan langsung merangkak menuju kaki Amira, namun hal itu refleks membuat Amira memundurkan langkahnya.
"Berhenti di situ! Biarkan mereka berlutut!" Ucap Shaka yang langsung menatap tajam ke arah Amira.
Amira pun mengehentikan langkahnya dan jadi diam mematung saat Radit dan Tuan Rayhan bersujud di hadapannya.
"Semua keputusan ada di tanganmu." Ucap Shaka yang kembali tenang sembari menatap lekat ke arah Amira.
"Bangunlah dan berdirilah. Saya bukan tuhan yang harus kalian sembah. Justru jika kalian bersujud seperti ini aku jadi tidak nyaman." Jawab Amira.
Radit dan Tuan Rayhan mulai berdiri sembari terus menundukkan kepalanya.
"Sekarang kau katakan, siapa wanita yang menyuruhmu?" Tanya Amira sembari menatap kosong.
"Namanya Windi nona." Jawab Radit.
Mendengar itu, Amira sontak terperanjat. Dia tidak menyangka sampai detik ini Windy masih mengusiknya juga, dan ia yakin ini pasti ada hubungannya dengan Safa. Karena Amira tau, dari dulu setiap apa yang Windy lakukan padanya itu atas perintah Safa.
"Windy?" Tanya Amira dengan mata berkaca-kaca.
Sementara Shaka semakin bingung siapa wanita yang di sebutkan Amira itu.
"Amira.. Windy siapa?" Tanya Shaka tampak bingung.
"Dia adalah teman dari Safa. Mereka sangat membenciku dari sejak kita masih duduk di bangku SMA. Mereka berdua selalu membullyku karena Safa menyukai Genta dan saat itu aku berpacaran dengan Genta. Dan setahu aku Safa sekarang ada di London aku pikir dia sudah tidak akan menggangguku lagi karena aku sudah menikah dan tidak berhubungan lagi dengan Genta tapi kenapa mereka masih terus mengusik kehidupanku?" Jelas Amira lirih sembari menatap lekat ke arah Shaka dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar itu Shaka semakin geram dia kembali mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Hei kau!! Sekarang kau telepon perempuan itu dan hadirkan di sini sekarang juga!!" Teriak Shaka dengan suara menggelegar.
Mendengar itu Radit bergegas meraih ponsel di saku celananya dengan tangan yang gemetaran.
"Tidak perlu Shaka.." Celetuk Amira.
"Kenapa? Dia harus di beri pelajaran supaya berhenti mengganggumu seperti ini. Ini akan sangat merugikan kamu Amira!" Ucap Shaka pelan sembari memegang kedua pundak Amira.
"Aku rasa tidak perlu, tapi kalau sampai mereka mengganggu aku lagi. Maka aku sendiri yang akan turun tangan." Ucap Amira mencoba meyakinkan Shaka.
Shaka mengehela nafas panjang dan berusaha menghargai keputusan Amira walau pun hatinya masih sangat marah dan tentunya dia akan tetap mencari tau wanita yang bernama Windy dan Safa itu dan akan memberi mereka peringatan tanpa sepengetahuan Amira.
"Dan kalian, aku sudah memaafkan kalian. Semua sudah terjadi dan aku sudah mengikhlaskan semuanya, karena jika aku menghukum kalian seberat apa pun tetap tidak mengembalikan keadaanku seperti semula." Ucap Amira tersenyum lirih sembari melirik sejenak ke arah Shaka.
"Kau yakin memaafkan mereka?" Tanya Shaka kembali memastikan.
Amira pun hanya mengangguk singkat.
"Yah tuhan, ternyata tidak hanya cantik kamu juga wanita yang murah hati dan pemaaf. Terimakasih banyak nona. Terimakasih banyak." Ucap Tuan Rayhan yang begitu senang dan langsung meraih kedua tangan Amira dan terus menempelkannya ke dahinya.
Shaka yang melihat itu sontak menatap tajam tangan itu, ketika tangan Amira terus di pegangi erat oleh Rayhan.
"Berhenti menyentuhnya!" Ucap Shaka dan langsung saja melepas tangan Rayhan dari tangan Amira.
"Oh maafkan aku tuan muda, aku tidak bisa mengontrolnya saking senangnya." Jawab Tuan Rayhan sembari tersenyum kikuk.
Shaka pun hanya diam dan kembali bersikap tenang.
"Kalian bisa pulang sekarang." Ketus Shaka lagi yang langsung menarik lengan Amira membawanya masuk.
"Maaf tuan muda, tapi apakah itu artinya anda tidak jadi membatalkan investasi anda ke perusahaan kami?" Tanya Tuan Rayhan yang sontak langsung mengehentikan langkah Amira dan Shaka.
"Tanyakan padanya. Semua keputusan ada padanya." Jawab Shaka santai sembari melirik ke arah Amira.
"Hei, apa-apaan kau ini? Bukan kah ini sudah menyangkut pekerjaan? Kenapa harus aku juga yang memutuskan?" Bisik Amira pada Shaka mendadak jadi kikuk dan gugup.
"Putuskan saja, karena ada tidaknya investasi itu sama sekali tidak berpengaruh banyak bagiku. Bahkan jumlahnya tidak lebih dari 0,1% dari kekayaanku." Jawab Shaka dengan tenang.
"Sombong sekali." Celetuk Amira pelan sembari menatap kesal Shaka dengan memanyunkan bibirnya.
Shaka hanya tersenyum tipis mendengar celetukan Amira.
"Baiklah aku meminta agar kau tetap melanjutkan investasi di perusahaan mereka." Jawab Amira.
"Apa kalian sudah dengar?" Tanya Shaka mengangkat kedua alisnya memandangi Rayhan dan Radit.
"Terimakasih tuan muda, terimakasih banyak." Tuan Rayhan pun kembali tersenyum senang sembari membungkukkan badannya.
__ADS_1
"Sekarang kalian bisa pergi! Masalah investasi, nanti asisten ku Kevin yang akan mengurusnya." Ucap Shaka tersenyum tipis kemudian kembali menarik tangan Amira masuk ke ruang keluarga.