Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 37 Berita Duka


__ADS_3

Kini Amira tengah berjuang melahirkan anaknya, dengan susah payah Amira terus meneran. Sementara Shaka hanya membelai rambut Amira dan memberi semangat untuk Amira. Jujur Shaka sama skali tak tenang melihat Amira kesakitan. Perasaan di dalam diri Shaka bercampur antara cemas dan sedih. Melihat ekspresi Shaka, Amira lalu bertanya.


"Apa kau mencemaskan ku?" Tanya Amira saat kontrkasi dalam perut nya berhenti sejenak.


Shaka memalingkan wajahnya dan mengangguk.


"Tak perlu cemas, semua akan baik-baik saja. Kau percaya padaku bukan?" Walau agak merasa terhibur dengan perkataan Amira, tetap saja Shaka masih merasa tak tenang.


"Ya aku percaya, dan aku akan selalu berada di sini bersamamu".


1 jam sudah Dokter memimpin persalinan namun kemajuannya sangat lah lambat. Amira semakin kesulitan dan tampak meringis kesakitan, melihat itu Shaka semakin cemas dia menggenggam erat tangan Amira dan tak henti-hentinya memberi semangat. Walau sebenarnya hatinya juga tak tenang. Kontraksi sudah mulai teratur, akhirnya Amira meneran dengan nafas yang tak pernah putus dengan keringat dan air mata yang mengucur deras akhirnya bayi nya keluar juga dengan selamat.


Air mata haru menetes dari pipi Amira kalah mendengar tangisan dari bayi mungilnya itu. Begitu pula dengan Shaka yang ikut terharu melihat kelahiran seorang putri cantik dari rahim Amira. Melihat bayi mungil itu, seketika Shaka langsung jatuh hati. Shaka seperti itu karena selama ini dia hanya hidup sendiri tanpa seorang adik, jadi saat melihat kelahiran seorang bayi Shaka jadi merasa begitu terharu dan bahagia, apa lagi bayi itu terlahir dari rahim istrinya sendiri. Walau pun bukan darah dagingnya namun Shaka sudah mulai menyayangi bayi itu seperti anaknya sendiri.


Suster memberikan bayi itu pada Shaka, dengan tangan gemetar Shaka mencoba memeluk bayi mungil itu. Shaka terus memandangi bayi itu. Cantik, mirip skali dengan Amira. Shaka begitu terharu sehingga dia mengusap lembut pipi bayi itu dengan jarinya. Sementara Amira yang melihat itu ikut terharu, ternyata Shaka sudah mulai menyayangi anaknya.


Tak lama suster pun membawah bayi itu ke ruangan khusus bayi, suster keluar dari ruang bersalin dengan menggendong bayi Amira. Melihat itu, mama papa dan Emely mendekat ke arah suster dan ikut melihat bayi Amira dengan perasaan bahagia. Mereka sangat bahagia, Amira dan bayi nya sehat dan selamat. Sementara tanpa mereka sadari, dari kejauhan ada seseorang yang memakai jaket hitam dan celana panjang hitam serta menutup kepalanya dengan topi dan kaca mata hitam sedang melihat ke arah mereka dengan tatapan sinis.


Orang itu terus mengikuti suster yang membawah bayi Amira sampai ke ruangan khusus bayi, orang itu terus berdiri di dekat jendela kaca mengawasi suster itu. Tak lama setelah meletakkan bayi Amira di bed, suster itu keluar sebentar. Melihat suster berjalan menuju pintu keluar, orang itu bergegas untuk sembunyi di balik tembok dekat ruangan itu. Setelah di pastikan suster sudah pergi, orang itu mengendap-endap masuk ke ruangan bayi dan mengunci pintu lalu bergegas mendekati bed tempat bayi Amira di letakkan. Dia melihat bayi perempuan yang ada di sebelah bayi Amira. Nafas bayi itu megap-megap dan merintih. Dengan sigap orang itu segera menukar bayi Amira dengan bayi yang bernafas megap-megap itu, tak lupa pula dia menukar gelang bertuliskan nama orang tua bayi di masing-masing tangan kedua bayi itu. Selesai dengan itu semua, orang itu bergegas keluar dari ruang bayi dan dengan tergesa-gesa ia berjalan keluar dari rumah sakit itu.


Kini oran itu sudah berada di luar rumah sakit, ia lantas menelpon seseorang sembari membuka kaca mata hitam dan topi nya dan menampilkan wajahnya dengan jelas. Windy! Ternyata orang itu adalah Windy teman Safa musuh Amira waktu SMA.


"Halloo fa.. Semua nya sudah beres, aku sudah berhasil menukar bayi Amira dengan bayi yang sedang sekarat. Tak lama lagi bayi itu pasti mati, jadi Amira pikir bayi nya sudah mati, padahal aku menukarnya dengan bayi orang lain". Ucap Windy dengan senyum menyeringai.


"Bagus Win, akhir nya aku berhasil membuat wanita itu menderita. Pokoknya aku nggak rela melihat dia bahagia sedangkan aku di sini menderita, seperti orang bodoh saja menunggu Genta yang sampai sekarang belum juga move on dari perempuan itu". Tegas Safa sembari memandang ke sembarang arah dengan tatapan sinis.


"Yah sudah, aku tutup dulu ya fa".

__ADS_1


"Okee... Terimakasih banyak ya Windy, dari dulu kau memang teman ku yang paling pintar". Ucap Safa dengan senyum devil nya.


"Iyaa dong, siapa dulu dong Windy!" Windy tersenyum bangga dengan perbuatan jahat nya itu.


Akhirnya obrolan Safa dan Windy berakhir. Safa sedang berdiri di samping jendela dalam kamar nya sembari tersenyum menyeringai.


"Amira, dengan begini sudah tidak ada alasan lagi Genta menemui mu, apa lagi sekarang kau sudah punya suami pasti sekat di antara kamu dan Genta akan semakin jauh". Seringai Safa.


Tak lama Safa pun berinisiatif menelpon Genta.


"Hallo.."


"Heii Gen, kamu di mana?" Tanya Safa dengan berbinar-binar.


"Di kampus". Jawab Genta singkat.


" Boleh".


"Kamu pulang jam berapa?".


"1 jam lagi".


"Oh ya uda aku masakin dulu ya".


Genta pun segera mematikan sambungan telepon.


"Jutek amat sih. Awas aja ya sebentar lagi kamu pasti akan bertekuk lutut padaku". Ketus Safa dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


Shaka pun bergegas menuju dapur dan dengan semangat dia memasak untuk Genta. Dia memasak semua makanan kesukaan Genta. Safa saat ini sudah pintar memasak karena dia selalu berusaha untuk menarik hati Genta dengan melakukan cara apa pun termasuk masak karena Genta suka dengan perempuan yang pintar masak apa lagi masak makanan kesukaannya. Setelah selesai berkutat di dapur akhirnya Safa memindahkan semua makanan itu ke dalam tupperware, dia pun ke kamar untuk bersiap-siap selesai bersiap-siap dia kembali ke dapur mengambil bekal makanan untuk Genta dan segera berjalan menuju mobil. Tak lama mobil Safa pun melaju meninggalkan lobby rumah nya.


Sisi Lain Rumah Sakit..


Dokter memasuki ruangan bayi, Dokter mendekati bed bayi Amira dan memeriksa keadaan bayinya. Namun alangkah terkejut nya Dokter ketika melihat bayi Amira bernafas megap-megap dan merintih dengan kuku dan bibirnya sudah biru. Dengan sigap Dokter segera melakukan pertolongan pertama, namun gagal keadaan bayi itu semakin lemah dan akhir nya bayi itu meninggal.


Sementara Amira sedang berada di ruangannya dengan keadaan yang sudah cukup pulih.


"Shaka.. Aku ingin melihat bayi ku". Pintah Amira kepada Shaka.


"Kau mau menemuinya? Yah sudah ayo aku antar ya". Jawab Shaka lalu mengambil kursi roda dan dengan perlahan memboyong Amira pindah ke kursi roda dan mendorong nya menuju ruang bayi.


Sesampai nya di ruang bayi, Amira melihat Dokter dan Suster tengah sibuk kesana kemari. Amira dan Shaka tampak bingung melihat keadaan ruangan itu. Akhir nya Shaka berjalan mendekati Dokter dan bertanya.


"Dok ada apa dengan bayi nya?" Tanya Shaka tampak cemas melihat keadaan bayi Amira.


"Shaka.. Ada apa?" Tanya Amira tampak bingung.


Dokter berbalik menghadap Amira dan Shaka lalu menatap mereka secara bergantian akhirnya dokter menghela nafas dan mulai menjelaskan.


"Maaf tuan Shaka.. Nona Amira. Bayi kalian mengalami asfiksia berat kami sudah melakukan seluruh pertolongan penanganan untuk bayi asfiksia tapi gagal dan sekarang.."


"Kenapa dok?" Tanya Shaka mengguncang-guncang tubuh sang dokter.


"Bayi nya meninggal".


Mendengar penjelasan dokter, Amira bagaikan di sambar petir dunia Amira terasa runtuh. Pikiran Amira seketika kacau, kepala Amira mulai pusing, pandangannya mulai gelap dan akhirnya ia jatuh pingsan. Melihat itu Shaka dengan sigap menangkap tubuh Amira dan mendekapnya. Shaka tampak cemas melihat keadaan Amira saat ini.

__ADS_1


__ADS_2